Sunday, April 1, 2018

Mengikat Ilmu dan Membangun Peradaban

Bayangkan kita sedang mengendarai mesin waktu kemudian iseng-iseng ‘mampir’ pada tahun 1500 Masehi di mana semua penduduk bumi percaya bahwa bumi adalah pusat tata surya. Kita yang berasal dari abad pasca Neil Armstrong nangkring di bulan jelas tidak akan ngeh dengan idiom tersebut.

Suatu hari, kita mencoba berdebat dengan penduduk bumi, sebut saja Bejo—seorang penganut teori Geosentris fanatik.

Bahlul kamu! Masak bumi yang mengelilingi matahari? Kebalik itu!” Kita berapi-api mendebat Bejo.

Yang didebat tidak terima. “Eh, sembarangan kamu! Di kitab saya, bumi adalah pusat alam semesta. Siapa sih lo? Sok asik banget. Ngata-ngatain orang lain sinting!”

“Waktu saya sekolah dulu guru saya bilang kalau teori matahari sebagai pusat tata surya adalah yang paling benar! Di buku saya juga ada itu teorinya. Baca juga tuh teori dan rumusnya Keppler tentang orbit planet. Pokoknya teorimu salah!”

“Ngomong apa sih lo! Ini kitab umurnya lebih tua seabad dari elu tong! Selama 13 abad belum pernah ada tuh orang sinting yang bilang kalo teori saya salah!”

Ah, jadi berdebat kan? Kita pun merasa perdebatan itu akan sia-sia kemudian memilih untuk kembali ke mesin waktu. Sayangnya, saat itu kita tidak berinisiatif menemui Copernicus untuk kemudian berkolaborasi menyadarkan penduduk bumi dengan teori HELIOSENTRIS-nya yang revolusioner itu. Yah, kehadiran kita pun menjadi sia-sia. Dan seluruh penduduk bumi masih percaya bahwa bumi yang ditempatinya adalah pusat alam semesta. Sebagian masih percaya bumi itu datar. Wajarlaah...

Maaf, saya bukan pengarang cerita fiktif yang baik. Plot cerita di atas hanya sedikit ilustrasi bagaimana debat kusir tanpa ilmu adalah sebuah kesia-siaan dan kehinaan. Meski salah satunya benar pun, penyampaian informasi yang buruk hanya akan membuat orang menggerutu kesal dibuatnya. Dan berdebat tanpa fakta dan bukti ilmiah adalah ‘dosa besar!’

Bagaimana mungkin orang mempercayai manusia yang setiap hari cuma bisa OMDO alias Omong Doang? Berkarya tidak pernah, sekalinya kerja pun ogah-ogahan. Ibaratnya kerja segan, nganggur pun enggan.

Dalam konteks menulis pun demikian. Menulis adalah sebuah perwujudan peradaban manusia yang sebenarnya. Karena itu, tidak mengherankan kalau orang yang sebenar-benarnya cerdas nan ahli di bidangnya pasti bisa menulis. Tidak ada alasan “Ah, aku nggak bakat nulis.” Mustahil!

Seorang sarjana,ilmuwan, profesor, semuanya pasti pernah menulis ilmiah sebelum mendapat gelar akademisnya. Mana mungkin ada seorang mengaku profesor tapi nulis sebuah kalimat bijak saja tak becus. Mustahil (lagi)! Karena menulis adalah perwujudan kecerdasan kita yang sebenarnya.

Sampai sejauh ini, boleh dibilang 90 persen ujian dalam hidup saya adalah ujian tertulis. Kenapa harus ujian tertulis? Karena tulisan adalah cara termudah untuk mengukur dan melihat kecerdasan seseorang. Manusia sehebat Isaac Newton dan Einstein pun bisa diterima dan diakui orang banyak karena mereka mengejawantahkan semua ‘isi kepalanya’ ke dalam tulisan yang memuat semua bukti ilmiah dan hasil riset puluhan tahun!

Benarlah kata seorang bijak, “Ikatlah ilmu dengan menulisnya.” Karena bagi otak, hanya ada 2 pilihan untuk setiap informasi yang diperolehnya, “ACCEPT” atau “IGNORE.” Jika “accept” yang dipilih, maka informasi itu akan mengendap lama di otak. Sementara jika “ignore” maka informasi hanya sepintas lalu kemudian—LUPA.

