Showing posts with label cinta. Show all posts
Showing posts with label cinta. Show all posts

Wednesday, June 15, 2022

Kakek Tua Penjual Keripik di Masjid


Siang itu, saya dan istri sedang mampir ke sebuah masjid untuk sholat. Seperti biasa, istri saya sudah membawa berbagai bekal kudapan dan makan siang dari rumah. Sudah menjadi kebiasaannya, jika kami sedang bepergian dan di rumah sedang ada banyak masakan. Tak lama, kami pun segera membuka bekal dan menikmati makan siang bersama.

Di sekitar kami, tampak beberapa tukang sapu masjid yang lalu-lalang membersihkan halaman. Ada juga seorang satpam yang sibuk mondar-mandir berpatroli sambil sesekali membantu mobil yang akan masuk/keluar area parkir.

Satu-dua kali, satpam dan tukang-tukang sapu tadi melihat ke arah kami. Jika bukan karena Andra–sulung kami–yang sedang lelap di sebelah kami, mereka mungkin menyangka kami adalah ‘ABG amoral’ yang asyik pacaran di masjid. Masalah klasik manusia tentang “PERSEPSI”.

Usai makan dan sholat di masjid itu, kami bersiap melanjutkan perjalanan. Sejurus kemudian, seorang kakek menghampiri kami. Dengan bahasa Jawa krama yang alus sekali, kakek itu menawarkan keripik pada kami.

Saya dan istri sudah berkali-kali bertemu dengan penjaja makanan di tempat umum. Ada yang benar-benar berjualan, tapi tidak sedikit pula yang asal jual dan ‘memaksa’ beli.

Tapi kakek itu lain. Usianya mungkin sudah lebih dari 60 tahun. Kulitnya yang agak gelap berpeluh, menandakan tubuhnya sering diterpa terik. Dan ketika dia menawarkan keripik dagangannya, sorot matanya sangat tulus.

Tidak ada nada suara yang dilirih-lirihkan untuk memancing iba. Tidak ada pula kalimat fiktif yang tersirat dari tutur bahasa Jawa krama-nya yang sangat ‘alus’. Kakek itu, benar-benar tulus menawarkan dagangannya.

Istri saya langsung membeli beberapa bungkus keripik Kakek itu. Bukan karena iba, atau sekedar melarisi dagangannya. Istri dan saya, sama-sama tahu, jenis keripik yang ditawarkan Kakek itu memang enak. Apalagi bungkus kemasannya bersih, tidak kusut, dan tampak tidak asal bungkus.

Setelahnya, Kakek itu berterima kasih lalu menaiki sepedanya meninggalkan masjid. Tidak ada basa-basi apapun. Tidak ada ucapan-ucapan yang dilebih-lebihkan. Kakek itu tulus menawarkan dagangannya, sambil berharap dagangannya laku. Sesederhana dan sejujur itu.

. . .

Di rumah, saya dan istri mencicipi keripik Kakek tadi. Dan rasanya memang enak. Persis seperti dugaan kami.

Kakek penjual keripik di masjid tadi, betul-betul berjualan. Dia tidak asal jualan. Kakek itu hanya ingin dagangannya laku. Untuk itu, barang dagangan yang dijajakan dibuat berkualitas. Sesederhana itu. Dan kakek itu tidak menjadikan kesulitan hidupnya sebagai ‘komoditas promosi’ agar dagangannya laku.

Saya rasa, potret manusia-manusia yang tulus, ikhlas, dan jujur bekerja, seperti Kakek penjual keripik tadi, membuat bumi ini masih berputar dan langit terus mencurahkan rezeki-Nya, meski manusia seringkali abai untuk bersyukur.[]

Thursday, April 30, 2020

Sepeda Pertama Si Kecil



Dalam banyak hal, istri saya lebih cerdas mengambil inisiatif. Jika saya masih menghitung kuadrat satuan lima secara manual, istri saya sudah lebih dulu menjawab dengan menuliskan angka “25” di baris paling kanan, lalu mengalikan angka paling kiri dengan bilangan setelahnya—analoginya begitu. Seringkali, saya butuh beberapa detik mengambil keputusan, mempertimbangkan banyak variabel, sementara istri saya hanya perlu sepersekian detik untuk menentukan solusi yang lebih efektif dan efisien. “Dahsyat”—pikir saya. Tak heran jika secara klinis kaum perempuan cenderung lebih mahir melakukan multitasking dibanding laki-laki.

Urusan membelikan sepeda untuk Si Kecil pun tidak lepas dari uraian tersebut. Awalnya, saya pikir ide untuk sepeda ini baru akan dibahas kelak ketika Si Kecil sudah berusia di atas 3 tahun. Pertimbangannya, buat apa membelikan sepeda sekarang jika kaki Si Kecil belum sampai mengayuh pedal? Lagipula, saat ini, virus Corona (COVID-19) sedang hebat-hebatnya mewabah. Pemerintah juga sedang gencar-gencarnya menyuruh warga melakukan isolasi mandiri. Semua orang tanpa terkecuali disarankan untuk tetap berdiam di rumah, melakukan hal apapun yang sekiranya tidak membahayakan diri sendiri dan tetangga, serta hanya keluar rumah jika ada keperluan mendesak. Karenanya, membelikan sepeda untuk Si Kecil akan terasa mubazir mengingat tidak ada alasan untuk mengajak Si Kecil bersepeda ke luar rumah di tengah pandemi seperti sekarang.

Ngomong-ngomong, sudah lebih dari 4 pekan kami melakukan isolasi mandiri ini. Rasa jenuh dan penat menjadi kudapan biasa yang harus dirasakan setiap hari. Di satu sisi, istri saya jadi kepikiran perasaan Si Kecil. Kebetulan, Si Kecil sedang berada di fase pengen mbolang (menjelajah lingkungan sekitar). Segera setelah Si Kecil sudah mahir berjalan, ia sering gemas untuk berpetualang dari ruang ke ruang. Kaki-kaki mungilnya selalu ingin menjejak setiap sudut rumah tanpa boleh dilarang-larang.

