Wednesday, August 1, 2018

Pengharapan


Jangan pernah berharap kepada manusia, karena pengharapan yang paling pahit adalah pengharapan kepada selain-Nya.

Manusia bisa salah, bisa khilaf, bisa ingkar, bisa dusta, bisa lupa, bisa pula celaka. Kenapa masih mau berharap pada manusia?

Tidak ada yang tahu masa depan akan jadi seperti apa. Ada cemas, ragu, was-was, dan sejumput rasa takut jika sudah memikirkan masa depan.

Karena itulah, kita selalu menumbuhkan HARAPAN agar kita merasa lebih kuat, lebih optimis menatap masa depan.

Tapi, banyak orang yang termangu tertipu, karena menggantungkan harapan pada makhluk bernama manusia.

Jadi untuk apa berharap pada manusia yang ingkar sementara kita semua memiliki Dia Yang Maha Kuasa?

Jadi, untuk setiap keraguan dan rasa takutmu akan masa depan, ajukanlah permohonan itu pada Yang Maha Memiliki, yang kuasa-Nya menembus batasan-batasan manusia.

Karena sungguh, tidak ada manfaat apapun jika kita sibuk mencemaskan nasib kita sendiri. 

Hanya DOA dan UPAYA yang akan meringankan semua kecemasan dan ketakutan kita.

#backDate

Sunday, July 1, 2018

Cerita-Cerita Anak yang Berkesan


Saat saya SD, salah satu ruangan di rumah saya pernah dijadikan perpustakaan anak. Karena masih kecil, saya tidak terlalu paham bagaimana proses kerjasama pendirian perpustakaan itu. Yang saya tahu, pihak sponsor perpustakaan berasal dari SD tempat ayah saya bekerja. Boleh jadi, karena SD ayah tidak memiliki cukup ruang untuk perpustakaan, buku-buku dari sponsor perpustakaan itu dialihkan ke rumah saya.

Lusinan buku pun dimasukkan ke dalam sebuah ruangan kosong di rumah saya. Ruangan itu terletak di samping teras rumah dan jarang dipakai. Karenanya, ruangan itu cukup strategis untuk dijadikan perpustakaan anak. Anak-anak sepantaran saya banyak yang berkunjung untuk meminjam buku. Kebanyakan mereka adalah anak-anak dari kampung lain yang notabene adalah murid ayah saya juga. Sementara anak-anak dari kampung saya sendiri hanya sedikit yang berkunjung. Itu pun hanya anak-anak tetangga yang kebetulan mampir.

Bagi saya, keberadaan perpustakaan itu menjadi berkah yang luar biasa. Buku-buku yang disajikan sponsor perpustakaan merupakan buku-buku berkualitas yang belum pernah saya jumpai di perpustakaan sekolah. Di antara deretan buku itu, saya hanya mengenali majalah Bobo karena ibu saya pernah membelikannya. Selebihnya, ada banyak buku-buku ensiklopedia, sains, kumpulan fabel, dan pengetahuan populer yang menggunung di ruang perpustakaan.

Sebagian buku ada yang bersampul tebal (hard cover) lengkap dengan gambar-gambar kartun berwarna yang lucu. Buku-buku itu sangat layak dan cocok dibaca oleh anak-anak seusia saya. Saya merasa beruntung bisa membaca buku-buku itu karena dari tampilan luarnya, saya tahu buku-buku itu terlalu mahal untuk dibeli secara pribadi.

Perpustakaan anak di rumah saya itu pula yang menjadi katalisator pendongkrak minat baca saya. Meski ada banyak pilihan buku di perpustakaan anak itu, favorit saya tetap deretan cerita-cerita pendek (cerpen) dari majalah Bobo. Dari sekian banyak cerpen Bobo yang sudah saya baca, ada segelintir cerpen yang ceritanya begitu berkesan dan tetap mengendap di otak saya hingga kini.

* * *

1. Jambu Bangkok Milik Kakek
Menceritakan seorang anak laki-laki yang bersimpati pada tetangganya, seorang kakek-kakek pemilik pohon jambu, yang berkali-kali menjadi korban pencurian jambu. Si Kakek sebenarnya tidak terlalu mempersoalkan pencurian itu, tapi ulah pelakunya yang serampangan menyebabkan banyak buah jambu mentah yang masih kecil berguguran.

Si anak laki-laki pun berinisiatif membantu Kakek membereskan pencuri jambu itu dengan kecerdasannya merangkai kaleng-kaleng susu bekas untuk menakut-nakuti si pencuri.


2. Korespondensi dengan Si Pencuri
Cerpen paling kreatif dan unik yang pernah saya baca. Meski sempat bingung dengan arti kata "korespondensi", saya tetap paham maksud ceritanya. Cerpen ini berkisah tentang seorang anak yang baru pindah rumah. Si anak beruntung karena di halaman rumah barunya ada pohon belimbing yang tengah ranum.


