Sunday, February 23, 2020

Belajar Bersikap Bodo Amat


Belajar bersikap bodo amat itu penting. Apalagi jika kalian tinggal di lingkungan sosial dengan adat ketimuran yang ketat—seperti Indonesia, misalnya. Di sini, kalian bisa merasakan sendiri, betapa permisifnya masyarakat terhadap beberapa perilaku sosial yang mengesalkan.

Misalnya, ngomongin orang di belakang, bergosip, nyinyir, sebar isu, sirik (sejenis dengki tapi bukan "syirik"), dan sikap sok pamer. Meski banyak yang tidak senang, tapi sikap dan perilaku semacam itu dianggap sebagai hal yang lumrah.

Jika kamu, laki-laki misalnya, tapi menganggur dan luntang-luntung tidak jelas, kamu bisa digunjingkan macam-macam oleh tetangga. Atau jika kamu, perempuan misalnya, tapi sering pulang kerja sampai larut malam, kamu sangat mungkin digosipkan sebagai perempuan "nakal".

Realita lain yang masih sering terjadi, misalnya kalian menikah, kemudian hamil. Bukannya ikut berbahagia, tapi malah adaaa...saja bisik-bisik miring yang mempertanyakan kehamilan itu. Ada yang malah sampai menghitung jarak waktu pernikahan sampai kehamilan, untuk digunjingkan dengan banyak purbasangka—hamil duluan-lah, anak haram-lah, hasil zina-lah, dan semacamnya.

Atau ketika ada orang yang lolos pegawai negeri (CPNS). Adaaa...saja yang nyinyir menyebar isu kalau orang itu curang, main sogok, atau karena minta bantuan "orang dalam". Padahal kenyataannya orang tadi betul-betul lolos karena usahanya sendiri.

Lebih jengkel lagi kalau kalian menjadi orang kaya. Sebagian tetangga yang iri bisa saja menyebar gosip kalau kekayaan kalian tidak halal, hasil korupsi, hasil tindak kriminal, sampai tuduhan memlihara tuyul (pesugihan). Jika kalian membangun kekayaan dari nol, dari hasil kerja keras dan hidup prihatin bertahun-tahun, tentu saja kalian akan nyeseg mendengar tuduhan ngawur seperti itu.

Pada titik ini, kita harus menguasai ilmu tentang bagaimana bersikap bodo amat agar hidup kita tidak terusik dengan segala perilaku sosial yang mengganggu tadi. Kita harus paham bagaimana "menutup telinga" dari segala nyinyiran, gosip, fitnah, atau ujaran kebencian, agar hidup kita tetap stabil dan urusan-urusan pribadi kita tidak ambyar berantakan.

Kita hanya memiliki dua tangan dan satu mulut. Kita tidak mungkin memakai dua tangan kita untuk menutup rapat mulut-mulut nyinyir tetangga atau teman kita. Kita juga tidak mungkin meladeni semua omong kosong gosip yang berhembus dari lidah orang-orang yang iri pada kita.

Yang bisa kita lakukan adalah mengendalikan otak kita. Kita masih mungkin membatasi akses informasi yang masuk ke pikiran kita. Kita harus bijak memilah "ocehan" dari luar, mana yang penting untuk dipikirkan dan mana yang harus diabaikan saja (bodo amat).

Kita berhak memiliki ruang ketenteraman bagi diri kita sendiri. Kita harus tahu bagaimana menciptakan "ruang kenyamanan" bagi kita—betapapun orang-orang di sekitar ngoceh ngawur tentang kita. Untuk itulah, belajar bersikap bodo amat itu penting sekali agar kita bisa survive dalam lingkungan sosial yang doyan nyinyir dan gosip tadi.

Dalam hal ini, sikap bodo amat jangan disamakan dengan sikap apatis, anti sosial, dan tidak mau bergaul dengan tetangga. Sikap bodo amat di sini lebih menekankan pada pola pikir (mindset) kita untuk memilah informasi dari luar—mana yang penting dan mana yang harus diabaikan (di-cuek-kan).

Seperti yang kita tahu, kemampuan otak kita terbatas. Manusia tidak bisa memikirkan dua hal sekaligus dalam waktu bersamaan. Jika kita sering menerima perilaku sosial yang menyebalkan dari orang lain (di-nyinyir, digosipkan, digunjingkan,dll) lalu kita memasukkan semua ocehan itu dalam benak kita, maka otak kita bisa "meledak" (kacau sekacau-kacaunya). Secara psikis, hal itu juga bisa menekan kita sehingga kita menjadi merasa tidak nyaman.

