Friday, May 1, 2020

Pandemi Corona, Sampai Kapan???


Sampai kapan wabah corona ini berlangsung? Sebulan lagi? Dua bulan? Setahun? Kiranya, hanya Tuhan yang tahu pasti. Yang jelas, semakin lama wabah ini menjalar, semakin cemas kita dibuatnya.

Mungkin kita yang tinggal di Indonesia bisa sedikit bernapas lega karena jumlah korban virus Corona di sini tidak separah negara-negara macam Cina, Italia, atau Amerika Serikat yang mencapai jutaan. Akan tetapi, persoalan virus Corona tidak hanya tentang berapa jumlah korbannya, daerah mana saja yang terpapar, atau bagaimana mengkarantina pasien agar sembuh. Kita juga perlu melihat dampak laten yang mungkin timbul gara-gara pandemi tersebut.

Secara kasat mata, virus Corona memang terus menambah jumlah korban yang dirawat. Tapi diam-diam, virus Corona juga menghancurkan sendi-sendi perekonomian masyarakat di seluruh dunia. Orang-orang kaya, miskin, pemilik modal, buruh, bangsawan elit sampai rakyat jelata, semua kelas sosial terkena imbas virus ini tanpa terkecuali. Kita pun menghadapi situasi yang serba dilematis antara mementingkan kesehatan tubuh yang berharga atau mementingkan kebutuhan ekonomi yang tidak kalah mendesaknya.

Penjelasannya begini.

Mulanya, kita menyikapi virus Corona dengan melakukan social distancing, pembatasan sosial berskala besar, atau lockdown (jika pandemi sangat parah). Tujuannya untuk menekan laju penyebaran virus dengan cara membatasi pergerakan dan interaksi antar orang. Sekolah-sekolah pun diliburkan. Instansi-instansi kedinasan memberlakukan work from home. Pasar-pasar dibatasi jam operasionalnya—sebagian malah sampai ditutup total. Kegiatan sosial yang melibatkan banyak orang dan aktivitas berkerumun dilarang. Jalanan pun menjadi lengang karena orang-orang memilih berdiam di rumah daripada kelayapan jauh-jauh yang beresiko tertular virus.

Selanjutnya, karena pergerakan dan aktivitas masyarakat dibatasi, roda perekonomian tidak berjalan secara normal. Permintaan pasar turun drastis, sementara penawaran barang mengalami surplus (kelebihan). Para pelaku usaha mulai kesulitan mengais laba karena tidak bisa menjual barang secara wajar. Pelanggan yang biasa membeli atau memesan barang pun bisa membatalkan semua kesepakatan/pesanan secara mendadak. Akibatnya, produksi berbagai jenis barang dan jasa terpaksa dihentikan untuk mencegah kerugian lebih lanjut.

Masalah tersebut bertumpuk dan beban terberat menimpa lapisan terbawah sektor usaha, yakni para buruh dan karyawan. Para pelaku usaha yang sudah megap-megap menjaga kelangsungan bisnisnya terpaksa merumahkan/memecat buruh dan karyawannya karena tidak sanggup membayar gaji dan pesangon.

Benang kusut masalah ini pun berlanjut. Para buruh dan karyawan yang dirumahkan/dipecat tidak siap dengan perubahan keuangan secara mendadak. Sementara itu, kebutuhan untuk makan diri sendiri dan keluarga terus berjalan. Belum lagi jika mereka memiliki beban tanggungan lain seperti cicilan kredit, tagihan kontrakan, biaya listrik, sampai biaya sekolah/kuliah anak-anak yang semuanya mencekik minta pelunasan.

Sebagian buruh/karyawan bisa tertolong karena memiliki uang tabungan yang memadai. Sebagian lagi terpaksa menjual atau menggadaikan barang-barang berharganya. Sebagian lagi banting setir, beralih profesi demi pendapatan harian yang jumlahnya tidak seberapa. Sisanya, benar-benar bingung harus melakukan apa agar dapur tetap mengepul.

Dalam krisis finansial yang menghimpit seperti ini, pertanyaan besarnya adalah berapa lama pandemi ini akan berlangsung???

Pembatasan sosial, lockdown, penutupan pasar, semua kebijakan itu bisa terus dilanjutkan dan dipaksakan oleh pemerintah. Tapi masyarakat juga punya batas toleransi. Jika pandemi terus berlangsung hingga berbulan-bulan ke depan, sementara tidak ada kebijakan pemerintah yang bisa menolong kelompok masyarakat terdampak, maka kita semua tengah berada di ambang krisis!

Di satu sisi, kita ingin menyelamatkan diri dari pandemi Corona. Tapi pada saat yang sama, kita juga harus menyelamatkan perekonomian kita agar semua orang bisa tetap makan.

