Monday, July 18, 2016

Si Gemuk dan Si Kurus


“Sebaik-baik urusan adalah yang pertengahan,
tidak sedikit, dan tidak berlebihan”
(pepatah)


Alkisah Si Gemuk dan Si Kurus sedang dalam perjalanan menuju ke pasar. Keduanya berjalan beriringan dengan langkah yang lambat-lambat. Pasar yang dituju masih setengah jam perjalanan. Si Kurus yang tampak mulai bosan, sesekali mengomel pada Si Gemuk.

“Woy, Muk, bisa lebih cepat tidak? Jalanmu sudah seperti keong di sawah saja.”
Si Gemuk diam saja. Nafasnya masih terengah-engah. Kedua tangannya sibuk menyeka peluh di dahinya.

“Ini sudah kecepatan penuh. Bisa saja aku memaksakan diri, tapi setengah perjalanan dari sini, kau harus menggendongku.”

Si Kurus menggelengkan kepala kemudian menghela napas panjang. Si Gemuk berjalan gontai. Langkah kakinya melambat.

“Kamu beruntung, Rus. Badanmu ringan. Kamu tidak akan mudah letih seperti diriku.”

“Wah, jangan salah. Begini-begini aku juga bisa capek kalau terus-terusan berjalan lambat sepertimu. Kenapa tidak kau percepat saja langkahmu, agar kita tidak keburu pingsan sebelum tiba di pasar.”

Si Gemuk menggelengkan kepala. “Ngomong-ngomong, aku tidak pernah minta dikasih badan gemuk begini. Mauku sih, badanku tidak segemuk ini. Yang sedang-sedang sajalah.”

“Begitu pun denganku. Aku juga tidak pernah minta dikasih badan kurus kering seperti ini. Kau tahu, wanita sekarang lebih doyan pria gemuk?” Wajah Si Kurus mendadak serius. Sementara Si Gemuk malah tersenyum geli.

“Ah, kau mencoba menghiburku?”

“Tentu saja tidak. Aku serius. Sudah beberapa kali aku mengamati, dan mensurvei kebanyakan wanita sekarang suka dengan pria yang badannya berisi.”

“Berisi dompetnya maksudmu?”

Kedua orang itu tertawa lepas.

“Mungkin kau benar, wanita suka pria yang berisi. Tapi bukan pria yang terlalu gemuk sepertiku.” Si Gemuk menepuk-nepuk perutnya.

“Hmm…enak juga jadi gemuk sepertimu, Muk. Tenagamu jauh lebih kuat dalam hal angkat-angkut. Sementara aku, mengangkat segalon air saja sudah kewalahan.”

“Memang. Tapi orang gemuk tidak bisa sembarangan makan. Orang gemuk harus pilih-pilih makanan. Kalau salah pilih, bisa-bisa kita malah menimbun penyakit. Kau lebih santai karena bisa makan apapun tanpa perlu khawatir terkena penyakit macam-macam. Stroke lah, darah tinggi, kanker, dan sejenisnya.”

“Memang, tapi, meski aku merasa sudah banyak makan, badanku tak kunjung gemuk juga. Aku juga kesulitan mencari baju yang cocok denganku. Baju-baju yang dijual di pasar terlalu besar. Aku sering kedoodran memakainya. Kau tahu, aku jadi mirip layang-layang saat angin kencang bertiup.”

“Haha…ya tentu saja. Orang-orang berpikir kau akan terbang dihempas angin jika memakai baju yang tidak pas ukurannya.”

Si Kurus terkekeh. “Ngomong-ngomong, mungkin kau perlu obat cacing, Rus. Orang kurus sepertimu bisa jadi model iklan obat cacing terkenal. Kalau mau laku, aku bisa meminta petugas dinas kesehatan untuk menambahkan fotomu di pojok banner dengan tulisan “Berantas Cacingan!