Selain pola pikir, sikap bodo amat juga terkait dengan respon kita, bagaimana menghadapi perilaku orang lain yang toxic, seperti tukang gosip dan nyinyir. Dalam hal ini, kita bisa memilih untuk membalas perilaku mereka dengan perilaku yang sama. Jika kita di-nyinyir, kita balas me-nyinyir. Jika kita difitnah, kita balas memfitnah. Jika kita digunjingkan, kita balas menggunjing. Ringkasnya, mata dibalas mata. Impas.

Tapi menurut saya, respon seperti itu tidak sepenuhnya efektif—dan cenderung menimbulkan dampak laten yang boleh jadi malah membuat situasi semakin rumit. Jika kita membalas semua perilaku sosial negatif orang-orang, lalu apa bedanya kita dengan mereka? Jika kita membalas nyinyiran dengan nyinyiran, bukankah kita sama saja dengan mereka yang nyinyir?

Lagipula, jika yang kita hadapi adalah orang yang sejak awal tabiatnya bermasalah (tukang nyinyir, misalnya), maka usaha kita membalas segala nyinyirannya jelas sia-sia. Orang seperti itu tidak akan kapok walau kita balas dengan perilaku serupa. Jangan harap bisa mengubah tabiat seseorang hanya dengan membalas perilaku menyebalkannya.

Di sinilah pentingnya kita bijak bersikap bodo amat. Sikap bodo amat memungkinkan kita mengambil jarak terhadap mereka yang perilaku sosialnya menyebalkan. Sikap bodo amat juga memberi "ruang kenyamanan pribadi" yang mencegah kita dari stres dan tekanan psikis lainnya.

Memang ada sebagian masalah yang perlu kita respon dengan membalas sikap itu. Tapi kita juga perlu mempertimbangkan aspek untung ruginya—apakah dengan membalas, kondisi kita menjadi lebih baik dan lebih nyaman? Atau malah hubungan sosial kitalah yang semakin rusak.

Karena boleh jadi, ada lebih banyak gosip, gunjingan, rasa sirik, dan celoteh nyinyir orang-orang yang cukup kita respon dengan sikap bodo amat. Dan begitulah, kita belajar untuk menjadi pribadi yang lebih dewasa dan bijak dalam menyikapi keadaan.[]


February 23, 2020Benny Prastawa

Friday, February 21, 2020

Jangan Salah Memaknai Ungkapan ' Kegagalan adalah Keberhasilan yang Tertunda '



Seringkali orang datang, menghibur mereka yang "gagal" dengan kalimat, "Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda…"

Ya, benar, tertunda. Hanya karena belum waktunya saja. Tapi bagaimana jika kegagalan itu berulang kali kita alami? Bagaimana jika seiring waktu berjalan, kegagalan masih terus kita alami? Sampai-sampai pada satu titik, boleh jadi kita berburuk sangka, jangan-jangan kita ditakdirkan untuk selalu gagal.

Karena itu, ungkapan "kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda" adalah kalimat yang belum selesai. Kalimat itu mensyaratkan faktor lain yang akan mempengaruhi nasib orang yang gagal itu selanjutnya. Faktor itu adalah kemauan untuk belajar dari kegagalan dan mentalitas untuk tidak berputus asa.

Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Ya, tertunda bagi mereka yang terus-menerus menyesal dan tidak mau belajar dari kegagalan itu. Bukankah menjalani hari dengan penyesalan masa lalu tidak pernah mengenakkan?

Mengapa tidak memaksakan diri untuk mempelajari sebab-sebab kegagalan kemarin, kemudian menyibukkan diri dengan aktivitas belajar agar kegagalan yang sama tidak terulang lagi? Tidak pernah rugi orang yang mau terus belajar. Karena dengan belajar, peluang terulangnya kegagalan akan mengecil dengan sendirinya.

Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Ya, tertunda bagi mereka yang memilih untuk diam berputus asa setelah mengalami kegagalan, alih-alih bersikap tegar dan bangkit menatap peluang masa depan. Karena bagi mereka yang berputus asa, tidak akan ada solusi masalah yang diperoleh. Bahkan setan pun enggan menggoda manusia yang terus berputus asa. Karena keputusasaan itu sendiri sudah cukup untuk menghancurkan kehidupan seseorang.

Memiliki harapan itu penting. Orang hidup harus terus memiliki harapan betapapun sulitnya kehidupan yang dijalaninya sekarang. Para filsuf mengatakan, "harapan adalah kekuatan terbesar manusia…" Ya,karena dengan harapan, kita bisa memiliki keyakinan akan hari esok. Dengan harapan, kita selalu punya alasan untuk terus melanjutkan hidup.