Sementara itu, pilihan-pilihan solusi yang tersedia tidak bisa mengurai semua masalah sekaligus.

Vaksin masih butuh waktu lama untuk diciptakan. Buruh/karyawan yang dipecat tidak bisa begitu saja berdemo lalu mendapatkan hak-haknya secara tunai. Para pelaku usaha juga tidak bisa menodong pemerintah untuk membantu menghidupkan usahanya sekaligus.

Di sisi lain, pemerintah sendiri tengah sibuk memikirkan alokasi anggaran untuk mengatasi krisis yang menghampar di depan mata. Mau minta tolong negara lain, ya, sungkan (mungkin)—lha wong negara sekelas Amerika Serikat saja juga sedang kelimpungan menghadapi pandemi Corona, kok. Mau ngutang pun harus mikir-mikir dulu, karena hutangnya sendiri sudah terlanjur banyak.

Benang kusut pun semakin kusut hingga semakin sulit untuk diurai. Segala sesuatunya membuat pening isi kepala. Pusing. Pusing. Pusing. Hingga tanpa kita sadari, sisi kemanusiaan kita perlahan sudah terserak menjadi puing-puing.[]

May 01, 2020Benny Prastawa

Thursday, April 30, 2020

Sepeda Pertama Si Kecil



Dalam banyak hal, istri saya lebih cerdas mengambil inisiatif. Jika saya masih menghitung kuadrat satuan lima secara manual, istri saya sudah lebih dulu menjawab dengan menuliskan angka “25” di baris paling kanan, lalu mengalikan angka paling kiri dengan bilangan setelahnya—analoginya begitu. Seringkali, saya butuh beberapa detik mengambil keputusan, mempertimbangkan banyak variabel, sementara istri saya hanya perlu sepersekian detik untuk menentukan solusi yang lebih efektif dan efisien. “Dahsyat”—pikir saya. Tak heran jika secara klinis kaum perempuan cenderung lebih mahir melakukan multitasking dibanding laki-laki.

Urusan membelikan sepeda untuk Si Kecil pun tidak lepas dari uraian tersebut. Awalnya, saya pikir ide untuk sepeda ini baru akan dibahas kelak ketika Si Kecil sudah berusia di atas 3 tahun. Pertimbangannya, buat apa membelikan sepeda sekarang jika kaki Si Kecil belum sampai mengayuh pedal? Lagipula, saat ini, virus Corona (COVID-19) sedang hebat-hebatnya mewabah. Pemerintah juga sedang gencar-gencarnya menyuruh warga melakukan isolasi mandiri. Semua orang tanpa terkecuali disarankan untuk tetap berdiam di rumah, melakukan hal apapun yang sekiranya tidak membahayakan diri sendiri dan tetangga, serta hanya keluar rumah jika ada keperluan mendesak. Karenanya, membelikan sepeda untuk Si Kecil akan terasa mubazir mengingat tidak ada alasan untuk mengajak Si Kecil bersepeda ke luar rumah di tengah pandemi seperti sekarang.

Ngomong-ngomong, sudah lebih dari 4 pekan kami melakukan isolasi mandiri ini. Rasa jenuh dan penat menjadi kudapan biasa yang harus dirasakan setiap hari. Di satu sisi, istri saya jadi kepikiran perasaan Si Kecil. Kebetulan, Si Kecil sedang berada di fase pengen mbolang (menjelajah lingkungan sekitar). Segera setelah Si Kecil sudah mahir berjalan, ia sering gemas untuk berpetualang dari ruang ke ruang. Kaki-kaki mungilnya selalu ingin menjejak setiap sudut rumah tanpa boleh dilarang-larang.

Jika lingkungan dalam rumah sudah puas dikenali, dunia luar tampak makin asing bagi Si Kecil, seiring dengan makin jarangnya ia keluar rumah. Ada saat-saat di mana Si Kecil ingin menjelajah ke luar, sekedar untuk mengenali objek-objek yang masih asing baginya. Jika hujan turun, Si Kecil biasanya akan bergegas mendatangi jendela, menikmati pemandangan kaca-kaca bening yang mulai basah tertimpa tempias hujan. Atau ketika ada ayam atau kucing yang nyasar ke rumah—entah dari mana—Si Kecil akan menonton tingkah polah binatang-binatang itu dengan takzim. Lucu. Anak-anak (termasuk balita) memang selalu tahu cara menyenangkan hati dan pikiran mereka sendiri.

Ketertarikan Si Kecil untuk mbolang tapi tidak tersalurkan karena adanya Corona, mendorong istri untuk berinisiatif membelikannya sepeda mini. Pertimbangannya, cepat atau lambat, Si Kecil pasti butuh sepeda. Jadi, apa salahnya mempercepat start dengan membelikannya sepeda sekarang? Setidaknya, itu bisa menjadi penghibur dan penambah aktivitas bagi Si Kecil. Dan yang paling penting, ia bisa terhindar dari kebosanan akut yang melanda setiap hari. Saya pun setuju.