Sedikit curhat, belakangan ini selama saya lalai dari menulis di blog ‘absurd’ ini, saya sering merasa mudah lupa. Bukan karena terlalu banyak pikiran tapi lebih dikarenakan seringnya pikiran nge-blank—tidak tahu harus mengerjakan apa. Saya tidak bisa menganggap ini sebagai masalah sepele. Sepersekian detik otak kita nge-blank, maka akan jauh lebih banyak informasi negatif yang diterima otak. Emosi menjadi tidak stabil, stress pun melanda.

Jika dulu awalnya saya blogging untuk mengurangi beeban pikiran saya yang overload, maka sekarang yang harus saya lakukan adalah mulai meremajakan kembali jaringan transmitter di otak saya untuk menghindari kondisi blank di otak. Semoga keabsurdan ini tidak berlanjut.

Tuesday, August 1, 2017

Superhero di Pinggir Jalan

"Tak perlu topeng untuk menjadi seorang superhero.
Yang kau butuhkan hanya sebuah uluran tangan yang ikhlas,
demi menolong sesama."


Sejak kecil, saya dididik televisi untuk kenal akrab dengan tokoh superhero fiksi seperti BatmanSpidermanKamen RiderPower Rangers, sampai Bima Satria Garuda. Kebanyakan plot cerita superhero tersebut berkisah tentang “kebaikan melawan kejahatan”. Karena masih bocah, saya selalu tertarik mengikuti kisah petualangan para superhero tanpa bosan. Saking nge-fans-nya, saya gemar mengkoleksi beberapa mainan model para tokoh superhero tersebut. Sesekali, saya juga membeli "topeng" untuk kemudian bermain perang-perangan dengan teman dengan berperan sebagai salah satu tokoh superhero.

Saat itu, saya tidak peduli dengan plot cerita superhero yang terlalu fiktif dan mengada-ada. Saya tidak peduli bagaimana bisa seekor lalat alien datang ke bumi untuk kemudian mengacak-acak seisi kota secara membabi buta. Saya juga tidak berpikir mengapa para polisi tidak pernah turun tangan menangkap para monster itu langsung. Alih-alih sekumpulan manusia super berkostum anehlah yang menghajar para monster jahat. Tidak logis memang. Meski begitu, saya tetap asyik menontonnya. Hingga tanpa sadar saya begitu terinspirasi dengan cerita kepahlawanan para superhero.

Jika semasa bocah saya terbiasa menonton tokoh superhero fiksi, setelah beranjak dewasa saya mulai berpikir tentang tokoh superhero yang benar-benar ada di dunia nyata. Saya yakin, bumi yang kita tinggali sebenarnya baik-baik saja. Kita tidak sedang berperang melawan monster jahat atau sekawanan alien barbar yang turun ke bumi dengan pesawat kapsul. Alih-alih, dunia kita dipenuhi oleh banyak superhero. Di mana pun tempatnya dan kapan pun waktunya, ada saja orang-orang yang bisa berperan menjadi superhero. Salah satunya adalah tukang tambal ban di pinggir jalan.

Sejak ditemukannya teknologi ban oleh Dunlop, jasa tukang tambal ban menjadi sangat vital. Setiap saat, sering kita temui para pengendara malang yang mengalami kebocoran ban di tengah jalan. Pada saat itu, tidak sembarang orang bisa mengatasi masalahnya seketika. Diperlukan kecakapan teknik perbengkelan dan seperangkat mesin penambal untuk mengatasi masalah itu. Pada kasus ini, yang kita butuhkan adalah seorang tukang tambal ban.

Bayangkan, suatu hari kita sedang berkendara malam-malam. Tiba-tiba, ban motor kita bocor tertusuk garpu paku. Kita pun panik. Jalanan yang kita lalui sudah mulai lenggang. Penduduk sekitar sudah terlelap di kamar masing-masing. Tukang tambal ban tidak ada yang buka di sana sini. Hanya ada toko berjejaring yang pintunya terbuka 24 jam.

Jika kalian dihadapkan pada situasi seperti itu, apa yang akan kalian lakukan?
  1. Menghubungi kenalan terdekat untuk menjemput kita? Ya, itu sih solusi paling mudah dan praktis. Tapi bagaimana jika tidak ada seorang pun yang bisa menjemput kita karena hari sudah larut malam?
  2. Tetap mengemudikan kendaraan dengan ban bocor? Bisa saja, meski beresiko celaka, apalagi jika jarak ke tempat tujuan masih jauh.
  3. Meminta pemilik toko untuk mengantarkan kita pulang? Bisa saja, tapi saya tidak yakin kalian mau memilih opsi ini.
  4. Membawa motor ke kantor polisi? Ide konyol. Motor kita kan bocor, bukan kena tilang. Buat apa dibawa-bawa ke kantor polisi?
  5. Teriak-teriak meminta tolong sambil berharap diangkut mobil ambulans karena disangka orang gila???
Absurd!

