Sunday, January 26, 2020

Bakso Terabal Sejagad

Suatu kali, saya dan istri tengah mencari hidangan untuk makan malam. Berhubung menu di kulkas belum menggugah selera, kami memutuskan untuk makan di luar. Kebetulan saat itu saya sedang senggang sehingga ada cukup waktu sekedar untuk ngelayap ke luar mencari kudapan. Soal menu—bagi saya—hal itu tidak pernah akan saya baku-debatkan dengan istri. 

Jika suami istri lain “gaduh” gara-gara tidak kunjung memilih menu, atau karena si istri ketus menjawab “terserah”, saya lebih suka berinisiatif mengambil kata “terserah” lebih dulu sebelum keduluan dipakai istri. Lelaki manapun di dunia pasti kebingungan jika si perempuan sudah bilang “terserah”. Mbuh maunya apa.

Singkatnya, dalam perkelayapan mencari hidangan malam, saya dan istri berhenti di sebuah kedai bakso pinggir jalan. Kedai itu cukup luas dengan desain bangunan joglo di depannya. Secara umum tempatnya bersih dan sangat nyaman untuk dijadikan tempat kongkow akhir pekan. Desain interior kedai memakai corak jawa tradisional—menyesuaikan bentuk bangunan yang klasik. Meja-meja dan kursi tertata rapi memanjang dengan nomor di setiap sudutnya (ini kedai bakso apa ruang ujian ya?). Melihat tampilan awal kedai bakso itu, kami pun yakin bahwa kami tidak salah memilih tempat.

Setelah memesan menu, saya dan istri ngobrol ngalor ngidul seputar kedai yang kami kunjungi. Jadi di sekitar kedai bakso itu, tidak ada kedai bakso lain. Hanya ada warung-warung soto dan penyet tenda bergambar unggas dan satwa-satwa air di seberangnya. Berhubung saat itu cuaca cukup dingin, membayangkan nyantap bakso dengan kuah hangatnya akan menggugah selera. Lebih sempurna lagi karena di kedai bakso itu hanya ada saya dan istri saya—seakan-akan kami sudah memesan seluruh isi kedai itu untuk menjadi tempat makan malam yang romantis.

Beberapa menit berselang, minuman pembuka diantarkan pelayan. Bagi saya, minuman pembuka semacam itu adalah salah satu trik “pengalihan isu” agar pelanggan betah menunggu hidangan utama (yang seringkali dimasak terlalu lama). Begitu juga dengan bakso pesanan kami. Dari tempat kami duduk, terlihat juru masak bakso sedang sibuk-sibuknya mengolah bahan. Tapi setelah ditunggu bermenit-menit, belum ada gelagat bakso matang siap dihidangkan.

Membahas pesanan makanan yang lama dibikin, saya jadi teringat momen kabur bareng istri (bukan kawin lari lho, ya). Situasinya kami sedang menunggu jam tayang sebuah film di bioskop. Berhubung jeda waktunya masih lama, kami memutuskan untuk makan malam dulu di sebuah warung bebakaran yang katanya enak. Saat itu, banyak karyawan warung yang mudik (saat itu beberapa hari setelah lebaran) sehingga pelayanannya menjadi lambat. Saya dan istri sengaja memesan jenis makanan yang proses memasaknya tidak lama. Sehingga kami tidak perlu berlama-lama menunggu.

Sayangnya, asumsi awal kami keliru. Hidangan kami tidak kunjung diantarkan. Saya dan istri sudah lebih dari setengah jam menunggu, duduk mengakar di kursi dengan gelas minum yang sudah tandas. Sementara itu, film yang ingin kami tonton di bioskop akan segera tayang. Saya pun mendatangi meja pesanan, menanyakan kepada karyawan, dan mendapati jika dari tadi menu kami belum sempat dibuat! Apa-apaan!? Saya dan istri pun beringsut meninggalkan warung makan dengan dongkol.

Kembali ke kedai bakso. Setelah menunggu bermenit-menit lamanya, bakso kami pun terhidang dengan segala umbarampe-nya (kecap-saos-sambal-cuka). Kepulan uap putih dari kuah bakso sudah melambai menggugah lapar.

