Wednesday, November 9, 2016

Hukuman tanpa Kesalahan


Kemarin, blog saya hilang. Begitu mengecek Gmail saya, ternyata akunnya diblokir oleh Google. Saya sendiri tidak tahu kesalahan saya, karena selama ini saya merasa tidak melanggar Term of Use apapun. Saya tidak pernah ngaco membuat artikel cerita dewasa, tidak nyomot artikel dari blog tetangga, atau malah mengunggah konten porno.

Lalu apa salah saya? Lagipula, blog ini boleh dibilang masih baru. Belum banyak konten yang termuat di sini. Ibarat bayi, umur blog ini belum genap 2 bulan. Jadi sangat tidak adil jika blog yang baru seumur jagung ini ‘dimusnahkan’. Lebih pihak Google tidak menuliskan detail kesalahan saya. Inti email yang saya terima cuma: “Kamu melanggar peraturan, dan karena itu kamu dihukum!

Boleh jadi, seperti ini ya rasanya dituduh padahal kita yakin tidak melakukan kesalahan apapun. Ya, itu menyesakkan sekali. Bagaimana kita bisa menerima sebuah hukuman padahal kita yakin diri kita tidak bersalah?

Saya jadi teringat kasus kopi sianida yang menewaskan Mirna. Sampai detik ini, saya masih belum yakin (sejujurnya malah tidak percaya), jika tewasnya Mirna disebabkan oleh sianida yang ‘konon’ dimasukkan oleh Jessica. Ada begitu banyak plot hole yang tidak terjelaskan dalam kasus tersebut.

Saya pikir, jika sebuah kejahatan memang tidak terpecahkan karena kurangnya alat bukti, maka seperti kata Hotman Paris, kasus tersebut bisa dikatakan sebagai unsolved crime. Tapi apa daya, sejak awal, semua orang terlanjur beropini (lebih tepat digiring opininya), untuk mempercayai bahwa Mirna tewas setelah meminum kopi sianida. Padahal, jika kita menyelami persidangan Jessica, akan kita temukan beberapa kejanggalan di dalamnya. Terlebih, penanganan kasus itu sudah meninggalkan banyak ‘lubang’ sejak awal.

Ada dua hal yang sangat saya sayangkan dari kasus ini. Pertama, ketiadaan proses otopsi pada jenazah Mirna. Padahal, dari hasil otopsi itu kita bisa meyakini, apakah Mirna tewas karena sianida, atau karena hal lain. Kedua, penanganan TKP berjalan sangat lambat. Polisi malah baru bisa mengkondisikan TKP berjam-jam kemudian. Karena itu, sangat mungkin barang bukti seperti sianida (jika memang ada), sidik jari, dan gelas kopi yang dipakai Mirna hilang—atau setidaknya ‘dibersihkan’ dari jejak-jejak si pelaku.

Jika sudah begini, tinggal Jessica seorang yang dinilai paling mencurigakan. Jessicalah yang datang paling awal dan memesankan kopi. Jessica juga yang paling mungkin menuangkan racun. Jessica pula yang menaruh paper bag di atas meja, seakan-akan hal itu sengaja dilakukannya untuk menutupi CCTV. Media pun menghipnotis kita untuk berpikir “Jessica”, Jessica”, “Jessica”, dan pasti “Jessica” pelakunya. Pada akhirnya, Jessica harus menanggung ‘tuduhan umat’ yang menyeretnya ke jeruji besi.

Ah, tapi siapalah saya. Detektif bukan, jaksa bukan, polisi bukan, bahkan anaknya polisi juga bukan. Postingan ini juga tidak akan mengubah vonis hakim dan membebaskan Jessica. Saya memang bukan siapa-siapa. Dan karena saya bukan siapa-siapa, saya pantas bertanya, apa salah saya sampai-sampai akun Gmail saya diblokir?