Lusanya, istri mendatangi toko sepeda, membeli sepeda mini yang sekiranya cocok untuk Si Kecil lalu membawanya ke rumah. Sendirian. Saya sempat menawarkan diri untuk membawakan sepeda dari toko, tapi istri saya lebih nyaman untuk tidak merepotkan orang lain (dari dulu selalu seperti itu). Jadi, saat istri saya membeli sepeda, saya tetap di rumah, menemani Si Kecil sambil menunggunya pulang bersama sepeda mini.

Begitu tiba di depan rumah, sebuah sepeda mini sudah nangkring di jok motor istri. Dugaan saya, sepedanya akan dilipat atau setidaknya dipreteli sekalian dari toko agar mudah dibawa. Tapi ternyata, sepeda mini itu malah dibawa dalam kondisi utuh dengan ikatan tali di sana sini (ini sepeda apa truk tebu, sih?). Saya jadi kasihan pada istri saya karena sepanjang perjalanan, ia pasti merasa malu. Malu kalau-kalau ada tetangga yang lihat, malu kalau-kalau ada bocah yang kepengen sama sepedanya, atau (mungkin) malu kalau-kalau dirinya disangka tukang mendring yang tengah keliling komplek membawa dagangan.

Singkat cerita, inisiatif istri saya tidak sia-sia. Meski urusan membawa pulang sepeda cukup merepotkan (dan memalukan), Si Kecil bisa menikmati sepeda pertamanya dengan riang gembira. Setiap sekian jam sekali, Si Kecil akan merengek minta dinaikkan ke sepedanya. Berhubung kaki mungilnya belum sampai mengayuh pedal, orang-orang di sekitarnya harus siap-sedia menjadi “mesin diesel” untuk membantu Si Kecil berkeliling ke sana kemari. Tak mengapa, asal Si Kecil bisa tetap menikmati fungsi sepeda barunya dengan wajar.

Bahkan saking asiknya bersepeda—sesekali—Si Kecil bisa sampai tertidur di atas sepedanya. Well, setidaknya, investasi sepeda ini terbukti sukses. Dan untuk beberapa pekan mendatang, saya dan istri tidak perlu khawatir Si Kecil akan dilanda kebosanan. Bersama sepeda pertamanya, ia akan punya lebih banyak waktu untuk berpetualang dan menghibur diri—meski pandemi Corona masih berlangsung.[]

Tuesday, March 31, 2020

Virus Corona dan Wabah Fiktif yang Menjadi Kenyataan


Seorang sineas (pembuat film) yang hebat selalu memiliki segudang ide kreatif yang futuristik dan imajinatif. Sudah tak terhitung berapa banyak benda-benda atau kejadian yang kita pikir “Ah, itu cuma ada di film kok” ternyata malah menjadi realitas betulan di dunia nyata. Saya curiga kalau sineas-sineas top itu memakai jasa peramal—saking seringnya objek-objek fiktif yang mereka imajinasikan menjadi realitas non fiktif.

Contoh gampangnya, semasa bocah dulu saya sering nonton serial—Power Rangers. Dalam serial itu, para Rangers sering berkomunikasi dengan jam tangan super canggih yang mampu beroperasi layaknya ponsel. Padahal, serial itu dibuat tahun 1990-an, di mana smartwatch (jam tangan pintar) belum ada! Dua dekade kemudian, jam tangan para Rangers tadi sudah menjadi smartwatch betulan yang dipakai anak-anak muda kekinian—bahkan dianggap sebagai barang mewah yang lumrah.

Kalau mau contoh lokal, kita bisa flashback ke serial Misteri Gunung Merapi yang dulu rutin tayang di Indosiar (tahun 2000-an). Ada banyak scene dalam serial itu yang memunculkan sebuah cermin ajaib bernama Kaca Pesona (kalau tidak salah, sih). Dengan cermin ajaib itu, tokoh antagonis utama—Mak Lampir—bisa memantau pergerakan musuh-musuhnya sampai mencuri dengar setiap pembicaraannya. Tidak hanya itu, Mak Lampir juga bisa berkomunikasi dengan komplotannya via cermin ajaib itu. Di dunia nyata, teknologi semacam ini benar-benar ada—mewujud dalam bentuk kamera pengintai (CCTV), aplikasi panggilan video (video call), dan alat penyadap yang sering dipakai dinas-dinas intelijen sampai organisasi sekelas KPK untuk meringkus pejabat korup.