Baru tandas beberapa suap sendok bakso, saya mulai merasa aneh. Citarasa bakso yang kami santap sangat menggelikan. Awalnya saya tidak terlalu ambil pusing. Berhubung lapar, saya habiskan saja seporsi bakso tadi. Tapi istri saya tidak. Gurat-gurat kedongkolan terlihat dari ekspresinya. Setengah berbisik, kami mengomeli citarasa bakso yang menggelikan itu.

“Baksonya pake bakso instan nih... (bakso yang sering dijual bebas di pasar-pasar tradisional).”

“Mie-nya juga pakai mie instan kok piye.”

“Walah, parah banget nek iki...”

“Kuahnya gimana?”

“Kuahnya apalagi??? Micin thok!”

“Ini bener-bener bakso paling parah yang pernah tak makan!”

“Iya, setuju. Eman-eman sekali, padahal tempatnya udah bagus, lokasinya strategis di pinggir jalan, saingan sesama kedai bakso nggak ada, tapi rasa baksonya kacau begini.
*   * *

Sepanjang perjalanan pulang, istri saya masih mengomeli bakso abal-abal yang barusan disantap. Mengesalkan memang. Sudah harga baksonya di atas rata-rata, tapi citarasanya menyedihkan. Terlihat sekali si pemilik kedai bakso ingin meraih untung instan dengan modal seadanya. Demi meredakan komplain istri yang getir, saya membelikannya bakso di kedai bakso lain yang jauh dari kedai bakso abal-abal.

Menjalani bisnis memang tidak mudah. Ada modal yang selalu dipertaruhkan di sana, kebanyakan nominalnya besar. Setiap pengusaha ingin meraih keuntungan maksimal dengan modal yang ada. Meski begitu, ada hal lain selain modal yang perlu dipikirkan para pelaku usaha yakni kualitas produk! 

Pengusaha-pengusaha yang sukses pasti sangat memprioritaskan kualitas produknya. Produk tersebut sebisa mungkin dibuat untuk menyenangkan pelanggan, bukan malah mengecewakannya. Karena bagi pengusaha, pelanggan adalah “raja”. Jika “raja” kecewa, siapa yang mau mampir membeli? Jika seorang pelanggan sudah kapok, bagaimana mungkin dia akan kembali membeli? Seperti kata pepatah cina kuno “Jika kau tak bisa tersenyum, tidak usah jadi pedagang”.

Tak jauh dari kedai bakso abal-abal, ada sebuah warung padang murah. Saya sering makan di sana, semata karena harga makanannya yang (terlalu) murah. Saat harga cabe sedang mahal-mahalnya, paman pemilik warung padang itu pernah berkata kepada saya “Kami berusaha untuk tidak terpengaruh dengan mahalnya bahan-bahan. Prinsip kami, meski keuntungan yang diperoleh boleh jadi cuma sedikit, yang terpenting pelanggan kami puas dan tidak kapok datang kemari lagi.” Nyatanya, dengan prinsip itu, warung makan padang milik paman itu terus laris manis didatangi pelanggan.

Ada baiknya pemilik kedai bakso meneladani prinsip paman warung padang. “.....yang terpenting pelanggan kami puas dan tidak kapok datang kemari lagi”. Apalagi kedai bakso itu sudah didukung oleh kenyamanan bangunan dan lokasi yang strategis. Sayang sekali jika kedai bakso yang sebenarnya punya modalitas yang cukup untuk menjadi laris, justru dikerdilkan oleh pemilik usaha dengan menyediakan bakso abal-abal bercita rasa menggelikan.

Menjadi pengusaha memang tidak mudah. Banyak hal yang dipertaruhkan di dalamnya. Ada desakan kuat untuk bisa segera balik modal dan hasrat meraih omset ratusan juta. Hal semacam ini memang tidak dilarang. Boleh-boleh saja seorang pengusaha mencari untung berlipat. Tapi yang jelas, tidak akan ada keuntungan berlipat jika pelanggan selalu dikecewakan. Pada akhirnya, kekecewaan para pelanggan akan menumpuk tinggi menggunung hingga akhirnya menghancurkan usaha yang telah dirintis—betapapun bagusnya konsep yang ditawarkan usaha itu.[]

*   * *

Meanwhile, setelah kunjungan saya dan istri ke kedai bakso abal-abal, pemilik kedai itu masih konsisten membuka usaha baksonya. Hingga beberapa waktu yang lalu sebelum catatan ini ditulis, saya dan istri saya sempat melewati kedai bakso abal-abal. Hanya saja tempatnya sudah ditutup dan kini entah difungiskan untuk usaha apa. Sangat disayangkan.