Semoga semesta masih menghendaki adanya keadilan di antara umat manusia. Yang menghukum mereka yang bersalah dan membebaskan mereka yang tidak bersalah. Karena sungguh, menuduh seseorang tanpa kesalahan itu menyakitkan, dan dituduh tanpa bukti, itu sebuah kejahatan! []



***Paginya, buru-buru saya buka akun Gmail saya. Memang benar, akun saya terblokir sehingga saya harus melakukan verifikasi kode via nomor ponsel. Beberapa saat kemudian—Klontank!!! Akun Gmail saya sudah bisa dipulihkan. Saya pun bisa posting cerita nggak penting seperti ini lagi. Adakah yang pernah bernasib sama dengan saya?
November 09, 2016Benny Prastawa

Sunday, November 6, 2016

Fashion Nista


Mungkin sudah kodratnya—saya tidak pandai berbusana. Bukan berarti saya gila, lalu berkeliling kota tanpa busana. Maksud saya, saya merasa asing dengan dunia fashion. Bagi saya, urusan fashion ini boleh jadi merepotkan sekali. Ada beberapa aturan tidak tertulis soal fashion—khususnya tentang etika berbusana. Aturan yang saya maksud di sini adalah aturan-aturan seperti memakai baju hitam-hitam saat melayat, baju batik untuk kondangan, baju putih untuk kegiatan keagamaan, dan sejenisnya. Terlebih di lingkungan budaya kita yang mengedepankan nilai kepantasan dan kesopanan. Mau tak mau, saya harus memahami aturan tidak tertulis itu, demi menjaga kehormatan saya dalam berbusana.

Sayangnya, bentangan nasib tidak menghendaki saya menjalani kehidupan yang lurus-lurus saja. Sejauh ini, saya sudah beberapa kali terjerat ‘skandal’ salah kostum, mulai dari acara sederhana seperti buka bersama, sampai acara penting seperti hajatan pernikahan. Salah satu yang paling saya ingat adalah acara halal bi halal di SMP.

*   *   *

Dulu—dulu sekali (meski nggak dulu-dulu amat), sekolah saya mengadakan halal bi halal (sebuah tradisi bermaaf-maafan antara siswa dan guru sambil bersungkem keliling sekolah). Acara itu sudah menjadi rutinitas tahunan yang diadakan setelah libur lebaran. Semua murid harus berpartisipasi, baik yang muslim maupun non-muslim demi mempererat jalinan silaturahmi antarwarga sekolah.

Nah, sebelumnya, dalam acara itu, pihak sekolah tidak menginformasikan dresscode yang harus dipakai. Karena itu, saya pikir, sekolah membebaskan murid-muridnya untuk memakai dresscode apapun, selama masih sopan dan menutup lubang pusar. Berhubung saat itu masih dalam suasana lebaran, saya pikir acara halal bi halal akan dikemas secara religius, lengkap dengan pengajian atau semacamnya. Saya pun berencana memakai stelan baju koko putih agar terlihat matching dengan nuansa religiusnya.

Maka, hari itu dengan penuh kesadaran saya berangkat ke sekolah memakai stelan baju koko putih. Saya tidak sabar ingin bertemu dengan teman-teman setelah beberapa minggu libur lebaran. Ekspektasi saya, mereka pasti memakai baju koko, sama seperti saya. Tapi, ketika memasuki gerbang sekolah, tidak ada satupun murid yang terlihat memakai baju koko seperti saya. Semua murid memakai stelan putih-biru layaknya hari-hari biasa. Saya mencoba berpikir positif, mungkin saja mereka murid-murid yang tidak berlebaran.

Bermenit-menit setelahnya, saya mengamati murid-murid yang datang. Tak satu pun di antara mereka yang memakai baju koko seperti saya. Bahkan Bapak Ibu guru saya pun tidak. Dengan kata lain, cuma saya satu-satunya murid yang memakai baju koko hari itu! Mak klontank!!!

Begitu acara halal bi halal dimulai, saya tidak berani beranjak dari kelas. Saya sibuk merutuki diri sendiri, yang dengan konyolnya memakai ‘baju pesantren’ ke sekolah. Kenapa sejak awal tidak memakai seragam biasa saja?  gerutu saya. Pada akhirnya, acara halal bi halal yang seharusnya memperat silaturahmi itu, justru menjadi mimpi buruk yang mempermalukan saya seharian.

Belasan tahun setelah kejadian koko terkutuk itu, saya menghadiri acara resepsi di tempat tetangga. Berhubung yang punya hajat adalah tetangga saya sendiri, saya pikir saya akan sibuk beroperasi di dapur membantu para pelayan mengantar makanan dan mengambil piring-piring di meja. Karena itu, saya tenang-tenang saja memakai stelan Polo shirt dan celana kain, karena saya yakin, saya tidak akan muncul ke meja depan utuk menyambut tamu.