Kegagalan adalah satu hal. Tapi bagaimana sikap dan usaha kita setelah gagal, jauh lebih penting untuk dipikirkan. Kegagalan memang bisa disebabkan oleh kesialan, atau karena ketidakberuntungan nasib. Kegagalan juga bisa disebabkan karena kurangnya upaya dan kerja keras orang itu sendiri.

Akan tetapi, selama mereka yang gagal memilih untuk tidak berputus asa dan mau belajar dari kegagalan, maka kemungkinan mereka meraih pintu keberhasilan di masa depan akan terbuka lebar.

Begitulah roda kehidupan ini berputar. Kegagalan dan keberhasilan dipergilirkan semesta pada manusia dengan kadarnya masing-masing. Tugas kita sebatas pada jalannya rencana, upaya, dan ikhtiar. Sadari bahwa kita ini "lemah". Sadari, bahwa ada Dzat Tak Terlihat yang Maha Berkuasa mengatur putaran roda kehidupan kita.. Karena hanya Dia-lah yang semestinya kita jadikan tempat berharap.[]
February 21, 2020Benny Prastawa

Wednesday, February 19, 2020

Ramai-Ramai Menghakimi Mario Teguh



Tanggal 7 September 2016 lalu, seorang pemuda misterius berusia sekitar 30-an tahun diundang di acara Hitam Putih. Dengan kacamata berbingkai tebal yang menggantung di hidungnya, orang-orang mungkin akan berpikir pemuda itu adalah sosok inspiratif yang akan berbagi cerita motivasi tentang kehidupannya—bagaimana ia melalui pahit getirnya hidup sebelum akhirnya menuai gemilang kesuksesan. Persis seperti halnya tamu-tamu lain yang biasa diundang di acara Hitam Putih.

Tak dinyana, pemuda tersebut membuat gempar para penonton dengan pengakuan kontroversialnya, “Saya anak Mario Teguh...” 

“(Mario Teguh) yang botak kepalanya?” tanya Deddy Corbuzier (nama presenter acaranya).

Ya...tapi nggak sebotak Mas Deddy. Iya Benar,” jawab pemuda itu setengah bercanda.

Berarti Anda anak Mario Teguh?” tanya Deddy lagi.

Ya benar, saya anak Mario Teguh. Sumpah, demi apapun saya siap,” tegas pemuda itu.

Anda tidak diakui oleh dia?” Deddy bertanya penuh selidik.

Kelihatannya begitu,” jawab pemuda itu.

Deg! Jawaban pemuda bernama Ario Kiswinar itu membuat para penonton terkejut. Untuk meyakinkan penonton, ia menunjukkan foto-foto masa kecil bersama Mario Teguh, akta kelahiran, kartu keluarga dan salinan akta nikah orang tuanya. Menit-menit selanjutnya, Ario membeberkan banyak fakta dan pengakuan-pengakuan lain yang tidak kalah kontroversial tentang hubungan dirinya, keluarganya, dan Mario Teguh.

Selain tidak mengakuinya sebagai anak, Ario juga mengungkapkan bagaimana “jahatnya” Mario Teguh karena tidak sudi memberinya nafkah sebagai ayah kandung. Ario juga menambahkan dirinya pernah ditelantarkan Mario Teguh saat meminta bantuan biaya kuliah yang mirisnya tidak dipenuhi oleh Mario Teguh.

Pengakuan Ario Kiswinar di acara Hitam Putih itu berbuntut panjang. Pihak Mario Teguh tidak terima dengan pernyataan sepihak Ario dan cerita pengakuannya. Penanggung jawab acara Hitam Putih juga turut disalahkan karena telah menyiarkan tayangan langsung (live) tanpa persetujuan pihak ketiga yang tercatut di dalamnya (Mario Teguh). Kasus ini pun dibawa ke ranah meja hijau. Dan seperti biasa, media massa kita ramai-ramai meliput kasus ini seperti sekawanan burung nazar yang mengerumuni onggokan “bangkai”.

Melihat jalannya kasus ini, tidak heran jika publik terkejut. Selama ini, publik mengenal Mario Teguh sebagai sosok motivator yang tidak pernah terkena gosip macam-macam. Publik (terutama yang rutin mengikuti fans page MarioTeguh) tentu tahu kalau Mario Teguh hanya memiliki seorang istri bernama Ibu Lina serta dua orang anak, Audrey dan Marco. Jika dilihat dari timeline-nya, Mario Teguh senantiasa mencitrakan kehidupan keluarganya yang serba bahagia, sarat pembelajaran dan bisa menjadi teladan bagi keluarga lain yang ingin hidup damai.