*) Dialog-dialog dalam catatan ini dibuat untuk menjelaskan konteks masalah dan dramatisasi agar lebih mudah dipahami.
January 26, 2020Benny Prastawa

Saturday, January 4, 2020

Ketika Istri Menyadarkan Bakti pada Sosok Ibu


Dari Abu Hurairah ra. beliau berkata, "Seseorang datang kepada Rasulullah dan berkata, “Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?”
Rasulullah menjawab “Ibumu!
Orang tersebut kembali bertanya, “Lalu siapa lagi?”
Rasulullah menjawab, “Ibumu!
Orang tersebut kembali bertanya, “Lalu siapa lagi?”
Rasulullah menjawab, “Ibumu!
Orang tersebut kembali bertanya, “Lalu siapa lagi?”
Rasulullah menjawab, “Kemudian Ayahmu...”

(HR. Bukhari)

*   * *

Dalam banyak literatur, peran sesosok ibu dalam kehidupan seseorang sangat vital dan esensial. Sosok “ibu” sering disebut sebagai madrasah pertama bagi seorang anak. Sejak kecil kita memang diajarkan untuk selalu menghormati kedua orangtua kita. Tetapi sosok “ibu” selalu mendapat tempat prioritas tersendiri. Tanpa bermaksud mengkerdilkan status “ayah”, tuntutan penghormatan dan bakti seorang anak kepada sosok “ibu” selalu jauh lebih utama.

Saat kanak-kanak, kita sering menyanyikan lirik:

Satu-satu... aku sayang ibu...
Dua-dua... juga sayang ayah...

Sosok pertama yang Bu Kasur (pencipta lagu) tuliskan dalam bait lagu tersebut adalah “ibu”. Ada banyak lagu lain yang mengedukasi anak dalam hal berbakti kepada sosok “ibu”—seperti lagu “Kasih Ibu” dan “Ambilkan Bulan”. Saking pentingnya urusan ini, sampai-sampai Rasulullah tiga kali mewasiatkan kepada umatnya agar memprioritaskan bakti kepada sosok “ibu”.

Saya pribadi sudah kenyang dengan doktrin untuk mengutamakan bakti kepada ibu. Sejak kecil, saya diajarkan tentang hal-hal sejenis itu. Urusan bakti kepada ibu termasuk salah satu pelajaran moral mula-mula yang diajarkan sejak pertama kali saya duduk di bangku sekolah.

Saya diajarkan bahwa ibu adalah sosok yang telah mengandung dan melahirkan kita. Proses mengandung itu sendiri sangatlah berat, membutuhkan waktu sembilan bulan, sampai kemudian harus bertaruh nyawa di meja persalinan demi melahirkan sang buah hati.

Tapi saya terlalu normatif dalam memahami ajaran-ajaran semacam itu. Saya terjebak pada simplifikasi “Ibu sudah mengandung dan melahirkan kamu dengan susah payah, kamu harus berbakti padanya!” Sesederhana itu.

Saya tidak bisa mengolah pemahaman saya sampai pada internalisasi ajaran moral tentang bakti kepada ibu. Boleh jadi, hal ini disebabkan karena saya tidak bisa mengingat peristiwa-peristiwa awal kehidupan saya dari fase post-natalis sampai batita. Saya tidak pernah tahu betapa berat perjuangan ibu saya dalam merawat dan membesarkan saya (setidaknya sampai saya bisa mengingat sesuatu secara psikis-emosional).

Apalagi pada zaman saya lahir, alat-alat perekam video semacam handycam atau sekadar kamera “KODAK” tergolong barang mewah yang hanya dimiliki segelintir orang (keluarga saya tidak termasuk). Karena itu, keluarga saya tidak memiliki dokumentasi audio-visual yang memperlihatkan betapa repotnya membesarkan saya. Foto-foto balita saya lebih banyak diambil di studio atau di tempat wisata di mana ada para juru kamera.