Sayangnya, keinginan si anak untuk menikmati belimbing itu terganggu ulah pencuri belimbing misterius. Si anak kemudian menulisi surat peringatan yang digantung di pohon belimbing itu. 

Ternyata, si pencuri tidak jera, alih-alih ia malah membalas surat ancaman itu. Maka, terjadilah aksi balas membalas surat yang seru antara si anak yang menjadi korban dan pelaku pencurian.

Ending cerpen ini menarik sekaligus menyentuh karena pelaku pencurian adalah teman dekat si anak yang baru pindah itu. Belimbing yang dicuri pun dipakai untuk mengobati tetangga yang sedang sakit keras. Benar-benar perpaduan cerita detektif dan drama yang keren.


3. Kacamata UFO
Karena setelah dewasa saya memakai kacamata (saat bocah mata saya belum minus) mau tak mau saya jadi teringat cerpen ini. Cerpen Kacamata UFO bercerita tentang seorang anak berkacamata yang menjadi korban kejahilan teman sekelasnya. Si Anak berkacamata sering diolok-olok karena bentuk kacamatanya yang lebih mirip kacamata Alien. Jadilah dia dijuluki "Kacamata UFO". Suatu kali, kacamata Si Anak diambil dan dijadikan bahan bercandaan oleh temannya yang jahil. Malangnya, kacamata itu terjatuh dan pecah berkeping-keping. Si Anak sangat sedih karena tahu orangtuanya yang pas-pasan tidak mungkin bisa membelikannya dalam waktu dekat.


Malam setelah kejadian itu, teman Si Anak yang telah memecahkan kacamata bermimpi didatangi alien. Ia diancam akan disakiti karena telah merusak kacamata Si Anak. Dalam mimpinya, ia digiring masuk ke pesawat UFO yang bentuknya mirip kacamata yang telah dipecahkannya.

Keesokan harinya, pelaku pemecahan kacamata merasa jera. Ia pun menggalang dana dari seluruh siswa di sekolahnya untuk membelikan kacamata baru untuk Si Anak. Pada akhirnya, pelaku pemecahan kacamata tidak jahil lagi, dan mereka menjadi teman baik. Si Anak juga berterima kasih karena sudah memiliki kacamata baru.

Nilai-nilai persahabatan sangat kental di cerpen ini. Meski ceritanya sederhana, pemilihan bahasa cerpen sangat menarik sehingga bisa menimbulkan kesan yang membekas di ingatan saya. Belum lagi pesan moral tentang rasa tanggung jawab dan empati kepada korban bullying di sekolah, sangat cocok dengan kehidupan anak-anak sekolah yang lekat dengan kasus semacam itu.


4. Kenapa Mesti Om Jali
Cerpen ini bercerita tentang seorang anak yang bertetangga dengan Om Jali. Di mata Si Anak, Om Jali adalah sosok tetangga yang baik, ramah, dan senang memberi hadiah. Si Anak sering ditraktir makan atau sekedar jalan-jalan dengan mobil Om Jali. Mobil Om Jali keren dan sering berganti-ganti. Awalnya, Si Anak tidak menaruh curiga karena Om Jali bekerja di perusahaan mobil, sehingga wajar jika dia sering berganti mobil. Sampai suatu kali ketika Si Anak dan temannya ditraktir jalan-jalan dengan mobil, teman Si Anak mendapati kejanggalan pada mobil Om Jali yang ditumpangi.


Benar saja, selang beberapa waktu kemudian, Om Jali menghilang dan tidak pernah pulang ke rumah. Si Anak melihat langsung bagaimana polisi membawa Om Jali beserta komplotannya. Si Anak pun menyesal, dan dengan naif meratap "Kenapa mesti Om Jali..."

Bagian ending inilah yang paling menarik karena semua orang baik di mata kita belum tentu akan selamanya begitu. Setiap manusia pasti memiliki sisi baik dan sisi buruk dengan periodenya masing-masing sepanjang hidupnya.


5. Wangi di Senja Hari
Berkisah tentang seorang bocah penakut yang disuruh ibunya membelikan sabun ke warung. Karena warung dekat rumahnya tutup, Si Bocah harus membeli sabun di warung lain yang berada di kampung sebelah. Si Bocah pun mengayuh sepeda dengan sejumput rasa takut melihat penampakan. Sepanjang perjalanan pulang dari warung, Si Bocah dibuntuti bau harum misterius yang disangkanya sebagai bau hantu. Bau harum itu membuatnya terbirit-birit mengayuh sepeda sampai ke rumah. Tak dinyana, bau harum itu berasal dari sabun yang baru saja dibelinya sendiri. Kocaknya...


Jika cerpen Korespondensi dengan Si Pencuri memadukan cerita detektif dan drama, cerpen Wangi di Senja Hari memadukan horor dan humor. Cerdas.

