Saturday, March 1, 2025

Pedagang Es Keliling di Kompleks Rumah

Saat kecil, teman saya pernah dimarahi seorang pedagang es keliling. Tidak sampai dibentak, hanya dibalas dengan raut wajah kesal. Gara-garanya, teman saya mengomentari harga es yang jadi lebih mahal.
Pedagang es ini sebenarnya sudah biasa berkeliling di kompleks rumah teman saya. Jadi teman saya ini termasuk pelanggan setia yang sudah hafal harga.
Tapi sore itu, dengan polos seorang bocah, teman saya nyeletuk tentang harga es yang mahal. Mendengar itu, si pedagang langsung memasang wajah tak enak pada teman saya.
Bertahun-tahun kemudian, ketika masuk ke dunia orang dewasa, saya pun bisa memahami pedagang es keliling tadi. Celetuk polos seorang bocah bisa menjadi sebuah tusukan jarum di ujung jari. Menyakitkan.
Kehidupan pedagang makanan keliling tentu tidak mudah. Seringkali mereka bisa menjual makanan yang sangat enak, tapi itu tidak menjamin makanannya laku. Seringkali mereka juga sudah menekan harga dan mengambil margin untung minimal (bahkan nyaris bangkrut) tapi makanannya tetap tak kunjung laku. Tidak jarang pula, karena harga bahan baku naik, si pedagang tidak punya pilihan selain menaikkan harga jual agar tidak merugi. Dan seringkali karena desakan kebutuhan dapur di rumah, si pedagang terpaksa menaikkan harga jual, berharap ia bisa mendapat uang lebih cepat.
Teman saya yang masih bocah, tentu tak paham bahwa celetuk jujurnya justru membuat pedagang es tersinggung. Dan perlu bertahun-tahun memproses peristiwa itu untuk memahami kompleksitas tindakan dan motif ekonomi orang dewasa.
Si pedagang es itu, sama seperti banyak pedagang makanan keliling lainnya, selalu terhimpit oleh kenyataan bahwa perdagangan hari ini semakin dimonopoli oleh mereka yang punya modal dan jaringan lebih banyak. Pedagang es itu tidak kurang bekerja keras. Ia juga tidak kurang inovasi membuat produk yang berkualitas. Tapi ketika daya beli masyarakat turun, selera konsumen bergeser, dan korporasi makanan bermodal besar terus menggurita, berapa persen kesempatan yang tersisa bagi para pedagang es keliling tadi dan jutaan orang lain yang senasib?
Dan ironisnya, justru dari saku para bocah—seperti teman saya tadilah, pedagang keliling ini memperoleh "sesuatu" yang membuat dapurnya tetap mengebul. Meski mungkin tak seberapa.[]
March 01, 2025Benny Prastawa

Saturday, February 8, 2025

Mie Ayam Pak Yuli di Tengah Kapitalisme Modern



Saya punya warung mie ayam langganan. Mie ayam Pak Yuli namanya. Mie ayam ini terletak di pinggir kota, bersisian dengan jalan kecil yang menghubungkannya dengan jalan provinsi. Lapaknya sederhana. Sebegitu sederhana, sampai algoritma Google Maps tidak selalu merekomendasikannya. Jika bukan karena kebetulan (atau nyasar), tidak akan banyak musafir yang sengaja berkunjung ke lapaknya.

Saya sendiri menemukan lapak Pak Yuli secara kebetulan. Saat itu, saya dan istri sedang mencari tempat rehat setelah perjalanan jauh. Kebetulan, kami melewati lapak Pak Yuli. Sebuah banner bertuliskan: “MIE AYAM INI TIDAK MEMBUKA CABANG”, meyakinkan kami untuk mencobanya.

Mie ayam Pak Yuli terbilang unik. Mienya besar, tebal, dan gurih. Porsinya banyak dan potongan dagingnya melimpah. Berbeda dengan mie ayam lain yang memakai mie kecil-sedang serta suwiran daging yang ‘pelit’. Jika ingin menambah cita rasa, sudah ada saos sambal dan kecap yang rasanya otentik (berbeda dengan yang biasa saya temui di lapak mie ayam lain). Pak Yuli membanderol mie ayam jumbo-nya seharga 12.000 rupiah saja (harga terakhir per 2024 saat saya berkunjung).

Dengan kualitas seperti itu, mie ayam Pak Yuli laris manis. Ia tidak perlu bekerjasama dengan aplikasi daring untuk mempromosikan mie ayamnya. Kualitas produk yang disajikan sudah menjadi magnet kuat yang mengundang lidah konsumen.

Dalam meracik mie, Pak Yuli dibantu istri dan anaknya. Dengan tagline ‘tidak membuka cabang’, terlihat bahwa Pak Yuli hanya mempercayakan bisnis pada lingkaran keluarga intinya saja. Padahal, jika melihat kesuksesan lapaknya, Pak Yuli bisa saja membuka cabang di tempat lain demi memaksimalkan keuntungan.

Seperti Mie Gacoan—misalnya. Mie seharga 10 ribuan ini, sudah memiliki ribuan outlet dengan omset triliunan rupiah. Kebanyakan pebisnis kuliner tentu senang memiliki bisnis sesukses Mie Gacoan. Outlet yang banyak dapat memperluas jangkauan pemasaran produk. Profit yang dihasilkan pun menjadi berlipat ganda.

Akan tetapi, roda bisnis Pak Yuli tidak dijalankan dengan napas kapitalisme ekstrem. Sepanjang kunjungan saya, kesederhanaan lapak Pak Yuli menggambarkan gerak bisnisnya yang sederhana. Ia tidak muluk-muluk berbisnis demi menumpuk profit semata—seperti idiom kapitalisme ekstrem. Sebagai pedagang, Pak Yuli tidak naif. Ia juga berdagang demi memperoleh untung. Terbukti, ia beberapa kali mengubah (menaikkan) harga ketika kondisi mengharuskannya. Profit tetap penting, tapi tidak selalu yang terpenting. Alih-alih keberlanjutan bisnislah yang jauh lebih penting.

Saya yakin, Pak Yuli juga paham bahwa mempertahankan bisnis kuliner tidak mudah. Ia sudah sukses menggaet konsumen dengan produk yang berkualitas. Porsi mi ayam jumbo dengan potongan daging melimpah dan harga bersahabat, mengundang pelanggan untuk datang lagi. Tugas Pak Yuli selanjutnya adalah mempertahankan konsumennya agar tidak ‘kapok’.

Dalam bisnis kuliner, formulasi bahan dan resep harus konsisten demi cita rasa. Tidak sembarang orang bisa memasak atau mengolah mie ayam seperti Pak Yuli. Itu sebabnya, sangat beralasan jika ia mempercayakan bisnis pada lingkaran keluarga intinya saja. Hal ini penting untuk menjaga konsistensi kualitas produknya—mungkin juga demi menjaga resep keluarga. Jika kualitas produknya tidak dijaga, pelanggannya yang akan pergi.

Dari lapak Pak Yuli yang sederhana, saya melihat bisnis mie ayamnya sebagai antitesis dari kapitalisme ekstrem. Ketika pebisnis lain jungkir balik mengejar profit secara eksponensial, Pak Yuli justru mantap ‘berjalan santai’ menjemput profit. Ketika pebisnis lain menggaet konsumen dengan promo-promo irasional, Pak Yuli memilih konsisten menjaga kualitas produk demi kepuasan pelanggannya.

Sebagai pebisnis, Pak Yuli juga seorang kapitalis. Namun ia tidak menjalankan bisnisnya dengan napas kapitalisme ekstrem. Andai Pak Yuli menganut kapitalisme ekstrem, ia akan segera membuka lapak baru. Karyawan-karyawan berusia muda yang bisa diupah ‘murah’ akan direkrut. Jika sudah lelah, karyawan tadi bisa berhenti (bahkan) tanpa pesangon. Supplier bahan bakunya akan ditambah agar mie ayamnya selalu tersedia. Pak Yuli mungkin tertarik menunjuk tenaga profesional untuk menjadi direktur cabang agar ia dan keluarga bisa pergi berlibur menikmati saldo ATM yang bertambah otomatis.

Tidak ada salahnya jika Pak Yuli mencoba menjalankan bisnisnya seperti itu. Namun, entah mengapa Pak Yuli tetap konsisten dengan tagline tidak membuka cabang” serta prinsip “manajemen bisnis berbasis keluarga”.

Asumsi saya, Pak Yuli bukan tipe pebisnis yang ‘tegaan’. Ia bisa saja melipatgandakan profitnya dengan lapak yang bercabang dan karyawan yang lebih banyak. Namun ia lebih memilih ‘mengambil laba secukupnya’. Ia mungkin sungkan, jika sampai memecat orang ketika bisnisnya sedang tidak baik. Ia mungkin cemas, jika keberlanjutan bisnisnya dipertaruhkan dengan menunjuk orang baru di luar keluarga inti untuk mengelola bisnis.