Sekali lagi, Si Kurus terkekeh. “Imajinasimu terlalu liar, Muk. Siapa pula yang akan membayar model ‘sapu lidi’. Aku malah sudah lupa dengan obat cacing. Saat bocah, aku pernah dipaksa meminumnya. Meski sudah meminumnya, badanku tetap tidak gemuk-gemuk juga.”

Sejenak, suasana menjadi hening. Desir angin membelai pohon jati yang tumbuh di sepanjang jalan. Beberapa daun jati tampak berguguran memenuhi ruas-ruas jalan yang berdebu.

“Jadi, semua orang punya masalahnya masing-masing, Rus?”

“Maksudmu? Dalam hal apa?”

“Maksudku seperti yang kita bicarakan barusan, orang gemuk punya masalahnya sendiri, dan orang kurus juga punya masalahnya sendiri.”

“Ya, tentu saja begitu. Masalah membuktikan bahwa kita ini hidup. Satu-satunya tempat di dunia yang tidak ada masalah cuma kuburan.“

Si Gemuk menenggak botol minuman yang diselipkan di tas kecilnya. Ia menawarkan botol minuman itu pada Si Kurus.

“Karena hidup ini banyak masalah, kita dianjurkan untuk saling menolong, bukan saling menghina, mencaci, dan merendahkan kelemahan masing-masing.”

“Bijak sekali kau, Muk. Kupikir kau berpikiran sempit seperti orang-orang kebanyakan.”

“Sepertinya mereka perlu diajar etika dan empati.”

“Menurutku, itu tidak akan mudah, sampai mereka menyadari kelemahannya sendiri.”

Si Gemuk mengangguk, mengamini kata-kata Si Kurus. Pasar yang mereka tuju sudah nampak di hadapan mereka.[]
July 18, 2016Benny Prastawa

Melogika Urusan Cinta


Jatuh cinta itu pasti,
sakit hati itu pilihan
(Benny Prastawa)


Ilustrasi:
Santi, seorang gadis remaja yang baru setahun duduk di bangku SMA, jatuh cinta dengan Bondan, teman kelasnya. Di mata Santi, Bondan adalah tipe cowok yang sempurna. Tampan, cerdas, ramah, dan jago bermain basket. Kebetulan Bondan juga belum punya pacar, sehingga Santi tertarik untuk menjadi pacarnya.

Berbagai upaya dilakukan Santi demi mencari perhatian Bondan. Setiap hari, Santi berkirim pesan dengan Bondan. Sekali waktu, ia meminjam buku catatan Bondan dan memintanya untuk mengerjakan PR. Sebagai imbalannya, Santi sering mentraktir Bondan di kantin dan memberinya berbagai hadiah. Santi juga rela mengikuti ekskul basket meski dirinya tida begitu mahir dalam olahraga itu. Ia melakukannya, semata demi menemui Bondan dan mencuri-curi waktu mengobrol dengannya.

Bondan menanggapi perhatian Santi dengan bersikap ramah kepadanya. Setiap kali Santi membutuhkan bantuan, Bondan tak sungkan menolong Santi. Di sisi lain, Santi mengartikan keramahan dan kebaikan Bondan sebagai kode bahwa Bondan menaruh perasaan yang sama dengannya. Karena itu, beberapa bulan kemudian, Santi memberanikan diri untuk menyatakan cintanya pada Bondan. Saat itu, Santi sangat yakin ungkapan cintanya tidak akan bertepuk sebelah tangan.

“Maaf…aku hanya menganggap hubungan kita sebagai sebuah pertemanan, tidak lebih…” jawab Bondan lirih.

Santi terhenyak. Keceriaan di wajahnya seketika sirna. Harapannya yang terlanjur membuncah pun berceceran, bagaikan bongkahan stalagtit yang menghujam lubuk hati Santi keras-keras. Perih dan teramat menyakitkan. Santi kehabisan kata-kata. Ia tak menyangka segala upaya yang dilakukannya selama ini sia-sia. Sebelumnya, ia sangat yakin jika keramahan Bondan adalah bukti bahwa Bondan mencintainya.