Begitu acara dimulai, ada satu momen di mana seluruh pelayan diminta ke meja depan untuk bersalaman dengan keluarga mempelai—termasuk saya. Meski sempat ragu, saya tetap mengikuti rombongan pelayan lain untuk bersalaman. Saat tiba di meja depan, saya sempat canggung karena para tamu undangan—termasuk tetangga saya—menatap saya dengan heran. Demi mengurangi kecanggungan, saya setengah cengengesan bersalaman dengan keluarga mempelai.

Selesai bersalaman, saya dan para pelayan lain kembali ke dapur. Sejurus kemudian, seorang teman karib mendatangi saya. Dengan jujur, ia menyodorkan ponselnya yang menampilkan pesan singkat dari nyokabnya, yang isinya meminta saya agar berganti pakaian.

Klontaaank!!!

Demi mengenyahkan sebongkah rasa malu yang menyesak, saya bergegas pulang dan berganti pakaian. Sejak saat itu, saya pun mentasbihkan diri untuk selalu memakai stelan batik dan celana kain jika menghadiri acara seperti kondangan dan sejenisnya. Saya tidak peduli, jika tamu undangan lain lebih keren memakai stelan dasi kupu-kupu atau dasi walang sangit. Saya bertekad untuk keukeuh memakai stelan batik jika pergi kondangan.

*   *   *

Pakaian adalah produk budaya. Jenis dan model pakaian akan selalu beradaptasi dengan kondisi lingkungan tempat pakaian itu berada. Dalam hal ini, ada batasan kesopanan dan kepantasan untuk setiap model pakaian. Stelan jas dalam acara pemakaman misalnya. Dalam budaya Barat, stelan seperti itu tidak akan dipermasalahkan karena sudah sewajarnya pelayat di sana memakai stelan itu. Tapi jika kita memakai stelan jas saat melayat di kampung, orang kampung bisa saja menilai kita kurang sopan.

Sama halnya dengan pemakaian bikini di pantai. Dalam budaya Barat, hal itu dianggap wajar. Tapi jika kita memaksa memakainya di sini, boleh jadi kita malah jadi bulan-bulanan massa. Karena itu, setiap busana memiliki tata nilai tertentu yang belum tentu sama dalam setiap masyarakat.

Sebagai orang Jawa, ada falsafah ajining raga dumunung saka busana. Artinya, pakaian yang kita kenakan  sangat berpengaruh pada citra diri kita secara keseluruhan. Memahami tata nilai dan etika berbusana menjadi penting agar kita mudah diterima sebagai bagian dari suatu masyarakat. Selain itu, memahami etika berbusana juga penting agar kita tidak sampai ‘salah kostum’.

Terlepas dari semua itu, saya pribadi merasa risih karena hidup di lingkungan masyarakat yang tidak terbiasa menerima perbedaan kaidah berbusana. Seperti kasus saya, pergi kondangan dengan Polo shirt dianggap tidak sopan. Bagaimana jika saat itu ada tamu undangan yang baru datang dari jauh dan tidak sempat membawa kemeja batik? Haruskah kita memintanya pulang untuk sekedar mengganti bajunya?

Mark Zukenberg bahkan menemui Presiden Jokowi dengan stelan kasual khas anak muda—kaos oblong dan celana jeans. Oh man, andai Mark Zuckenberg bukan CEO Facebook orang-orang pasti berpikir “Bah, betapa kurang ajarnya anak ini”.

Menurutnya, memikirkan baju apa yang akan dipakai dan menyesuaikannya dengan acara yang akan dihadiri, merupakan sesuatu yang “bodoh”. Bagi orang awam, jawaban Zuckenberg memang terdengar sembrono. Tapi jika kita mau memahami kesibukannya dan memikirkan urusan-urusan pentingnya, maka perkataan Zuckenberg ada benarnya. Orang-orang dengan kesibukan sepertinya, tidak akan rela membuang waktu hanya untuk mengurusi fashion.

Masih ingat almarhum Bob Sadino? Sebagai pengusaha sukses, Bob Sadino sering diundang dalam seminar-seminar bisnis. Dalam urusan fashion, Bob Sadino gemar memakai kemeja dengan bawahan celana pendek. Terang saja, penampilannya kerap dianggap nyeleneh oleh orang-orang yang belum mengenalnya. Bahkan Bob Sadino pernah diusir dari gedung DPR karena penampilan nyeleneh-nya itu.