Jika lingkungan dalam rumah sudah puas dikenali, dunia luar tampak makin asing bagi Si Kecil, seiring dengan makin jarangnya ia keluar rumah. Ada saat-saat di mana Si Kecil ingin menjelajah ke luar, sekedar untuk mengenali objek-objek yang masih asing baginya. Jika hujan turun, Si Kecil biasanya akan bergegas mendatangi jendela, menikmati pemandangan kaca-kaca bening yang mulai basah tertimpa tempias hujan. Atau ketika ada ayam atau kucing yang nyasar ke rumah—entah dari mana—Si Kecil akan menonton tingkah polah binatang-binatang itu dengan takzim. Lucu. Anak-anak (termasuk balita) memang selalu tahu cara menyenangkan hati dan pikiran mereka sendiri.

Ketertarikan Si Kecil untuk mbolang tapi tidak tersalurkan karena adanya Corona, mendorong istri untuk berinisiatif membelikannya sepeda mini. Pertimbangannya, cepat atau lambat, Si Kecil pasti butuh sepeda. Jadi, apa salahnya mempercepat start dengan membelikannya sepeda sekarang? Setidaknya, itu bisa menjadi penghibur dan penambah aktivitas bagi Si Kecil. Dan yang paling penting, ia bisa terhindar dari kebosanan akut yang melanda setiap hari. Saya pun setuju.

Lusanya, istri mendatangi toko sepeda, membeli sepeda mini yang sekiranya cocok untuk Si Kecil lalu membawanya ke rumah. Sendirian. Saya sempat menawarkan diri untuk membawakan sepeda dari toko, tapi istri saya lebih nyaman untuk tidak merepotkan orang lain (dari dulu selalu seperti itu). Jadi, saat istri saya membeli sepeda, saya tetap di rumah, menemani Si Kecil sambil menunggunya pulang bersama sepeda mini.

Begitu tiba di depan rumah, sebuah sepeda mini sudah nangkring di jok motor istri. Dugaan saya, sepedanya akan dilipat atau setidaknya dipreteli sekalian dari toko agar mudah dibawa. Tapi ternyata, sepeda mini itu malah dibawa dalam kondisi utuh dengan ikatan tali di sana sini (ini sepeda apa truk tebu, sih?). Saya jadi kasihan pada istri saya karena sepanjang perjalanan, ia pasti merasa malu. Malu kalau-kalau ada tetangga yang lihat, malu kalau-kalau ada bocah yang kepengen sama sepedanya, atau (mungkin) malu kalau-kalau dirinya disangka tukang mendring yang tengah keliling komplek membawa dagangan.

Singkat cerita, inisiatif istri saya tidak sia-sia. Meski urusan membawa pulang sepeda cukup merepotkan (dan memalukan), Si Kecil bisa menikmati sepeda pertamanya dengan riang gembira. Setiap sekian jam sekali, Si Kecil akan merengek minta dinaikkan ke sepedanya. Berhubung kaki mungilnya belum sampai mengayuh pedal, orang-orang di sekitarnya harus siap-sedia menjadi “mesin diesel” untuk membantu Si Kecil berkeliling ke sana kemari. Tak mengapa, asal Si Kecil bisa tetap menikmati fungsi sepeda barunya dengan wajar.

Bahkan saking asiknya bersepeda—sesekali—Si Kecil bisa sampai tertidur di atas sepedanya. Well, setidaknya, investasi sepeda ini terbukti sukses. Dan untuk beberapa pekan mendatang, saya dan istri tidak perlu khawatir Si Kecil akan dilanda kebosanan. Bersama sepeda pertamanya, ia akan punya lebih banyak waktu untuk berpetualang dan menghibur diri—meski pandemi Corona masih berlangsung.[]

Friday, December 7, 2018

Danien Kalandra Birth Day


Hari itu, Kamis sore, awan mendung masih bergelayut di atas langit. Ayah baru pulang dari kantor saat Bunda mengeluh perutnya terasa nyeri. Mulanya, kami menganggap hal itu biasa. Hasil pemeriksaan terakhir menunjukkan kondisi kehamilan Bunda masih normal-normal saja. Bunda bilang, beberapa hari terakhir perutnya memang sering terasa nyeri. Biasanya, rasa nyeri itu akan hilang dalam hitungan jam. Tapi, nyeri sore itu tampak berbeda karena diiringi dengan keluarnya bercak (flek) darah. Ayah dan Bunda mendadak cemas.

Usia kehamilan Bunda memang sudah lebih dari 37 minggu. Itu berarti, Ayah harus bersiap menghadapi segala kemungkinan karena fase melahirkan bisa datang sewaktu-waktu. Menurut hitungan dokter, hari perkiraan kelahiran (HPL) Bunda masih dua minggu lagi. Meski begitu, Ayah tetap harus siaga. Barang-barang yang perlu dibawa saat persalinan sudah Ayah kemasi dalam koper jauh-jauh hari sebelumnya.

Sekitar jam 10 malam, Bunda kembali mengeluh. Nyeri di perutnya tidak kunjung reda alih-alih semakin parah. Bercak darah yang keluar tadi sore membuat kecemasan Ayah dan Bunda menjadi berlipat. Ayah dan Bunda sempat ragu, apakah Bunda harus segera dibawa ke klinik atau bisa menunggu sampai Subuh andaikata nyeri itu hilang seperti biasanya. Akhirnya, untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk, kami memutuskan membawa Bunda ke klinik malam itu juga.

Menjelang tengah malam, kami sampai di klinik bersalin. Suasana klinik sangat lenggang saat itu. Gerbang klinik tampak tertutup rapat tanpa petugas jaga di sana. Ayah yang agak panik mencoba membuka gerbang yang ternyata tidak digembok. Terlihat tidak sopan sih—membuka gerbang tanpa permisi. Tapi situasinya yang serba darurat memaksa Ayah harus melakukan itu. Setelah gerbang terbuka, Ayah dan Bunda segera beranjak masuk ke klinik itu.