***

Demikian, beberapa cerpen anak yang saya baca belasan tahun lalu, saat saya masih bocah, namun ingatan saya pada alur cerita tetap berkesan. Di tengah guyuran candu gadget yang menjangkiti anak-anak masa kini, ingin rasanya saya melihat lebih banyak anak yang menghabiskan waktunya untuk membaca cerita-cerita anak dan akrab dengan buku. Karena bagaimanapun, gadget tidak akan bisa mengajarkan moral dan etika sopan santun. Dan tanggungjawab orangtualah yang harus mengenalkan anak pada nilai-nilai kehidupan yang baik.

Friday, June 1, 2018

Gairah Artis dan Jalan Sunyi Para Blogger


Hanya segelintir orang yang bisa rutin ngeblog sampai belasan atau puluhan tahun. Faktor kesibukan, tidak ada waktu, dan minimnya ide menulis adalah beberapa alasan yang paling sering dilontarkan. Namun, pada umumnya, alasan mendasar kenapa banyak orang berhenti ngeblog adalah karena blog sulit membuat pemiliknya terkenal. Tentu saja ada beberapa pengecualian, seperti Raditya Dika yang sukses menjadi terkenal karena blog. Tapi, jika kalian bertanya pada para blogger pemula “kenapa kalian bikin blog?” kebanyakan mereka akan menjawab “karena saya ingin terkenal.”

Pada dasarnya kita ingin agar diri kita dikenal orang lain. Hal ini merupakan kebutuhan mendasar manusia sebagai makhluk sosial. Karenanya, kita sering merasa tidak nyaman jika terlalu lama berada di tempat yang tidak ada seorang pun mengenali kita. Awalnya, kita hanya butuh dikenal oleh orang-orang terdekat di sekitar kita, seperti orangtua, saudara, kerabat dan tetangga. Seiring bertambahnya usia, hubungan sosial dan relasi pertemanan kita semakin berkembang. Kita tidak lagi merasa cukup hanya dengan mengenal, tapi kita juga ingin agar diri kita dikenal. Kebutuhan untuk dikenal ini perlahan berubah menjadi hasrat untuk mengaktualisasikan diri—kita ingin agar orang-orang tahu siapa kita dan apa kelebihan kita. Saya menyebut kecenderungan ini sebagai “gairah artis”.

Ada banyak jalan yang bisa ditempuh untuk memenuhi “gairah artis” ini. Kita bisa memamerkan atau menunjukkan kelebihan kita secara langsung, seperti lewat pertunjukan seni, misalnya. Kita juga bisa memenuhi “gairah artis” dengan mendokumentasikan aktivitas kita dan menyebarkannya di ruang publik—misalnya melalui media massa.

Penemuan kamera dan alat perekam video memudahkan kita untuk melampiaskan “gairah artis”. Siapapun bisa mendokumentasikan setiap aktivitasnya lewat citra audio visual. Jika tiga puluh tahun lalu hanya orang-orang kaya yang bisa mendokumentasikan aktivitasnya lewat foto atau video, sekarang, dengan adanya internet dan smartphone, siapapun bisa dengan mudah mendokumentasikan bahkan membagikan foto atau videonya kepada semua orang di dunia.

Pada akhirnya, perkembangan teknologi telah mendorong “gairah artis” manusia menjadi tidak terkendali. Media sosial menjadi wadah sekaligus wabah yang menampung berjuta ragam ekspresi dan aktualisasi diri dari berbagai jenis ras manusia. Tak peduli apakah konten yang dimuat bermanfaat atau tidak, layak atau tidak, semua orang berlomba menunjukkan eksistensi diri masing-masing.  Semuanya mengusung misi yang sama: menjadi seorang yang lebih dikenal dan terkenal.

Lalu apa hubungannya ngeblog dengan “hasrat artis” yang selalu ingin terkenal? Well, seperti yang saya jelaskan di awal, blog juga bisa membuat seseorang menjadi terkenal. Seorang blogger pemula sangat mungkin tergiur untuk menjadi terkenal lewat blognya. Mereka memandang blog sebagaimana media sosial pada umumnya, seperti Facebook, Twitter, Path, dan Instagram. Padahal, blog dan media-media sosial mainstream memiliki beberapa aspek perbedaan.

Yang pertama, dari aspek fungsi jejaring pertemanan. Media-media sosial mainstream pada umumnya didesain untuk membuat penggunanya menjadi lebih dikenal dan memungkinkan mereka mendapat lebih banyak teman dalam waktu singkat. Kalian hanya perlu mengetikkan nama akun teman kalian, lalu klik “ADD”. Setelah dikonfirmasi (di-accept), kalian telah saling berteman dan bisa langsung berbagi informasi. Dan semua proses tersebut bisa dilakukan dengan mudah hanya dengan satu panel saja.