Kultur masyarakat kita tidak terbiasa dengan ‘perbedaan’. Ketika ada orang yang berpenampilan berbeda, mereka langsung menghakimi orang tersebut tanpa memahami latar belakangnya. Padahal, apa yang kita lihat dari satu sisi belum tentu sebuah kebenaran. Berapa banyak asumsi kita yang keliru karena kita enggan mencari tahu seluk-beluk suatu masalah?

Sejujurnya saya iri dengan Mark yang bisa menemui Presiden Jokowi dengan kaos oblong. Begitu juga dengan Bob Sadino yang tetap enjoy memakai kemeja dan celana pendek di pertemuan-pertemuan resmi. Orang-orang mungkin akan menuduh mereka tidak punya etika. Tapi bagi saya, selama pakaian yang dikenakan masih memenuhi standar kesopanan yang universal, maka tidak ada yang perlu dipermasalahkan.

Ngomong-ngomong, saking ribetnya memikirkan fahion, saya jarang sekali bereksperimen dalam hal berbusana. Saya lebih sering memakai stelan yang netral-netral saja. Bagi saya, kaos oblong, jaket hooodie, dan celana jeans sudah lebih dari cukup. Kemana pun saya pergi, saya selalu enjoy dengan stelan fashion seperti itu. Bagaimanapun, saya tidak sudi membiarkan diri saya menjadi tontonan orang, hanya karena salah berbusana—persis seperti insiden ‘baju koko di sekolah’. []
November 06, 2016Benny Prastawa

Saturday, November 5, 2016

Nasehat 'Mbak'



Ada temanku yang jago matematika.
Ada pula temanku yang jago berbicara.
Temanku yang lain sangat fasih berbahasa Inggris.
Sebagian yang lain sibuk menekuni alat-alat musik dan membuat band.

Temanku juga banyak yang jago olahraga.
Basket, futsal, bulutangkis, sampai taekwondo, semua ada.
Yang mahir menulis cerpen pun tidak sedikit.
Ada juga segelintir teman yang serba bisa, multi talenta, bisa menyanyi dan menari.
Sepertinya menyenangkan sekali.

Sementara aku?

Ah, aku mah apa. Sepertinya aku harus mengingat-ingat lagi 'nasehat Mbak'

Tuesday, November 1, 2016

Menghargai Percakapan


“Hai!”

Aku mendongakkan kepala, menoleh ke arah sumber suara. Rupanya, temanku. 
Aku sudah menunggunya—sekitar sembilan ratus detik yang lalu.

“Sudah lama? Maaf aku terlambat,” katanya sambil mengambil tempat duduk.

“Ah, tak apa-apa. Belum lama kok.”

“Boleh kulihat bukunya?” temanku melirik ke arah buku bersampul kuning yang kupegang.

“Maaf? Oh, buku ini. Bukan buku terkenal kok,” kataku sambil mengulurkan buku itu padanya.

Temanku tampak tertarik. Ia pun sibuk membolak-balik halaman buku itu, mencoba mencari tahu isinya. Selagi temanku melihat-lihat buku itu, aku memanggil seorang pelayan untuk memesan minuman. Selesai menulis pesanan, pelayan itu beranjak ke counter.

“Jadi, bagaimana kabarmu?” aku membuka topik.

“Yah, seperti biasa. Banyak tugas kuliah. Sepertinya, aku kurang bisa menata waktu.”

“Kamu sibuk? Ah, maaf. Aku tak tahu kalau kau harus meluangkan waktu berhargamu untuk pertemuan yang mungkin tidak ada penting-pentingnya ini.”

“Tak apa. Toh, aku juga menginginkan pertemuan ini.” Temanku tampak memasukkan ponselnya ke dalam tas. 

Aku tidak mau percakapan kita terganggu dering ponsel,” katanya.

Aku mengangguk. Dan bermenit-menit kemudian, kami berdua telah larut dalam percakapan yang renyah. Sambil menyesapi minuman hangat di kafe itu, kami bercakap-cakap.

Drrtt.....drrrttt......!

Temanku mengeluarkan ponselnya dari tas. Sejenak, aku menangkap perubahan ekspresi wajahnya. Ada sebuah panggilan masuk, pikirku. Temanku membiarkan panggilan itu dan menaruh ponselnya di atas meja.