Well, hal-hal fiktif yang kemudian mewujud menjadi realitas non fiktif seperti contoh tadi juga saya alami baru-baru ini. Jadi, ceritanya, tempo hari saya dan istri sedang rehat di ruang keluarga. Kebetulan si kecil sudah terlelap di sebelah. Sementara acara-acara TV tidak ada yang sesuai selera. Saya pun memutuskan untuk memutar film dari flashdisk. Film jadul, sih, judulnya Shaun of The Dead.

Film ini berkisah tentang perjuangan tokoh bernama Shaun untuk menyelamatkan orang-orang yang dicintainya dari wabah misterius yang melanda kota London. Wabah ini ditularkan melalui luka gigitan yang menyebabkan korbannya berubah menjadi zombie pemangsa.Asal-usul wabah tidak dijelaskan secara detail dalam film ini. Ketika wabah mulai menjalar di London, Shaun dan karib gendutnya yang bernama Edward (Ed) masih menjalani rutinitas dengan normal dan tenang, seakan tidak terjadi apa-apa.

Sampai suatu hari, ada sesosok wanita misterius di kebun belakang rumah Shaun. Wanita itu tampak seperti pemabuk berat dengan wajah pucat dan rambut yang berantakan. Tapi, setelah diinterogasi, sosok perempuan tadi malah menyerang dan hampir menggigit Shaun. Shaun dan Ed pun segera melarikan diri ke dalam rumah. Di dalam rumah, mereka memantau siaran berita di TV. Para reporter ramai-ramai memberitakan perihal kemunculan penyerang misterius yang meneror warga London. Disebutkan bahwa para penyerang bisa menginfeksi korbannya melalui luka gigitan. Kontak dengan penyerang sangat tidak disarankan. Dan satu-satunya cara melumpuhkan para penyerang adalah dengan menghancurkan kepalanya. Mengetahui hal itu, Shaun dan Ed bergegas mencari senjata lalu menghabisi para zombie demi menyelamatkan keluarga dan teman-temannya.

Kurang dari 48 jam setelah saya dan istri menonton film itu, pemerintah Indonesia memberitakan adanya warga yang terinfeksi virus Corona (COVID-19). Semua orang diminta untuk tetap tenang karena pemerintah sudah menyiapkan langkah-langkah antisipasi untuk mencegah meluasnya wabah tersebut. Awalnya, saya bisa menyikapi situasi ini dengan normal. Sampai kemudian, jumlah pasien yang positif Corona melonjak tajam sampai 1000 orang lebih—hanya dalam hitungan minggu!

Situasi pun menjadi chaos. Alat-alat kesehatan seperti masker, hand sanitizer, dan sabun antiseptik mendadak langka. Cairan-cairan pembersih dan desinfektan juga ludes diserbu warga guna mengantisipasi penyebaran virus Corona. Harga empon-empon seperti kunyit dan jahe yang biasanya cuma seharga tiga sampai lima ribuan, tiba-tiba melonjak sampai seharga galon air mineral. Pemerintah pun menyarankan agar masyarakat tetap berada di rumah dan membatasi perjalanan selama (minimal) dua pekan. Tujuannya untuk meminimalisir penyebaran virus Corona lebih lanjut.

Saya hampir-hampir tidak percaya dengan situasi yang terjadi. Baru tempo hari saya menonton film tentang wabah zombie, lusanya, malah negara saya yang terkena wabah betulan—dalam wujud virus Corona. Situasi ketika wabah juga sama gentingnya dengan yang ada di film. Orang-orang panik dan mencari segala macam cara untuk menyelamatkan diri. Sementara organisasi-organisasi keagamaan sibuk menguatkan hati dan iman para jemaatnya di tengah wabah yang kian meluas. Tempat-tempat ibadah mendadak kosong. Sholat Jumat ditiadakan. Warga disarankan untuk beribadah di rumah dan mnejaga jarak dengan orang-orang di sekitarnya (social distancing).

Jujur, seumur-umur menghadapi wabah, baru kali ini saya mendapati kepanikan dan paranoia sebesar ini. Dulu, sekitaran tahun 2003-2004, wabah SARS sempat menggejala. Jenis virusnya juga mirip dengan Corona—melemahkan imun korban dan melumpuhkan saluran pernafasannya. Setelah SARS dibereskan, berturut-turut muncul wabah lain yang tidak kalah horornya, mulai dari pandemi flu burung, flu babi, demam berdarah dengue, penyakit sapi gila (ANTHRAX), sampai wabah MERS. Semua pandemi itu menggejala secara luas dan menelan korban jiwa di seantero negeri. Hanya saja, saat itu, masyarakat kita bisa dikatakan tetap tenang menghadapi wabah dan secara sistematis bekerjasama dengan pemerintah untuk menanggulanginya. Pada akhirnya, wabah pun berhasil dimusnahkan.