Realitasnya, kapitalisme ekstrem memang memiliki sisi gelap. Eksploitasi buruh, upah yang tidak layak, perusakan lingkungan, sampai ‘tindak licik’ di luar hukum demi monopoli, adalah segelintir di antaranya. Semua cara akan dihalalkan demi perolehan profit tanpa melihat efek domino dari keputusan bisnisnya.

Dunia bisnis juga memiliki etika. Ketika sebuah korporasi bisnis mencari untung dengan melanggar etika, pada akhirnya, ia tidak hanya merugikan bisnisnya sendiri. Korporasi bisnis lain, konsumen, dan masyarakat luas bisa saja terkena dampak latennya.

Ketika seorang pedagang bakso kedapatan memakai daging babi berformalin, pedagang bakso di sekitarnya bisa ikut kehilangan pembeli. Padahal pedagang bakso lain sudah berbisnis dengan jujur. Begitu juga dengan pengusaha startup nakal yang memanipulasi keuntungan demi menggaet investor. Ketika perusahaan startup itu mengalami fraud, perusahaan startup sejenis lainnya bisa ikut merugi karena kehilangan minat investor. Padahal perusahaan startup lain sudah berbisnis dengan jujur.

Di tengah hirup-pikuk kapitalisme ekstrem, Pak Yuli sedang mengaduk-aduk mie di lapaknya. Sebuah mangkuk bergambar ayam jago disiapkan. Irisan daging ayam yang gurih ditabur menutupi mie yang sudah matang. Semangkuk mie ayam sarat cita rasa terhidang.

Dari ketuk sumpit dan cecap pelanggannya, cerita kuliner tentang mie ayam Pak Yuli beredar. Aroma dan cita rasanya yang otentik, mengundang pelanggan untuk datang kembali. Semua itu menjadi ‘penglaris alami’ bagi Pak Yuli. Di balik kesederhanaan lapaknya, mie ayam Pak Yuli mengajarkan bahwa bisnis tidak selamanya tentang profit dan kekayaan. Bisnis yang dijalankan dengan etis, mengajarkan pada kita tentang esensi hidup yang sederhana, penuh rasa, dan jauh dari kerakusan materialisme. Itulah bisnis yang akan meninggalkan jejak kebaikan yang nilai kebermanfaatannya akan selalu dirasakan oleh banyak orang.[]

February 08, 2025Benny Prastawa

Saturday, January 4, 2025

Konten Youtube Tempo Dulu


 

The World’s Most Amazing Videos adalah salah satu reality show terbaik yang pernah saya tonton di televisi. Acara tersebut menampilkan kompilasi video berisi adegan-adegan yang mencekam dan menegangkan. Kebakaran besar, ledakan gas, kecelakaan yang hampir fatal, dan momen-momen penyelamatan dramatis, adalah contoh video yang sering ditayangkan. Bagian terbaiknya, setiap video yang disiarkan adalah video asli yang terekam kamera—tanpa gimmick dan tanpa script apapun.

The World’s Most Amazing Videos (selanjutnya saya singkat TWMAV) disiarkan di TV nasional sekitar tahun 2000-an. Saat itu, internet masih “bayi” dan ponsel masih menjadi barang mewah. Karenanya, bagi masyarakat awam, semua klip di acara TWMAV terasa sangat nyata dan mengundang antusiasme tinggi karena baru pertama kali ditonton.

Membahas TWMAV membuat saya teringat pada masa-masa awal Youtube. Jangan dibayangkan Youtube generasi pertama langsung penuh algoritma, FYP, dan cuan dari adsense. Saat itu, Youtube masih menjadi platform video eksklusif. Infrastruktur internet belum sebesar sekarang dan koneksinya terbatas pada jaringan 3G. Karena itu, hanya orang-orang yang memiliki privilege media dan koneksi internet saja yang bisa membuat konten di Youtube.

Keterbatasan infrastruktur internet secara tidak langsung mendorong content creator untuk bersikap selektif di Youtube. Mereka cenderung mengunggah video yang benar-benar organik, bernilai, dan mengundang perhatian orang banyak. Jika itu video lucu, ya memang lucu sekali videonya. Jika itu video absurd, ya memang absurd sekali klipnya. Sesederhana itu.

Salah satu video viral pada masa awal Youtube adalah “Charlie Bit My Finger”. Video yang diunggah pada tahun 2007 itu menjadi viral berkat kelucuan dan kesederhanannya. Dalam video berdurasi 56 detik itu, seorang bayi bernama Charlie menggigit jari kakaknya yang kemudian mengeluh dengan ekspresi lucu “Charlie bit me! That really hurt…”—kira-kira begitu nuansa dialognya.

Video seperti Charlie tadi menjadi gambaran umum konten Youtube generasi pertama. Video-video yang lahir dari spontanitas sehari-hari, tanpa script dan gimmick, selalu terlihat alami dan—seringkali—lebih memiliki nilai (values).

Hal ini jauh berbeda dengan wajah Youtube hari ini yang dibanjiri konten produksi profesional setara dengan kualitas siaran langsung TV Swasta berbayar! Content creator Youtube hari ini sangat mudah membuat video memasak mi instan dengan resolusi 1080p (FullHD).

Pembangunan infrastruktur internet global yang masif memungkinkan transfer data dengan kapasitas yang semakin besar dan semakin cepat. Hal ini sangat mendukung pengembangan platform besar seperti Youtube. Dulu, orang bisa menghabiskan berjam-jam untuk sekedar mengunggah video 2-3 menit—itu pun dengan kualitas pixelated 240-360p atau malah lebih buram. Tapi, kini, mengunggah video serupa dengan resolusi lebih baik bisa dilakukan dalam hitungan detik!

Pada akhirnya, kita bisa melihat wajah Youtube hari ini yang modern, glamour, dan memanjakan dopamin di otak. Youtube sudah sempurna menjadi industri raksasa dengan valuasi mencapai ratusan miliar dollar. Tidak mengherankan jika semakin banyak orang yang tertarik menjadi content creator Youtube karena tergiur cuan di dalamnya.

Sayangnya, kemudahan dan kemewahan ini membuat Youtube kebanjiran konten video. Semua jenis video bisa diunggah tanpa moderasi responsibilitas yang memadai. Video organik seperti video Charlie, sudah tidak relevan dengan standar selera penonton Youtube hari ini. Jika video Charlie diunggah hari ini, jumlah viewers-nya mungkin tidak akan mencapai angka 1000 (kecuali memang sengaja diviralkan).

Kehadiran fitur Shorts (video pendek) juga mempercepat banjir informasi di Youtube. Kita semakin kehilangna kontrol untuk membedakan mana konten yang perlu dan mana konten yang tidak perlu. Bahkan dengan sekali usap, kita sudah lupa konteks video sebelumnya.

Melihat realitas ini, ada remah-remah nostalgia dengan wajah Youtube tempo dulu. Ketika sebuah video diproduksi dengan spontanitas organik yang relatable dengan keseharian, kita akan lebih mudah melihat nilai kebermaknaan dari konten tersebut. Namun dengan begitu banyaknya script, gimmick, dan setting-an yang mewarnai konten Youtube hari ini, kita semakin kesulitan membedakan konten yang bermakna dan konten yang biasa.

Beruntung, masih banyak content creator yang rutin mengunggah video di Youtube dengan tujuan edukasi. Di tengah banjir informasi yang semakin meluap, konten-konten edukasi ini berperan penting dalam menyelamatkan otak penonton agar tetap waras.

Ironisnya, luapan informasi yang tak terbendung membuat penonton Youtube semakin tersegmentasi. Konten berisi hiburan dan kejenakaan menjadi daya tarik yang sulit ditolak karena efektivitasnya dalam merangsang dopamin di otak. Akibatnya, konten-konten edukasi (yang sebenarnya sudah dikemas dengan sangat menarik) menjadi tenggelam karena algoritma Youtube seringkali mengedepankan konten yang memiliki trafik lebih tinggi.

Saya pribadi lebih menikmati konten tekstual di internet daripada konten audio-visual yang disajikan platform seperti Youtube. Membaca situs-situs berita dan tulisan inspiratif yang dikemas dalam gaya penulisan indepth masih menjadi favorit saya. Dalam konten tekstual, saya bisa menyesuaikan kecepatan pemahaman konteks tulisan sesuai dengan preferensi saya. Hal ini tidak bisa saya lakukan pada konten di Youtube yang cenderung mengkondisikan kita sebagai penonton pasif. Sebegitu pasifnya sampai-sampai kita lebih sibuk membaca komentar daripada menyimak konten videonya.