“Kenapa tak diangkat?” tanyaku.

“Uh, bukan panggilan penting.”

Aku mengangguk. Beberapa menit berselang, ponsel temanku bergetar lagi.

“Silahkan, angkat saja!”

Temanku meminta maaf dan mengambil ponselnya. Untuk beberapa saat dia menjawab panggilan itu di sudut ruangan agar tidak terganggu bising musik cafe.

Saat temanku kembali, ponselnya sudah dimasukkan lagi ke dalam tas. Percakapan kami pun berlanjut, tanpa dering ponsel dan tanpa bunyi notifikasi yang mengganggu. Selama dua jam itu, kami benar-benar bercakap-cakap satu sama lain.

Seperti biasa, selalu menyenangkan bisa berteman dengan orang seperti dia. Dalam hati aku berharap, “Semoga semesta menyisakan lebih banyak orang sepertinya. Orang-orang yang paham bagaimana menghargai sebuah percakapan.”[]

Friday, October 28, 2016

Saat Kenyataan Tidak Sesuai dengan Keinginan


Di antara mimpi dan realitas, selalu ada “harapan”
yang membuat kita lebih kuat dan tidak pernah letih untuk terus berupaya
(Benny Prastawa)

Dalam hidup ini, seringkali kita sulit menerima kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan atau keinginan kita. Jika kita seorang pelajar, tentu kita ingin mendapat nilai yang baik. Jika kita seorang petani, tentu kita ingin panen kita berlimpah. Jika kita seorang pedagang, tentu kita ingin usaha kita maju dengan omset jutaan. Demikian seterusnya.

Namun pada kenyataannya, jerih payah yang kita lakukan tidak selalu berbanding lurus dengan hasil yang diperoleh. Pada titik ini, semua usaha yang kita lakukan tampak sia-sia. Kita pun merasa Tuhan berlaku tidak adil.

Seorang pelajar, misalnya, menjelang ulangan umum dia telah belajar keras untuk mendapat nilai terbaik. Tidak cuma di sekolah, intensitas belajarnya ditambah dengan les dan privat. Segala bentuk soal latihan dilahapnya untuk menjamin bahwa si pelajar betul-betul menguasai materi. Si pelajar yakin bahwa ia akan lulus dengan nilai terbaik.

Pada hari berlangsungnya ujian, entah kenapa si pelajar merasa agak gugup. Perasaannya tidak tenang saat mengerjakan soal-soal ujian. Di tengah-tengah ujian, mendadak si pelajar merasa tidak enak badan. Pikirannya tidak mampu berkonsentrasi. Pada akhirnya, ujian hari itu tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Ketika hasil ujian dibagikan, si pelajar mendapati nilainya tidak sebagus harapannya. Meskipun tergolong tinggi, dia gagal mewujudkan keinginannya untuk meraih nilai terbaik. Sebagai seorang pelajar yang ambisius dengan segala kesempurnaan belajarnya, dia merasa hasil yang diterima tidak adil. Si pelajar merasa berhak mendapatkan hasil yang lebih baik. Tapi ujian telah usai, dan lembar nilai telah dibagi.

*   *   *

Tulisan ini tidak sedang mendoktrin kalian untuk berhenti berusaha. Ilustrasi di atas hanya gambaran kecil bagaimana usaha yang kita lakukan tidak selalu berbanding lurus dengan hasil yang kita harapkan. Yang ingin saya tekankan di sini adalah bagaimana kita menyiapkan diri untuk berlapang dada dengan hasil apapun yang kita peroleh. Sesempurna apapun usaha kita, sebaik apapun proses belajarnya, dan sematang apapun rencananya, semua itu tetap tidak menjamin 100 persen bahwa kita akan berhasil. Sekecil apapun peluangnya, selalu ada kemungkinan kita gagal. Karena kehidupan ini bukanlah persamaan matematika. Itu sebabnya, sebagai umat beragama kita diminta untuk selalu bertawakal. Kita harus mengakui bahwa ada ‘tangan-tangan tidak terlihat’ yang berkuasa penuh atas roda kehidupan di dunia. Kita harus legowo jika suatu saat jerih payah kita tidak sebanding dengan hasil yang kita peroleh.