Sementara dalam dunia blog, konsep “teman” di sana berbeda dengan media sosial mainstream. “Teman” dalam dunia blog bisa diartikan sebagai pengikut (followers) yang rajin mengikuti dan memantau blog kalian. Karenanya, agar blog kalian mendapat pengikut dan dibaca banyak orang, kalian harus mengisi blog dengan konten-konten yang memang bisa dinikmati orang lain. Konten yang menarik akan membuat pengunjung blog merasa betah dan berpeluang untuk kembali mengunjungi blog kalian. Jika sudah begitu, maka besar kemungkinan pengunjung blog akan tertarik untuk mem-follow blog kalian.

Selain itu, agar jejaring pertemanan kalian di blog lebih luas, kalian juga butuh melakukan kunjungan ke blog-blog lain (blogwaking), promosi alamat blog, menjadi pengikut (followers) blogger lain, memanajemen SEO, sampai memastikan blog kalian terindeks Google. Sialnya, meski semua cara itu sudah kalian lakukan, pengikut blog kalian boleh jadi belum akan bertambah secara signifikan! Di sinilah letak keruwetan jejaring pertemanan di blog dibandingkan dengan media-media sosial mainstream lainnya. Sederhananya, jika untuk mendapat teman di blog kita harus gigih berjuang berhari-hari, maka untuk mendapat teman dari media sosial mainstream hanya perlu hitungan menit.

Alasan kemudahan dalam memperluas jaringan pertemanan inilah yang mengakibatkan jumlah pengguna blog dan pengguna media sosial seperti Facebook dan Twitter berbanding jauh. Selama belasan tahun kalian sekolah-kuliah, paling banter kalian hanya akan medapati dua tiga orang teman yang aktif ngeblog. Sisanya mungkin hanya iseng atau sekedar bikin blog untuk tugas TIK. Jadi, jika8 kalian ingin memperluas jaringan pertemanan melalui blog, menurut saya, media blog kurang cocok untuk tujuan semacam itu.

Perbedaan yang kedua, dari segi konten. Seperti yang sudah saya jelaskan tadi, membuat kontendi blog sebaiknya tidak ngasal. Jika konten blog kalian cenderung “3NG” (baca: TRING=NGawur, NGalay, dan Ngasal), hal tersebut bisa membuat pembaca merasa tidak nyaman (bahkan misuh mungkin). Akibatnya, pembaca akan malas berkunjung lagi ke blog kita karena kapok.

Berbeda dengan media-media sosial mainstream yang kebanyakan jejaring pertemanannya adalah teman-teman kalian sendiri. Sebagian dari mereka mungkin pernah bertemu langsung dengan kalian. Jadi, ketika kalian mengunggah sebuah konten (senorak dan seabsurd apapun itu), selama isi konten tidak bertentangan dengan undang-undang, maka akun media sosial kalian bisa tetap dikunjungi (bahkan masih mendapat jempol “like”).

Pada dasarnya, media-media sosial mainstream seperti Facebook, Twitter, Path, dan Instagram adalah versi mini-nya blog. Hanya peruntukannya berbeda untuk setiap orang—tergantung pada kebutuhan masing-masing. Yang ngeblog untuk berjualan banyak. Yang bermedsos untuk jualan berjuaan juga bejibun. Yang blognya ramai pengunjung ada, yang akun medsosnya kebanjiran followers juga ada. Masing-masing media memiliki fungsi dan peran yang berbeda untuk para penggunanya.

Tapi, bagi saya pribadi, blog adalah media aktualisasi diri yang sunyi. Saya sadar sesadar-sadarnya bahwa jika saya ngeblog hanya untuk menjadikan diri saya terkenal, maka saya sudah menggadaikan waktu dan pikiran saya untuk sesuatu yang tidak akan meningkatkan kualitas diri saya! Jika menjadi terkenal adalah tujuannya, maka alangkah baiknya jika saya jadi selebgram atau vlogger mi instan di Youtube (misalnya lho, ya). Dengan berbagai pertimbangan, saya memutuskan untuk ngeblog saja untuk menghindari lebih banyak “korban”. Maksud saya, jika blog saya buruk, paling banter orang hanya akan mencela tulisan saya. Tapi kalau video Youtube yang ada gambar muka saya jelek, sudah diedit dan disunat sembarangan (seperti kasus Pak Ahok), wah bisa-bisa saya jadi buronan orang-orang sekampung dengan tuduhan macam-macam. Saya tidak mau yang seperti itu.

Semua blogger, pada awalnya pasti pernah mengalami fase-fase di mana “gairah artis-nya” bergejolak. Gairah artis itu pula yang mendorong mereka rajin menulis di blog. Saking “produktifnya”, sebagian blogger sampai harus mencomot tulisan blog orang lain (copy paste). Tapi, ketika mereka sampai di titik di mana kerja keras mereka sia-sia, trafik pengunjung datar-datar saja, kolom komentar masih melompong, atau judul tulisan gagal tampil di firstpage Google, sudah semestinya kearifan diri ini yang terketuk. Karena blog tidak sama dengan media-media sosial mainstream.