Seorang petugas klinik menghampiri kami dan menyilahkan kami utuk langusng masuk ke ruang bersalin. Kondisi darurat semacam itu sudah biasa, jadi menurutnya kami tidak perlu merasa canggung. Di ruang bersalin, Bunda dibaringkan dan segera diperiksa oleh dua orang bidan. Sementara Ayah beralih ke meja resepsionis untuk mengurus administrasi. Petugas-petugas jaga di klinik itu tampak sigap meski mata merah mereka tak bisa menyembunyikan rasa kantuk yang menjalar.

Dari hasil pemeriksaan sementara, Bunda belum mengalami “pembukaan”. Kehamilan Bunda masih baik-baik saja. Cairan ketuban di dalam rahim juga terindikasi normal. Meski begitu, Bunda tidak diperkenankan pulang. Demi mengantisipasi kondisi darurat, Bunda disarankan untuk berdiam di klinik itu. Ayah dan Bunda tidak keberatan. Maka, sepanjang malam kami berdua menghabiskan waktu istirahat di ruang bersalin.

Nuansa ruang bersalin yang serba asing menyulitkan kami untuk memejamkan mata. Peralatan-peralatan medis seperti pisau bedah, stetoskop, suntik, kasa, mesin pensteril, sampai alat kejut jantung bukanlah benda-benda yang biasa kami pajang di kamar tidur. Belum lagi aroma refisol (cairan pembersih lantai) yang menyeruak memenuhi ruangan, sedikit banyak membuat kami merasa kurang nyaman. Di sisi lain, Bunda masih terus menceracau mengeluhkan nyeri di perutnya yang semakin parah. Ayah hanya bisa cemas karena tidak ada yang bisa dilakukan untuk meringankan penderitaan Bunda. Maka, sepanjang malam itu, Ayah dan Bunda nyaris tidak bisa tidur. Baru pada saat waktu Subuh menjelang, Bunda bisa tertidur pulas. Ayah pun menyusul tertidur selepas sembahyang Subuh.

Saat Ayah terbangun, Bunda sudah dikerumuni seorang bidan dan beberapa asistennya. Mereka tampak sibuk memeriksa Bunda dan menanyakan kondisinya. Bunda bilang, cairan ketubannya sudah pecah. Ayah yang baru mengumpulkan kesadaran (karena letih kurang tidur) hampir tidak percaya karena perkiraan kelahiran masih dua minggu lagi. Dengan pecahnya cairan ketuban, maka bisa dipastikan fase kelahiran si jabang bayi tinggal menunggu hitungan jam. Untung saja Bunda dibawa ke klinik pada malam harinya. Andai kami memilih menunggu hingga Subuh, maka Bunda akan dibawa ke klinik setelah fase pecah ketuban. Dan itu tentu akan menjadi pilihan yang beresiko.

Setelah fase pecah ketuban, Bunda hanya bisa menunggu jalannya proses pembukaan alamiah. Total ada sepuluh tahap pembukaan yang harus dijalani. Dan untuk setiap tahap pembukaan, Bunda harus merasakan nyeri dan mulas yang luar biasa sakitnya. Berjam-jam setelah fase pecah ketuban, Bunda mulai merasakan peningkatan rasa nyeri yang semakin tak tertahankan. Berkali-kali Bunda harus mengatur napas, menghirup udara lewat hidung dan menghembuskan lewat mulut untuk mengurangi rasa sakit.

Ayah yang semalaman menunggu Bunda di klinik, hanya bisa pasrah menatap Bunda yang terus mengerang kesakitan. Andai rasa sakit itu bisa “dibagi”, tentu Ayah akan bersedia menanggung beban kesakitan itu. Bagaimana tidak? Sampai pukul 1 siang, tidak ada tanda-tanda rasa sakit Bunda mereda. Dengan kata lain, sudah 14 jam Bunda bergulat menahan rasa sakit! Setiap kali perutnya terasa berkontraksi hebat, Bunda mengerang. Mulutnya menceracau mengaduh penuh iba. Ayah bolak-balik memanggil bidan, meminta mereka mengecek kondisi Bunda. Namun bidan-bidan itu hanya meminta Ayah untuk bersabar dan membiarkan “proses pembukaan” berjalan alamiah. Bunda sempat meminta agar dirujuk ke rumah sakit lain. Tapi pihak klinik menolak karena terbentur regulasi asuransi kesehatan (BPJS) dan alasan meminimalkan resiko persalinan.

Maka, berjam-jam kemudian, Ayah harus berkelindan dengan momen paling traumatik—memandang wajah Bunda yang terus mengaduh dan mengerang kesakitan. Ayah harus menghadapi itu selama tidak kurang dari 18 jam! Di sisi lain, napas Bunda mulai terdengar terengah-engah. Bunda mulai berat untuk mengatur napasnya sendiri. Bulir-bulir keringat membasahi sekujur tubuhnya yang terkulai. Ayah ingin meredakan penderitaan Bunda yang semakin kepayahan. Tapi, sekali lagi,  tidak ada tindakan medis yang bisa dilakukan saat itu. Bidan pun hanya meminta Ayah agar sabar menunggu sampai Ayah sempat jengkel dibuatnya. Tapi Ayah bisa apa? Karena memang begitulah proses kodrati seorang ibu yang akan melahirkan secara normal.

Jumat sore, selepas adzan Maghrib, seorang bidan dan dua asistennya mendatangi Bunda untuk pemeriksaan lanjutan. Bunda tampak sangat kacau saat itu. Wajahnya kuyu bermandikan peluh. Napasnya masih tersengal-sengal riuh. Kabar baiknya, Bunda sudah berhasil melewati tahap pembukaan 10. Artinya, Bunda sudah siap melakukan fase terakhir untuk mengeluarkan si jabang bayi. Dengan bantuan bidan dan para asistennya, Bunda bersiap melakukan kontraksi untuk mendorong bayi agar keluar. Nyatanya, proses “mengejan” ini tidak semudah yang terlihat di video-video persalinan di Youtube. Berulang kali, dalam satu tarikan nafas, Bunda mengejan untuk mendorong keluar bayinya. Bunda membutuhkan tenaga ekstra setelah sebelumnya menahan sakit selama 18 jam! Benar-benar perjuangan yang sangat pantas diganjar pahala setara jihad.