Pertanyaannya, jika memang segala sesuatu sudah ditakdirkan dan segala hasil sudah ditetapkan Tuhan, lalu untuk apa kita menjalani kehidupan ini? Untuk apa kita berletih-letih bekerja, jika hasil dari usaha kita sudah ditentukan sebelumnya?

Seorang bijak pernah menasehati saya untuk belajar dari seekor burung yang terbang mencari makan di pagi hari. Beliau berkata “Seumur-umur, saya belum pernah mendapati burung yang mati karena kelaparan”.

Ya, meski Tuhan berkuasa penuh atas kehidupan yang kita jalani, sampai batas-batas tertentu Tuhan memberi kita kebebasan untuk memilih jalan usaha mana yang ingin kita tempuh. Karena hidup ini adalah PILIHAN. Setiap saat, kita dihadapkan pada pilihan-pilihan tindakan yang bisa kita ambil. Kita bisa memilih untuk giat bekerja atau tidur bermalas-malasan. Kita bisa memilih untuk sibuk belajar atau duduk melamun. Kita bisa memilih untuk sibuk berkarya atau diam menanti tua. Semua itu pilihan bebas kita. Tuhan tidak pernah membatasi kita dalam memilih jalan hidup yang ingin kita jalani.

Yang harus kita perhatikan adalah kenyataan bahwa untuk setiap pilihan, selalu ada ‘konsekuensi’ yang akan kita tanggung. Misalnya, pada kasus pelajar yang kita bahas sebelumnya. Pelajar itu mempunyai pilihan untuk sibuk belajar atau memilih untuk bermalas-malasan. Dalam hal ini, dia memilih untuk sibuk belajar. Terlepas dari kegagalannya meraih nilai terbaik, pelajar itu telah memilih pilihan terbaik yang bisa diambil. Pilihannya untuk tekun belajar memperbesar peluangnya mendapatkan takdir yang dia harapkan (nilai terbaik).

Memperbesar peluang untuk mendapatkan takdir yang kita harapkan—itulah jawaban logis dari usaha-usaha kita selama ini. Kita memang tidak bisa menjamin setiap usaha kita akan selalu berhasil. Tapi usaha-usaha tersebut memperbesar peluang kita untuk berhasil, dan memperkecil kemungkinan kita untuk gagal. Dengan katalain, kita hanya mampu mengontrol tindakan kita, bukan hasil akhir dari tindakan yang kita lakukan.

Contoh lain, misalnya pada saat kita mengendarai motor. Dalam hal ini, tindakan yang bisa kita kontrol adalah cara kita mengemudikan motor itu. Jika kita mengemudikannya dengan hati-hati dan mematuhi rambu-rambu lalu lintas, maka peluang kita untuk selamat sampai tujuan semakin besar. Jika pada akhirnya kita jatuh tersenggol kendaraan lain, maka itulah takdir. Kita tidak bisa mengontrol hal tersebut. Tapi setidaknya, dengan kita berhati-hati saat mengemudikan motor, hal itu jauh lebih baik bagi keselamatan kita daripada mengemudikan motor secara ugal-ugalan. Alih-alih tindakan itu justru memperbesar peluang kita tertimpa kecelakaan.

Karenanya, meski terkadang usaha kita tidak berbanding lurus dengan hasil yang kita dapatkan, kita harus selalu percaya bahwa tidak ada kerja keras yang sia-sia! Setiap kerja keras akan menuai kompensasinya. Boleh jadi si pelajar tidak mendapat nilai terbaik, tapi usahanya membuatnya menjadi pelajar yang lebih berprestasi daripada pelajar yang bermalas-malasan. Ketekunannya dalam belajar telah memperbesar kemungkinannya mendapatkan takdir yang lebih baik di masa mendatang.


Dalam kehidupan ini, totalitas kita dalam berupaya adalah ikhtiar terbaik untuk mewujudkan keinginan dan cita-cita. Apapun hasilnya, kita harus tetap percaya bahwa tidak ada kerja keras yang sia-sia. Setiap kerja keras pasti akan melatih kita untuk meningkatkan kualitas diri. Dengan begitu, daripada sibuk memikirkan hasil, alangkah bijaknya jika kita khusyu’ menikmati setiap jengkal prosesnya. Itulah cara terbaik untuk membuktikan sikap tawakal  kita. Dan itulah jawaban terbaik untuk menerima segala ketetapan-Nya.[]
October 28, 2016Benny Prastawa