Dalam dimensi kesunyiannya, ada sejumput kebijaksanaan dan pembelajaran berharga yang bisa kita ambil dari blog. Ada tetes hikmah keikhlasan yang harus kita renungkan, agar kita bisa melakukan sesuatu tanpa pamrih duniawi. Semuaitu membawa kita ke pertanyaan mendasar: “apa tujuan kita ngeblog”?

Para blogger yang konsisten ngeblog sampai belasan bahkan puluhan tahun selalu membat saya takjub. Konistensi mereka dalam menulis (mungkin karena faktor pekerjaan mereka yang rata-rata penulis) membutuhkan kadar keikhlasan sampai level tertentu. Jika mereka menulis, mereka akan menulis semata karena mereka ingin menulis. Karena dalam pekerjaan apapun, jika kita meniatkan pekerjaan itu sekedar untuk mencari tepukan dan ujaran pujian, maka yang akan kita dapati adalah kelelahan.

Begitu pula saat menulis. Jika kita terlalu muluk-muluk berpamrih, maka tulisan kita tidak akan selesai. Karena bagaimanapun, proses menulis membutuhkan kejernihan batin dan nalar agar apa yang tertulis tidak menjadi wacana yang menggelisahkan—pun ujaran kebencian.[]

Saturday, May 26, 2018

Ngomong-Ngomong Masalah Pensil

Sebelum membaca lebih jauh, perlu saya ingatkan bahwa tulisan ini tidak ditujukan untuk kepentingan promosi merk produk tertentu. Meski dalam beberapa saya menyebut merk, itu tidak menunjukan opini pribadi penulis bahwa merk tersebut lebih baik daripada merk lain. Semuanya pure sekedar untuk membantu pembaca memahami isi dan konteks tulisan ini. Demikian.

***

Selain pulpen, salah satu perkakas menulis yang berperan penting dalam kehidupan anak sekolah adalah pensil. Pada umumnya, pensil dipakai pada kelas tingkat bawah (TK-SD kelas 3). Dibandingkan dengan pulpen, pensil dinilai lebih aman untuk belajar menggambar dan menulis karena bisa dihapus. Berbeda dengan pulpen yang bersifat permanen dan tidak erasable. Pemakaian pulpen biasanya baru diizinkan pada jenjang kelas yang lebih tinggi dengan catatan siswa sudah lancar menulis dan perkembangan psikomotoriknya berlangsung normal. Begitu juga dengan saya. Pensil adalah alat tulis pertama yang saya pakai untuk belajar menggambar-menulis. Dibandingkan pulpen, saya lebih dulu dikenalkan dengan pensil oleh guru saya.

Ada banyak sekali jenis pensil yang beredar di pasaran. Pensil pertama saya adalah “pensil wangi bergambar” yang saya pakai saat TK sampai SD kelas 2 (kira-kira). Jenis pensil ini sangat unik, karena selain aromanya wangi, badan pensil ini dilapisi gambar kartun warna-warni yang memanjakan mata anak-anak. Pada bagian ujungnya, melekat sebiji karet penghapus yang bisa menyelamatkan uang jajan anak sekolah dari pemborosan membeli karet penghapus standar. Lebih uniknya, pensil jenis ini seringkali tidak mencantumkan merk (barangkali ada, tapi saya jarang memperhatikan detilnya). Selanjutnya, pensil jenis ini akan saya sebut “pensil Wanibar”—karena baunya wangi dan ada gambar-gambarnya.

Seperti yang saya katakan tadi, pensil adalah alat tulis yang paling cocok digunakan untuk mengenalkan cara menggambar dan menulis pada anak. Berkat pensil Wanibar, keterampilan motorik saya dalam menggambar dan menulis juga semakin terasah. Saya masih ingat pelajaran pertama di kelas 1 SD. Saat itu, Bu Guru meminta murid-muridnya untuk menyalin gambar pola yang ada di papan tulis. Bentuk gambar pola di sana bervariasi, ada bentuk oval, spiral, eksagonal, kotak, turus, diamond, dan sebagainya (belakangan, saya tahu bahwa itu adalah metode klasikal untuk mengenalkan cara menulis pada anak). Berkat pensil ini pula, saya jadi bisa menggambar lukisan legendaris khas anak SD–hamparan sawah dengan latar gunung kembar dan seringai matahari.

Setelah pensil Wanibar, saya berkenalan dengan “pensil tukang”. Pensil ini tidak pernah saya pakai di sekolah. Saya hanya melihatnya di kotak perlengkapan di rumah. Pensil itu biasa dipakai ayah saya untuk menandai bagian kayu yang akan dipotong. Itu sebabnya saya menamai pensil itu “pensil tukang”.

Karena ditujukan untuk menandai kayu, diameter pensil ini lumayan besar, kira-kira 3 kali lipatnya pensil anak sekolah.