Akan tetapi, situasinya jauh berbeda dengan wabah Corona hari ini. Kepanikan dan paranoia yang ditimbulkan Corona melampaui wabah-wabah yang pernah terjadi sebelumnya. Hal ini bisa dimaklumi mengingat jumlah korban akibat virus Corona di seluruh dunia mencapai lebih dari setengah juta orang! Di sisi lain, percepatan penyebaran informasi melalui media sosial dan akses internet yang semakin cepat (jaringan 4G), boleh jadi, membuat kepanikan warga berlipat ganda—terlepas dari informasi itu benar atau tidak (hoaks). Tindakan-tindakan yang kontraproduktif seperti panic buying atau memborong masker dan hand sanitizer pun tak terhindarkan dan semakin memperparah keadaan.

Hingga catatan ini diterbitkan, peperangan dengan wabah Corona masih terus berlangsung. Masa darurat diperpanjang pemerintah. Sebagian kota sudah mulai menerapkan kebijakan lockdown (melarang akses keluar-masuk suatu daerah). Masyarakat diminta untuk tetap di rumah dan membatasi perjalanan keluar. Sementara itu, para dokter dan tenaga medis sedang berjibaku, mempertaruhkan nyawa demi menolong para pasien Corona di rumah sakit.

Segenap doa dan usaha maksimal akan terus dikerahkan. Kerjasama antar warga dan pemerintah sangat dibutuhkan. Kesadaran setiap orang untuk menjaga kebersihan, membatasi perjalanan, dan memeriksakan diri jika timbul gejala, sangat penting untuk mengantisipasi penularan virus lebih lanjut. Semua orang harus sadar. Semua orang harus mulai saling peduli. Dan di kedalaman ruhani kita, semuanya berharap wabah ini bisa segera berakhir.[]

Wednesday, March 18, 2020

Belajar Ikhlas dari Pak Abdul Syukur


Namanya Abdul Syukur. Boleh jadi orang-orang hanya mengenalnya sebagai tukang becak biasa yang sehari-hari mangkal di depan ITC Mega Grosir, Surabaya. Profesinya tergolong berat untuk kakek-kakek 65 tahun seusianya. Tapi bagi Abdul Syukur, usia bukanlah hambatan untuk terus berdikari.

Rutinitas sebagai tukang becak membuat Abdul Syukur hafal betul rute jalan di sekitaran ITC—termasuk kondisi jalannya. Kebetulan, di sekitar tempat Abdul Syukur mangkal, ada beberapa ruas jalan yang berlubang di sana sini. Urusan jalan berlubang memang terlihat sepele. Tapi bagi Abdul Syukur, jalan berlubang adalah masalah serius!

Banyak kecelakaan yang terjadi ketika pengguna jalan berusaha menghindari lubang, tapi malah tertabrak kendaraan dari lawan arah. Kondisi bisa lebih parah, jika musim penghujan tiba. Air hujan bisa menutupi lubang di jalan dan menyebabkan pengguna jalan jatuh terperosok.

Sadar kalau jalan berlubang di sekitarnya berbahaya, Abdul Syukur tergerak untuk bertindak. Di sela-sela pekerjaannya, setiap pukul 10 malam, ia meluangkan waktu untuk menambal jalan-jalan yang berlubang tadi. Berbekal palu dan karung berisi gragal (sisa bongkaran bangunan) yang diambil dari Pasar Atom di daerah Tambak Adi, Abdul Syukur menambal jalan-jalan berlubang yang ditemuinya.

Sudah 10 tahun, Abdul Syukur menekuni aktivitasnya menambal jalan berlubang. Ia tidak pernah mendapat bayaran sepeser pun dari pekerjaannya itu. Beberapa rekannya terkadang berseloroh, menganggap Abdul Syukur kurang kerjaan.

"Buat apa susah-susah nambal jalan, Mbah. Orang-orang juga peduli setan. Biar saja itu jalan diurus sama pemerintah. Itu kan tanggung jawab mereka." Mungkin begitu seloroh orang-orang pada Abdul Syukur. Tapi, Abdul Syukur tak bergeming. Ia tetap melanjutkan pekerjaannya menambal lubang di jalan.

Hingga suatu hari, seorang wartawan tertarik membuat liputan tentang Abdul Syukur. Wartawan itu bertanya mengapa Abdul Syukur berpayah-payah menambal jalan. Ia menjawab:

“Saya nggak tega beberapa kali lihat orang jatuh karena menghindari lubang. Di situ minggu lalu malah ada yang sampai meninggal."

Well, hanya karena tidak tega melihat orang lain celaka, Abdul Syukur rela menambal jalan malam-malam. Ketika orang-orang memilih abai dan melempar tanggung jawab pada pemerintah, Abdul Syukur memilih menyingsingkan lengan baju—mencoba memperbaiki jalan meski dengan peralatan seadanya—sendirian.