Tahap terakhir persalinan ini memakan waktu hampir 1 jam. Bunda terus dimotivasi oleh bidan agar lebih kuat mengejan. Perjuangan Bunda sebenarnya hampir berhasil. Kepala bayi sempat tiga kali keluar. Hanya saja, kurangnya daya dorong membuat kepala bayi yang semestinya sudah bisa keluar, malah terbenam masuk kembali ke rahim. Bidan pun terpaksa bertindak dengan memperlebar jalan lahir.

Akhirnya, setelah tiga kali timbul tenggelam, pada kali keempat, kepala bayi berhasil keluar beserta badan utuhnya. Alhamdulillaah... Tak terperi bagaimana leganya Ayah melihat saga persalinan yang mendebarkan itu berhasil. Perjuangan bunda mengejan hingga berdarah-darah terbayar dengan lahirnya sesosok bayi mungil. Setelah dipotong dan dibersihkan pusarnya, bayi yang masih merah itu diletakkan di dekapan Bunda. Rona kelegaan, haru, dan bahagia berpadu memancar dari wajah Bunda yang letih. Dalam hati, Ayah dan Bunda tidak henti-hentinya berucap syukur, memuji kuasa Tuhan yan telah melancarkan persalinan malam itu. Tepat pukul 18.55, hari Jumat, 23 November 2018, bayi pertama kami telah hadir dan sah menjadi bagian semesta. Adzan dan iqamah Ayah kumandangkan masing-masing di telinga kanan dan kiri si bayi. Dan bayi kecil itu kami beri nama “Danien Akmal Kalandra”.

*   * *

Untuk putra saya—jika kelak engkau membaca catatan ini—maka sungguh, janjikan ini pada Ayah, yakni agar engkau selalu dan selalu berbakti serta menaruh rasa hormat pada ibumu. Tak peduli meski di matamu ibumu terlihat kurang sempurna, bawel, suka mengomel, apapun itu—andai engkau tahu sekilas saja perjuangannya saat melahirkanmu, yakinlah engkau akan bersimpuh takzim memohon ampun dan tak sekalipun berani mendurhakainya.

Semoga catatan ini bisa menjadi pengingat bagimu agar engkau sadar bagaimana harus berbuat dan berperilaku kepada orangtuamu, lebih-lebih kepada ibumu. Ingatlah, bahwa baginda Rasulullh SAW berpesan sampai tiga kali, mengingatkan tentang kewajiban seorang anak agar berbakti kepada ibunya, baru setelah itu ayahnya. Karena kasih ibu akan selalu ada sepanjang masa. Dan baktimu adalah jawaban terbaik untuk membalas budi pada ibumu. Tak tertolak.[]

Friday, May 25, 2018

Rencana Tuhan dan Apa yang Kita Pahami sebagai Kebetulan


Ada bagian dalam takdir yang memang Tuhan berikan untuk kita usahakan dan kita perjuangkan. Itu sebabnya, Tuhan tidak akan mengubah nasib seseorang kecuali orang itu yang mau mengubah nasibnya sendiri. Hal ini tidak berarti Tuhan tidak bisa mengubah nasib seseorang—karena Beliau adalah Yang Maha Kuasa. Tuhan hanya menyediakan jalan dan pilihan hidup bagi manusia agar manusia itu sendiri yang berpikir dan belajar untuk memperjuangkan nasib terbaiknya. Apakah manusia ingin menempuh jalan kemalasan atau jalan ketekunan, semua itu kembali pada manusianya sendiri.

Namun, meski Tuhan menyisakan sebagian dimensi dalam takdir untuk kita perjuangkan, Tuhan selalu mempunyai rencana-rencananya tersendiri terhadap manusia. Ada sekian persen bagian takdir yang mutlak urusan Tuhan—yang kita tidak bisa menolaknya. Seperti urusan jenis kelamin ketika kita lahir, warna kulit kita, bentuk tubuh fisik kita, status orangtua kita, dan sebagainya. Hal-hal semacam itu adalah takdir yang sifatnya given dan tidak bisa diubah. 

Begitu pula dalam keseharian, kita pasti juga menemui kondisi ketika kita benar-benar tidak bisa menolak rencana Tuhan karena hal itu adalah bagian dari hak prerogatif-Nya. Seperti cuaca, misalnya. Jika memang esok pagi hujan, maka kita tidak bisa menolaknya. Begitu juga dengan gempa bumi, gunung meletus, dan bencana alam lain yang bersifat alami. Kita tidak bisa mencegah terjadinya peristiwa-peristiwa tersebut meski kita bisa meramalkan atau memprediksi.

Perkenalan kita dengan orang-orang baru di sekitar kita juga memakai rumus yang sama. Kita tidak bisa memilih saat TK dulu berkenalan dengan siapa, saat SD berkenalan dengan siapa, atau saat ke pasar bertemu dengan siapa. Semua itu terjadi begitu saja—mengalir—tahu-tahu ketika sudah beranjak dewasa kita sudah punya banyak kenalan dan sebagian yang kita akrabi menjadi teman atau sahabat.

Secara khusus, saya juga menemui kebetulan semacam ini ketika saya bertemu dengan istri  saya. Bermula dari urusan pekerjaan dan depresi saya yang berlarut-larut. Sejak lulus kuliah, saya bekerja sebagai relawan di sebuah sekolah dasar dekat rumah. Kebetulan dengan bekerja di sekolah itu, saya bisa tinggal dekat dengan orangtua dan membantu mereka mengerjakan tugas-tugas rumah sehari-hari—termasuk tugas administrasi sekolah.