Begitu menginjak usia dewasa, saya masih terjebak pada tafsir normatif ajaran bakti kepada ibu—hanya berbeda dari segi manifestasi aspek kausalitasnya saja. dalam fase ini, saya menganggap sosok “ibu” harus dihormati bukan hanya karena beliau telah mengandung dan melahirkan kita, tapi juga karena beliau telah banyak berkorban dan berjasa dalam memperjuangkan kebaikan bagi anaknya (terutama dari aspek ekonomi).

Ibu telah berpayah-payah mensekolahkan kita, membiayai semua kebutuhan kita, dan merawat kita dengan sabar hingga beranjak dewasa. Dan karena alasan-alasan itu, kita harus selalu berbakti kepada ibu. Hanya saja, saya menganggap hal ini (pengorbanan dan perjuangan ibu) sebagai sesuatu hal yang memang sudah semestinya dilakukan. Karena itu, saya belum benar-benar menginternalisasikan secara psikis-emosional alasan untuk berbakti kepada ibu.

Hingga kemudian setelah menikah, barulah saya bisa menginternalisasi doktrin “menghormati ibu”. Setelah melihat perjuangan istri saya dalam mengelola urusan rumah tangga, hingga ketika anak pertama kami lahir, saya seakan baru tersadarkan tentang betapa besar peran sesosok ibu bagi anaknya.

Dari istri saya, saya melihat sendiri bagaimana repotnya mengurusi seorang anak. Sebelum anak kami lahir, istri saya harus berpayah-payah melewati fase kehamilan—selama sembilan bulan dengan segala batasan aktivitas fisik dan psikis yang menghimpit. Begitu proses melahirkan, saya mendapati istri saya harus menahan beban sakit yang “meremuk tulang” selama fase pembukaan lebih dari 13 jam!

Hingga puncaknya, ia memaksakan badan yang sudah teramat letih untuk berkontraksi mengeluarkan si jabang bayi dari rahim. Tidak cukup sampai di situ, istri saya masih harus mendapat beberapa kali jahitan-tanpa-bius pasca persalinan. Mengingat soal “jahitan” ini, selalu membuat saya bergidik ngilu (termasuk ketika saya menuliskan catatan ini).

Seperti kebanyakan orangtua lain pada umumnya, fase 4 bulan pertama setelah persalinan harus dijalani dengan ketelatenan prima. Pada usia itu, kondisi bayi masih sangat lemah dan mengharuskan keberadaan orang lain secara total untuk mengurusi segalanya. Begadang pun harus menjadi kebiasaan bahkan “hobi” yang rutin dilakukan istri saya. Saya hampir tidak percaya dengan apa yang saya lihat.

Istri saya selalu terjaga setiap kali si kecil bangun menangis. Dengan telaten, ia menenangkan si kecil yang kehausan. Istri saya selalu cemas kalau-kalau si kecil terhimpit badannya ketika lelap. Atau ketika muka si kecil tanpa sengaja tertutup selimut. Kecemasan-kecemasan itulah yang membuat dirinya sendiri tidak bisa lelap alih-alih harus selalu sigap semalaman.

Pada bulan-bulan berikutnya, ada fase ketika si kecil rewel luar biasa tanpa sebab yang  jelas. Lapar, tidak. Haus, tidak. Popok basah, tidak. Bosan, tidak. Perut kembung, tidak. Gatal, tidak. Kondisi ini bisa berlangsung berjam-jam lamanya—membuat kami cukup tidak enak hati pada tetangga. Artikel medis menyebutnya sebagai “growth sprute” atau semacam lonjakan pertumbuhan. Jika dalam kondisi normal, kerewelan si kecil akan berhenti dengan digendong atau diberi ASI. Namun pada saat growth sprute  hal itu tidak banyak membantu. Lebih susah lagi karena hanya istri saya seorang yang bisa meredakan semua kekacauan itu.

Saya jadi merasa tidak berguna karena keberadaan saya tidak banyak membantu untuk menenangkan si kecil. Asumsi saya, faktor kedekatan emosional ibu dan anak yang selalu terhubung lewat proses laktasi-lah yang membuat si kecil teramat bergantung pada ibunya. Tak peduli betapa pun letihnya, istri saya harus selalu ada demi menenangkan si kecil.

