Monday, January 2, 2017

Pikiran Anonim


Aku mulai bingung harus menulis apa. . .

Terkadang aku lelah sekali dengan semua pikiran-pikiran ini
January 02, 2017Benny Prastawa

Monday, November 14, 2016

Gadget!


Aku takut suatu saat gadget akan menghabisi kemanusiaan kita.

Jangan-jangan...
Ketika menolong orang, yang terpikir pertama kali adalah meliputnya, menguploadnya, kemudian mencari sensasi demi eksistensi, bukan fokus pada aktivitas berbagi.

Jangan-jangan...
Ketika bercakap-cakap, yang dibicarakan kemudian tidak pernah jelas. Lawan bicara diabaikan dengan atensi tertuju pada layar gadget. Entah itu wujud kesombongan atau sikap apatis. Nyatanya, banyak orang modern begitu kok. Anehnya, mereka merasa hal itu biasa dan baik-baik saja.

Jangan-jangan...
Ketika makan bersama, hidangan yang tersaji dibiarkan dingin. Semua perhatian tertuju pada gadget, bukan lantas mengambil sendok dan menikmati hidangan di atas piring. Beruntunglah, jika tidak ada lalat yang ikut termakan.

Jangan-jangan...
Ketika ada orang kecelakaan, boro-boro segera menolong—yang ada malah asik memotret korbannya dulu, baru kemudian menelpon ambulans.

Jangan-jangan...
Ketika ada kebakaran, yang ditelepon pertama kali bukan pemadam kebakaran, tapi wartawan. Begitu kita diliput, masuk TV, heboh sekali menguploadnya di youtube. Lumayan, buat dongkrak popularitas—katanya. Siapa tahu ada produser yang minat terus diajak main film.

Jangan-jangan...
Kitalah yang menjajah kemanusiaan kita sendiri. Dengan gadget di tangan, kita justru menggerus kemanusiaan kita sendiri. Apatis. Skeptis. Mudah terbawa isu. Menganggap apa yang tertera di gadget adalah kebenaran tunggal.

Jangan-jangan...
Ah, sudahlah. Aku hanya berharap bisa bertemu dengan lebih banyak orang yang benar-benar manusia. Merekalah orang-orang yang paham bagaimana memanusiakan manusia. Bukan manusia jadi-jadian yang setengah kemanusiaannya diberangus ‘iblis’ bernama “gadget!” []
November 14, 2016Benny Prastawa

Saturday, November 12, 2016

Alasan Kenapa Saya Menyukai Orang Ramah


Semasa bocah dulu, saya punya pengalaman kurang mengenakkan dengan orang yang temperamental. Saking traumanya, sampai-sampai saya sering illfeel jika bertemu dengan orang yang raut mukanya tidak ramah. Lebih parah lagi, saya jadi terlalu ‘perasa’ setiap kali melihat orang dengan ekspresi wajah cemberut. Mereka seringkali membuat saya berpikir “jangan-jangan orang itu cemberut karena marah sama saya...

Karena itu, saya sangat menghargai orang-orang ramah. Saya bisa berlama-lama ngobrol dengan orang yang ramah tanpa terbebani rasa sungkan dan takut salah. Umumnya, kita tentu lebih mudah akrab saat bergaul dengan orang yang ramah. Sebaliknya, saat bergaul dengan orang yang ketus dan dingin seringkali membuat kita ilfeel dan serba salah.

Orang-orang ramah cenderung menghargai lawan bicaranya. Mereka tahu bagaimana membuat lawan bicara merasa dirinya penting. Tidak heran jika kita bisa bersikap terbuka ketika berinteraksi dengan orang yang ramah. Pendeknya, keramahan tersebut adalah salah satu faktor penting untuk menciptakan hubungan sosial yang harmonis.

Ngomong-ngomong, saya kok jadi berandai-andai, apa jadinya jika instansi-instansi pemerintah diisi oleh pegawai-pegawai yang ramah?