Pada situasi seperti itu, tidak ada yang bisa menolong kita selain tukang tambal ban. Ya, simply, kita cuma butuh tukang tambal ban! Kita tidak bisa pergi ke toko jejaring kemudian membeli pembalut banyak-banyak untuk mengatasi kebocoran ban kita. Kita juga tidak bisa memaksa sembarang orang yang lewat untuk sekadar menambal ban kita. Satu-satunya orang yang kita butuhkan saat itu hanya seorang tukang tambal ban!

Karena itu, terpujilah para tukang tambal ban yang masih buka hingga larut malam. Keberadaan mereka sangat penting untuk menolong para pengendara malang yang mengalami kebocoran ban di tengah jalan. Saking berjasanya, tidak etis jika kita sampai misuh-misuh hanya karena tarif yang para tukang tambal ban tengah malam cenderung lebih mahal. Jika dipikir-pikir, anggap saja "impas" dengan jasa mereka menyelamatkan kendaraan kita.

Dalam tulisan ini, saya tidak sedang membanding-bandingkan profesi. Saya hanya mengajak untuk lebih menghargai profesi orang lain. Umumnya, kita terbiasa menilai suatu profesi berdasarkan besaran gaji atau penghasilan yang diperoleh. Tapi kita tidak bisa naif. Setiap profesi memiliki fungsinya masing-masing. Ibarat sistem pencernaan, setiap profesi di dunia ini ada yang berperan menjadi mulut, lambung, usus, pankreas, anus dan sebagainya. Bayangkan, betapa rusaknya sistem pencernaan kita jika anus itu tidak pernah ada.

Realitanya, manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan sesamanya untuk bertahan hidup. Betapapun kayanya, ktia tetap perlu bantuan orang lain, bahkan sekedar untuk makan. Dari mana kita mendapatkan beras dan segala lauk-pauk jika tidak ada seorang pun yang mau menjadi petani? Bagaimana kita membersihkan seisi kota jika tak ada seorang pun yang menjadi tukang sampah? Bagaimana kita bepergian jika tak ada seorang pun yang mau menjadi buruh pengaspal jalan? Pun bagamana jika ban mobil kita bocor tanpa ada seorang pun yang mau menjadi tukang tambal ban? Bayangkan kekacauan macam apa yang akan terjadi jika tidak ada seorang pun yang mau menjalani profesi-profesi semacam itu.

Dalam konteks profesi tukang tambal ban, kita tidak bisa menilai profesi tersebut hanya berdasarkan tingkat penghasilan yang diperolehnya. Kita tidak bisa naif menilai suatu profesi sedangkal itu. Ada sisi “kemanusiaan” yang bisa kita lihat dalam setiap profesi yang kita jalani. Tak peduli kita seorang guru, dokter, pengacara, polisi, buruh, pedagang, petani, maupun tukang tambal ban. Setiap profesi memiliki peranannya masing-masing dalam sistem kehidupan. Setiap profesi layak mendapat apresiasi selama itu halal dan tidak bertentangan dengan hukum. Karena sebaik-baiknya profesi, adalah profesi yang kita jalani dengan sepenuh keikhlasan dan sepenuh pengabdian. Tak tertolak.

Ada pesepakbola di kota Manchester yang digaji 300 ribu poundterling per minggu (setara dengan sekitar 5,6 milyar rupiah). Padahal kerjaannya pesepakbola itu ngapain sih? Bersih-bersih masjid? Mencangkul sawah? Menanam padi? Sama sekali tidak. Dia digaji karena keterampilannya menggiring bola melewati garis gawang. Sesederhana itu.

Bandingkan dengan sekawanan buruh kasar yang tengah bermandikan peluh mengaspal jalan di tengah terik matahari. Buruh-buruh itu tahu, penghasilan yang diperoleh dari pekerjaannya tidak sebesar pesepakbola di Manchester tadi. Mereka juga tahu jika profesinya boleh jadi tidak sekeren pesepakbola itu. Tapi, dunia ini membutuhkan tenaga mereka. Harus ada seseorang yang ikhlas menjadi buruh pengaspal jalan demi kelancaran transportasi umat manusia. Secanggih apapun kendaraannya, kita tetap membutuhkan jalan yang layak untuk kelancaran laju kendaraan kita.