Sementara di layar kaca, Mario Teguh sudah lebih dari satu dekade membawakan acara bertajuk “Golden Ways”—sebuah acara talkshow yang sarat motivasi, kata-kata mutiara, dan pesan nasihat bagi para pemirsanya. Dengan segala reputasi positifnya, pengakuan Ario Kiswinar di acara Hitam Putih tadi seakan telah menjungkalkan arus opini publik tentang sosok Mario Teguh.

Saat isu-isu miring semakin kencang beredar, Mario Teguh diwawancarai secara eksklusif oleh KompasTV. Kesempatan wawancara itu pun dimanfaatkan Mario Teguh untuk meluruskan isu-isu miring yang beredar. Dalam wawancara tersebut, Mario Teguh mengakui bahwa Ario Kiswinar memang anak sahnya berdasarkan akta kelahiran—hasil pernikahannya dengan Bu Ariyani, istri Mario Teguh sebelumnya.

Mario Teguh mengkonfirmasi adanya masalah pelik di dalam keluarganya dulu, di mana Mario Teguh mencemburui seorang lelaki yang dianggap telah berselingkuh dengan istrinya. Mario Teguh hanya menyebut lelaki itu dengan samaran “Mr. X”—mengingat status Mr.X sebagai seorang yang terpandang dan cukup berkuasa pada masa itu. Begitu Ario Kiswinar lahir, terdapat banyak purbasangka soal status anak laki-laki tersebut—apakah ia adalah anak kandung Mario Teguh atau bukan. Masalah tersebut menyebabkan hancurnya bangunan kepercayaan dalam biduk rumah tangga Mario Teguh. Ia dan istrinya pun bercerai. 

Mario Teguh juga menuturkan, ketika Ario berusia 17 tahun, ia pernah meminta Ario untuk melakukan tes DNA. Akan tetapi, permintaan Mario Teguh itu ditolak mantan istrinya. Sehingga status Ario Kisiwnar pun dibiarkan tetap abu-abu. Tidak jelas, apakah dia anak kandung Mario Teguh atau bukan.

Bertahun-tahun kemudian, Ario Kiswinar yang telah beranjak dewasa, mendadak muncul di televisi dan membuat pengakuan mengejutkan. Sayangnya, sebagian besar isi pengakuan Ario bertolak belakang dengan pernyataan Mario Teguh yang disiarkan KompasTV sebelumnya. Publik pun terbelah menjadi pihak pro dan kontra dalam menilai kasus ini.

Pihak yang pro menilai Mario Teguh sedang difitnah dan “dibunuh” karakternya oleh seseorang yang mendaku sebagai anaknya. Pihak yang kontra menilai Mario Teguh sudah melakukan “kejahatan” dengan tidak mengakui Ario Kiswinar sebagai anak kandungnya. Di sisi lain, kuasa hukum Mario Teguh dan Ario Kiswinar saling melempar opini yang memperkeruh situasi demi memenangkan kliennya masing-masing.

Demi mengakhiri perdebatan yang terjadi, Mario Teguh dan Ario Kiswinar sepakat untuk melakukan tes DNA. Tes DNA adalah salah satu sarana untuk mengetahui kecocokan genealogis yang bisa menunjukkan hubungan orangtua dan anak kandung. Dari hasil tes DNA tersebut, Ario Kiswinar terbukti sahih sebagai anak kandung Mario Teguh.

Pihak Ario Kiswinar pun segera menuntut Mario Teguh dengan tuduhan pencemaran nama baik dan meminta Mario Teguh untuk membuat permohonan maaf langsung kepada publik. Menurut pihak Ario, Mario Teguh dinilai bersalah karena tidak mengakuinya sebagai anak dan mencemarkan nama baik ibunya (istri Mario Teguh sebelumnya) yang dituduh berselingkuh dengan sosok Mr. X.

Hasil tes DNA tersebut juga membuat publik kian meyakini Mario Teguh adalah pihak yang bersalah. Publik pun mendesak Mario Teguh agar segera membuat pernyataan dan menyelesaikan segala tuduhan yang ada. Kuasa hukum Mario Teguh dan Ario Kiswinar masih terus melempar opini pada media. Namun, entah kenapa kasus ini dibiarkan berlarut-larut di kepolisian. Lebih dari setahun kasus ini diurus, tapi tidak pernah ada kejelasan baik dari pihak Mario Teguh maupun Ario Kiswinar tentang ke mana kasus ini bermuara. Per Agustus 2017, polisi pun menutup kasus ini karena tidak adanya cukup bukti.