Santi mengabaikan fakta bahwa pada dasarnya Bondan tidak hanya ramah pada Santi seorang. Bondan selalu ramah pada semua orang. Sayangnya, Santi menafsirkan keramahan Bondan sebagai sesuatu yang lain. Ia mengira, keramahan itu adalah sebuah sambutan dan jawaban untuk rasa cinta yang bergelayut di hati Santi. Dan kini, ia menyadari bahwa ia telah tertipu oleh perasaannya sendiri…

*   *   *

Saya yakin, cerita semacam itu jamak terjadi di sekitar kita. Mungkin saja beberapa di antara kalian pernah mengalami situasi yang sama menyesakkannya dengan Santi, atau malah lebih buruk. Ketika kita menaruh rasa pada seseorang, kita pasti berharap orang itujuga menaruh perasaan yang sama pada kita. Kita ingin orang itu juga menyukai kita sebagaimana kita menyukainya. Tapi cinta, bukanlah matematika. Ia terlalu rumit untuk dipahami dengan pendekatan logika karena seringnya ia menipu logika kita.

Dalam kasus Santi, ia jatuh cinta pada Bondan karena Bondan tampan, cerdas, ramah, dan jago main basket. Santi memiliki alasan yang logis mengapa ia bisa jatuh cinta. Kemudian, Santi mulai berharap dan memikirkan cara agar Bondan tertarik padanya. Santi melakukannya dengan cara memberi perhatian khusus pada Bondan, melebihi teman-teman cewek di kelasnya. Santi merasa usahanya akan berhasil karena menurutnya Bondan bersikap ramah dan selalu baik kepadanya. Oleh Santi, keramahan itu, diartikan sebagai jawaban “ya” sehingga tidak mungkin Bondan akan menolak Santi. Namun kenyataannya, Bondan tidak bisa menerima cinta Santi. Bondan hanya menganggap Santi sebagai teman, tidak lebih.

Jika kita memposisikan diri sebagai Santi, kita berhak merasa kecewa, dongkol, nyeseg, marah, sedih, hingga menangis getir dengan hati tersayat-sayat. Bagaimanapun cinta adalah rasionalitas yang sempurna. Sebagaimana kita mengambil pilihan dalam hidup, selalu ada konsekuensi logis atas pilihan yang kita ambil. Begitu juga dalam urusan cinta.

Ketika kita menyatakan cinta pada seseorang, ada dua konsekuensi logis yang bisa kita peroleh: “diterima”, atau “ditolak”. Kita tidak bisa memaksa keadaan agar orang itu menerima cinta kita. Alih-alih kita harus mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan penolakan. Karena jika kita tidak siap dan terlalu yakin dengan asumsi perasaan sendiri, maka boleh jadi penolakan itu akan jauh lebih menyakitkan.

Alangkah baiknya, jika kita menyikapi cinta dengan ‘angun’, menjaga kehormatan diri, bersabar, dan terus berusaha memperbaiki diri, hingga kelak kita pantas membersamai orang yang kita suka. Alih-alih daripada bersusah payah mencari perhatian dari orang yang kita suka secara terang-terangan. Bukankah menjengkelkan jika kita sudah mempeng curi-curi pandang, memberi hadiah ini itu, rela mengantar kesana kemari, tapi ending-nya malah ‘bertepuk sebelah tangan’. Malu.

Kata orang, cinta butuh pengorbanan. Ya, tentu saja, cinta membutuhkan pengorbanan. Karena pengorbanan adalah manifestasi (perwujudan) dari cinta itu sendiri. Kita tidak mungkin mengaku cinta, tanpa melakukan sesuatu untuk orang yang kita cintai. Hanya saja, kita perlu memahami bahwa ungkapan tersebut dimaksudkan untuk konteks cinta yang agung, penuh komitmen dan tanggung jawab. Pengorbanan cinta yang sejati, hanya pantas disematkan bagi mereka yang sudah menjalin cinta dalam bingkai hubungan yang dicatat negara dan direstui agama.