Menginjak kelas 3 SD, saya mulai tidak nyaman memakai pensil Wanibar. Pensil itu terasa kasar dan lebih sulit dihapus bahkan dengan penghapus bermerk sekalipun. Saya mulai mencari jenis pensil lain yang lebih nyaman dipakai. Salah satunya adalah pensil HB warna merah (saya lupa merknya). Pensil ini mirip-mirip dengan pensil Wanibar, tapi lebih nyaman dan lembut saat digoreskan di kertas. Di ujungnya, pensil ini juga menyediakan sebiji karet penghapus—sama halnya dengan pensil Wanibar.

Sampai suatu hari, saat saya membaca majalah Bobo, saya mendapati sebuah iklan pensil merk “Staedler”. Pensil berwarna biru itu terlihat sangat menarik. Rautannya sangat rapi. Saya mendapati iklan pensil itu di setiap edisi majalah Bobo yang saya baca (ngomong-ngomong saya tidak berlangganan Bobo, hanya pinjam perpustakaan). Karena seringnya terpapar iklan, saya pun tertarik membeli sebuah pensil Staedler. Kualitas dan hasilnya memang cocok dengan iklannya yang masif.

Pensil Staedler adalah pensil modern pertama yang saya pakai. Bahan dasarnya adalah grafit berkualitas yang lembut saat digores di kertas. Pensil ini tidak sampai menyobek kertas walau ditekan dengan kuat. Saat dihapus, bekas hapusannya pun relatif bersih dan tidak merusak kertas (kecuali kalian memakai karet penghapus murahan bertekstur kasar). Memasuki kelas 6 SD, saya lebih sering memakai pensil Staedler 2B ini karena cocok dengan kebutuhan saya—entah untuk sekedar coret-coret atau menjiplak gambar-gambar karakter di komik. Hanya saja tulisan GERMANY yang tertera di badan pensil membuat saya bertanya-tanya “Apa iya, untuk sebatang pensil saja kita harus mengimpor produk dari luar negeri?”

Menjelang ujian kelulusan (waktu itu belum ada Ujian Nasional), muncul lagi pensil merk Faber Castle. Warnanya coklat tua dan tampak lebih elegan dianding Staedler biru. Grafit yang dipakai pensil Faber Castle memiliki tingkat kenyamanan dan kehalusan yang relatif sama dengan grafit pensil Staedler. Keduanya juga bisa dipakai untuk mengisi lembar jawab komputer (LJK). Tidak heran jika kemudian muncul perdebatan soal pensil mana yang lebih bagus dan lebih terbaca oleh komputer?

Ngomong-ngomong soal LJK, saat SD, saya masih awam dengan LJK. Saya terbiasa memakai pulpen untuk mengerjakan soal ulangan di kertas biasa. Sebelum ujian, saya dikursus menghitamkan jawaban pada LJK. Saya diwanti-wanti (mungkin lebih tepatnya ditakut-takuti) agar jangan sampai salah saat menghitamkan jawaban. Jangan sampai ada goresan pensil yang keluar dari batas lingkaran karena berpotensi dianggap salah oleh scanner jawaban.

Gara-gara LJK ini, saya mengikuti ujian kelulusan dengan kekhawatiran macam-macam. Khawatir salah menghitamkan jawaban-lah, khawatir tidak terbaca komputer-lah, sampai khawatir jawaban yang saya ganti (hapus) dianggap salah. Detik demi detik ujian pun menjadi terasa lebih lama.

Tentu saja saya tidak akan menyebut pensil mana yang lebih baik, Staedler atau Faber Castle. Seperti yang saya ungkapkan di awal tulisan, saya tidak sedang membuat perbandingan produk. Toh, baik Staedler maupun Faber Castle, keduanya sama-sama berjasa mengantarkan saya sampai lulus kuliah dan menjadi sarjana. Menurut saya, masing-masing pensil memilik krakteristik masing-masing, tergantung kebutuhan dan selera si pemakai.

Jika kalian bertanya pensil mana yang lebih “terbaca” saat di-scan komputer, saya rasa keduanya sama saja. Insya Allah. Selama kalian memakai produk yang ASLI, maka keterbacaan LJK kalian tidak perlu diperdebatkan. Konyol sekali jika kalian mengkambinghitamkan merk pensil atas hasil ujian yang buruk. Ora nyambung blas. Itu sama saja mengkambinghitamkan stick playstation ketika kalian kalah tanding PES misalnya.