Selama kurang lebih dua tahun saya menjalani pekerjaan tersebut. Meski pemasukan yang saya terima minim, toh saya menikmatinya. Hitung-hitung mencari pengalaman, pikir saya. Walau harus diakui, saya sempat frustasi waktu itu karena sistem kerja yang kurang mengenakkan dan kecemasan kalau-kalau saya tidak bisa menemkan lowongan pekerjaan di masa depan. Terlebih lagi, ijazah saya ditujukan untuk sekolah menengah, buka sekolah dasar. Mau tak mau saya harus berpikir untuk melanjutkan karir di tempat lain yang lebih cocok dengan ijazah saya. Karena itu, begitu selesai dengan pekerjaan di SD, saya mencoba peruntungan di kota. Untungnya, tepat ketika saya berhenti bekerja di SD, saya mendapati lowongan pekerjaan di sebuah sekolah menengah swasta di kota. Saya pun melamar pekerjaan di sana dan diterima.

Dalam masa-masa awal menjalani pekerjaan itu, fokus pikiran saya hanya bagaimana membuktikan pada keluarga bahwa saya ini mampu dan bisa bekerja. Selain tentunya saya mengejar “apresiasi kemandirian” di mana saya bisa mencari uang jajan sendiri tanpa bergantung pada orangtua. Jadi selama itu, saya hanya berfokus pada perkejaan, urusan jodoh dan tetek bengek pernikahan belum menjadi prioritas. 

Tapi semuanya berubah gara-gara sebuah spidol. Jadi ceritanya, suatu siang saat jeda istirahat, saya masih bersantai menunggu jam mengajar saya di kantor. Tiba-tiba, seorang guru wanita mendatangi saya. Guru wanita itu menyodorkan sebuah spidol dan meminta saya untuk mengisikan tintanya. Saya pernah beberapa kali melihat guru wanita itu tapi saya tidak mengenalnya (belum). Status saya masih guru baru di sekolah itu. Tanpa pikir panjang, saya langsung mengiyakan permintaan guru wanita itu, mengisikan tinta spidolnya, kemudian bergegas mengembalikannya. Tapi belum sempat ketemu, guru wanita tadi sudah kembali mengajar ke kelas. (Usil, ya).

Sejak urusan spidol tadi, saya pun bertanya-tanya tentang identitas guru wanita itu. Hingga kemudian terbesit keinginan untuk berkenalan dengannya lebih jauh. Ya, seperti perkiraan saya sebelumnya, guru wanita tadi memang seperti saya—sama-sama guru baru di yayasan itu. Hanya bedanya, dia mengampu kelas menengah atas, sementara saya mengampu kelas menengah pertama. Perbedaan inilah yang membuat saya jarang mengbrol dengan guru wanita itu. Ditambah lagi, sekolah di yayasan itu memakai sistem shift. Tidak semua guru datang setiap hari. Karenanya, dari tujuh hari dalam sepekan, saya hanya bisa memanfaatkan hari Minggu untuk bercakap dengan guru wanita itu (shift mengajar saya sama dengannya pada hari Minggu).

Dan waktu pun terus berjalan. Perkenalan saya dengan guru wanita itu semakin intens. Di luar sekolah, kami saling mentraktir makan satu sama lain, atau sekedar mengobrol di kafe. Lama-kelamaan kami pun bisa saling akrab. Suatu hari, saya mengajaknya untuk menseriusi hubungan pertemanan itu. Bagi saya, ada sisi lain dalam diri guru wanita itu yang bisa mengimbangi karakter pribadi saya. Ada semacam chemistry dan intuisi dalam pikiran saya yang mengatakan bahwa “She is your destiny”. Lebih-lebih karena keterbukaannya dalam mempelakukan orang lain tanpa merendahkannya atau menilainya dangkal dari sudut pandang yang sempit. Selain itu, latar belakang keluarga kami juga saling menemui kecocokan dan kemiripan, sehingga proses menuju hubungan yang lebih serius menjadi lebih cepat.

Dan begitulah. Hanya berselang dua belas bulan sejak pertama kali berkenalan, saya pun menikah dengan guru wanita itu. Siapa sangka, perjalanan saya ke kota yang awalnya saya niatkan untuk berkarir malah melabuhkan saya ke dermaga pelaminan. Padahal pertemuan dan pekenalan saya dengan guru wanita itu sama sekali tidak terencana. Hingga akhirnya, saya dan guru wanita itu saling menemukan kecocokan dan akhirnya memutuskan menikah.

Dalam hati, saya sangat bersyukur karena bsia menjawab harapan-harapan orangtua saya. Orangtua saya menginginkan saya agar segera mandiri dan menemukan pendamping hidup yang baik. Hal yang wajar mengingat usia saya yang sudah seperempat abad, membuat saya harus bergegas menentukan jalan hidup selanjutnya. Selain itu, saya juga bersyukur bisa dipertemukan dengan seorang wanita baik yang sangat memahami diri saya pribadi dan penuh penerimaan. Saya bersyukur bisa disandingkan dengan seorang wanita tangguh yang bersedia menjadi pendamping hidup dalam sisa umur saya. Semua itu mutlak adalah rencana Tuhan Yang Maha Kuasa.

*   * *

Begitulah kilasan kehidupan kita di dunia ini. Tidak ada seorang pun yang tahu rencana-rencana Tuhan seutuhnya. Ada bagian takdir yang memang diperuntukkan bagi kita untuk diupayakan dan diperjuangkan. Namun ada pula bagian takdir yang kita tidak diberi kemampuan untuk mengontrolnya. 

Sebagai manusia, kita memang diwajibkan untuk berikhtiar, melakukan usaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan takdir terbaik. Karena tidak ada takdir, selain dari apa yang kita pilih. Tapi seperti yang saya katakan, ada dimensi lain di dalam takdir kita yang berada di luar kendali kita. Ada sekian persen bagian dalam suratan takdir kita yang hanya Tuhanlah yang berkuasa penuh atasnya. Seperti misalnya perkenalan-perkenalan kita dengan orang-orang baru di sekitar kita—termasuk pertemuan kita dengan jodoh kita misalnya. Kejadian-kejadian yang bagi kita seperti kebetulan, pada dasarnya adalah bagian dari skenario Yang Maha Kuasa. Karena kebetulan-kebetulan dan kejutan itulah, hidup ini bisa menjadi lebih menarik untuk dijalani.