Begitu kisah Abdul Syukur ramai diberitakan media, pemerintah mulai melirik. Seorang petugas dari Dinas Pekerjaan Umum (PU) mendatangi rumah Abdul Syukur. Petugas itu memberinya uang 1 juta dan menawari bekerja sebagai pengawas. Tapi, Abdul Syukur menolaknya.

Orang-orang mungkin mengira Abdul Syukur menambal jalan demi pencitraan atau karena motif materi. Tapi, jika alasannya sekadar materi, tentu ia sudah mengiyakan tawaran Dinas PU. Nyatanya, Abdul Syukur malah menolak tawaran itu. Abdul Syukur memilih tetap menjadi dirinya yang sekarang.

"Saya ini nggak bisa amal harta. Saya ini hanya bisa nyumbang tenaga buat nambal jalan rusak. Itu saja," kata Abdul Syukur.

Kisah Abdul Syukur menambal jalan berlubang, boleh jadi, terdengar kurang heroik jika dibandingkan dengan kisah kepahlawanan lain. Misalnya, menyediakan layanan kesehatan gratis di pedalaman Sumatera, mengajar anak-anak kurang mampu di perbatasan, atau memberi makan bayi-bayi kelaparan di Afrika. Tapi, siapa yang tahu, berkat tindakan kecil Abdul Syukur, ribuan orang telah terselamatkan dan terhindar dari petaka lubang di jalan.

Di sisi lain, Abdul Syukur tetap memilih untuk hidup bersahaja. Ketika orang-orang menyebutnya ‘pahlawan’ dan sorotan media berhenti meliputnya, ia masih melakukan aktivitasnya menambal jalan secara sukarela. Keikhlasan Abdul Syukur menohok kita semua dengan pertanyaan:

"Tak bisakah kita melakukan kebajikan hanya karena kita ingin melakukannya? Tak bisakah kita berbuat baik tanpa pamrih apapun?” 

Salah satu masalah kronis manusia modern adalah pamrih. Dalam hal apapun, orang lebih tertarik untuk melakukan sesuatu yang secara langsung memberinya keuntungan pribadi. Imbalan materi (uang) adalah contoh mudahnya.

Selain materi, ada juga yang melakukan sesuatu demi pencitraan, demi mendapat pujian dari orang lain, atau karena gengsi yang dituruti. Terkadang, orangtua pun memberikan kasih sayang kepada anaknya dengan pamrih, agar si anak kelak membalas segala jasa baiknya dengan kasih sayang yang serupa.

Bahkan orang taat beragama pun, bisa saja tersemangati untuk beribadah dan beramal salih dengan "pamrih" meraih surga. Mereka beribadah, semata bukan karena diliputi kesadaran bahwa Tuhan memang layak disembah, melainkan karena pamrih "materi" yang berupa surga. Pertanyaannya, jika surga tidak pernah ada, apakah kita—manusia—akan berhenti menyembah-Nya? Tentu saja, tidak!

Karena sesungguhnya, esensi hidup kita ini adalah ibadah. Bekerja dengan tulus dan ikhlas—sedemikian hingga keberadaan kita memberi manfaat bagi diri dan orang lain—juga termasuk ibadah. Dan begitulah, kebaikan yang dilakukan tanpa pamrih, seperti yang dilakukan Abdul Syukur, tentu lebih bernilai dan benar-benar berarti—baik bagi sesama, maupun di hadapan Sang Pencipta.[]

March 18, 2020Benny Prastawa

Sunday, March 15, 2020

Benang Kusut Masalah Software dan OS Bajakan (2)



Masalah OS dan software bajakan tidak bisa berhenti hanya pada aspek legalitasnya saja. Ketergantungan masyarakat pada satu jenis OS dan software tertentu, memaksa kita untuk mengikuti arus—yang ujung-ujungnya memakai produk bajakan.

* * *

Ketergantungan Masyarakat dan Masalah Freeware Gratisan (Open Source)

Ketergantungan masyarakat pada satu jenis OS dan software tertentu bisa dilihat dari kecenderungan selera konsumen dan dominasi produk terkait. Dalam hal OS, hampir semua komputer dan laptop di Indonesia memakai OS Windows. Dibandingkan dengan OS lain seperti Linux, jumlah pengguna Windows terpaut jauh di atas pengguna Linux.

Untuk program desain grafis, CorelDraw dan Adobe Photoshop masih menjadi pilihan pertama para pelaku jasa sablon dan percetakan. Padahal, harga lisensi asli untuk kedua software tersebut bisa menembus angka 20-an juta rupiah! Sangat tidak ekonomis, tapi karena banyak dipakai dan dinggap terlalu berguna, akhirnya versi bajakan pun berbicara.

