Pedagang es ini sebenarnya sudah biasa berkeliling di kompleks rumah teman saya. Jadi teman saya ini termasuk pelanggan setia yang sudah hafal harga.
Tapi sore itu, dengan polos seorang bocah, teman saya nyeletuk tentang harga es yang mahal. Mendengar itu, si pedagang langsung memasang wajah tak enak pada teman saya.
Bertahun-tahun kemudian, ketika masuk ke dunia orang dewasa, saya pun bisa memahami pedagang es keliling tadi. Celetuk polos seorang bocah bisa menjadi sebuah tusukan jarum di ujung jari. Menyakitkan.
Kehidupan pedagang makanan keliling tentu tidak mudah. Seringkali mereka bisa menjual makanan yang sangat enak, tapi itu tidak menjamin makanannya laku. Seringkali mereka juga sudah menekan harga dan mengambil margin untung minimal (bahkan nyaris bangkrut) tapi makanannya tetap tak kunjung laku. Tidak jarang pula, karena harga bahan baku naik, si pedagang tidak punya pilihan selain menaikkan harga jual agar tidak merugi. Dan seringkali karena desakan kebutuhan dapur di rumah, si pedagang terpaksa menaikkan harga jual, berharap ia bisa mendapat uang lebih cepat.
Teman saya yang masih bocah, tentu tak paham bahwa celetuk jujurnya justru membuat pedagang es tersinggung. Dan perlu bertahun-tahun memproses peristiwa itu untuk memahami kompleksitas tindakan dan motif ekonomi orang dewasa.
Si pedagang es itu, sama seperti banyak pedagang makanan keliling lainnya, selalu terhimpit oleh kenyataan bahwa perdagangan hari ini semakin dimonopoli oleh mereka yang punya modal dan jaringan lebih banyak. Pedagang es itu tidak kurang bekerja keras. Ia juga tidak kurang inovasi membuat produk yang berkualitas. Tapi ketika daya beli masyarakat turun, selera konsumen bergeser, dan korporasi makanan bermodal besar terus menggurita, berapa persen kesempatan yang tersisa bagi para pedagang es keliling tadi dan jutaan orang lain yang senasib?
Dan ironisnya, justru dari saku para bocah—seperti teman saya tadilah, pedagang keliling ini memperoleh "sesuatu" yang membuat dapurnya tetap mengebul. Meski mungkin tak seberapa.[]