Jika dua orang mengaku cinta, tapi hubungan yang dijalaninya penuh tipu-tipu dan melanggar banyak batasan moral-agama, maka pengorbanan yang dilakukan tidak lebih dari sebuah ‘peyorasi’ dan kemunafikan atas nama cinta itu sendiri.

Setiap orang pasti pernah jatuh cinta. Tapi apakah cinta itu akan diungkapkan atau dipendam, itu pilihan kita. Begitu pula dengan patah hati dan bahagia, keduanya adalah konsekuensi logis yang bisa kita terima ketika kita jatuh cinta. Dan semua konsekuensi itu bergantung pada bagaiman kita menentukan pilihan hidup dan menyikapi perasaan cinta itu sendiri. Demikian. []

Sunday, July 17, 2016

Kerancuan Paham


Laki-laki yang baik adalah untuk wanita yang baik. Dan sebaliknya, wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik. Tapi, hei, bukankah ada istri baik yang suaminya brengsek ampun-ampunan? Pun bukankah ada suami baik tapi istrinya binal ampun-ampunan?


Oh, begitulah, jika konteks suatu ayat tidak dipahami secara utuh. Yang terjadi kemudian adalah kerancuan paham. Bukan ayat-Nya yang salah, pemahaman kita terhadap konteks ayat itulah yang perlu dibenahi.[]
July 17, 2016Benny Prastawa

Pengajian 'Batman'


Tidak sepatutnya engkau memberi makanan
dengan bungkus kresek bekas yang lusuh
(Benny Prastawa)

Seringkali saya bertanya-tanya, siapa sih yang pertama kali menggagas ide pengajian sampai tengah malam? Bagi saya yang tidak betah melek, acara pengajian hingga larut malam adalah mimpi buruk. Acara tersebut biasanya membuat waktu tidur saya terganggu dan menurunkan daya konsentrasi saya keesokan harinya. Belum lagi jika pengajian tersebut diadakan sampai dini hari, saya malah khawatir para peserta pengajian melewatkan sholat Subuh.

Tentu saja tidak semua orang sama cemen-nya dengan saya. Bagi orang yang pada dasarnya kuat lek-lekan (begadang), pengajian sampai larut malam atau dini hari tidak menjadi soal. Mereka tetap kuat menjalankan ibadah sholat Subuh tanpa harus kesiangan. Karena itu, dalam tulisan ini saya tidak sedang menghakimi bahwa pengajian larut malam itu buruk. Tulisan ini hanya ingin menjelaskan bagaimana seharusnya masyarakat menyikapi acara pengajian yang diadakan hingga larut malam.

Pada dasarnya, tidak ada hukum normatif yang mengatur waktu pelaksanaan pengajian. Pengajian bisa dilakukan kapanpun tanpa batasan waktu. Tentu saja, dalam hal ini panitia pengajian akan mempertimbangkan waktu tertentu yang sekiranya bisa mendatangkan banyak peserta. Karena bagaimanapun, ketika kita berinisiatif membuat suatu acara, maka urusan peserta menjadi penting untuk dipikirkan.

Dibanding waktu-waktu yang lain, “malam hari” adalah waktu yang dirasa paling senggang bagi sebagian besar warga masyarakat. Di waktu itu, warga masyarakat biasa bersantai dan tidak lagi disibukkan dengan aktivitas bekerja. Karenanya, sangat logis jika malam hari dipilih sebagai waktu yang ideal untuk mengadakan pengajian.

Selain itu, harus kita akui bahwa sebagian masyarakat kita mempunyai kebiasaan lek-lekan (begadang). Biasanya penggemar lek-lekan senang mengisi waktunya untuk hal-hal yang kurang produktif, seperti menonton televisi, nongkrong, atau bermain kartu di pos ronda. Melihat realitas tersebut, kegiatan pengajian bisa dijadikan solusi alternatif agar kebiasaan lek-lekan di masyarakat menjadi lebih bermanfaat.