Teruntuk istriku, terima kasih atas perhatian dan kasing sayangnya yang tulus dan sepenuh kesabaran yang tiada henti kau beri. Untuk Tuhan, rasa syukur dan puja-puji yang tak terhingga untuk-Mu yang telah menautkan kami dalam bahtera yang Engkau ridhoi. Kiranya Engkau berkenan mempersatukan dan mendamaikan keluarga kecil kami ini dalam biduk rumah tangga yang sakinah. Aamiin.[]

Tuesday, February 14, 2017

Scene Absurd di Upacara Pernikahan

          Mempelai pria sudah bersiap mengucapkan ikrar suci. Dengan muka bersemu merah, seulas senyum tersungging di bibir mempelai wanita. Sang Modin mulai sibuk merapal doa-doa.
          Ketika prosesi itu hampir selesai, dari kejauhan, seorang wanita nampak berlari tergopoh-gopoh. Tubuhnya bermandikan peluh layaknya pelari Jamaika yang mengkilat. Sambil melambaikan tangan, wanita itu terus berlari. Sesaat kemudian, belahan mulutnya terbuka dan wanita itu mulai berteriak:

          “Tungguuuuu..........!!!!”

          Dan acara pernikahan pun bubar seketika.

          -TAMAT-

***

Familiar dengan scene film atau plot novel seperti ilustrasi di atas? Ya, saya sudah beberapa kali mendapati film atau drama roman yang beralur seperti itu. Jika harus menyebut merk, setidaknya ada tiga film yang masih membekas dalam ingatan saya: Spiderman 2 (versi Tobey McGuire), 3 Idiot, dan Dealova.

Saya tidak tahu apakah ini semacam konspirasi agar si tokoh utama tidak perlu menikah dalam film? Kita tahu, ada banyak film di mana tokoh utamanya tidak memiliki status pernikahan yang jelas.

Jadi, saya berasumsi, kegagalan pernikahan si tokoh utama menjadikan jalan cerita yang lebih seru dan dramatis. Tokoh utama kembali bebas melajang dan menjalani lika-liku rumit percintaan. Ya, dengan cara itu si sutradara bisa menambah episode baru atau menambahkan karakter lain dalam film, tentu saja juga menaikkan rating filmnya. Bisa juga scene absurd itu sudah menjadi semacam “selera penonton”, yang bisa membuat tetap antusias mengikuti jalan cerita selanjutnya.

Sejujurnya, saya malah lebih respek jika alur cerita mengharuskan salah satu tokoh utama tewas tragis—seperti Leonardo DiCaprio di Titanic. Itu lebih keren, gentleman, gagah berani, dan menunjukkan betapa seorang Jack Dawson berani berkorban demi keselamatan Rose Ketekburi (saya lupa nama lengkapnya). Bandingkan dengan scene pernikahan yang rusak gara-gara ada seorang tamu yang datang tergopoh-gopoh berteriak “Tunggu...!!!” Absurd, sekaligus naif sekali.

Dalam dunia nyata pun demikian. Entah karena saya anak rumahan atau karena saya kurang update berita, tapi saya belum pernah mendengar pernikahan yang gagal gara-gara di tengah ijab qobul ada seorang ‘tuna asmara’ yang berteriak meminta pernikahan ditunda. Jika pun ada, saya yakin orang itu sudah buru-buru dibawa ke klinik kejiwaan terdekat.

Idealnya, sebuah pernikahan yang dikehendaki (bukan karena paksaan atau perjodohan yang keliru) akan berlangsung penuh khidmat, agung, dan romantis. Prosesi pernikahan bukanlah dagelan yang bisa seenak wudel dijadikan bahan olokan. Apalagi bagi kedua mempelai. Mereka harus tetap serius dalam mengikuti setiap rangkaian prosesinya. Pengucapan ikrar suci adalah sesuatu yang sakral. Berbeda halnya dengan ketika kita mengungkapkan cinta pada gebetan atau pacar. Levelnya jauh, jauh, melebihi itu.

Karena itu, sebelum tulisan ini menjadi semakin bodoh, saya hanya ingin mengucapkan selamat pada siapapun yang hari ini sudah menikah. Pahit manis kehidupan setelah menikah itu konsekuensi kalian. Sebuah bagian dari sistem resiko yang harus ditanggung dalam setiap pilihan hidup. Dengan tulisan ini, saya hanya berharap semoga dunia perfilman kita tidak lagi mengeksploitasi insiden-insiden konyol dalam pernikahan. Semoga novel-novel roman yang saya baca berikutnya tidak lagi membahas masalah pernikahan yang tertunda. Saya kok lebih senang jika endingnya berbahagia bagi kedua mempelai. So, nikah, ya nikah saja, peduli setan jika seorang tolol lari tergopoh-gopoh sambil berteriak “tungguuu...!” Boleh jadi, dia seorang narsis yang takut tidak kebagian frame dalam sesi foto bareng. []
February 14, 2017Benny Prastawa

Monday, July 18, 2016

Melogika Urusan Cinta


Jatuh cinta itu pasti,
sakit hati itu pilihan
(Benny Prastawa)


Ilustrasi:
Santi, seorang gadis remaja yang baru setahun duduk di bangku SMA, jatuh cinta dengan Bondan, teman kelasnya. Di mata Santi, Bondan adalah tipe cowok yang sempurna. Tampan, cerdas, ramah, dan jago bermain basket. Kebetulan Bondan juga belum punya pacar, sehingga Santi tertarik untuk menjadi pacarnya.

Berbagai upaya dilakukan Santi demi mencari perhatian Bondan. Setiap hari, Santi berkirim pesan dengan Bondan. Sekali waktu, ia meminjam buku catatan Bondan dan memintanya untuk mengerjakan PR. Sebagai imbalannya, Santi sering mentraktir Bondan di kantin dan memberinya berbagai hadiah. Santi juga rela mengikuti ekskul basket meski dirinya tida begitu mahir dalam olahraga itu. Ia melakukannya, semata demi menemui Bondan dan mencuri-curi waktu mengobrol dengannya.