Akhirnya, Youtube tempo dulu dengan video Charlie Bit My Finger menjadi pengingat, bahwa sesuatu yang lahir dari spontanitas yang organik seringkali menghasilkan nilai-nilai yang lebih bermakna. Hal-hal sederhana dari keseharian kita, sebenarnya sudah cukup banyak memberi pelajaran, andai kita memiliki sedikit kepekaan untuk memaknainya. Karena sejujurnya, di tengah lautan informasi artifisial di internet, saya khawatir manusia akan semakin tenggelam dan kehilangan cara untuk menggali kebermaknaan dalam perjalanan hidupnya yang fana ini.[]

January 04, 2025Benny Prastawa

Sunday, December 1, 2024

Jejak Sejarah Manusia Modern

Salah satu kegelisahan saya tentang dinamika peradaban manusia modern adalah hilangnya eksistensi dan jejak sejarah manusia itu sendiri. Kehadiran internet memungkinkan setiap manusia memiliki ruang publikasi nirbatas bernama media sosial. Namun dari sekian banyak konten yang diunggah—atau mungkin dipamerkan—apakah semua itu termasuk jejak sejarah yang memiliki nilai utilitas bagi generasi selanjutnya?

Peradaban manusia zaman kuno bisa kita ketahui dari artefak agung yang ditinggalkannya. Piramida Ginza, Taj Mahal, Candi Borobudur, dan Kuburan Tentara Terakota, adalah contoh artefak monumental karya peradaban masa lampau. Dari sana, manusia masa kini bisa menggali banyak informasi dari peradaban masa lampau.

Sayangnya, manusia modern dengan segala kecanggihan teknologi yang diciptakannya, seperti kehilangan arah dalam menciptakan warisan peradaban yang memiliki nilai utilitas bagi generasi selanjutnya. Manusia modern memang masih mampu membuat gedung super tinggi seperti Burj Khalifa. Manusia modern juga masih mampu membuat kecerdasan buatan yang serba tahu, hingga mempermudah banyak urusan manusia.

Namun, nilai utilitas apa yang akan manusia modern tinggalkan dengan segala kecanggihan teknologi kontemporer yang mereka ciptakan?

Manusia modern yang cerdas menciptakan media sosial, namun mengalami banyak masalah mental karenanya. Manusia modern memprogram kecerdasan buatan, namun keberadaannya malah memicu ketergantungan dan kemalasan. Manusia modern memiliki ponsel pintar dengan akses internet ultra cepat (5G), namun selalu bingung mencari foto-foto penting di galeri. Manusia modern membangun gedung pencakar langit, namun ketimpangan sosial di sekitarnya masih terus terjadi.

Memang ada segelintir manusia yang dapat memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk menunjang produktivitas lalu menghasilkan karya-karya yang memiliki nilai utilitas. Sayangnya, ada jauh lebih banyak manusia modern yang diperbudak oleh kecanggihan teknologi hingga sulit memaknai apa yang benar-benar penting bagi kehidupannya.

Pada akhirnya, sampailah manusia modern pada peradaban penuh dopamin dengan tujuan sederhana: menyenangkan diri selama mungkin.

Implikasinya, segala kecanggihan teknologi diarahkan algoritma untuk mempermudah manusia modern dalam mencari kesenangan. Kesenangan telah menjadi berhala baru bagi manusia modern. Video-video konyol, game, lagu, sampai tren-tren absurd terus diproduksi agar manusia modern terbiasa dengan nuansa kesenangan. Dengan kesenangan artifisial tersebut, otak akan mengeluarkan hormon dopamin yang memicu perasaan nyaman dan lega. Itu sebabnya, manusia modern tidak akan berhenti “memberhalakan kesenangan” karena mereka menginginkan efek dopamin tersebut.

Sampai kemudian, tiba waktunya bagi manusia modern itu meninggal. Tubuh jasmaninya dikuburkan dan ruhnya pergi menuju alam baka. Manusia modern yang masih hidup tidak bisa berkomunikasi lagi dengan mereka yang sudah meninggal. Yang tersisa hanya jejak-jejak sejarah yang ditinggalkan.

Namun apa jejak-jejak sejarah yang ditinggalkan manusia modern? Video-video konyol bersama kucing kesayangan? Foto selfie dengan puluhan filter? Komentar penuh makian pada pejabat yang korup? Atau hutang-hutang yang menggunung, karena perilaku konsumtif demi validasi sosial?

Ketika manusia modern meninggal, berapa banyak di antara mereka yang sempat meninggalkan “jejak-jejak sejarah”? Boleh jadi, generasi yang akan datang tidak sempat tahu siapa mereka dan apa jasa mereka semasa hidup. Nisan-nisan di pemakaman menjadi satu-satunya artefak yang mereka tinggalkan, dan satu-satunya informasi penting yang ditinggalkan hanyalah tanggal lahir dan tanggal kematiannya.

Berapa banyak yang bisa kita pelajari dari media sosial, foto, ponsel pintar, catatan, atau jejak-jejak digital lain yang sempat didokumentasikan manusia modern semasa hidupnya? Apakah semua itu bermanfaat atau tidak lebih dari setumpuk sampah belaka? Ketika kelak kita meninggal, jejak-jejak sejarah kitalah yang akan tertinggal di dunia. Ada baiknya, kita mulai bersikap bijak dalam menulis jejak-jejak sejarah yang akan diwariskan pada generasi selanjutnya.[]

December 01, 2024Benny Prastawa

Friday, November 15, 2024

Rumus Kerja Keras dan Kekayaan


Apakah kerja keras adalah kunci sukses menuju kekayaan? Tentu saja, YA. Tapi, kerja keras bukan satu-satunya cara.

 

Ketika kita berbicara tentang kekayaan, ada banyak faktor yang saling mempengaruhi dan ada lebih banyak sudut pandang yang bisa dipakai untuk melihatnya. Kita tidak akan sampai pada pemahaman yang utuh tentang kekayaan jika hanya memakai satu sudut pandang—karena akan kalian temui banyak pertentangan/kontradiksi setelahnya.

 

Misalnya, jika saya mengatakan kerja keras adalah kunci menuju kekayaan, kalian bisa langsung 'menyangkal' dengan menyodorkan realitas ada banyak orang yang tampak bekerja keras banting-tulang dari subuh hingga larut malam tapi tidak kunjung kaya. Sementara ada segelintir orang yang sepertinya malas-malasan, sering bangun kesiangan, kerja sesukanya, tidak pernah diburu waktu ke kantor, tapi penghasilannya berlipat-lipat digit nol-nya.

 

Artinya, kerja keras memang bukanlah satu-satunya cara untuk menjadi kaya. Kerja keras harus dipahami sebagai sebuah sikap atau mentalitas yang bisa membuat orang menjadi kaya, bukan sebuah prasyarat mutlak yang jika dikerjakan akan langsung membuat orang menjadi kaya.

 

Memang ada orang yang kaya raya meski tampaknya bekerja biasa-biasa atau malah terkesan malas-malasan. Tapi, ada lebih banyak orang yang menjadi kaya karena KERJA KERAS—yang telah dilakukannya sebelumnya. Hal terakhir inilah yang sering luput dari perhatian kita.

 

Kita tidak pernah benar-benar mengikuti perjalanan hidup Si Kaya itu. Kita hanya bisa melihat sisi luar kekayaannya saja. Mungkin dari megah rumahnya, banyak mobilnya, meriah pestanya, frekuensi liburannya, bagus bajunya, montok anak-anaknya, atau atribut kemakmuran lain yang kasat mata.

 

Kita mungkin mengabaikan fakta, bahwa dulunya, Si Kaya itu juga pernah mengalami fase kerja keras banting-tulang dari pagi hingga malam, sebelum sukses meraih kekayaannya saat ini. Kita hanya tertarik melihat produk akhir kekayaannya, tapi mengabaikan serangkaian proses yang mendahuluinya.

 

Orang kaya yang memiliki mentalitas kerja keras, akan lebih survive menghadapi perubahan zaman dibanding orang kaya yang malas, yang hanya mengandalkan warisan, keberuntungan, atau ketergantungan pada keahlian orang lain.

 

Sebagai contoh, ada dua karyawan yang bekerja di sebuah biro jasa wisata, karyawan A dan karyawan B. Keduanya sama-sama memperoleh gaji yang besar karena biro jasa wisata tempat mereka bekerja sangat laris.

 

Bedanya, karyawan A memiliki keahlian yang lebih unggul dibandingkan karyawan B. Karyawan A juga selalu bekerja keras dan meningkatkan skill-nya dibanding karyawan B yang lebih suka malas-malasan dan bekerja seenaknya. Karyawan B merasa aman dari pemecatan karena pimpinan biro jasa wisata itu masih terhitung saudara ayahnya.

 

Tiba-tiba, datanglah pandemi COVID-19. Pemerintah memberlakukan pembatasan perjalanan dan lockdown. Mobilitas masyarakat menjadi berkurang. Kegiatan pariwisata lokal dan internasional pun lumpuh seketika.