Kegiatan pengajian juga efektif untuk membina aspek rohani dan memperluas wawasan keagamaan warga masyarakat—khususnya masyarakat awam—yang tidak mendalamai ilmu agama secara intens. Sampai di sini, semuanya tidak ada masalah. Pengajian mendapat peran strategis untuk memperbaiki moral dan menggugah kesadaran beragama warga masyarakat.

Tapi ketika kita membahas timing pengajian yang diadakan hingga larut malam, hal ini membutuhkan pertimbangan tertentu. Bagaimanapun acara pengajian larut malam tidak lepas dari resiko. Selain resiko keamanan, resiko lain yang tidak kalah pentingnya adalah potensi gangguan kesehatan dan terlewatnya sholat Subuh.

Karena diadakan hingga larut malam, pengajian semacam ini akan mempengaruhi waktu istirahat kita. Bagi mereka yang biasa lek-lekan, hal ini mungkin tidak masalah. Namun bagi yang tidak biasa melek (terjaga hingga larut malam), maka aktivitas pengajian larut malam bisa menjadi sumber mudharat, entah itu gangguan kesehatan atau terlewatnya sholat Subuh.

Saya bisa memahami jika malam hari adalah waktu yang paling afdhal untuk mengumpulkan sebanyak mungkin warga masyarakat, karena pada periode tersebut tidak ada lagi kesibukan kerja. Faktanya, seringkali kita dapati jumlah peserta pengajian larut malam jauh lebih banyak daripada acara pengajian yang diadakan pada waktu lain seperti Minggu pagi atau selepas sholat Maghrib. Tentu saja hal ini bukan rumus pasti, karena erat kaitannya dengan kultur dan kondisi masyarakat setempat.

Karena itu, pilihan ada di tangan kita. Jika kita lebih afdhal mengikuti pengajian sampai larut malam, maka tidak ada masalah kita menghadirinya, selama acara itu tidak mendatangkan mudharat seperti gangguan kesehatan atau terlambat bangun Subuh. Tapi jika kita khawatir mendapat mudharat, maka ada baiknya kita pertimbangkan lagi untuk mengikuti pengajian sampai larut malam. Jangan sampai kita membuat panitia pengajian ‘berdosa’ karena kita terlambat bangun Subuh atau jatuh sakit setelah mengikuti acara pengajian tersebut.

Sekali lagi, tulisan ini tidak bermaksud melarang aktivitas pengajian. Sama sekali tidak. Bagaimanapun, pengajian tetap harus diadakan untuk menambah wawasan keagamaan masyarakat dan menggugah kesadaran umat untuk mengolah kembali sisi rohaninya di tengah arus kehidupan yang kian hedonis-materialistik. Bukankah kita memang diwajibkan untuk saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran?

Ironis rasanya, jika negara yang mayoritas penduduknya muslim justru sepi dari kegiatan-kegiatan keagamaan. Bersyukurlah, jika di tempat tinggal kita masih ada acara pengajian. Setidaknya, semangat untuk menyebarkan syiar Islam masih terjaga. Sayang sekali, jika satu-satunya pengajian di pemukiman kita hanya diadakan seminggu sekali, pada hari Jumat. Eh, itu kan khotbah Jumat, bukan pengajian.[]
July 17, 2016Benny Prastawa

Saturday, July 16, 2016

Antrian Chaos dan Etika Mengantri


Kalau mengantri, jangan sampai manusia kalah sama bebek
(Pelajaran moral anak SD)

Setiap kali mengantri, prinsip saya sederhana: “Yang datang duluan, dilayani duluan.” Pada kenyataannya prinsip ini tidak selalu berlaku, terutama pada antrian konvensional tanpa nomor urut. Dalam antrian sejenis itu, situasi yang terjadi biasanya menjadi chaos (ricuh). Saya sering mengalaminya ketika jajan di kantin sekolah. Begitu bel istirahat berbunyi, anak-anak berlarian menuju kantin, saling serobot, berebut mengambil  makanan dan minuman, sambil meneriaki pemilik kantin. Entah berapa kali pemilik kantin kecolongan, karena dalam situasi chaos semacam itu, tangan-tangan jahil sering memanfaatkan situasi untuk ‘khilaf’ mengutil jajanan di kantin.

