Jatuh cinta itu pasti,
sakit hati itu pilihan
(Benny Prastawa)
Ilustrasi:
Santi, seorang
gadis remaja yang baru setahun duduk di bangku SMA, jatuh cinta dengan Bondan, teman
kelasnya. Di mata Santi, Bondan adalah tipe cowok yang sempurna. Tampan, cerdas,
ramah, dan jago bermain basket. Kebetulan Bondan juga belum punya pacar,
sehingga Santi tertarik untuk menjadi pacarnya.
Berbagai upaya
dilakukan Santi demi mencari perhatian Bondan. Setiap hari, Santi berkirim
pesan dengan Bondan. Sekali waktu, ia meminjam buku catatan Bondan dan memintanya
untuk mengerjakan PR. Sebagai imbalannya, Santi sering mentraktir Bondan di
kantin dan memberinya berbagai hadiah. Santi juga rela mengikuti ekskul basket meski
dirinya tida begitu mahir dalam olahraga itu. Ia melakukannya, semata demi menemui
Bondan dan mencuri-curi waktu mengobrol dengannya.
Bondan
menanggapi perhatian Santi dengan bersikap ramah kepadanya. Setiap kali Santi membutuhkan
bantuan, Bondan tak sungkan menolong Santi. Di sisi lain, Santi mengartikan keramahan
dan kebaikan Bondan sebagai kode bahwa Bondan menaruh perasaan yang sama dengannya.
Karena itu, beberapa bulan kemudian, Santi memberanikan diri untuk menyatakan
cintanya pada Bondan. Saat itu, Santi sangat yakin ungkapan cintanya tidak akan
bertepuk sebelah tangan.
“Maaf…aku hanya
menganggap hubungan kita sebagai sebuah pertemanan, tidak lebih…” jawab Bondan
lirih.
Santi terhenyak.
Keceriaan di wajahnya seketika sirna. Harapannya yang terlanjur membuncah pun berceceran,
bagaikan bongkahan stalagtit yang menghujam lubuk hati Santi keras-keras. Perih
dan teramat menyakitkan. Santi kehabisan kata-kata. Ia tak menyangka segala
upaya yang dilakukannya selama ini sia-sia. Sebelumnya, ia sangat yakin jika keramahan
Bondan adalah bukti bahwa Bondan mencintainya.
Santi
mengabaikan fakta bahwa pada dasarnya Bondan tidak hanya ramah pada Santi
seorang. Bondan selalu ramah pada semua orang. Sayangnya, Santi menafsirkan
keramahan Bondan sebagai sesuatu yang lain. Ia mengira, keramahan itu adalah sebuah
sambutan dan jawaban untuk rasa cinta yang bergelayut di hati Santi. Dan kini,
ia menyadari bahwa ia telah tertipu oleh perasaannya sendiri…
* * *
Saya yakin, cerita semacam itu jamak terjadi di
sekitar kita. Mungkin saja beberapa di antara kalian pernah mengalami situasi yang
sama menyesakkannya dengan Santi, atau malah lebih buruk. Ketika kita menaruh
rasa pada seseorang, kita pasti berharap orang itujuga menaruh perasaan yang
sama pada kita. Kita ingin orang itu juga menyukai kita sebagaimana kita
menyukainya. Tapi cinta, bukanlah matematika. Ia terlalu rumit untuk dipahami dengan
pendekatan logika karena seringnya ia menipu logika kita.
Dalam kasus Santi, ia jatuh cinta pada Bondan
karena Bondan tampan, cerdas, ramah, dan jago main basket. Santi memiliki
alasan yang logis mengapa ia bisa jatuh cinta. Kemudian, Santi mulai berharap dan
memikirkan cara agar Bondan tertarik padanya. Santi melakukannya dengan cara
memberi perhatian khusus pada Bondan, melebihi teman-teman cewek di kelasnya. Santi
merasa usahanya akan berhasil karena menurutnya Bondan bersikap ramah dan
selalu baik kepadanya. Oleh Santi, keramahan itu, diartikan sebagai jawaban “ya” sehingga tidak mungkin Bondan akan
menolak Santi. Namun kenyataannya, Bondan tidak bisa menerima cinta Santi.
Bondan hanya menganggap Santi sebagai teman, tidak lebih.
Jika kita memposisikan diri sebagai Santi, kita berhak
merasa kecewa, dongkol, nyeseg, marah,
sedih, hingga menangis getir dengan hati tersayat-sayat. Bagaimanapun cinta adalah rasionalitas yang sempurna.
Sebagaimana kita mengambil pilihan dalam hidup, selalu ada konsekuensi logis
atas pilihan yang kita ambil. Begitu juga dalam urusan cinta.
Ketika kita menyatakan cinta pada seseorang, ada
dua konsekuensi logis yang bisa kita peroleh: “diterima”, atau “ditolak”.
Kita tidak bisa memaksa keadaan agar orang itu menerima cinta kita. Alih-alih
kita harus mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan penolakan. Karena jika
kita tidak siap dan terlalu yakin dengan asumsi perasaan sendiri, maka boleh
jadi penolakan itu akan jauh lebih menyakitkan.
Alangkah baiknya, jika kita menyikapi cinta dengan
‘angun’, menjaga kehormatan diri, bersabar, dan terus berusaha memperbaiki diri,
hingga kelak kita pantas membersamai orang yang kita suka. Alih-alih daripada bersusah
payah mencari perhatian dari orang yang kita suka secara terang-terangan. Bukankah
menjengkelkan jika kita sudah mempeng curi-curi
pandang, memberi hadiah ini itu, rela mengantar kesana kemari, tapi ending-nya malah ‘bertepuk sebelah
tangan’. Malu.
Kata orang, cinta
butuh pengorbanan. Ya, tentu saja, cinta membutuhkan pengorbanan. Karena pengorbanan
adalah manifestasi (perwujudan) dari cinta itu sendiri. Kita tidak mungkin
mengaku cinta, tanpa melakukan sesuatu untuk orang yang kita cintai. Hanya saja,
kita perlu memahami bahwa ungkapan tersebut dimaksudkan untuk konteks cinta
yang agung, penuh komitmen dan tanggung jawab. Pengorbanan cinta yang
sejati, hanya pantas disematkan bagi mereka yang sudah menjalin cinta dalam bingkai hubungan
yang dicatat negara dan direstui agama.
Jika dua orang mengaku cinta, tapi hubungan yang
dijalaninya penuh tipu-tipu dan melanggar banyak batasan moral-agama, maka
pengorbanan yang dilakukan tidak lebih dari sebuah ‘peyorasi’ dan kemunafikan atas
nama cinta itu sendiri.