 

Biro jasa wisata tadi juga terkena imbasnya lalu mengalami kebangkrutan. Pimpinan biro yang masih saudara ayah karyawan B tidak bisa melakukan apa-apa untuk menyelamatkan bisnisnya. Karyawan A dan karyawan B pun sama-sama kehilangan pekerjaannya.

 

Di tengah-tengah krisis akibat pandemi, karyawan A menggunakan keahliannya untuk membuka bisnis sendiri dari rumah. Awalnya memang tidak mudah. Tapi, dengan mentalitas kerja keras yang dimiliki, karyawan A sukses membuat bisnisnya berkembang dan membuat kekayaannya bertahan.

 

Berbeda dengan karyawan B yang gemar bekerja seenaknya. Karena selama ini kekayaannya tidak ditopang oleh keahlian yang cukup, ditambah lagi pendapatannya tertolong oleh unsur nepotisme/ketergantungan pada orang lain, karyawan B kesulitan untuk tetap bertahan di tengah krisis. Mentalitas karyawan B yang enggan bekerja keras, memperkeruh krisis yang dialaminya. Ia pun kesulitan untuk mempertahankan kekayaannya.

 

Ilustrasi cerita ini hanya gambaran untuk menunjukkan bahwa JANGAN PERNAH MEREMEHKAN KERJA KERAS SIAPAPUN.

 

Kerja keras memang bukan satu-satunya kunci dan syarat penentu kekayaan. Tapi orang kaya yang tetap mau bekerja keras, lebih mungkin mempertahankan kekayaannya di tengah perubahan zaman yang bagaimanapun juga.

 

Lebih-lebih, bagi mereka yang merasa belum kaya—kerja keras adalah pilihan paling realistis agar selangkah lebih dekat menuju kekayaan. Kerja keras saja memang belum tentu akan membawa kita pada raihan kekayaan tertentu. Tapi, kerja keras adalah sikap yang jauh lebih terhormat daripada bermalas-malasan.

 

Terlepas dari semua itu, tidaklah bijak jika kita selalu mengukur nilai kerja keras dari raihan materi atau kekayaan semata. Tidak adil jika kita memandang mereka yang berhasil mengumpulkan lebih banyak uang sebagai orang yang lebih mulia kerja kerasnya. Sementara mereka yang mendapat lebih sedikit uang—meski telah gigih bekerja keras—kita anggap remeh tanpa penghargaan apapun.

 

Pasti ada balasan terbaik bagi orang-orang yang tetap gigih bekerja keras meski imbal materi yang diterimanya belum sesuai ekspektasi matematisnya. Tentunya, selama kerja keras itu bertujuan positif, ditempuh dengan cara-cara yang baik, dan dilakukan dengan sepenuh keikhlasan.


Semesta menjadi saksi bagi manusia-manusia yang tetap ikhlas bekerja keras. Dan biarkan Tuhan Yang Maha Pemurah yang memberi ganjaran terbaik bagi mereka.[]



-backdate-

November 15, 2024Benny Prastawa

Saturday, October 5, 2024

Bisnis Humanis di Bengkel Mobil


Ada sebuah bengkel mobil, sebut saja bengkel Mas Takur. Bengkel ini masih baru, tapi sudah ramai pelanggannya.Mas Takur selaku pemilik bengkel masih muda. Ia bekerja bersama 4 karyawannya.

Meski memiliki karyawan, Mas Takur selalu terlihat di bengkel. Ia bukan tipe bos yang “cuma nyuruh”. Sebisa mungkin, Mas Takur selalu membantu mengerjakan order pelanggannya.

Sekali waktu, anak Pak Takur datang ke bengkel. Usianya sekitar 4 tahun. Pak Takur tidak menyuruh anaknya pergi. Ia malah membiarkan anaknya membantu karyawannya mencuci mobil pelanggan. Namanya juga anak-anak. Daripada bermain seenaknya, lebih baik “bermain” sambil melatih mental bekerja—mungkin begitu pikir Mas Takur.

Bengkel Mas Takur enggan menggetok harga. Ia selalu transparan jika ditanya soal harga. Pelanggan bisa mengkontak Mas Takur untuk mendiskusikan perkiraan ongkosnya sebelum datang ke bengkelnya. Jika pelanggan membutuhkan servis lain, Mas Takur tidak ragu merekomendasikan bengkel lain yang lebih ahli.

Tidak heran jika bengkel Mas Takur cepat ramai. Pelayanan dan perhatiannya pada kepuasan pelanggan selalu diutamakan. Mas Takur juga sportif. Jika bengkelnya tidak mampu menangani, ia berani merekomendasikan bengkel lain. Mas Takur seperti tidak takut kehilangan pelanggan. Ia hanya fokus membantu dan mempermudah urusan pelanggannya.

Dalam dunia bisnis yang kompetitif, “monopoli” adalah target penting. Ketika suatu bisnis bisa mendominasi pasar dan aliran modal, mereka bisa terus memperbanyak profit. Sayangnya, mindset mengejar profit dan hasrat memonopoli seringkali tidak diimbangi dengan perbaikan pelayanan.

Banyak pebisnis yang pandai menekan harga, tapi tidak tahu cara melayani pelanggan. Banyak pula pebisnis yang cerdas membuat produk, tapi rajin menggetok harga.

Dunia bisnis memang penuh spekulasi dan fluktuasi. Hari ini, orderan bisa ramai. Di hari lain, orderan bisa sepi. Segala barang/jasa yang dapat mempermudah urusan konsumen dan membantu mengatasi kesulitannya akan selalu dicari. Kualitas layanan demi kepuasan pelanggan—seperti yang ditunjukkan Mas Takur—adalah Kartu As yang bisa menjaga kelangsungan bisnis.

Selain itu, bengkel Mas Takur juga mengajarkan pentingnya menjadi boss tanpa mental “bossy”. Pemilik bisnis yang tidak malu bekerja bersama karyawannya, tentu lebih disenangi daripada pemilik bisnis yang kerjanya menyuruh-nyuruh.

Bukan berarti semua pemilik bisnis harus ikut bekerja di lapangan. Poin pentingnya adalah perhatian dan penghargaan pemilik bisnis pada karyawan. Dua hal tersebut bisa berdampak positif bagi produktivitas kerja karyawan.

Dunia bisnis memang penuh spekulasi dan fluktuasi. Meski begitu, bisnis yang humanis, yang berorientasi pada kepuasan pelanggan dan karyawan, lebih berpeluang untuk bertahan dan berkembang.

Bisnis yang humanis tidak berhulu dari hasrat kapitalis. Ia berangkat dari keyakinan bahwa profit selalu bisa diraih dengan jalan memanusiakan manusia—alih-alih mengeksploitasinya. Masyarakat kita membutuhkan lebih banyak bisnis yang humanis agar perekonomian terhindar dari krisis. Dari bengkel Mas Takur, saya mulai memahami pelajaran penting ini.[]


-backdate-

October 05, 2024Benny Prastawa

Saturday, September 7, 2024

Nilai Guna Status Whastapp

Sejujurnya, sampai hari ini, saya masih bertanya-tanya, apa manfaat “Status” di Whatsapp Messenger (WA)? Foto atau video apapun yang diunggah di Status WA, semua akan hilang setelah 24 jam. Tak peduli konten itu berupa foto bersama presiden, momen penting pernikahan, atau video keren ke luar negeri, semuanya akan lenyap setelah 24 jam.

Dengan kecepatan publikasi sesingkat itu, apa nilai guna signifikan dari sebuah Status WA?

Dulu, saat saya masih aktif memakai media sosial (seperti Facebook), pembaruan status bisa terdokumentasi dalam rentang waktu tak terbatas. Selama akun tidak terhapus, semua konten yang kita unggah akan tetap eksis di sana. Sistemnya mirip dengan Blogger. Bedanya, Blogger lebih fokus pada konten tekstual yang lebih informatif/naratif dan tidak berfokus pada pengembangan jejaring sosial/pertemanan.

Di Facebook atau blog, sistem pengarsipan konten memungkinkan kita melacak konteks kejadian atau momen apapun yang melatarbelakangi pembuatan konten. Dengan sistem seperti itu, kita bisa melihat “Status” sebagai ruang arsip yang dapat menjadi sarana pembelajaran dan kontemplasi ketika kita membukanya di masa depan.

Bagaimana dengan Status WA yang hilang setelah 24 jam? Apakah fitur ini dibuat sekedar untuk memamerkan momen penggunanya? Apakah fitur ini ditujukan untuk membuka topik percakapan dengan pengguna lainnya? Ataukah fitur ini berperan penting untuk menunjukkan eksistensi kita di dunia?