*   * *

Secara pribadi, kasus ini mengusik saya karena banyaknya plothole dan adanya penggiringan opini yang mendiskreditkan Mario Teguh. Sebelum tes DNA itu dilakukan, Mario Teguh menyatakan bahwa Ario Kiswinar adalah anak kandungnya berdasarkan akta kelahiran. Tidak ada pernyataan Mario teguh yang berisi sangkalan terhadap status Ario Kiswinar.

Ketika Mario Teguh menjelaskan tentang masalah rumah tangganya dan membawa-bawa sosok Mr. X., hal itu bisa dipahami sebagai upaya untuk memperjelas situasi yang sebenarnya terjadi berdasarkan perspektifnya. Bukan untuk menyudutkan Ario Kiswinar atau mencemarkan nama baik Bu Aryani sebagai istri Mario Teguh sebelumnya (walau kebenarannya hanya Mario Teguh yang tahu). Mario Teguh juga sudah aktif mengklarifikasi segala bentuk isu-isu miring yang beredar melalui fanspage-nya.

Tapi setelah tes DNA keluar, entah bagaimana pemberitaan media berbelok tajam. Mario Teguh mendadak dipersepsikan sebagai pihak yang “jahat” karena tidak mengakui anak kandung dan mencemarkan nama baik mantan istrinya. Publik yang tadinya berada di pihak pro, berubah halauan menjadi pihak yang kontra, lalu ramai-ramai nyinyir dan menghujat Mario Teguh.

Pemberitaan media memang tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Apalagi dalam dunia infotainment di mana gosip yang menimpa public figure ternama adalah “ladang bisnis” yang menggiurkan. Dan kita (masyarakat), sebagai konsumen media merasa baik-baik saja menelan mentah-mentah semua pemberitaan media betapapun isi berita tidak cover both side. 

Di era digital seperti sekarang, arus informasi beredar tanpa batas. Tidak ada lagi sekat bagi pertukaran informasi antarindividu maupun antarnegara. Hadirnya internet mempermudah kita untuk mengakses informasi yang kita butuhkan, baik informasi yang positif maupun negatif, baik informasi yang valid maupun yang hoaks.

Dalam hal ini, mau tak mau, kitalah yang harus cerdas dalam memilah informasi karena kitalah konsumen informasi tersebut. Jika kita mudah mempercayai sebuah informasi tanpa menyaring dan mengklarifikasinya, maka kita akan mudah terombang-ambing dalam lautan informasi yang malah membingungkan. Kita akan semakin jauh menemukan kebenaran alih-alih sering merasa paling benar.

Ketika diri ini merasa paling benar, merasa paling banyak memiliki informasi, maka yang terjadi selanjutnya hanya perdebatan-perdebatan sia-sia yang tidak jelas juntrung manfaatnya—apakah yang diperdebatkan ini penting atau tidak.

Persis seperti kasus Mario Teguh dan Ario Kiswinar tadi. Dalam perspektif saya, kejelasan kasus mereka berada di ranah abu-abu. Hanya mereka sendirilah yang paling tahu fakta yang sebenarnya. Hanya Mario Teguh dan Ario Kiswinarlah yang paling tahu tentang duduk perkara yang sebenarnya. Titik! 

Dan karena kasus ini menyangkut masalah keluarga, maka semestinya kasus Mario Teguh dan Ario Kiswinar harus dibicarakan di lingkaran internal keluarga besar mereka sendiri. Tidak perlu sampai dicuatkan ke ranah publik hingga memicu kegaduhan perdebatan yang tidak ada habis-habisnya.

Lagipula, apa sih manfaatnya kalau kita tahu Mario Teguh pernah punya anak dari pernikahannys sebelumnya? Seberapa penting kita tahu aib-aib Mario Teguh? Apakah kita sudah sedemikian muak dengan kata-kata bijak Mario Teguh? Apakah kita terlalu iri melihat kesuksesannya sebagai motivator? Apakah kita sebal melihat sosok Mario Teguh yang mungkin di mata kita terlihat “sok suci”?

Saya tidak sedang memihak Mario Teguh maupun Ario Kiswinar. Sejak awal kasus ini bergulir, tidak pernah ada kejelasan mana yang fakta dan mana yang opini media. Sekali lagi, dalam kasus ini, hanya Mario Teguh dan Ario Kiswinarlah yang paling tahu. Saya hanya sedang menegaskan pentingnya kita menjadi konsumen media yang cerdas. Jangan mudah tergiring opini media betapapun banyaknya media yang mengatakan hal serupa. Selalu klarifikasi segala informasi yang kita peroleh baik dari media massa, internet, atau siapapun.