Seiring bertambahnya usia, keinginan si kecil juga semakin bertambah. Ketelatenan saja tidak cukup untuk menghadapi perubahan-perubahan dalam diri si kecil yang acapkali menimbulkan masalah. Dibutuhkan kesabaran lebih untuk menghadapi tingkah polah si kecil yang semakin beragam karena terdorong keinginan dan rasa ingin tahunya.

Misalnya, ketika istri saya sudah berpayah-payah membuatkan bubur dan sup untuk sarapan, akan tetapi si kecil tidak mau memakannya. Padahal di hari sebelumnya, si kecil mau memakan menu serupa dengan lahap. Atau (yang paling sering) ketika si kecil rewel, gerah, tidak bisa tidur, dan memaksa harus digendong-gendong sampai terlelap. Mau tak mau, istri saya harus menuruti permintaan si kecil demi melihatnya pulas terlelap. Karena hal itu, otot pergelangan tangan dan lengan istri saya sampai mengalami cedera.

Dari cuplikan-cuplikan keseharian istri dalam mengurus si kecil, saya jadi lebih memahami alasan logis mengapa sosok “ibu” layak kita utamakan dan berhak mendapat tempat teratas dalam daftar orang yang wajib kita beri bakti sepenuh hati. Dalam diri seorang ibu, terdapat nilai-nilai pengorbanan, penderitaan, ketulusan, kesabaran, kelembutan, dan kasih sayang tak bertepi yang selayaknya disadari dan dipahami oleh setiap anak.

Sebagian orang mungkin menganggap urusan bakti kepada ibu ini sebagai hal yang biasa—sebuah keharusan yang semestinya dilakukan, atau salah satu pelajaran kebajikan mula-mula yang diajarkan sejak kanak-kanak. Tapi pada praksisnya, entah karena kesibukan, tuntutan pekerjaan, atau distorsi arus kehidupan, ada saja anak-anak “malang” yang melupakan peran ibu dalam kehidupannya.

Anak-anak “malang” ini hanya menjadikan ibunya sebagai pemeran figuran dalam narasi kehidupannya. Dalam semesta kehidupan yang lain, sebagian anak malah membenci ibu kandungnya dengan berbagai macam alasan pembenaran. Sebagian yang lain tidak kalah parahnya dengan memperlakukan ibunya seperti “doraemon” yang siap diper-babu-kan untuk apa saja.

Catatan ini bergerak dalam konteks semesta kehidupan yang das solen, di mana seorang anak harus berbakti kepada ibunya, dan seorang ibu yang baik harus mau memperjuangkan kebaikan bagi anaknya. Dalam hal ini, saya pantas berterima kasih kepada istri saya. Berkat ketelatenan dan kesabarannya membersamai si kecil, saya semakin memahami betapa besar pengorbanan sosok “ibu” bagi anaknya.

Saya juga semakin tersadarkan untuk berbakti kepada ibu dan berusaha membahagiakannya dengan balas budi terbaik yang bisa saya berikan. Sesuatu hal yang terkadang membuat saya gamang karena belum bisa saya penuhi semuanya. Setidaknya, dalam penilaian standar moral saya sebagai seorang anak. Kiranya, Tuhan berbaik hati memberikan usia yang cukup untuk merealisasikan semua cita saya membahagiakan kedua orangtua, terutama—membahagiakan sosok seorang “ibu”.[]

Sunday, December 1, 2019

Hidup Ini Memang Sementara Tapi....






Hidup di dunia ini memang sementara. Akan tetapi, kesementaraan itu tidak berarti kehidupan di dunia ini berhak untuk ditelantarkan. Hidup di dunia ini memang sementara. Hanya sekelebat waktu saja. Dibandingkan dengan akhirat, hidup di dunia ini tak lebih dari sekedar pagi ke sore hari, atau sore ke pagi hari. Akan tetapi, manusia terikat pada dimensi waktu di dunia yang jika diukur berdasarkan jangkauan umurnya, segmen hidup di dunia itu sangaaaaat...lama.

Aku heran dengan mereka yang begitu taat, sedemikian taatnya hingga keluarganya sendiri terabaikan. Siang malam hidupnya diabdikan untuk menekuni ketaatan tapi tanggung jawabnya kepada sesama tak kunjung ditunaikan.