Selama ini, kita justru lebih sering mendengar berbagai keluhan masyarakat tentang payahnya pelayanan pegawai instansi pemerintahan. Sebagian mengeluhkan ribetnya proses birokrasi. Sebagian lagi merasa “dipermainkan”—disuruh ke loket ini loket itu, ke dinas ini, ke dinas itu, tapi endingnya masalah yang diurus tidak kunjung selesai. Belum lagi jika ada oknum ‘nakal’ yang meminta pungli di sana sini. Lengkap sudah penderitaan kita. (Saya jadi senang jika ada lebih banyak kepala daerah seperti Ahok atau Ganjar yang menindak tegas oknum pegawai yang bekerja seenak perut).

Pemandangan yang jauh berbeda bisa kita temui di loket-loket bank atau customer service (CS) jasa penerbangan. Di tempat-tempat itu, keramahan menjadi salah satu standar operasional pelayanan (SOP) yang wajib diterapkan. Tidak heran, jika pegawai-pegawai di sana ramah-ramah. Sudah rupawan, cantik, ramah pula. Belum pernah saya mendapati teller bank yang marah-marah di depan nasabahnya. Begitu juga dengan CS jasa penerbangan, yang tetap tenang meski dimaki-maki pelanggannya ketika pesawat delay.

Sebaliknya, di instansi-instansi pemerintahan, saya lebih sering menjumpai pegawai-pegawai bertampang judes yang mengabaikan keramahan pelayanan (jangankan melempar senyum, bisa disapa saja kalian sudah beruntung). Di tempat-tempat itu, saya sering merasa diperlakukan layaknya “motor yang sedang diservis”. Di sana, saya cuma ditanya keperluannya apa, diberitahu begini begitu, diminta ke loket ini loket itu, kemudian selesai—antrian berikutnya. Tidak ada keramahan pelayanan yang membuat tamu merasa nyaman di sana,

Tentu saja saya tidak menggeneralisasi semua instansi pemerintahan seperti itu. Boleh jadi, saya cuma kurang beruntung, karena harus berurusan dengan pegawai yang judes. Sesekali, saya juga bertemu dengan pegawai yang ramah dan mau bersabar mendengarkan keluhan pengunjung. Pegawai-pegawai semacam itulah yang patut mendapat apresiasi lebih dan layak digaji tinggi oleh negara. Bukankah, seorang pegawai pemerintahan memang digaji dengan uang rakyat? Karena itu, kita berhak menuntut mereka untuk memberikan pelayanan terbaik—karena secara tidak langsung kitalah yang membayar mereka!

*   *   *

Seperti yang saya jelaskan di awal, saya sangat menghargai orang-orang ramah. Sedemikian tinggi penghargaan saya sampai-sampai saya tidak akan ragu untuk membayar lebih, demi mendapatkan keramahan pelayanan.

Sebagai contoh, di dekat rumah saya, ada sebuah warung langganan. Warung langganan saya itu terbilang cukup laris. Pemilik warung biasa menjalin keakraban dengan para pelanggannya. Ia tidak sungkan berbasa-basi dan melempar lelucon untuk mencairkan suasana. Karena itu, saya pun kerasan setiap kali berbelanja di sana dan tidak ragu menjadikannya warung langganan.

Di dekat warung langganan saya, ada juga warung lain yang barang dagangannya tidak jauh berbeda. Akan tetapi, saya jarang berbelanja di warung itu karena si pemilik warung kurang ramah. Seperti halnya pegawai instansi pemerintahan yang judes, pemilik warung itu hanya sekedar menanyakan keperluan saya, mengambilkan barang, menerima bayaran, kemudian mengakhiri transaksi. Tidak ada celetuk basa-basi atau lelucon ringan pencair suasana seperti halnya warung langganan saya.