Karena pada dasarnya segala kasus, peristiwa, atau fenomena yang terjadi di masyarakat dapat dilihat dan dinilai dari berbagai sudut pandang. Terkadang nilai kebenaran suatu hal bisa jadi sangat subjektif—tergantung dari sudut pandang mana yang diambil. Alangkah bijaknya jika sebelum menilai kebenaran informasi, terlebih dahulu kita tanyakan aspek kebermanfaatan informasi itu. Lucu sekali jika kita ramai berdebat hanya karena merasa benar pada suatu hal, sementara apa yang kita debatkan itu sama sekali tidak memberi manfaat bagi diri kita maupun orang lain.

Beruntungnya kita karena Tuhan hanya memberi kita satu mulut agar kita belajar untuk tidak banyak ngoceh dan berdebat. Alih-alih Tuhan memberi kita dua telinga agar kita lebih banyak mendengar dan berpikir dulu sebelum berbicara.[]




February 19, 2020Benny Prastawa

Sunday, February 2, 2020

Lelaki Putus Asa yang Menelpon Mario Teguh







Rrr....rrrr...

Sesi telepon interaktif dengan pemirsa dimulai. Terdengar dengung suara telepon masuk ke studio. Samar-samar, seorang lelaki paruh baya menyapa pelan.

Sudah sepuluh tahun nasib saya tidak berubah, Pak......

Hening. Penonton di studio senyap, terbius suara berat lelaki yang tengah menelpon.

Saya tidak tahu lagi harus melakukan apa untuk mengubah keadaan ini. Hingga pada satu titik...”—lanjut lelaki itu—“saya berpikir Tuhan itu tidak ada...

Tolong, berikan saya pencerahan, Pak, di mana Tuhan itu? Dan jika Bapak bisa membantu saya, apa yang harus saya lakukan...?

*   *   *

Suara lelaki penelpon itu berhenti. Rentetan pertanyaan yang disampaikan dengan sentimentil itu menyisakan tanda tanya yang canggung pada seluruh penonton di studio–termasuk (mungkin) Mario Teguh. Sejenak, Mario Teguh terdiam, merenung, kemudian mencoba menjawab penelpon tersebut.

“Bapak tidak mungkin tidak disayang Tuhan, jika dari sekian banyak orang yang mencoba menelpon kemari, suara Bapaklah yang diterima masuk. Itu saja tanda bahwa Bapak dengan suara hati yang tulus tadi bertanya ‘apakah Tuhan itu ada dan di mana Tuhan’ telah dijawab dengan diizinkannya suara Bapak didengar oleh dua juta hati Indonesia (yang sedang menonton acara ini).”

“Tuhan itu, sebetulnya, Pak tampil sangat jelas bagi mereka yang ‘tidak mempercayai-Nya’. Tapi bagi mereka yang sudah yakin, Tuhan tampil seperti ‘tidak ada’. Seakan-akan harus kita semua yang menentukan (segala urusan).”

“Pak, apakah Bapak berdoa pada saat gembira atau hanya waktu bersedih? Orang yang berdoa hanya waktu sedih, akan ‘ditambah kesedihannya’ oleh Tuhan. Karena bagi Tuhan, kesedihan itu tidak apa-apa (karena justru bisa mendekatkan hamba dengan Tuhan-nya melalui doa). Karena suara terindah yang Tuhan ‘dengar’ adalah doa. Jangan buat Tuhan merindukan suara Anda (doa) hanya ketika Anda sedang bersedih (saja)”.

“Syukuri, renungkan setiap kebaikan-kebaikan di sekitar kita, seperti kenyataan bahwa ada seseorang yang mau menerima Bapak dan bersedia menua bersama sebagai istri itu. Apa harapan hidupnya, jika suami yang gagah perkasa, yang disandarinya sebagai suami itu terdiam berputus asa?”

“Jadi bagaimana jika mulai sekarang Bapak merayakan hal-hal kecil yang selama ini Bapak sepelekan...”

Nafas... Bapak bernafas lebih bebas daripada mereka yang di ICU sana, yang membayar jutaan hanya untuk bernafas”.

Mata... berapa banyak orang yang harus membayar milyaran, hanya untuk melihat apa yang sekarang Bapak lihat?”

“Jadi bagaimana jika mulai sekarang kita mensyukuri hal-hal yang selama ini kurang kita syukuri. Rayakanlah setiap kemenangan-kemenangan kecil dalam hidup seperti ketika melihat anak pulang sekolah, “Terima kasih, Tuhan, Engkau izinkan aku punya anak—karena banyak orang kaya-raya tidak punya anak.”