Bondan menanggapi perhatian Santi dengan bersikap ramah kepadanya. Setiap kali Santi membutuhkan bantuan, Bondan tak sungkan menolong Santi. Di sisi lain, Santi mengartikan keramahan dan kebaikan Bondan sebagai kode bahwa Bondan menaruh perasaan yang sama dengannya. Karena itu, beberapa bulan kemudian, Santi memberanikan diri untuk menyatakan cintanya pada Bondan. Saat itu, Santi sangat yakin ungkapan cintanya tidak akan bertepuk sebelah tangan.

“Maaf…aku hanya menganggap hubungan kita sebagai sebuah pertemanan, tidak lebih…” jawab Bondan lirih.

Santi terhenyak. Keceriaan di wajahnya seketika sirna. Harapannya yang terlanjur membuncah pun berceceran, bagaikan bongkahan stalagtit yang menghujam lubuk hati Santi keras-keras. Perih dan teramat menyakitkan. Santi kehabisan kata-kata. Ia tak menyangka segala upaya yang dilakukannya selama ini sia-sia. Sebelumnya, ia sangat yakin jika keramahan Bondan adalah bukti bahwa Bondan mencintainya.

Santi mengabaikan fakta bahwa pada dasarnya Bondan tidak hanya ramah pada Santi seorang. Bondan selalu ramah pada semua orang. Sayangnya, Santi menafsirkan keramahan Bondan sebagai sesuatu yang lain. Ia mengira, keramahan itu adalah sebuah sambutan dan jawaban untuk rasa cinta yang bergelayut di hati Santi. Dan kini, ia menyadari bahwa ia telah tertipu oleh perasaannya sendiri…

*   *   *

Saya yakin, cerita semacam itu jamak terjadi di sekitar kita. Mungkin saja beberapa di antara kalian pernah mengalami situasi yang sama menyesakkannya dengan Santi, atau malah lebih buruk. Ketika kita menaruh rasa pada seseorang, kita pasti berharap orang itujuga menaruh perasaan yang sama pada kita. Kita ingin orang itu juga menyukai kita sebagaimana kita menyukainya. Tapi cinta, bukanlah matematika. Ia terlalu rumit untuk dipahami dengan pendekatan logika karena seringnya ia menipu logika kita.

Dalam kasus Santi, ia jatuh cinta pada Bondan karena Bondan tampan, cerdas, ramah, dan jago main basket. Santi memiliki alasan yang logis mengapa ia bisa jatuh cinta. Kemudian, Santi mulai berharap dan memikirkan cara agar Bondan tertarik padanya. Santi melakukannya dengan cara memberi perhatian khusus pada Bondan, melebihi teman-teman cewek di kelasnya. Santi merasa usahanya akan berhasil karena menurutnya Bondan bersikap ramah dan selalu baik kepadanya. Oleh Santi, keramahan itu, diartikan sebagai jawaban “ya” sehingga tidak mungkin Bondan akan menolak Santi. Namun kenyataannya, Bondan tidak bisa menerima cinta Santi. Bondan hanya menganggap Santi sebagai teman, tidak lebih.

Jika kita memposisikan diri sebagai Santi, kita berhak merasa kecewa, dongkol, nyeseg, marah, sedih, hingga menangis getir dengan hati tersayat-sayat. Bagaimanapun cinta adalah rasionalitas yang sempurna. Sebagaimana kita mengambil pilihan dalam hidup, selalu ada konsekuensi logis atas pilihan yang kita ambil. Begitu juga dalam urusan cinta.

Ketika kita menyatakan cinta pada seseorang, ada dua konsekuensi logis yang bisa kita peroleh: “diterima”, atau “ditolak”. Kita tidak bisa memaksa keadaan agar orang itu menerima cinta kita. Alih-alih kita harus mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan penolakan. Karena jika kita tidak siap dan terlalu yakin dengan asumsi perasaan sendiri, maka boleh jadi penolakan itu akan jauh lebih menyakitkan.

Alangkah baiknya, jika kita menyikapi cinta dengan ‘angun’, menjaga kehormatan diri, bersabar, dan terus berusaha memperbaiki diri, hingga kelak kita pantas membersamai orang yang kita suka. Alih-alih daripada bersusah payah mencari perhatian dari orang yang kita suka secara terang-terangan. Bukankah menjengkelkan jika kita sudah mempeng curi-curi pandang, memberi hadiah ini itu, rela mengantar kesana kemari, tapi ending-nya malah ‘bertepuk sebelah tangan’. Malu.

Kata orang, cinta butuh pengorbanan. Ya, tentu saja, cinta membutuhkan pengorbanan. Karena pengorbanan adalah manifestasi (perwujudan) dari cinta itu sendiri. Kita tidak mungkin mengaku cinta, tanpa melakukan sesuatu untuk orang yang kita cintai. Hanya saja, kita perlu memahami bahwa ungkapan tersebut dimaksudkan untuk konteks cinta yang agung, penuh komitmen dan tanggung jawab. Pengorbanan cinta yang sejati, hanya pantas disematkan bagi mereka yang sudah menjalin cinta dalam bingkai hubungan yang dicatat negara dan direstui agama.

Jika dua orang mengaku cinta, tapi hubungan yang dijalaninya penuh tipu-tipu dan melanggar banyak batasan moral-agama, maka pengorbanan yang dilakukan tidak lebih dari sebuah ‘peyorasi’ dan kemunafikan atas nama cinta itu sendiri.