Berhubung saya sangat menghargai keramahan pelayanan, saya tidak merasa rugi jika harus berbelanja di toko swalayan berjejaring. Meski secara ekonomi harganya lebih mahal, keramahan pelayanannya sebanding dengan harga yang dibayarkan. Bandingkan dengan pemilik warung yang judes tadi. Meski harganya lebih murah, sikap judesnya adalah 'nila setitik' yang membuat saya bergeming untuk belanja di sana.

Dari warung langganan dan toko swalayan berjejaring itu, saya pun berpikir: “Sudah seharusnya orang berdagang dengan pelayanan seperti itu”. Karena prinsipnya, ketika pemilik warung berhasil membuat pelanggannya merasa nyaman, maka besar kemungkinan si pelanggan akan kembali berbelanja di warung itu. Sebaliknya, jika pemilik warung pernah membuat kapok pelanggannya sekali saja, maka kecil kemungkinan si pelanggan akan kembali berkunjung ke warung itu.

Terlepas dari semua itu, bersikap ramah memang tidak mudah—lebih-lebih ketika suasana hati kita sedang tidak enak. Karena itu, kita bisa belajar dari para pegawai bank atau CS jasa penerbangan yang tetap bersikap ramah, meski perilaku pelanggannya tidak mengenakkan. Mereka mengajarkan kepada kita bahwa keramahan adalah “bahasa kasih” yang universal.

Kita tidak perlu risau jika keramahan kita tidak pernah digubris oleh orang lain. Karena dalam hening pun, Tuhan tahu ketulusan kita untuk bersikap ramah pada sesama. Bukankah kehidupan ini akan jauh lebih damai jika kita dikelilingi oleh orang-orang ramah? Siapa tahu, dengan keramahan itu, rezeki kita menjadi lebih lancar—sebagaimana yang terjadi pada pemilik warung langganan saya. Demikian. []
November 12, 2016Benny Prastawa

Friday, November 11, 2016

Esensi Pahlawan di Warung Makan


Buat saya, pahlawan bisa berarti siapa saja. Pahlawan tidak harus mereka yang gugur di medan perang. Pahlawan tidak harus mereka yang pergi mengangkat senjata. Pahlawan bisa berada di mana saja. Bahkan saat kau membalikkan kecoa yang terjengkang—maka kau pun sudah menjadi ‘pahlawan’—setidaknya bagi kecoa itu. Hinakah? Tentu saja tidak.  Karena bagi seorang pahlawan, keikhlasan menolong sesama adalah segalanya.

Berhubung saya belum pernah menulis tentang Hari Pahlawan, di postingan kali ini saya ingin membahas mengenai sosok ‘pahawan’. Sejenak, mari kita flashback pada hari di mana saya masih kuliah.

Bagi seorang mahasiswa (seperti saya), definisi ‘pahlawan’ tidak akan jauh dari ibuk-ibuk pemilik warung makan! (Saya pernah menulis tentang mereka di sini). Jika bukan karena regulasi-birokrasi dan intimidasi penguji skripsi, sudah pasti saya akan menuliskan “ibuk-ibuk pemilik warung makan” di halaman persembahan. Bukan bermaksud lebay—saya hanya ingin jujur mengatakan betapa besarnya peranan mereka, hingga saya bisa menjadi sarjana.

Sebagai seorang yang tidak jago masak, saya sangat tertolong dengan adanya warung-warung makan. Di tengah tugas kuliah yang menumpuk, kesibukan yang tidak berhenti, dan kerepotan proses memasak, ibuk-ibuk warung makan adalah solusi praktis mengatasi lapar yang tak tertahankan. Saya cukup mendatangi warung mereka, memilih menu, membayar sekian rupiah, menikmati hidangannya, dan urusan saya dengan rasa lapar pun selesai. Praktis, simpel, efektif, dan efisien—tentu saja.