Aku juga heran dengan mereka yang sibuk bekerja, sedemikian sibuknya hingga urusan ibadah terlupakan. Segala rutinitas dijalani tanpa tahu untuk apa semua pekerjaannya itu dilakukan? Bukankah ketika mati, semua harta benda akan tertinggal di dunia? Bukankah ketika mati, yang tersisa hanya “diri kita yang sejati”?

Kehidupan akhirat adalah kehidupan yang kekal dan niscaya. Akan tetapi, bagaimana keadaan kita di sana sangat ditentukan oleh bagaimana kita bersikap dan berperilaku selama hidup di dunia yang sementara ini.

Urusan dunia dan akhirat tidak bisa dimaknai secara parsial. Keduanya merupakan satu kesatuan—sebuah kausalitas yang sempurna di mana setiap manusia akan diberi ganjaran secara adil pada Hari Akhir.

Seorang bertanya, manakah yang lebih baik: mereka yang rajin beribadah tapi juga rajin menyakiti sesama, atau mereka yang jarang beribadah tapi baik budi pekertinya?

Bagiku, keduanya bukan pembandingan. Sama-sama bukan pilihan yang rasional karena menurutku, esensi dari kehidupan ini akan selalu terhubung dengan realitas di akhirat kelak. Apa yang kita “tanam” di dunia, akan kita “tuai” di akhirat. Sesederhana itu.

Orang yang gemar berjudi akan mendapat ganjarannya. Orang yang gemar bersedekah, akan mendapat ganjarannya. Orang yang gemar mencuri, akan mendapat ganjarannya. Pun orang yang gemar belajar akan menerima ganjarannya. Setiap laku hidup manusia akan selalu mendatangkan ganjaran yang kadarnya hanya bisa ditentukan oleh Yang Maha Adil.

Yang merasa sudah taat, jangan lantas besar kepala, merasa dirinya paling suci seakan sudah beroleh tiket surga. Bukankah mereka yang sombong—meski hanya sedikit–tidak akan masuk surga?

Yang merasa banyak maksiat, jangan lantas berhenti bertaubat. Jangan lantas berputus asa mengejar rahmat. Selama liang lahat belum “terlihat”, teruslah memperbaiki diri sepanjang hayat.

Karena begitulah, kehidupan di dunia ini harus selalu kita maknai keberadaannya. Bukan sekedar dijalani tanpa arti, melainkan dijalani dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Bahwa segala yang kita “tanam” di dunia akan kita “tuai” di ahirat. Bahwa setiap diri, akan mendapat ganjaran atas setiap perbuatannya. Dan karena diri ini “sejatinya” adalah milik Tuhan, maka kepada-Nya-lah kita akan kembali juga.[]

December 01, 2019Benny Prastawa

Friday, November 1, 2019

Time(care)less



Hakikat Waktu
Pada dasarnya, manusia adalah makhluk fana yang keberadaannya ditentukan oleh dimensi ruang dan waktu. Berbicara soal waktu, tentu saja berbicara soal roda kehidupan itu sendiri. Karena itu, mengingat dan merenungi hakikat waktu adalah kunci memaknai kehidupan ini.

Hidup manusia bergantung pada penggunaan waktunya. Kehidupan manusia berawal dari waktu nol (t = 0) dan akan terus berputar hingga berakhir pada saat kematian menjelang. Jadi, waktu hidup kita dijatah oleh Yang Memiliki Waktu. Tidak ada seorang pun yang bisa lolos ketika waktunya tiba.

Manusia tidak bisa menghentikan waktu. Kita tidak bisa membuat satu jam berlalu lebih cepat dibanding semenit. Bahkan kira tidak bisa mengembalikan waktu sedetik yang baru saja berlalu. Akan tetapi, semesta mengizinkan kita untuk memanfaatkan waktu yang ada, baik untuk hal-hal yang berguna maupun yang sia-sia.

Seperti halnya udara, tanah, dan air, waktu memiliki entitasnya sendiri. Jika manusia dan tetumbuhan membutuhkan oksigen untuk hidup, waktu tidak membutuhkan zat penopang lain untuk eksis. Dalam kondisi apapun, waktu akan terus berputar, bergerak, berderak, menghisap setiap peradaban dan dimensi zaman yang dibangun manusia.