Setiap orang pasti pernah jatuh cinta. Tapi apakah cinta itu akan diungkapkan atau dipendam, itu pilihan kita. Begitu pula dengan patah hati dan bahagia, keduanya adalah konsekuensi logis yang bisa kita terima ketika kita jatuh cinta. Dan semua konsekuensi itu bergantung pada bagaiman kita menentukan pilihan hidup dan menyikapi perasaan cinta itu sendiri. Demikian. []

Wednesday, July 13, 2016

Tentang Label di Blog Ini


Seperti halnya blog saya yang terdahulu, setiap posting artikel di blog akan saya kategorikan ke dalam label-label tertentu. Di blog yang baru ini, penamaan label tidak jauh berbeda dengan blog yang lama. Saya hanya merampingkan kategorisasi label agar lebih mudah ditata dan lebih fungsional. Dalam hal ini, saya merasa perlu menjelaskan setiap kategorisasi label dan konten yang saya tulis di dalamnya, demi kenyamanan para pembaca blog saya.

1. Life
Label ini dikhususkan untuk kategori tulisan saya yang "berat"—dalam artian proses pengerjaannya telah menyita banyak waktu dan pikiran saya. Biasanya, tulisan di label ini akan bercerita tentang realitas kehidupan dan pendapat saya tentang hal tersebut.

2. Diary
Sebagai sebuah personal blog, mau tak mau saya akan menghabiskan sebagian besar ruang di blog ini untuk menceritakan pengalaman saya sehari-hari. Ide-ide dasar di blog ini kebanyakan memang bersumber dari pengalaman saya sehari-hari. Di label “diary”, tidak tertutup kemungkinan saya akan mengumbar beberapa aib dan rahasia pribadi, yang saya rasa perlu untuk diketahui orang banyak.

Dalam hal ini, sebisa mungkin saya akan menjaga privasi dan nama baik para pihak yang terlibat di dalam cerita saya. Karenanya, jangan heran jika kalian mendapati banyak nama samaran di blog ini. Semua itu perlu saya lakukan demi menjaga privasi dan nama baik para pihak yang terlibat dalam cerita tersebut. Jika kebetulan ada yang merasa tersinggung karena kesamaan nama dan tempat, silahkan hubungi saya.

3. Cinta
Cinta adalah salah satu topik yang tidak pernah selesai dibahas. Masing-masing diri kita, baik laki-laki, maupun perempuan, memiliki sikap dan cara pandang masing-masing tentang cinta. Berhubung saya laki-laki, maka saya akan membahas cinta dari perspektif ke-“laki-laki”-an. Karenanya, jangan keburu mendebat saya jika kalian mendapati tulisan kontroversial saya di genre ini. Pastikan dulu kalian laki-laki atau perempuan. Kemudian, pahami lagi konteks masalah yang saya tulis. Cermati, dari sudut pandang mana saya melihat masalah itu. Dan karena “cinta” adalah sesuatu yang rumit, saya mohon kebijaksanaan kalian dalam menyikapi urusan ini. Setiap petuah, nasihat, dan wejangan yang tertulis di blog ini adalah hasil pemikiran subjektif saya. Sangat mungkin tulisan saya tidak bisa digeneralisasikan pada semua masalah, karena konteksnya sudah berbeda. Oh iya, satu pesan saya, berhentilah menanyakan tips-tips konyol seperti tips cepat cari pacar, tips membina rumah tangga, tips menemukan suami/istri idaman, atau tips-tips cinta semacam itu karena saya tidak pernah tertarik untuk menuliskannya di sini.

4. Sekolah
Sejak SMP saya mulai berpikir untuk menjadi seorang guru. Saya rasa, menyenangkan sekali berdiri di depan kelas, mengajar dan bercengkerama dengan anak-anak yang ceria dan bersemangat. Hampir separuh usia saya dihabiskan di balik bangku-bangku sekolah. Sudah tentu saya memiliki idealisme dan utopia tersendiri tentang bagaimana semestinya proses pendidikan di sekolah berjalan. Melalui blog ini, saya ingin berbagi pemikiran saya tentang dunia sekolah dengan segala hingar bingar permasalahannya.

5. Tips
Saat membaca buku atau berselancar di internet, tidak jarang saya mendapati kumpulan tips yang saya rasa penting untuk dibagikan di blog ini. Tentu saja saya tidak akan melakukan 100% copy-paste. Saya hanya perlu mengambil ide dasar dari buku atau situs yang menyediakan kumpulan tips tersebut untuk kemudian menuliskannya kembali dengan gaya penulisan saya sendiri. Agar lebih aman, sebagian tips bersumber dari pengalaman saya sendiri. Yang jelas, saya tidak tertarik untuk menulis tips-tips 'konyol' seperti yang saya sebutkan di poin nomor 3 di atas.

6. TentangNulis
Terkadang saya perlu suntikan motivasi agar tetap menikmati proses menulis. Berhubung saya masih pemula, saya harus intens menempa diri sambil meluruskan niat dalam menulis. Bagi saya, hal ini tidak mudah karena menulis adalah aktivitas berpikir yang menguras waktu dan tenaga. Karena itu, dengan label “tentangNulis” saya bisa membahas segala sesuatu tentang dunia menulis, sekaligus menjadi self reminder bagi saya agar tekun belajar menulis. Sebagian materi saya dapatkan secara otodidak—hasil blogwalking ke blog sebelah. Sebagian lagi saya dapat dari buku dan seminar kepenulisan yang pernah saya ikuti.

7. Fiksi
Label ini diperuntukkan bagi tulisan saya yang berisi cerita rekaan atau fiksi. Di label ini, saya akan menuliskan cerita rekaan semacam itu untuk membuat permisalan atas suatu masalah. Biasanya, orang akan lebih mudah menangkap sebuah pesan nasehat jika disajikan dalam cerita. Melalu icerita fiksi, ada begitu banyak nasehat bijak yang bisa disampaikan secara halus tanpa kesan menggurui.

*   *   *

Itulah tujuh kategorisasi label dalam blog ini. Jumlah tersebut masih mungkin bertambah atau berkurang, tergantung perkembangan tulisan saya di blog ini. Akhir kata, selamat menikmati blog saya yang baru ini. Semoga kalian bisa mendapatkan manfaat di dalamnya. Jika ada hal yang keliru, mohon koreksi dan kritiknya. Karena sungguh manusia yang beruntung di dunia ini adalah mereka yang beriman dan beramal saleh, serta saling nasehat-menasehati dalam kebaikan dan kesabaran. []