Baca juga: Benang Kusut Masalah Software dan OS Bajakan (1)

Pernah suatu kali, saya menyetor desain banner yang saya buat dengan freeware InkScape ke percetakan. InkScape sendiri pada dasarnya mirip dengan CorelDraw, hanya ekstensinya berbeda. Ekstensi Inkscape adalah SGV, sedangkan ekstensi CorelDraw adalah CDR. Gara-gara itu, file InkScape saya gagal dibuka di percetakan. Desain yang saya buat malah terlihat berantakan dan layout-nya ambyar.

Saya sudah mencoba mengatasi masalah ini dengan mengubah ekstensi file InkScape, tapi hasilnya nihil. Desain saya tetap terlihat ambyar begitu dibuka di CorelDraw. Saya pun menyerah, lalu beringsut menginstal software CorelDraw (yang tentu saja bajakan) untuk mendesain ulang banner tadi agar tidak ambyar di percetakan.

Kesenjangan antara software berbayar dan freeware yang gratis menyebabkan sulitnya menawarkan freeware sebagai alternatif solusi mengatasi masalah software bajakan. Padahal, kalau kita mau, kita bisa mengatasi ketergantungan kita pada software bajakan dengan freeware-freeware gratis. Kita bisa mengganti CorelDraw dengan InkScape, mengganti Adobe Photoshop dengan GIMP, mengganti Adobe Premiere Pro dengan OpenShot, dan membiasakan diri dengan Open Office sebagai pengganti Microsoft Office.

Sayangnya, seperti yang saya katakan tadi, kita terlalu lama bergantung pada satu jenis software. Sejak di bangku sekolah, kurikulum pelajaran komputer (TIK) hanya mengenalkan peserta didik pada OS Windows dan Microsoft Office. Keduanya memang jenis OS dan software yang user-friendly (mudah dipakai bagi pemula). Tapi bagaimanapun, keberadaan OS dan software alternatif lain juga perlu disampaikan untuk memperkaya wawasan peserta didik. Pada titik ini, peserta didik juga perlu diberi informasi penting bahwa OS Windows dan software semacam Microsoft Office tidaklah gratis!

Saya termasuk salah satu pelajar yang "dididik" untuk mendewakan Windows dan Microsoft Office. Akan tetapi, setelah sadar bahwa dua produk itu (sebenarnya) tidak gratis, pikiran saya mulai terusik. Ada sepercik kekhawatiran kalau-kalau rejeki saya menjadi kurang barokah jika saya tetap memakai produk bajakan itu untuk bekerja.

Saya juga teringat pada seabrek software di laptop yang masih banyak versi bajakannya. Menjelang akhir kuliah, saya mulai mencoba menginstal freeware-freeware gratis untuk mengganti software bajakan di laptop saya. InkScape, GIMP, OpenOffice, VLC Video Editor,  dan 7-Zip adalah beberapa contohnya.

Sayangnya, saya tidak bisa lepas dari ketergantungan pada OS Windows dan Mirosoft Office. Dua produk itu terlalu banyak dipakai dan bersinggungan langsung dengan pekerjaan saya sehari-hari. Demi meng-halal-kan legalitas, saya pun bergerilya mencari produk Windows dan Office yang harganya terjangkau (meski pada prakteknya tetap harus merogoh kocek dalam-dalam).

Akhirnya, saya pun mem-purchase OS Windows 8.1 dan Office 2013 Home and Student. Untuk kedua produk tersebut saya harus merogoh ‘tabungan’ hingga 2 juta lebih (hampir 3 juta). Awalnya, saya merasa sayang membuang uang sebanyak itu hanya demi dua keping CD yang bentuknya sama saja dengan CD kosongan yang dijual mas-mas fotokopian. Terlebih saat itu, saya sedang menimbun rupiah untuk biaya nikah. Well, kalau dipikir-pikir, mungkin saya cukup ‘bodoh’ karena mau membayar (baca: "membuang") jutaan rupiah hanya demi sebuah lisensi!?!?!?

Tapi setelah dipikir-pikir lagi, harga yang saya bayar untuk OS Windows dan Microsoft Office asli tidak lebih mahal dari harga smartphone yang saya pakai. Itu berarti, kalau kita mau, kita sangat mungkin membeli lisensi Windows dan Mocrosoft Office yang asli. Lha wong beli smartphone saja mampu, masak cuma buat OS dan software yang asli saja nggak sanggup?

Saya pikir, pembelian lisensi ini adalah investasi jangka panjang. Di satu sisi, saya mendapat produk yang legal untuk membantu kelancaran pekerjaan saya. Di sisi lain, saya juga lebih afdhol mencari rezeki dengan produk legal, tanpa harus membajak—yang boleh jadi bisa dipersoalkan dari sisi ke-barokah-annya.