Terlepas dari semua itu, merk pensil akan selalu bermetamorfosis setiap waktu. Akan ada merk-merk pensil kekinian yang kalian temui di pasaran dengan wujud dan tampilan yang beraneka ragam. Dan untuk setiap merk pensil, semuanya membawa pesan filosofis yang sama, bahwa sebuah pensil akan tetap disebut “pensil” karena ia bisa dihapus. Sebagaimana dinamika hidup manusia, selama masih ada kesempatan untuk melakukan perbaikan diri dan kondisi, maka berupayalah. Selagi masih ada waktu dan hela nafas yang Tuhan berikan.[]

May 26, 2018Benny Prastawa

Friday, May 25, 2018

Rencana Tuhan dan Apa yang Kita Pahami sebagai Kebetulan


Ada bagian dalam takdir yang memang Tuhan berikan untuk kita usahakan dan kita perjuangkan. Itu sebabnya, Tuhan tidak akan mengubah nasib seseorang kecuali orang itu yang mau mengubah nasibnya sendiri. Hal ini tidak berarti Tuhan tidak bisa mengubah nasib seseorang—karena Beliau adalah Yang Maha Kuasa. Tuhan hanya menyediakan jalan dan pilihan hidup bagi manusia agar manusia itu sendiri yang berpikir dan belajar untuk memperjuangkan nasib terbaiknya. Apakah manusia ingin menempuh jalan kemalasan atau jalan ketekunan, semua itu kembali pada manusianya sendiri.

Namun, meski Tuhan menyisakan sebagian dimensi dalam takdir untuk kita perjuangkan, Tuhan selalu mempunyai rencana-rencananya tersendiri terhadap manusia. Ada sekian persen bagian takdir yang mutlak urusan Tuhan—yang kita tidak bisa menolaknya. Seperti urusan jenis kelamin ketika kita lahir, warna kulit kita, bentuk tubuh fisik kita, status orangtua kita, dan sebagainya. Hal-hal semacam itu adalah takdir yang sifatnya given dan tidak bisa diubah. 

Begitu pula dalam keseharian, kita pasti juga menemui kondisi ketika kita benar-benar tidak bisa menolak rencana Tuhan karena hal itu adalah bagian dari hak prerogatif-Nya. Seperti cuaca, misalnya. Jika memang esok pagi hujan, maka kita tidak bisa menolaknya. Begitu juga dengan gempa bumi, gunung meletus, dan bencana alam lain yang bersifat alami. Kita tidak bisa mencegah terjadinya peristiwa-peristiwa tersebut meski kita bisa meramalkan atau memprediksi.

Perkenalan kita dengan orang-orang baru di sekitar kita juga memakai rumus yang sama. Kita tidak bisa memilih saat TK dulu berkenalan dengan siapa, saat SD berkenalan dengan siapa, atau saat ke pasar bertemu dengan siapa. Semua itu terjadi begitu saja—mengalir—tahu-tahu ketika sudah beranjak dewasa kita sudah punya banyak kenalan dan sebagian yang kita akrabi menjadi teman atau sahabat.

Secara khusus, saya juga menemui kebetulan semacam ini ketika saya bertemu dengan istri  saya. Bermula dari urusan pekerjaan dan depresi saya yang berlarut-larut. Sejak lulus kuliah, saya bekerja sebagai relawan di sebuah sekolah dasar dekat rumah. Kebetulan dengan bekerja di sekolah itu, saya bisa tinggal dekat dengan orangtua dan membantu mereka mengerjakan tugas-tugas rumah sehari-hari—termasuk tugas administrasi sekolah.

Selama kurang lebih dua tahun saya menjalani pekerjaan tersebut. Meski pemasukan yang saya terima minim, toh saya menikmatinya. Hitung-hitung mencari pengalaman, pikir saya. Walau harus diakui, saya sempat frustasi waktu itu karena sistem kerja yang kurang mengenakkan dan kecemasan kalau-kalau saya tidak bisa menemkan lowongan pekerjaan di masa depan. Terlebih lagi, ijazah saya ditujukan untuk sekolah menengah, buka sekolah dasar. Mau tak mau saya harus berpikir untuk melanjutkan karir di tempat lain yang lebih cocok dengan ijazah saya. Karena itu, begitu selesai dengan pekerjaan di SD, saya mencoba peruntungan di kota. Untungnya, tepat ketika saya berhenti bekerja di SD, saya mendapati lowongan pekerjaan di sebuah sekolah menengah swasta di kota. Saya pun melamar pekerjaan di sana dan diterima.

Dalam masa-masa awal menjalani pekerjaan itu, fokus pikiran saya hanya bagaimana membuktikan pada keluarga bahwa saya ini mampu dan bisa bekerja. Selain tentunya saya mengejar “apresiasi kemandirian” di mana saya bisa mencari uang jajan sendiri tanpa bergantung pada orangtua. Jadi selama itu, saya hanya berfokus pada perkejaan, urusan jodoh dan tetek bengek pernikahan belum menjadi prioritas. 

Tapi semuanya berubah gara-gara sebuah spidol. Jadi ceritanya, suatu siang saat jeda istirahat, saya masih bersantai menunggu jam mengajar saya di kantor. Tiba-tiba, seorang guru wanita mendatangi saya. Guru wanita itu menyodorkan sebuah spidol dan meminta saya untuk mengisikan tintanya. Saya pernah beberapa kali melihat guru wanita itu tapi saya tidak mengenalnya (belum). Status saya masih guru baru di sekolah itu. Tanpa pikir panjang, saya langsung mengiyakan permintaan guru wanita itu, mengisikan tinta spidolnya, kemudian bergegas mengembalikannya. Tapi belum sempat ketemu, guru wanita tadi sudah kembali mengajar ke kelas. (Usil, ya).