Berhubung saya bukan tipe orang yang ‘suka ribut’, saya lebih memilih menunggu chaos di kantin reda sebelum membeli jajan. Alasannya, saya malas berdesak-desakan dengan anak-anak yang lain serta khawatir akan salah membayar karena seringkali suara pemilik kantin kalah riuh dibanding teriakan anak-anak yang berebut jajanan. Saya sering seperti itu, jika bukan karena terpaksa.

Hampir tujuh tahun berlalu sejak saya resmi meninggalkan hingar bingar kantin sekolah sekolah. Saya pikir, saat saya dewasa nanti saya tidak perlu mengalami antrian chaos* seperti yang biasa terjadi di kantin sekolah. Nyatanya, antrian chaos masih terus terjadi di berbagai tempat. Biasanya, saya mengalami hal seperti itu di tempat-tempat yang memakai antrian konvensional (tanpa nomor urut), seperti di konter pulsa, tempat fotokopi, warung, dan rumah-rumah makan (agar lebih mudah dipahami, saya akan mengambil “warung” sebagai contoh).

Normalnya, jika kita ingin membeli sesuatu di warung, maka si pemilik warung akan menanyakan kebutuhan kita, mengambilkan barang yang dimaksud, dan kita cukup membayar harganya. Selesai. Di warung swalayan pun begitu, hanya bedanya kita diperbolehkan mengambil sendiri barang yang ingin dibeli sebelum membayar. Nah, pada proses pembayaran itulah antrian chaos sering terjadi, terutama pada saat warung ramai pembeli.

Dalam hal ini, saya sering ‘makan hati’ karena beberapa kali dinomorsekiankan oleh si pemilik warung meski saya jelas-jelas datang lebih dulu. Saya tidak habis pikir kenapa. Boleh jadi karena gesture saya yang wagu, atau mungkin tampang saya terlalu dingin, polos, dan innocent, sehingga layak dinomorsekiankan. Entahlah.

Bagi saya, sebenarnya tidak ada masalah jika harus dinomorsekiankan dalam antrian, selama orang-orang yang didahulukan adalah “orang-orang khusus” yang pantas didahulukan. Misalnya ibu-ibu yang repot menggendong anaknya, orang-orang renta, penyandang disabilitas, dan sejenisnya. Dalam kondisi itu, pemilik warung mempunyai alasan logis untuk mendahulukan mereka dan saya bisa memakluminya. Yang tidak bisa saya maklumi adalah ketika saya jelas-jelas datang lebih dulu, tapi dilayani belakangan tanpa ada uzur yang jelas.

Saya menduga, hal semacam itu terjadi karena kebiasaan saya yang “terlalu sungkan” pada pemilik warung. Ya, saya sering merasa sungkan jika harus menyela pemilik warung yang tengah melayani pelanggannya. Dalam standar etika saya, menyela pemilik warung yang tengah melayani pelanggannya adalah sebuah ketidaksopanan. Seharusnya, sebagai pelanggan, kita menghormati pemilik warung yang tengah sibuk melayani pelanggannya. Jika pemilik warung sudah mempersilahkan kita, barulah kita boleh bertransaksi dengannya.

Sayangnya, dalam sebuah antrian chaos, standar etika saya tidak berlaku. Dalam antrian chaos, para pembeli saling berjejalan dan berebut minta dilayani. Jika kita ingin didahulukan, maka kita harus pandai-pandai menyela dan meneriaki si pemilik warung agar dilayani—persis seperti anak-anak yang berebut jajanan di kantin sekolah. Dalam situasi tersebut, pada akhirnya saya lebih sering mengalah dan dinomorsekiankan.