Waktu menelan peradaban Mesir kuno, menenggelamkan Firaun dan kaum Nuh, menyebarkan Islam hingga berjaya berabad-abad, membawa Eropa pada renaissance, menciptakan mesin terbang, menemukan gelombang radio dan telepon, membantai jutaan Yahudi di hollocaust tragedy, meluluh-lantakkan Hiroshima-Nagasaki, membawa Neil Armstrong ke bulan, memulai revolusi industri, menghadirkan komputer, dan menciptakan internet dalam dinamika peradaban modern yang terus berpacu dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence).

Itulah kehebatan waktu yang selalu bergerak maju tanpa bisa dihentikan oleh apapun. Waktu selalu membawa efek perubahan sosial budaya dalam masyarakat, baik melalui penemuan, peperangan, alih fungsi lahan, teknologi, perpindahan kekuasaan, maupun bencana alam.


Waktu dan Kualitas Diri
Jika kalian ingin tahu kualitas diri seseorang, lihatlah dari bagaimana caranya memanfaatkan waktu.

Seorang yang rajin selalu berkata, "Waktu yang tepat untuk bertindak adalah SEKARANG." Dimensi waktu bagi mereka adalah saat ini. Tidak ada istilah MENUNDA bagi orang-orang rajin. Setiap tugas dan pekerjaan yang datang akan segera diselesaikannya. Tidak ada kata nanti, untuk apa-apa yang bisa diselesaikan saat ini.

Sementara seorang yang malas selalu berkata, "Ah...itu gampang, bisa diurus NANTI." Dimensi waktu bagi mereka adalah nanti. Tidak ada ukuran waktu yang jelas untuk memaknai kata nanti. Bisa jadi segera, bisa jadi lama. Para pemalas selalu lekat dengan aktivitas MENUNDA PEKERJAAN. Setiap tugas dan pekerjaan yang datang tidak selalu langsung dikerjakan, alih-alih disepelekan, dibiarkan menumpuk hingga membuat mereka kelimpungan sendiri merampungkanya esok hari.

Tinggal jalan mana yang akan kita pilih. Apakah jalan orang rajin atau jalan orang pemalas. Yang jelas, waktu tidak akan pernah berkompromi pada siapapun. Waktu akam terus bergulir, tak peduli jika semua manusia memintanya berhenti. Tidak ada sedetik pun waktu yang bisa kita kembalikan.

Ada satu jenis waktu yang sering membuat kita lalai karena eksistensinya yang begitu samar dan halus, yakni waktu LUANG. Ketika semua pekerjaan sudah diselesaikan, beban-beban kewajiban sudah berguguran, akan tiba saatnya waktu luang.

Waktu luang adalah jebakan waktu yang membelit kita seperti hutang rentenir. Semakin banyak waktu luang yang kita miliki, semakin banyak tagihan yang harus kita bayarkan di masa depan.


Waktu Luang Masa Muda
Masa muda adalah masa di mana kita memiliki begitu banyak waktu luang. Ketika tanggung jawab mencari nafkah belum hadir, ketika rutinitas kantor belum membelit, dan selama kewajiban mengurus anak-suami/istri belum tiba, maka ada banyak waktu luang yang bisa dimanfaatkan.

Sayangnya, masa muda adalah masa yang melenakan. Ketika fisik, stamina, dan kreativitas sedang bagus-bagusnya, banyak anak muda yang memilih menghabiskan masa mudanya untuk kesenangan sesaat tanpa makna, seperti nongkrong, pacaran, main game, ngobrol/chat, dan travelling suka-suka.

Semua itu dilakukan hanya demi menyenangkan keinginan indrawi semata dengan motivasi "umur panjang", karena bagi anak muda, kemudaannya adalah anugerah melenakan yang mendorong mereka untuk tidak mengkhawatirkan batas usia dan menganggap dirinya "immortal".

Saat masa muda yang memuat banyak sekali waktu luang itu tidak dimanfaatkan, maka sangat mungkin kehidupan mereka akan lebih sulit di masa depan.

Pengecualian ada jika kita bisa memanfaatkan waktu luang untuk berkegiatan positif. Waktu luang bisa diubah menjadi keuntungan jika kita "menghidupkan" waktu melalui kegiatan-kegiatan positif nan bermanfaat. Bukan malah menyibukkan diri dalam kubangan aktivitas nihil manfaat dengan dalih "membunuh waktu".