Karena itu, ketika tersiar kabar penggerebekan warteg yang buka saat puasa, saya termasuk pihak yang ikut mukulin prihatin. Bagaimana tidak, keberadaan warung-warung makan membuat orang-orang kelaparan yang tidak jago masak (seperti saya) mendapatkan asupan gizi. Keberadaan warung makan juga membantu menolong orang-orang yang kelaparan di tengah perjalanan jauh. Sederhananya, keberadaan warung-warung makan terbukti memberikan solusi nyata untuk mengatasi masalah konstipasi dan malnutrisi di kalangan rakyat.

Saya tidak sedang beretorika. Ini serius!

Kalian tahu, di tengah pesatnya modernitas zaman, orang-orang berubah menjadi makhluk yang super sibuk. Saking sibuknya, orang bisa sampai lupa makan. Tidak heran, jika rumah sakit sering kebanjiran pasien tipus, diare, atau penyakit pencernaan lainnya—sedikit banyak diakibatkan oleh pola makan masyarakat modern yang kurang tertata.

Di satu sisi, kita tentu tidak mau jatuh sakit hanya gara-gara lupa makan. Di sisi lain, kita tidak suka memasak karena berpikir kegiatan itu buang-buang waktu. Karenanya, keberadaan warung-warung makan menghadirkan solusi instan bagi mereka yang ingin makan tanpa buang-buang waktu memasak—khususnya para mahasiswa dan musafir  yang tengah dalam perjalanan jauh.

Selain mereka, keberadaan warung-warung makan juga menolong kehidupan bayi-bayi montok yang kelaparan (dalam hal ini warung makan khusus bayi). Seperti yang kita tahu bersama, arus kehidupan modern memaksa kaum ibu-ibu untuk ikut bekerja. Jika mereka punya bayi, maka hampir dipastikan mereka tidak akan sempat membuatkan makanan bayi. Padahal, memasak makanan bayi bisa jadi sangat lama. Proses memasak harus terus dilakukan sampai menghasilkan tekstur makanan yang lembut.

Untungnya, warung-warung makan khusus bayi sudah banyak beredar di sekitar kita. Kini, ibu-ibu tidak perlu repot memasak makanan untuk bayinya. Cukup dengan membayar sekian rupiah, makanan bayi bisa segera terhidang. Praktis dan mudah. Ibu senang, bayi pun girang.

Dari contoh-contoh tersebut, ibuk-ibuk pemilik warung makan sudah memenuhi kriteria seorang ‘pahlawan’. Mereka memang tidak memegang senapan ataupun bambu rucing untuk berjibaku melawan penjajah. Tapi goresan pisau mereka di atas telenan sudah cukup menolong orang-orang yang kelaparan di sekitar kita. Racikan rempah-rempah mereka terbukti ampuh mengatasi berbagai penyakit sosial akibat perut yang lapar.

Akhirnya, pada Hari Pahlawan ini (lebih tepatnya kemarin), saya hanya ingin bilang:

Terpujilah, wahai ibuk-ibuk pemilik warung makan. Berkat kalian, bayi-bayi tidak sampai kekurangan nutrisi. Berkat kalian, orang-orang yang kelaparan di tengah jalan bisa makan. Berkat kalian, mahasiswa-mahasiswa bisa menjadi sarjana. Berkat kalian pula, gangguan perut yang bermacam-macam bisa terhindarkan.

Terima kasih ibuk-ibuk pemilik warung makan. Selamat Hari Pahlawan!!! (mari makaaann) []
November 11, 2016Benny Prastawa

Wednesday, November 9, 2016

Hukuman tanpa Kesalahan


Kemarin, blog saya hilang. Begitu mengecek Gmail saya, ternyata akunnya diblokir oleh Google. Saya sendiri tidak tahu kesalahan saya, karena selama ini saya merasa tidak melanggar Term of Use apapun. Saya tidak pernah ngaco membuat artikel cerita dewasa, tidak nyomot artikel dari blog tetangga, atau malah mengunggah konten porno.