Betapa pun kesalnya, saya merasa perlu mematuhi standar etika saya. Seperti yang saya sebutkan tadi, saya sangat sungkan menyela pemilik warung yang tengah melayani pelanggannya. Saya lebih afdhal menunggu pemilik warung mempersilahkan saya sebelum transaksi dimulai. Dengan begitu, saya merasa lebih nyaman karena tidak melanggar giliran pelanggan lain. Terdengar lebih etis, bukan?

Perkara antri-mengantri ini sepele sekali. Bagi sebagian orang, saling serobot dan melanggar giliran boleh jadi dianggap biasa. Tapi bagi sebagian yang lain, bisa saja hal itu membuatnya tersinggung. 

Masih ingat kasus mahasiswi di Yogyakarta yang di-bully para netizen karena mempermasalahkan antrian di SPBU? Seharusnya urusan tersebut selesai di SPBU, andai si mahasiswi tidak mengungkapkan kekesalannya dengan kata-kata bernada SARA di akun Path-nya. Kasus itu pelik sekali (atau mungkin sengaja dipelik-pelikkan) sampai-sampai Sri Sultan harus turut campur menanggapinya. Padahal jika kita mau memahami etika mengantri, bersedia untuk sabar dan menunggu, ekses buruk dari antrian chaos seperti yang menimpa mahasiswi tersebut bisa dihindari.

*   *   *

Di Jepang, anak-anak sekolah (terutama di tingkat sekolah dasar) diajarkan untuk berbaris rapi sebelum masuk kelas. Hal seperti itu rutin dilakukan setiap hari dan dianggap semacam kegiatan pembiasaan di sana. Urusan baris-berbaris ini memang tampak sepele. Tapi para pendidik di Jepang paham betul, bahwa melalui kebiasaan berbaris sebelum masuk kelas, anak-anak dapat belajar tentang sikap menghargai giliran, melatih kedisiplinan, dan membiasakan mereka untuk tertib di lingkungannya. 

Saya masih ingat, bagaimana guru SD saya mengajarkan etika mengantri pada murid-muridnya. Saat itu, para murid diminta untuk melihat gambar pak tani yang sedang menggiring sekawanan bebek. Dalam gambar itu, tampak bebek-bebek pak tani yang berbaris rapi di jalan. Di sebelah gambar pak tani dan bebeknya, ada gambar sekelompok manusia yang tengah ramai berebut antrian. Guru saya berpesan, “Kalau mengantri, jangan sampai manusia kalah sama bebek.” Sebuah ungkapan satire yang sangat relevan untuk menyindir perilaku orang yang tidak menghargai etika mengantri.

Sampai di sini, saya mulai khawatir. Jika kita masih meremehkan etika mengantri, maka sepuluh tahun mendatang, ketika jumlah penduduk Indonesia semakin membludag—mungkin menyentuh angka 400 juta jiwa—antrian chaos akan lebih sering terjadi. Saat itu, jangankan aksi saling serobot, perkelahian-perkelahian kecil dan adu jotos bisa saja terjadi. Saya membayangkan situasi saat itu akan mirip film pendekar tempo dulu yang gemar berkelahi di warung-warung makan.

Karena itu, agar ‘fantasi liar’ saya tidak beneran terjadi, saya harap para pemilik warung, toko, tempat fotokopi, dan rumah-rumah makan mulai bergegas menerapkan ‘teknologi nomor antrian’ demi menghindari antrian chaos. Kalau perlu, sediakan juga satpam atau satpol PP untuk membantu menertibkan para pelanggan yang kemrungsung minta dilayani. Boleh jadi, hanya dengan cara itulah, kita mau menghormati giliran dan mulai belajar etika mengantri.[]


*antrian chaos: istilah untuk menjelaskan situasi antrian yang ricuh, di mana para pengantri saling serobot dan berebut giliran, hingga menimbulkan kekacauan.
July 16, 2016Benny Prastawa