Entah—semuanya boleh jadi benar. Bagi saya pribadi, karena saya tidak melihat nilai guna signifikannya, saya jarang sekali membuat status. Kalaupun saya membuat status, target status saya selalu jelas dan tersegmentasi. Misalnya, saya membuat status WA untuk mengabarkan aktivitas saya bersama anak dan istri pada orangtua di rumah.

Dengan pendekatan tersegmentasi semacam ini, saya tidak pernah berlaku ‘brutal’ dengan mengunggah banyak status sekaligus. Selain tidak efektif, saya pribadi melihat hal itu sebagai pemborosan ruang publikasi. Kecuali, jika kalian adalah seorang influencer atau public figure, yang segala aktivitas dan unggahannya selalu disorot setiap menit.

Tentu saja tulisan ini hanya sekedar nguda rasa, dan tidak bermaksud ngrasani mereka yang sering memposting status banyak-banyak. Status WA adalah hak asasi setiap penggunanya. Selama konten yang dijadikan status tidak bertentangan dengan kebijakan Whatsapp, tidak ada aturan legal yang berhak melarangnya.

Meski begitu, bagaimanapun juga Status WA adalah ruang publik yang tidak bebas dari ranah etik. Mempertimbangkan dengan bijak setiap unggahan, sangat penting dilakukan agar tidak menjadi polemik. Status WA yang dibuat dengan sadar dan bertanggung jawab tentu lebih aman dan terbendung dari kritik. Semua itu adalah bentuk tanggung jawab kita dalam menciptakan ekosistem media sosial yang lebih baik dan lebih mendidik.[]

-backdate-

September 07, 2024Benny Prastawa

Saturday, August 3, 2024

Hidup Berbahagia sekaligus Menderita?

Banyak yang bilang, tujuan hidup manusia adalah bahagia. Mulai dari buku-buku motivasi sampai seminar MLM, hampir semuanya mengatakan hal yang sama. Rumus generalnya: kecil dimanja, remaja dipuja, dewasa kaya-raya, tua bahagia, mati masuk surga.

Mau diiyakan, tapi kok, utopis sekali. Mau dibantah, tapi kok, tidak salah. Faktanya, manusia memang selalu ingin bahagia.

Jika melihat gerak peradaban manusia, semua kecanggihan teknologi, infrastruktur, dan properti yang dibangun diarahkan untuk tujuan kebahagiaan. Moyang kita di zaman batu, susah payah membuat api untuk mempercepat proses memasak. Dengan api, moyang kita bisa terhindari dari kelaparan dan kedinginan. Kebahagiaan kita saat itu sebatas bertahan hidup dan mengenyangkan perut.

Kecenderungan manusia tidak berubah di era modern. Bedanya, kita tidak “menyembah” api seperti moyang kita dulu. Hari ini, kita bisa mengelus-elus layar, lalu menunggu kurir mengantarkan kudapan. Semakin bervariasi (dan mewah) menunya, semakin bahagialah kita.

Manusia tetaplah spesies cerdas yang terobsesi mengejar kebahagiaan. Bahkan meski kebahagiaan itu terasa semakin sulit dipenuhi. Manusia akan terus mencari cara demi mendapatkannya. Teknologi dan infrastruktur yang terus berkembang mempermudah manusia merealisasikan keinginannya.

Masalahnya, nilai kebahagiaan setiap manusia tidak sama. Kebanyakan manusia modern akan bahagia jika punya banyak uang. Tapi faktanya, tidak sedikit manusia yang menderita setelah menghabiskan banyak uang. Kebanyakan manusia modern akan bahagia jika punya rumah bagus. Tapi faktanya, tidak sedikit manusia yang tersiksa ketika melihat rumah tetangganya lebih bagus.

Jika begitu polanya, kapan manusia modern bisa bahagia?

Tanpa disadari, kita justru lebih sering menderita karena mengejar kebahagiaan itu. Kita sering memaksakan diri bekerja sedemikian keras, demi meraih uang yang lebih banyak. Dengan uang itu, kita berpikir bisa menjadi lebih bahagia. Sayangnya, karena kita terlalu memaksa badan, kita pun jatuh sakit. Uang hasil bekerja malah tidak jadi dinikmati karena harus dipakai membayar dokter dan membeli obat.

Kita menabung sedemikian rajin, demi membeli mobil baru. Semua pengeluaran sekunder dan tersier kita coret dari skala prioritas. Selama berbulan-bulan, tabungan kita menggunung. Mobil baru akhirnya terbeli. Sayangnya, meski sudah punya mobil baru, kita masih belum bahagia—karena tetangga sebelah juga membeli mobil baru yang lebih mewah dan elegan.

Menabung dan menunda kesenangan konsumtif itu “menderita”. Bekerja keras juga “menderita”. Meski tujuannya meraih kebahagiaan, kita tidak bisa menggaransi semua “penderitaan” itu akan terbayar lunas. Kita tidak bisa memastikan kebahagiaan itu terwujud, meski kita sudah mati-matian mengejarnya.

Tanpa sadar, manusia modern terperangkap oleh ilusi kebahagiaan yang diciptakannya sendiri. Ibarat pesepeda mengejar segepok uang yang digantung di depan sepedanya sendiri. Secepat apapun ia mengayuh, uang yang ada di depannya tidak akan bisa diraih. Pesepeda itu baru bisa mengambil uang jika ia sudah “sadar”, lalu turun dari sepedanya.

Artinya, kita akan lebih mudah mencapai kebahagiaan jika kita meletakkan “garis finish-nya” di dalam diri kita—bukan di luar. Jika kita menggantungkan kebahagiaan pada uang, jabatan, properti, dan objek-objek lain yang bersifat eksternal, bukankah kita akan lebih sulit berbahagia? Pikiran kita akan terus terjebak dan mengejar  objek-objek artifisial itu sebagai prasyarat kebahagiaan. Seakan-akan, tanpa semua itu, kita merasa tidak berhak berbahagia.

Bukan berarti uang, jabatan, dan properti itu tidak penting. Kita tidak bisa naif, jika uang bisa mendatangkan kebahagiaan secara instan. Namun, jika kita menganggap uang sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan dan mengabaikan hal-hal lain yang sudah dimiliki, kita justru akan semakin tertekan. Karena percaya uang adalah sumber kebahagiaan, kita sibuk mengejarnya sampai mengabaikan kesehatan, mengabaikan keluarga, bahkan sampai mengabaikan ibadah.

Sah-sah saja menjadikan bahagia sebagai tujuan hidup. Tapi jangan sampai obsesi meraih kebahagiaan itu justru membuat hidup kita (atau bahkan orang lain) menderita.

Dalam hidup ini, kita harus selalu melatih keterampilan bersyukur. Dengan bersyukur, kita menjaga kesadaran bahwa kita sudah memiliki dan meraih sesuatu. Sekecil apapun itu, kita pantas bersyukur dan merayakannya. Kita bahkan bisa bersyukur untuk hembus napas yang mengalir gratis yang menjaga kita tidak mati. Sementara kita tahu, di luar sana, ada banyak orang yang membayar jutaan hanya demi bisa bernapas.

Jika kita lupa untuk bersyukur, kita tidak akan puas dengan apapun yang dimiliki. Kita selalu menderita karena merasa kurang. Kita akan menderita karena terus membanding-bandingkan pencapaian kita dengan orang lain. Inilah faktor terbesar yang membuat kita tidak lekas berbahagia.

Kebahagiaan juga tidak lepas dari keterampilan memaknai hidup. Ketika kita terampil memaknai hidup, kita dapat membuat ruang kebahagiaan di dalam diri tanpa bergantung pada orang, benda, atau hal-hal artifisial dari luar. Dengan begitu, kita bisa menjadi manusia yang merdeka dari “perbudakan materialisme” yang kita ciptakan sendiri.

Dan kesadaran bersyukur adalah resep paling mujarab untuk hidup yang lebih berbahagia.[]


-backdate-

August 03, 2024Benny Prastawa

Wednesday, June 15, 2022

Kakek Tua Penjual Keripik di Masjid


Siang itu, saya dan istri sedang mampir ke sebuah masjid untuk sholat. Seperti biasa, istri saya sudah membawa berbagai bekal kudapan dan makan siang dari rumah. Sudah menjadi kebiasaannya, jika kami sedang bepergian dan di rumah sedang ada banyak masakan. Tak lama, kami pun segera membuka bekal dan menikmati makan siang bersama.

Di sekitar kami, tampak beberapa tukang sapu masjid yang lalu-lalang membersihkan halaman. Ada juga seorang satpam yang sibuk mondar-mandir berpatroli sambil sesekali membantu mobil yang akan masuk/keluar area parkir.

Satu-dua kali, satpam dan tukang-tukang sapu tadi melihat ke arah kami. Jika bukan karena Andra–sulung kami–yang sedang lelap di sebelah kami, mereka mungkin menyangka kami adalah ‘ABG amoral’ yang asyik pacaran di masjid. Masalah klasik manusia tentang “PERSEPSI”.