“Biasakan berdoa dalam kegembiraan agar Tuhan “tersemangati” untuk turut serta membantu memberkati kehidupan kita” pungkas Mario Teguh.[]


===========
*Disarikan dari sesi telepon interaktif acara Mario Teguh Golden Ways episode “Who am I?” dengan penggubahan dialog secukupnya.

February 02, 2020Benny Prastawa

Sunday, January 26, 2020

Bakso Terabal Sejagad

Suatu kali, saya dan istri tengah mencari hidangan untuk makan malam. Berhubung menu di kulkas belum menggugah selera, kami memutuskan untuk makan di luar. Kebetulan saat itu saya sedang senggang sehingga ada cukup waktu sekedar untuk ngelayap ke luar mencari kudapan. Soal menu—bagi saya—hal itu tidak pernah akan saya baku-debatkan dengan istri. 

Jika suami istri lain “gaduh” gara-gara tidak kunjung memilih menu, atau karena si istri ketus menjawab “terserah”, saya lebih suka berinisiatif mengambil kata “terserah” lebih dulu sebelum keduluan dipakai istri. Lelaki manapun di dunia pasti kebingungan jika si perempuan sudah bilang “terserah”. Mbuh maunya apa.

Singkatnya, dalam perkelayapan mencari hidangan malam, saya dan istri berhenti di sebuah kedai bakso pinggir jalan. Kedai itu cukup luas dengan desain bangunan joglo di depannya. Secara umum tempatnya bersih dan sangat nyaman untuk dijadikan tempat kongkow akhir pekan. Desain interior kedai memakai corak jawa tradisional—menyesuaikan bentuk bangunan yang klasik. Meja-meja dan kursi tertata rapi memanjang dengan nomor di setiap sudutnya (ini kedai bakso apa ruang ujian ya?). Melihat tampilan awal kedai bakso itu, kami pun yakin bahwa kami tidak salah memilih tempat.

Setelah memesan menu, saya dan istri ngobrol ngalor ngidul seputar kedai yang kami kunjungi. Jadi di sekitar kedai bakso itu, tidak ada kedai bakso lain. Hanya ada warung-warung soto dan penyet tenda bergambar unggas dan satwa-satwa air di seberangnya. Berhubung saat itu cuaca cukup dingin, membayangkan nyantap bakso dengan kuah hangatnya akan menggugah selera. Lebih sempurna lagi karena di kedai bakso itu hanya ada saya dan istri saya—seakan-akan kami sudah memesan seluruh isi kedai itu untuk menjadi tempat makan malam yang romantis.

Beberapa menit berselang, minuman pembuka diantarkan pelayan. Bagi saya, minuman pembuka semacam itu adalah salah satu trik “pengalihan isu” agar pelanggan betah menunggu hidangan utama (yang seringkali dimasak terlalu lama). Begitu juga dengan bakso pesanan kami. Dari tempat kami duduk, terlihat juru masak bakso sedang sibuk-sibuknya mengolah bahan. Tapi setelah ditunggu bermenit-menit, belum ada gelagat bakso matang siap dihidangkan.

Membahas pesanan makanan yang lama dibikin, saya jadi teringat momen kabur bareng istri (bukan kawin lari lho, ya). Situasinya kami sedang menunggu jam tayang sebuah film di bioskop. Berhubung jeda waktunya masih lama, kami memutuskan untuk makan malam dulu di sebuah warung bebakaran yang katanya enak. Saat itu, banyak karyawan warung yang mudik (saat itu beberapa hari setelah lebaran) sehingga pelayanannya menjadi lambat. Saya dan istri sengaja memesan jenis makanan yang proses memasaknya tidak lama. Sehingga kami tidak perlu berlama-lama menunggu.

Sayangnya, asumsi awal kami keliru. Hidangan kami tidak kunjung diantarkan. Saya dan istri sudah lebih dari setengah jam menunggu, duduk mengakar di kursi dengan gelas minum yang sudah tandas. Sementara itu, film yang ingin kami tonton di bioskop akan segera tayang. Saya pun mendatangi meja pesanan, menanyakan kepada karyawan, dan mendapati jika dari tadi menu kami belum sempat dibuat! Apa-apaan!? Saya dan istri pun beringsut meninggalkan warung makan dengan dongkol.

Kembali ke kedai bakso. Setelah menunggu bermenit-menit lamanya, bakso kami pun terhidang dengan segala umbarampe-nya (kecap-saos-sambal-cuka). Kepulan uap putih dari kuah bakso sudah melambai menggugah lapar.