Karena waktu memang tidak bisa dibunuh. Tugas kita hanya melanjutkan segmen kehidupan di dunia ini dengan sebaik-baiknya, dengan jatah waktu yang kita miliki.[]

#backDate
November 01, 2019Benny Prastawa

Wednesday, September 25, 2019

Tentang Tujuan Saya Membuat Blog Ini



Sejak awal tujuan saya ngeblog adalah untuk menjaga kadar kewarasan nalar saya. Memang ada masa-masa di mana saya terbesit untuk ngeblog demi popularitas, demi traffic, demi mengatrol jumlah pageviews, sampai berharap bisa lolos adsense. Tapi semua itu mentah. Dengan motivasi yang muluk-muluk seperti itu, saya malah mandeg, dan sulit sekali menelurkan artikel di blog.

Blog pertama yang saya garap serius adalah buah pelarian saya dari tekanan skripsi yang tak kunjung kelar. Lewat blog itu, saya tumpahkan semua uneg-uneg yang berjejalan di otak. Saya bebaskan jari saya mengetik apapun yang mengganjal benak, sambil terus menyemangati diri agar tidak menyerah menghadapi ujian hidup.

Saya menulis topik apapun, tentang sekolah, tentang masa kecil, tentang agama, tentang pilihan hidup, sampai masalah psikis gara-gara skripsi. Dengan cara itu, saya lebih mudah menelurkan tulisan, meski dengan tata bahasa yang lumayan semrawut. Blog pertama saya pun tidak jelas juntrungnya karena tidak membahas satu topik secara spesifik. Gado-gado, dan (harus diakui) kurang enak dibaca karena kualitas tulisan yang asal jadi, ecek-ecek, dan penuh typo di mana-mana.

Meski begitu, berkat blog tersebut saya berhasil mengurai sebagian beban psikis dan menangkal perasaan tertekan karena rasa cemas dan takut. Dalam hal ini, saya tidak main-main. Menulis adalah cara paling ampuh untuk mengurangi masalah psikis. Bahkan mendiang B.J. Habibie pun pernah menulis hanya untuk meredakan kesedihannya setelah istrinya meninggal dunia.

.   .   .

Jadi, konyol sekali jika ada yang berpikir saya ngeblog demi mencari teman baru apalagi sampai mencari kenalan perempuan. Demi Tuhan, saya sudah memiliki seorang putra dan satu-satunya yang saya pikirkan sekarang adalah apa yang akan saya wariskan padanya setelah saya meninggal nanti. Memikirkan itu saja saya sudah pusing, boro-boro menulis di blog hanya demi tujuan receh, seperti mencari kenalan perempuan.

Karena itu, seiring bertambahnya usia, saya harus sadar diri. Jatah hidup di dunia ini tidaklah lama, apalagi setelah dikurangi 8 jam per hari hanya untuk istirahat (tidur). Malang sekali jika ketika saya meninggal, putra saya hanya menghadiri upacara pemakaman, berkirim doa, tahlilan, lalu habis perkara. Malang sekali jika yang tersisa sepeninggal saya hanya kumpulan foto dan video keluarga yang boleh jadi hanya akan menambah duka ketika dibuka. Saya ingin orang tahu (terutama putra saya) tentang sejarah dan idealisme hidup yang ingin saya wujudkan dalam hidup ini.

Saya juga ingin putra saya memahami pemikiran saya, sedemikian hingga dia menyadari apa yang saya harapkan darinya dan bagaimana dia akan mandiri dalam menghadapi permasalahan hidupnya sendiri secara bijaksana.

Jasad saya boleh jadi sudah membusuk di tanah, tapi pemikiran saya bisa tetap dibaca oleh putra saya yang akan hidup di era serba digital. Karena saya bukan penulis yang bisa produktif menerbitkan buku, menulis di blog adalah cara termudah untuk mendokumentasikan ide tanpa khawatir ditolak editor. Dan karena tulisan tangan saya boleh jadi malas terbaca dan rentan rusak, menulis di blog adalah alternatif terbaik untuk menjaga tulisan saya tetap eksis selama Google tidak menutup blogger.com

Meski terdengar idealis, saya berharap catatan ini bisa mengklarifikasi segala bentuk prasangka dan fitnah tentang tujuan saya membuat blog.[]