Usai makan dan sholat di masjid itu, kami bersiap melanjutkan perjalanan. Sejurus kemudian, seorang kakek menghampiri kami. Dengan bahasa Jawa krama yang alus sekali, kakek itu menawarkan keripik pada kami.

Saya dan istri sudah berkali-kali bertemu dengan penjaja makanan di tempat umum. Ada yang benar-benar berjualan, tapi tidak sedikit pula yang asal jual dan ‘memaksa’ beli.

Tapi kakek itu lain. Usianya mungkin sudah lebih dari 60 tahun. Kulitnya yang agak gelap berpeluh, menandakan tubuhnya sering diterpa terik. Dan ketika dia menawarkan keripik dagangannya, sorot matanya sangat tulus.

Tidak ada nada suara yang dilirih-lirihkan untuk memancing iba. Tidak ada pula kalimat fiktif yang tersirat dari tutur bahasa Jawa krama-nya yang sangat ‘alus’. Kakek itu, benar-benar tulus menawarkan dagangannya.

Istri saya langsung membeli beberapa bungkus keripik Kakek itu. Bukan karena iba, atau sekedar melarisi dagangannya. Istri dan saya, sama-sama tahu, jenis keripik yang ditawarkan Kakek itu memang enak. Apalagi bungkus kemasannya bersih, tidak kusut, dan tampak tidak asal bungkus.

Setelahnya, Kakek itu berterima kasih lalu menaiki sepedanya meninggalkan masjid. Tidak ada basa-basi apapun. Tidak ada ucapan-ucapan yang dilebih-lebihkan. Kakek itu tulus menawarkan dagangannya, sambil berharap dagangannya laku. Sesederhana dan sejujur itu.

. . .

Di rumah, saya dan istri mencicipi keripik Kakek tadi. Dan rasanya memang enak. Persis seperti dugaan kami.

Kakek penjual keripik di masjid tadi, betul-betul berjualan. Dia tidak asal jualan. Kakek itu hanya ingin dagangannya laku. Untuk itu, barang dagangan yang dijajakan dibuat berkualitas. Sesederhana itu. Dan kakek itu tidak menjadikan kesulitan hidupnya sebagai ‘komoditas promosi’ agar dagangannya laku.

Saya rasa, potret manusia-manusia yang tulus, ikhlas, dan jujur bekerja, seperti Kakek penjual keripik tadi, membuat bumi ini masih berputar dan langit terus mencurahkan rezeki-Nya, meski manusia seringkali abai untuk bersyukur.[]

Saturday, January 1, 2022

Tahun-Tahun Terberat Melawan COVID-19


Mari bersepakat bahwa tahun 2021 merupakan tahun terberat dalam menghadapi pandemi COVID-19. Pandemi ini secara nyata telah memukul semua sendi kehidupan umat manusia. Pandemi ini tidak hanya merenggut jutaan korban jiwa, tapi juga ‘sukses’ menghancurkan sektor-sektor perekonomian semua negara, membuat berjuta-juta orang kehilangan pekerjaan, memantik api inflasi, dan memperberat beban hidup banyak orang dari kelas sosial apapun.

 

Tahun 2021 menjadi tahun refleksi untuk melihat seberapa parah dampak pandemi ini serta langkah-langkah apa yang bisa kita lakukan untuk ‘berdamai’ dengan pagebluk ini. Kita patut bersyukur, para ilmuwan kesehatan telah berhasil membuat vaksin COVID-19. Meski diiringi banyak perdebatan soal kapabilitas dan keamanan vaksin, setidaknya, umat manusia telah menunjukkan ikhtiar-upayanya untuk mencari solusi konkrit mengatasi wabah.

 

Masyarakat awam, meski diterpa beragam info HOAX, pada akhirnya ‘luluh’ dan mau mengikuti program vaksinasi massal. Meski tidak semua masyarakat berkenan, tapi setidaknya, masyarakat sudah mau berikhtiar-berupaya untuk mencegah dampak pandemi yang lebih parah lagi.

 

Blog ini juga sempat hiatus selama tahun 2021 tersebut. Perlu waktu yang tidak sebentar untuk kembali menemukan momentum, motivasi, dan (yang terpenting) waktu luang untuk kembali menulis di blog. Karenanya, tulisan-tulisan di blog ini yang berangka tahun 2021, sebenarnya ditulis pada tahun 2022. Dan semua artikel yang diposting tahun 2021 akan saya tambahi keterangan ‘backdate’.

 

Semua itu bertujuan agar tahun 2021 tidak hilang/kosong dari timeline blog ini. Karena, meski sempat hiatus, pada tahun 2021 tersebut sebenarnya ada banyak ide menulis—yang semestinya bisa segera saya posting pada saat itu juga.


Well, mari kita berharap, pandemi COVID-19 ini bisa segera teratasi seluruhnya dan umat manusia bisa kembali memulihkan semua sendi kehidupannya seperti sediakala. Tentu saja, kita semua juga berharap, pandemi ini tidak akan terjadi lagi. Untuk itulah, kita harus menjadikan pandemi ini sebagai bentuk pembelajaran agung dari semesta agar peradaban manusia semakin arif, maju, makmur, namun tidak abai pada Kuasa Tuhan dalam menata alam semesta ini.[]


-backdate-

January 01, 2022Benny Prastawa

Wednesday, December 1, 2021

Memetik Hikmah Berbagi dari Kegiatan Donasi yang Absurd



Saat sekolah dulu, ada kegiatan penggalangan barang bekas layak pakai. Entah siapa yang menggagas kegiatan tersebut, apakah OSiS atau pihak sekolah, saya kurang tahu. Yan jelas, barang-barang yang terkumpul nantinya akan didonasikan—kalau tidak salah ke panti asuhan.

Saya baru pertama kali menjumpai kegiatan donasi semacam itu. Jadi, yang langsung terlintas di pikiran saya adalah barang bekas apa yang saya miliki yang akan disumbangkan?

Saya pun mulai mengacak-acak rumah, mencari-cari barang bekas. Saya dapati beberapa potong pakaian dan buku-buku pelajaran lawas yang jelas tidak akan terpakai lagi. Barang-barang itu saya kemas, dan hari berikutnya saya bawa ke sekolah untuk disumbangkan.

Dalam kegiatan donasi ini, tidak ada ketentuan kriteria/kondisi barang bekas yang diterima. Hanya ada keterangan "layak pakai", itu saja. Karenanya, begitu barang-barang bekas dari siswa terkumpul, "Ruang Pengumpulan Barang" mendadak menjadi "Ruang Pengepulan Barang".

Barang-barang bekas dari para siswa—termasuk saya—ternyata barang bekas betulan. Pakaian-pakaian bekas nampak menggunung memenuhi sudut-sudut ruangan. Sementara barang-barang lain, entah apa (mungkin buku-buku bekas), dikemas dalam wadah plastik dan kardus yang berjubel di sana sini.

Singkatnya, kebanyakan barang bekas itu jauh dari kata "layak pakai". Dan karena tidak layak pakai, barang-barang itu pun tidak layak disumbangkan. Pihak sekolah pasti malu jika menyumbangkan setumpuk pakaian kumal pada panti asuhan.

Akhirnya, barang-barang bekas itu pun dibiarkan teronggok di ruang pengumpulan sampai berbulan-bulan. Hingga saya lulus meninggalkan sekolah, saya tidak tahu kelanjutan nasib barang-barang itu.

Ternyata, tidak hanya saya yang mengabaikan kata "layak pakai" dalam kegiatan donasi tadi. Siswa-siswa yang lain agaknya juga lebih mengutamakan kata "bekas"-nya daripada "layak pakai". Dan dengan segala "kebocahan" para siswa, kegiatan donasi yang sebenarnya bermakna posiif malah menjadi arena PENGEPULAN BARANG BEKAS (betulan).

.  .  .

Mengajarkan konsep berbagi tidak cukup hanya dengan prinsip memberi. Ada dimensi keikhlasan dan kerelaan berkorban di dalamnya yang membuat aktvitas berbagi menjadi lebih bermakna.

Kita tidak akan sampai pada inti pemahaman aktivitas berbagi, jika kita hanya sudi memberi sesuatu yang bersifat "sisa". Bagaimana kita bisa memahami "kerelaan" dalam memberi, jika barang yang kita berikan adalah sesuatu yang bahkan kita sendiri pun enggan menerimanya?

Dalam konteks memberi atau berdonasi, tentu saja ada perbedaan derajat kemuliaan antara mereka yang mendonasikan barang-barang berharganya, dengan mereka yang hanya mendonasikan "barang-barang sisa".

Seorang pedagang kecil yang memberi 100 ribu rupiah pada seorang pengemis tua, boleh jadi memiliki derajat kemuliaan yang lebih tinggi, daripada seorang eksekutif tajir yang memberi nominal uang yang sama pada pengemis tua tadi.