Sejak urusan spidol tadi, saya pun bertanya-tanya tentang identitas guru wanita itu. Hingga kemudian terbesit keinginan untuk berkenalan dengannya lebih jauh. Ya, seperti perkiraan saya sebelumnya, guru wanita tadi memang seperti saya—sama-sama guru baru di yayasan itu. Hanya bedanya, dia mengampu kelas menengah atas, sementara saya mengampu kelas menengah pertama. Perbedaan inilah yang membuat saya jarang mengbrol dengan guru wanita itu. Ditambah lagi, sekolah di yayasan itu memakai sistem shift. Tidak semua guru datang setiap hari. Karenanya, dari tujuh hari dalam sepekan, saya hanya bisa memanfaatkan hari Minggu untuk bercakap dengan guru wanita itu (shift mengajar saya sama dengannya pada hari Minggu).

Dan waktu pun terus berjalan. Perkenalan saya dengan guru wanita itu semakin intens. Di luar sekolah, kami saling mentraktir makan satu sama lain, atau sekedar mengobrol di kafe. Lama-kelamaan kami pun bisa saling akrab. Suatu hari, saya mengajaknya untuk menseriusi hubungan pertemanan itu. Bagi saya, ada sisi lain dalam diri guru wanita itu yang bisa mengimbangi karakter pribadi saya. Ada semacam chemistry dan intuisi dalam pikiran saya yang mengatakan bahwa “She is your destiny”. Lebih-lebih karena keterbukaannya dalam mempelakukan orang lain tanpa merendahkannya atau menilainya dangkal dari sudut pandang yang sempit. Selain itu, latar belakang keluarga kami juga saling menemui kecocokan dan kemiripan, sehingga proses menuju hubungan yang lebih serius menjadi lebih cepat.

Dan begitulah. Hanya berselang dua belas bulan sejak pertama kali berkenalan, saya pun menikah dengan guru wanita itu. Siapa sangka, perjalanan saya ke kota yang awalnya saya niatkan untuk berkarir malah melabuhkan saya ke dermaga pelaminan. Padahal pertemuan dan pekenalan saya dengan guru wanita itu sama sekali tidak terencana. Hingga akhirnya, saya dan guru wanita itu saling menemukan kecocokan dan akhirnya memutuskan menikah.

Dalam hati, saya sangat bersyukur karena bsia menjawab harapan-harapan orangtua saya. Orangtua saya menginginkan saya agar segera mandiri dan menemukan pendamping hidup yang baik. Hal yang wajar mengingat usia saya yang sudah seperempat abad, membuat saya harus bergegas menentukan jalan hidup selanjutnya. Selain itu, saya juga bersyukur bisa dipertemukan dengan seorang wanita baik yang sangat memahami diri saya pribadi dan penuh penerimaan. Saya bersyukur bisa disandingkan dengan seorang wanita tangguh yang bersedia menjadi pendamping hidup dalam sisa umur saya. Semua itu mutlak adalah rencana Tuhan Yang Maha Kuasa.

*   * *

Begitulah kilasan kehidupan kita di dunia ini. Tidak ada seorang pun yang tahu rencana-rencana Tuhan seutuhnya. Ada bagian takdir yang memang diperuntukkan bagi kita untuk diupayakan dan diperjuangkan. Namun ada pula bagian takdir yang kita tidak diberi kemampuan untuk mengontrolnya. 

Sebagai manusia, kita memang diwajibkan untuk berikhtiar, melakukan usaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan takdir terbaik. Karena tidak ada takdir, selain dari apa yang kita pilih. Tapi seperti yang saya katakan, ada dimensi lain di dalam takdir kita yang berada di luar kendali kita. Ada sekian persen bagian dalam suratan takdir kita yang hanya Tuhanlah yang berkuasa penuh atasnya. Seperti misalnya perkenalan-perkenalan kita dengan orang-orang baru di sekitar kita—termasuk pertemuan kita dengan jodoh kita misalnya. Kejadian-kejadian yang bagi kita seperti kebetulan, pada dasarnya adalah bagian dari skenario Yang Maha Kuasa. Karena kebetulan-kebetulan dan kejutan itulah, hidup ini bisa menjadi lebih menarik untuk dijalani.

Teruntuk istriku, terima kasih atas perhatian dan kasing sayangnya yang tulus dan sepenuh kesabaran yang tiada henti kau beri. Untuk Tuhan, rasa syukur dan puja-puji yang tak terhingga untuk-Mu yang telah menautkan kami dalam bahtera yang Engkau ridhoi. Kiranya Engkau berkenan mempersatukan dan mendamaikan keluarga kecil kami ini dalam biduk rumah tangga yang sakinah. Aamiin.[]