Lalu apa salah saya? Lagipula, blog ini boleh dibilang masih baru. Belum banyak konten yang termuat di sini. Ibarat bayi, umur blog ini belum genap 2 bulan. Jadi sangat tidak adil jika blog yang baru seumur jagung ini ‘dimusnahkan’. Lebih pihak Google tidak menuliskan detail kesalahan saya. Inti email yang saya terima cuma: “Kamu melanggar peraturan, dan karena itu kamu dihukum!

Boleh jadi, seperti ini ya rasanya dituduh padahal kita yakin tidak melakukan kesalahan apapun. Ya, itu menyesakkan sekali. Bagaimana kita bisa menerima sebuah hukuman padahal kita yakin diri kita tidak bersalah?

Saya jadi teringat kasus kopi sianida yang menewaskan Mirna. Sampai detik ini, saya masih belum yakin (sejujurnya malah tidak percaya), jika tewasnya Mirna disebabkan oleh sianida yang ‘konon’ dimasukkan oleh Jessica. Ada begitu banyak plot hole yang tidak terjelaskan dalam kasus tersebut.

Saya pikir, jika sebuah kejahatan memang tidak terpecahkan karena kurangnya alat bukti, maka seperti kata Hotman Paris, kasus tersebut bisa dikatakan sebagai unsolved crime. Tapi apa daya, sejak awal, semua orang terlanjur beropini (lebih tepat digiring opininya), untuk mempercayai bahwa Mirna tewas setelah meminum kopi sianida. Padahal, jika kita menyelami persidangan Jessica, akan kita temukan beberapa kejanggalan di dalamnya. Terlebih, penanganan kasus itu sudah meninggalkan banyak ‘lubang’ sejak awal.

Ada dua hal yang sangat saya sayangkan dari kasus ini. Pertama, ketiadaan proses otopsi pada jenazah Mirna. Padahal, dari hasil otopsi itu kita bisa meyakini, apakah Mirna tewas karena sianida, atau karena hal lain. Kedua, penanganan TKP berjalan sangat lambat. Polisi malah baru bisa mengkondisikan TKP berjam-jam kemudian. Karena itu, sangat mungkin barang bukti seperti sianida (jika memang ada), sidik jari, dan gelas kopi yang dipakai Mirna hilang—atau setidaknya ‘dibersihkan’ dari jejak-jejak si pelaku.

Jika sudah begini, tinggal Jessica seorang yang dinilai paling mencurigakan. Jessicalah yang datang paling awal dan memesankan kopi. Jessica juga yang paling mungkin menuangkan racun. Jessica pula yang menaruh paper bag di atas meja, seakan-akan hal itu sengaja dilakukannya untuk menutupi CCTV. Media pun menghipnotis kita untuk berpikir “Jessica”, Jessica”, “Jessica”, dan pasti “Jessica” pelakunya. Pada akhirnya, Jessica harus menanggung ‘tuduhan umat’ yang menyeretnya ke jeruji besi.

Ah, tapi siapalah saya. Detektif bukan, jaksa bukan, polisi bukan, bahkan anaknya polisi juga bukan. Postingan ini juga tidak akan mengubah vonis hakim dan membebaskan Jessica. Saya memang bukan siapa-siapa. Dan karena saya bukan siapa-siapa, saya pantas bertanya, apa salah saya sampai-sampai akun Gmail saya diblokir?

Semoga semesta masih menghendaki adanya keadilan di antara umat manusia. Yang menghukum mereka yang bersalah dan membebaskan mereka yang tidak bersalah. Karena sungguh, menuduh seseorang tanpa kesalahan itu menyakitkan, dan dituduh tanpa bukti, itu sebuah kejahatan! []



***Paginya, buru-buru saya buka akun Gmail saya. Memang benar, akun saya terblokir sehingga saya harus melakukan verifikasi kode via nomor ponsel. Beberapa saat kemudian—Klontank!!! Akun Gmail saya sudah bisa dipulihkan. Saya pun bisa posting cerita nggak penting seperti ini lagi. Adakah yang pernah bernasib sama dengan saya?
November 09, 2016Benny Prastawa