Mengapa?

Bagi pedagang kecil itu, uang 100 ribu setara dengan separuh keuntungan hariannya—yang tidak menentu. Sementara bagi eksekutif tajir, uang 100 ribu bukan apa-apa karena setiap bulannya ia bisa mendapat gaji sampai puluhan juta.

Di situlah letak perbedaan pemberian di antara keduanya. Kadar "ke-berharga-an" barang yan diberikan sangat mungkin berbeda, meski sama secara kuantitas.

Dan ketika kita sudi memberikan sesuatu milik kita yang berharga pada orang lain, dan kita ikhlas melakukannya, kita baru bisa memahami makna memberi yang seutuhnya.Tentu saja, pemberian yang dimaksud di sini adalah pemberian yang positif, bukan pemberian karena paksaan, ancaman, atau tuntutan sosial tertentu.

Pada kasus donasi di sekolah saya tadi, kenapa para siswa tidak mau memberi pakaian-pakaian terbaiknya? Kenapa para siswa—termasuk saya—malah memberi pakaian-pakaian bekas betulan yang jauh dari "layak pakai"? Kenapa para siswa enggan memberi koleksi buku atau komik-komik kesukaannya daripada buku-buku kumal untuk disumbangkan?

Ketika saya beranjak dewasa, saya merasa malu pada diri saya sendiri setiap kali mengingat kegiatan donasi yang "absurd" ini. Seharusnya saya bisa lebih ikhlas memberikan barang-barang yang masih layak pakai betulan. Yah, meski hal itu bisa dimaklumi karena segala "kebocahan" saya saat itu.

Lagipula, kalau dipikir-pikir, kegiatan donasi "absurd" tadi juga ada manfaatnya. Meski kegiatan itu "gagal" menularkan spirit berdonasi, setidaknya kegiatan itu sukses mengurangi onggokan pakaian bekas di lemari para siswa.[]


-backdate-

Monday, November 1, 2021

Makna Keadilan dan Keseimbangan yang Hakiki

Di mana ada orang-orang miskin, ada orang-orang kaya yang sibuk menikmati harta bendanya dan abai untuk memberi dan berbagi.

Di mana ada orang-orang bodoh, ada orang-orang pintar yang tidak tahu bagaimana mengajarkan ilmunya dan membuat wawasannya nermanfaat bagi orang lain.

Di mana ada orang-orang jahat, ada orang-orang baik yang sibuk memeranginya, memprotesnya, menihilkannya, tapi tidak sadar bahwa seringkali orang jahat bisa muncul dari orang baik yang hidupnya tersakiti.

Di mana ada orang-orang menderita, ada orang-orang yang tengah asyik bersukacita, bergembira ria dengan segala kesenangan dunianya, yang hatinya terlalu keras untuk bersimpati pada nestapa orang lain.

Kenapa kehidupan ini tidak pernah sama rata dan sama rasa? Kenapa harus ada pihak yang "kalah" dan "sengsara" ketika pihak yang lain "bersukacita" dan "berpesta pora"? Kenapa peradaban manusia tidak pernah sukses menciptakan  potret kehidupan di mana semua orang kaya raya, semua orang pandai cendekia, dan semua orang hidup sejahtera bahagia?

Boleh jadi, karena memang begitulah makna "keseimbangan" yang sebenarnya. Agar umat manusia mau belajar dan tergerak hatinya untuk saling menolong sesama, saling meringankan beban sesama, tidak egois memikirkan kepentingannya, tidak apatis terhadap ligkungannya, tidak pongah dengan raihan kejayaannya, tidak abai untuk berdoa dan bersyukur, serta tidak lupa pada kesejatian dirinya yang fana yang tidak akan membawa apapun ketika berpulang pada-Nya. Sambil terus menjaga nyala harapan bahwa kehidupan esok akan lebih baik.[]
November 01, 2021Benny Prastawa

Friday, October 1, 2021

Ogah Basa-Basi Pekerjaan Orang Lain


Bagi saya pribadi, basa-basi seputar pekerjaan adalah hal yang tabu. Entah basa-basi itu ditujukan pada saudara, tetangga, teman lama, atau siapapun. Basa-basi seperti 'kerja di mana' memang terdengar biasa. Tapi pertanyaan semacam itu bisa jadi rumit bagi si penjawab.


Kenapa?


Karena pekerjaan adalah urusan privat yang berkaitan langsung dengan status sosial seseorang di masyarakat.


Tidak semua orang memiliki pekerjaan yang menyenangkan. Tidak semua orang memiliki pekerjaan yang prestise-nya membanggakan dan bisa mendongkrak status sosialnya. Tidak semua orang mau urusan pekerjaannya diketahui orang lain. Bahkan tidak sedikit pula orang yang tidak memiliki pekerjaan sama sekali.


Jika orang yang ditanya punya jenis pekerjaan yang jelas, tidak akan ada masalah. Tapi bagaimana jika pekerjaan orang itu terdengar 'rendahan' atau 'menyedihkan'? Bagaimana pula jika yang ditanya malah sedang nganggur, baru saja dipecat, atau malah pekerjaannya berkaitan dengan sindikat kriminal yang tengah diburu polisi?


Pernahkah kita memikirkan hal itu sebelum berbasa-basi menanyakan pekerjaan orang lain?


Sebagian orang mungkin memilih untuk membual saja ketika ditanya tentang pekerjaannya.. Kalau perlu, mereka bisa melebih-lebihkan pekerjaannya agar tampak keren, terpandang, makmur, dan terhindar dari ejek-cela orang lain. Dan hal itu sah-sah saja dilakukan, karena itu hak mereka sebagai penjawab.


Lagipula, tidak ada manfaat konkrit yang bisa kita peroleh jika kita tahu pekerjaan orang lain. Paling banter kita cuma membatin, 'Oh, si anu kerja di situ, si anu kerjaannya itu, gajinya mungkin segini segitu...'


Mengetahui pekerjaan orang lain malah lebih bermanfaat bagi pihak-pihak tertentu, seperti para petugas Dinas Sosial yang sedang mensurvey penerima bantuan sosial, atau bankir yang tengah pusing mempertimbangkan pengajuan kredit nasabahnya agar tidak macet.


Salah-salah, kita malah terjebak pada rasa iri jika terlalu banyak tahu pekerjaan orang lain. Salah-salah kita malah merasa rendah diri setelah tahu pekerjaan orang lain lebih mapan dan menjanjikan kemakmuran finansial. Salah-salah kita malah terlalu sibuk mendengki dan mencemburui pencapaian orang lain, hingga lupa untuk mensyukuri apa-apa yang sudah dimiliki.


Mari tanyakan pada diri sendiri, untuk apa kita berbasa-basi menanyakan pekerjaan orang lain? Apakah sekadar untuk membuka topik obrolan? Sekedar basa-basi ingin tahu? Atau apa?


Kalau boleh berpendapat, hanya ada dua kemungkinan untuk orang-orang yang gemar sekali* berbasa-basi menanyakan pekerjaan orang lain.


Yang pertama, orang kaya tukang pamer yang sedang mencari perbandingan kemakmuran dan kesuksesan finansial orang lain. Yang kedua, orang menyedihkan yang tidak bahagia dengan pekerjaannya sendiri lalu sibuk mencari orang-orang yang lebih menderita hidupnya dibandingkan dirinya.[]


-backdate-



*saya katakan 'gemar sekali' untuk merujuk pada orang-orang yang kepo-nya keterlaluan terhadap pekerjaan orang lain. Orang-orang yang menanyakan pekerjaan orang lain dengan tujuan yang spesifik tidak termasuk (tujuan dar pertanyaannya tidak didorong oleh rasa kepo, niat pamer/menyindir, atau mengasihani diri)

October 01, 2021Benny Prastawa

Thursday, June 25, 2020

Bergegas Mudik Berkemas Pandemic

Di pelosok kampung tempat orangtua saya tinggal, pandemi virus Corona nyaris tidak menghasilkan dampak se-paranoid daerah Kota. Kehidupan masyarakat kampung bisa dibilang tidak berubah meski pageblug Corona mengintai. Orang-orang masih jamak berkumpul, pasar-pasar masih ramai, bahkan acara lelayu pun masih dihadiri banyak orang dan nyaris tanpa "jaga-jarak".


Pagi-pagi sekali, orang-orang kampung sudah giat pergi bekerja. Ada yang ke pasar, ada yang ke sawah, ada yang menggembala ternak, ada pula yang tetap berdiam di rumah—membereskan segala sesuatunya sambil beranjangsana menemani anak-anak yang libur sekolah.