*   * *


Kesimpulan

Saya tidak sedang mengatakan halal dan haram, lho ya. Saya tidak berkapasitas memberi fatwa. Saya hanya menyoroti masalah pembajakan ini dari sisi etika. Bahwa apapun alasannya, membajak suatu produk tetap sulit mendapat pembenaran.

Bayangkan, kita sudah membuat suatu produk X dengan jerih payah sendiri. Kita bekerja bertahun-tahun menciptakan produk itu melalui ribuan kali uji coba. Kemudian setelah produk X dipatenkan, kita menjualnya ke pasar dengan harga tertentu sebagai imbal jasa atas usaha pembuatan produk tersebut.

Selang seminggu kemudian, tetangga dari kampung sebelah juga menjual produk yang sama persis dengan produk X yang kita buat—hanya namanya saja yang sedikit berbeda, katakanlah produk KaWe. Apesnya, penjualan produk KaWe lebih menguntungkan daripada produk X buatan kita. Dan semua proses bisnis produk KaWe berjalan tanpa seizin kita.

Bagaimana perasaan kita selaku pembuat produk X asli? Marah, tentu saja. Kesal, karena jerih payah kita bertahun-tahun membuat produk X malah disalahgunakan tanpa izin oleh pihak lain.

Itu hanya gambaran awal, kenapa pembajakan dikatakan tidak etis. Kalau mau jujur, nurani kita juga pasti mengiyakan bahwa pembajakan adalah sesuatu yang tidak baik. Tapi kemudian, sisi lain dari diri kita mencoba ngeles:
“Lah, ini program penting banget buat kerjaan saya. Saya nggak bisa kerja kalo nggak punya program ini. Kalo saya mau beli mana sanggup. Mahal. Jadi, sementara mbajak dulu aja, ya. Toh yang punya produk ini sudah tajir tujuh turunan.”

Ya, saya sendiri sangat mafhum betapa OS Windows sudah menggurita di negara ini. Di rumah, di sekolah, di kampus, di rumah sakit, dan di kantor-kantor, OS Windows selalu menjadi pilihan pertama untuk mengurusi administrasi. Sayangnya, hanya segelintir saja yang memakai produk asli. Sisanya terjerembab dalam lingkaran setan produk bajakan.

Kalau ada yang mengatakan negara kita termasuk ke dalam 10 negara dengan tingkat pembajakan software tertinggi, saya bisa memakluminya. Tapi, mengapa fakta "harga OS Windows dan Office asli tidak lebih mahal dari smartphone" belum menyentil kesadaran konsumen untuk mengusahakan produk yang asli? Logikanya, jika membeli smartphone terbaru saja mampu, mengapa OS Windows dan Office asli tidak?

Saya tidak menghakimi mereka yang memakai software bajakan. Menumbuhkan kesadaran untuk memakai produk legal dan menghargai hak cipta, membutuhkan proses yang tidak instan. Ada banyak faktor yang berperan di dalamnya seperti daya beli konsumen, wawasan, mentalitas masyarakat, dan kebijakan pemerintah terkait masalah pembajakan itu sendiri. Akan tetapi, satu hal yang pasti, semua kelindan masalah pembajakan ini senantiasa berpulang pada kesadaran masing-masing individu.

Saya menulis catatan ini karena saya menyadari, selama ini, saya telah menjadi ‘korban sistem’. "Sistem" yang monopolistis dan tidak berpihak pada ekonomi masyarakat kita pada umumnya. "Sistem" yang mendidik anak-anak untuk kadung kepenak memakai OS Windows dan Microsoft Office—yang notabene berharga mahal—tanpa alternatif lain. "Sistem" yang secara tidak langsung, memaksa kita untuk "membajak", demi bisa mengikuti arus dan survive menjalani pekerjaan sehari-hari tanpa menderita kemiskinan—gara-gara membayar lisensi produk asli.

Saya tidak bisa menyarankan jalan keluar apapun untuk masalah ini. Naif sekali jika saya berkoar-koar memaksa kalian memakai OS dan software asli di tengah jutaan pengguna komputer terjebak dalam dilema pemakaian produk bajakan. Boleh jadi, satu dua dari mereka juga merasakan kegelisahan yang sama seperti saya. Khawatir kalau-kalau rezekinya kurang barokah karena masih memakai OS dan software bajakan.

Saya sangat berharap ada pihak-pihak yang kompeten dalam masalah ini untuk memberi solusi. Dan saya akan sangat berterima kasih untuk setiap pihak yang tengah gencar melakukan gerakan GO open source. Saya akan dengan senang hati menerimanya sebagai upaya pembaruan dan pengentasan massal dari monopoli OS Windows dan masalah software bajakan yang dibiarkan marak tanpa solusi.[]

March 15, 2020Benny Prastawa