Baru tandas beberapa suap sendok bakso, saya mulai merasa aneh. Citarasa bakso yang kami santap sangat menggelikan. Awalnya saya tidak terlalu ambil pusing. Berhubung lapar, saya habiskan saja seporsi bakso tadi. Tapi istri saya tidak. Gurat-gurat kedongkolan terlihat dari ekspresinya. Setengah berbisik, kami mengomeli citarasa bakso yang menggelikan itu.

“Baksonya pake bakso instan nih... (bakso yang sering dijual bebas di pasar-pasar tradisional).”

“Mie-nya juga pakai mie instan kok piye.”

“Walah, parah banget nek iki...”

“Kuahnya gimana?”

“Kuahnya apalagi??? Micin thok!”

“Ini bener-bener bakso paling parah yang pernah tak makan!”

“Iya, setuju. Eman-eman sekali, padahal tempatnya udah bagus, lokasinya strategis di pinggir jalan, saingan sesama kedai bakso nggak ada, tapi rasa baksonya kacau begini.
*   * *

Sepanjang perjalanan pulang, istri saya masih mengomeli bakso abal-abal yang barusan disantap. Mengesalkan memang. Sudah harga baksonya di atas rata-rata, tapi citarasanya menyedihkan. Terlihat sekali si pemilik kedai bakso ingin meraih untung instan dengan modal seadanya. Demi meredakan komplain istri yang getir, saya membelikannya bakso di kedai bakso lain yang jauh dari kedai bakso abal-abal.

Menjalani bisnis memang tidak mudah. Ada modal yang selalu dipertaruhkan di sana, kebanyakan nominalnya besar. Setiap pengusaha ingin meraih keuntungan maksimal dengan modal yang ada. Meski begitu, ada hal lain selain modal yang perlu dipikirkan para pelaku usaha yakni kualitas produk! 

Pengusaha-pengusaha yang sukses pasti sangat memprioritaskan kualitas produknya. Produk tersebut sebisa mungkin dibuat untuk menyenangkan pelanggan, bukan malah mengecewakannya. Karena bagi pengusaha, pelanggan adalah “raja”. Jika “raja” kecewa, siapa yang mau mampir membeli? Jika seorang pelanggan sudah kapok, bagaimana mungkin dia akan kembali membeli? Seperti kata pepatah cina kuno “Jika kau tak bisa tersenyum, tidak usah jadi pedagang”.

Tak jauh dari kedai bakso abal-abal, ada sebuah warung padang murah. Saya sering makan di sana, semata karena harga makanannya yang (terlalu) murah. Saat harga cabe sedang mahal-mahalnya, paman pemilik warung padang itu pernah berkata kepada saya “Kami berusaha untuk tidak terpengaruh dengan mahalnya bahan-bahan. Prinsip kami, meski keuntungan yang diperoleh boleh jadi cuma sedikit, yang terpenting pelanggan kami puas dan tidak kapok datang kemari lagi.” Nyatanya, dengan prinsip itu, warung makan padang milik paman itu terus laris manis didatangi pelanggan.

Ada baiknya pemilik kedai bakso meneladani prinsip paman warung padang. “.....yang terpenting pelanggan kami puas dan tidak kapok datang kemari lagi”. Apalagi kedai bakso itu sudah didukung oleh kenyamanan bangunan dan lokasi yang strategis. Sayang sekali jika kedai bakso yang sebenarnya punya modalitas yang cukup untuk menjadi laris, justru dikerdilkan oleh pemilik usaha dengan menyediakan bakso abal-abal bercita rasa menggelikan.

Menjadi pengusaha memang tidak mudah. Banyak hal yang dipertaruhkan di dalamnya. Ada desakan kuat untuk bisa segera balik modal dan hasrat meraih omset ratusan juta. Hal semacam ini memang tidak dilarang. Boleh-boleh saja seorang pengusaha mencari untung berlipat. Tapi yang jelas, tidak akan ada keuntungan berlipat jika pelanggan selalu dikecewakan. Pada akhirnya, kekecewaan para pelanggan akan menumpuk tinggi menggunung hingga akhirnya menghancurkan usaha yang telah dirintis—betapapun bagusnya konsep yang ditawarkan usaha itu.[]

*   * *

Meanwhile, setelah kunjungan saya dan istri ke kedai bakso abal-abal, pemilik kedai itu masih konsisten membuka usaha baksonya. Hingga beberapa waktu yang lalu sebelum catatan ini ditulis, saya dan istri saya sempat melewati kedai bakso abal-abal. Hanya saja tempatnya sudah ditutup dan kini entah difungiskan untuk usaha apa. Sangat disayangkan.


*) Dialog-dialog dalam catatan ini dibuat untuk menjelaskan konteks masalah dan dramatisasi agar lebih mudah dipahami.
January 26, 2020Benny Prastawa