Boleh jadi, soal virus Corona ini memang kurang tersosialisasikan di kampung. Orang-orang kampung boleh jadi masih menganggap "Oh, virus Corona itu kan cuma terjadi di kota A, kota B, di sana, dan di sana. Di kampung aman-aman saja, kok." Apalagi setelah melihat fakta bahwa kampung mereka relatif aman dan belum ada warga yang positif Corona. Mereka pun merasa lebih tenang untuk tetap menjalani kehidupan normal seperti tidak ada pandemi apapun.


Sementara di Kota, kondisinya jauh berbeda. Hingar bingar pandemi Corona terlihat nyata di sini. Ancaman penularan virus datang dari sana sini. Orang-orang dilarang berkumpul dan disarankan berdiam di rumah.


Satu dua mobil ambulans berseliweran dengan sirine meraung. Petugas kesehatan dengan APD putih-putih khasnya mondar-mandir mengangkut pasien positif Corona. Sebagian malah cuma mengangkut jenazah saja. Rumah warga yang positif Corona dikelilingi pita kuning. Sementara para polisi dan tentara turut serta mengawal warga dan giat berpatroli selama pandemi.


Dalam hitungan minggu, semua sektor kehidupan masyarakat Kota terdampak. Roda bisnis mendadak berhenti. Harga-harga barang anjlok. Para pedagang kesulitan menjual barang akibat penurunan permintaan. Para pemilik usaha terancam gulung tikar. Karyawan-karyawan dirumahkan dan buruh-buruh di-PHK tanpa pesangon.


Di tengah perekonomian yang mendadak lesu, orang-orang Kota kelimpungan mencari jalan keluar. Sebagian yang memiliki tabungan dan kerabat dekat bisa bertahan. Tapi tidak sedikit pula yang harus menghadapi krisis sendirian. Benar-benar sendirian dan tanpa pegangan finansial yang cukup.


Dalam kondisi itu, wajar jika orang-orang Kota yang punya keluarga di Kampung, memilih untuk pulang. Betapapun pemerintah melarang, warga yang sudah tak tahan dengan himpitan Kota nekat mudik ke Kampung. Segala cara mereka tempuh demi mengembalikan ketenangan pikiran dan menjauhkan diri dari beban ekonomi yang menghimpit. Dan mudik adalah jawabannya.


Para pemudik itu membayangkan, kehidupan di Kampung pasti jauh lebih mendamaikan. Mereka tidak akan dipusingkan dengan hari-hari yang penuh kemacetan, makian serapah majikan, gaji yang tidak kunjung naik, cocot omelan pelanggan, air yang kotor, atau tagihan kontrakan yang jumlahnya semakin mencekik.


Di Kampung, mereka akan disuguhi pemandangan alam yang serba hijau nan asri dengan latar anak-anak yang tengah ramai bermain berkeliaran—bebas, tanpa takut terlindas truk atau ditangkap penculik.


Dan memang begitulah adanya. Kehadiran virus Corona—betapapun mengerikannya—seakan mengajarkan kita untuk mereset tombol kehidupan kita. Arus modernitas yang memanjakan kita selama ini, ternyata tidak cukup canggih untuk memupuk kebahagiaan. Di satu sisi, modernitas menawarkan segala kemudahan untuk memperoleh materi. Tapi, di sisi lain, kepemilikan materi itu sendiri tidak selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan. Karena, ternyata, modernitas juga menuntut orang untuk MEMBAYAR LEBIH BANYAK.


Sementara di kampung, kita diajarkan untuk lebih nrimo dengan kondisi yang ada. Kita diajarkan untuk bergumul dengan peradaban yang serba terbatas. Tapi, di sisi lain, kita tidak akan dipusingkan dengan ongkos-ongkos yang mencekik seperti yang ditawarkan modernitas ala Kota.


Well, semua ini adalah realita hidup yang mesti kita pilih dan kita jalani. Tidak ada yang salah dengan peradaban modern ala kota. Atau tradisi sederhana ala di Kampung. Apapun itu, kita harus tetap sadar akan esensi nilai-nilai hidup kita sebagai manusia. Sudah selayaknya manusia—sebagai makhluk sosial—hidup tolong-menolong dengan sesamanya. Baik di Kampung atau di Kota, ada Corona atau tidak, jangan sampai kita kehilangan rasa kemanusiaan kita —apapun alasannya.[]


June 25, 2020Benny Prastawa

Sunday, June 21, 2020

Nuansa Sholat Jumat yang Berbeda di Tengah Pandemi Corona



Setelah dua bulan lebih ibadah sholat Jumat ditiadakan, memasuki pertengahan Juni ini, beberapa daerah sudah mengizinkan pelaksanaan sholat Jumat lagi. Tentu saja, kebijakan ini hanya berlaku untuk daerah-daerah yang tingkat penyebaran virus Corona-nya tidak parah. Sedangkan untuk daerah lain yang masih rawan, sholat Jumat—dan kegiatan keagamaan di masjid—untuk sementara masih ditiadakan.


Daerah-daerah yang sudah diizinkan menggelar sholat Jumat pun harus tetap mematuhi protokol kesehatan yang berlaku. Selain masker dan hand sanitizer wajib, jamaah juga dideteksi suhu badannya dan dipastikan sehat sebelum memasuki area masjid. Beberapa masjid bahkan sampai menyediakan plastik-khusus-sekali-pakai untuk menaruh alas kaki para jamaah.


Berhubung sholat Jumat mengundang kehadiran banyak orang, pembatasan jumlah jamaah menjadi keharusan, baik pembatasan jumlah maupun pembatasan jarak antar jamaah. Pembatasan ini juga tidak lepas dari keterbatasan daya tampung masjid.


Secara khusus, di dekat tempat tinggal saya, salah satu cara membatasi  jamaah adalah dengan sistem kupon sholat. Jamaah yang ingin sholat Jumat di masjid harus memiliki kupon tersebut. Kupon akan dibagikan sekitar satu jam sebelum adzan dan berlaku sekali pakai.


Nah, karena memakai sistem kupon, saya kadang bertanya-tanya, "Jamaah yang sudah bersuci rapi-rapi wangi ingin sholat Jumat, tapi nggak kebagian kupon gimana? Kan nggak mungkin jamaahnya dijejalkan masuk kayak di kereta komuter kepenuhan?"


Ya, mau bagaimana lagi. Protokol kesehatan yang harus dipatuhi memang seperti itu. Kesehatan dan keselamatan para jamaah adalah prioritas. Semuanya kembali ke kesadaran diri jamaah masing-masing.


Jadi, begitu tahu soal sistem kupon sholat tersebut, para jamaah pun mulai berinisiatif datang lebih awal demi kebagian kupon. Pemandangan ini kontras dengan sholat Jumat pada saat sebelum pandemi, di mana segelintir jamaah memilih berjalan santai menuju masjid meski Pak Khotib sudah berdiri di atas mimbar.


Nuansa sholat Jumat di tengah pandemi virus Corona ini memang berbeda. Ada secercah kerinduan rohani yang tersibak dari rona para jamaah. Apalagi, di tengah situasi yang serba krisis dan tidak menentu seperti sekarang.


Pemandangan para jamaah yang berduyun-duyun mendatangi masjid mengingatkan kita pada konsep fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan). Para jamaah yang sebelumnya malas-malasan menuju masjid, menjadi lebih bersemangat (berlomba-lomba mendapat tempat sholat) setelah pengadaan kupon sholat.


Boleh jadi, para jamaah memang merindukan momen sholat Jumat yang sudah berminggu-minggu ditiadakan. Mereka rindu untuk kembali duduk takzim di masjid sambil mengharap pencerahan dari isi khotbah Pak Khotib.


Hingga ketika sholat Jumat usai ditegakkan, mereka kembali "bertebaran" mencari rezeki-Nya dengan semangat dan spiritualitas yang terbarukan. Harapan akan penghidupan yang lebih baik, kembali menyala. Tak peduli betapapun beratnya situasi yang dihadapi saat ini.


***


Pandemi virus Corona memang telah mengubah banyak aspek kehidupan manusia. Segala krisis yang terhampar di tengah pandemi ini adalah ujian hidup yang nyata.


Dari perspektif religi, pandemi ini akan menguji kadar keyakinan kita kepada Tuhan. Apakah kita akan melangkah menjauh, atau segera berlari mendekat kepada-Nya.


Karena bagaimanapun, sehebat apapun kita, sekaya apapun kita, akan ada masa ketika kita diuji dengan kondisi serba sulit, sempit, terjepit, sedemikian hingga kita hanya bisa mengharap pertolongan dari-Nya. 


Dari situlah, Tuhan bisa menilai ibadah kita selama ini. Memastikan siapa saja di antara hamba-hamba-Nya yang benar-benar tulus ikhlas menyembah pada-Nya, mengabdi pada-Nya, serta memohon ampun dan pertolongan-Nya, demi mengharap keridhaan-Nya semata.[]


June 21, 2020Benny Prastawa