Begitu juga dengan para tukang tambal ban. Selama peradaban kita mengenal ban dan roda, selama itu pula kita membutuhkan jasa para tukang tambal ban. Setidaknya, sampai para ilmuwan menemukan teknologi yang bisa membuat kita bepergian—tanpa perlu sepasang roda untuk berpijak. Dan bagi saya, para tukang tambal ban di pinggir jalan adalah para superhero yang sebenarnya. []

August 01, 2017Benny Prastawa

Saturday, July 1, 2017

Pelajaran dari Mobil Ambulans


“Kenapa tulisan ‘AMBULANCE’ di mobil ambulans ditulis terbalik? Karena kalau mobilnya yang dibalik, kasihan sopirnya dong.”

Saya membaca lelucon itu ketika masih duduk di bangku SD. Entah kenapa, sampai beranjak dewasa, saya masih mengingat lelucon itu. Tidak hanya mengingat, tapi sampai memikirkannya. Saat itu, internet belum ada. Jadi saya tidak bisa langsung mencari jawaban kenapa tulisan ambulans ditulis terbalik?

Saya baru menemukan jawaban lelucon itu ketika saya mengenal kaca spion dan menjadi pengendara motor aktif. Tentu saja, sejak awal saya percaya jika alasan membalik tulisan ambulans bukan untuk ngelawak atau sekedar gaya-gayaan. Jelas ada sesuatu yang penting di balik kesengajaan tersebut.

Ceritanya, suatu hari saya sedang mengendarai motor. Saat itu, sebuah mobil ambulans melaju kencang di belakang saya. Suara sirinenya meraung-raung memekakkan telinga. Saking bisingnya suara sirine seakan-akan mengatakan: “Minggir...minggir...ada orang sekarat woy...! Kasih jalan semuanya...minggir....!!!” Demi mendengar sirine itu, saya pun patuh dan memberi ruang jalan bagi ambulans itu.

Sebelum mobil ambulans itu menyalip, saya sempat melirik kaca spion motor. Mobil ambulans itu tampak melaju kencang. Dari kaca spion, saya bisa membaca tulisan “AMBULANCE” di bodi mobil ambulans dengan posisi tulisan normal (tidak terbalik).

“Ooh...jadi begitu,” pikir saya. Sejak saat itu, saya pun tahu mengapa tulisan AMBULANCE ditulis terbalik.

*   *   *

Terbaliknya tulisan “AMBULANCE” boleh jadi hanya segelintir hal sepele yang bisa memberi manfaat bagi keselamatan para pengguna jalan. Seringnya mobil ambulans menyelip kendaraan lain membuat mobil itu harus didesain sedemikian rupa agar mudah dalam menjalankan fungsinya. Karenanya, tampilan luar mobil ambulans dicat putih agar terlihat mencolok. Suara sirine yang memekakkan telinga berfungsi sebagai sinyal agar pengendara lain meminggirkan kendaraannya. Dan tulisan “AMBULANCE” sengaja ditulis terbalik agar keberadaan mobil ambulans terlihat dari kaca spion pengendara di depannya. Semua atribut itu memudahkan pengendara lain untuk mengetahui kedatangan mobil ambulans—dengan harapan agar si pengendara mau menepi dan memberi jalan pada mobil ambulans.

Itu tadi baru mobil ambulans. Di luar sana, ada banyak hal-hal sepele yang sengaja dibuat demi keselamatan pengguna jalan maupun pengendara kendaraan bermotor, mulai dari zebra cross, garis marka, kaca spion, lampu sein, portal pembatas, rambu, sampai lampu merah. Benda-benda tersebut memang sengaja didesain sedemikian rupa untuk keselamatan para pengguna jalan. Sayangnya, tidak sedikit di antara kita yang lebih suka mengabaikan manfaat benda-benda itu. alih-alih kita malah melanggarnya hingga dampaknya seringkali malah merugikan.

Di bawah ini saya buat beberapa toplist barang sepele yang malah ‘berbahaya’ jika diotak-atik hingga mengabaikan fungsi asalnya.

1.Spion Kiri
Dengan alasan tren, jamak kita jumpai motor-motor tanpa spion kiri. Padahal, spion kiri juga memiliki fungsi yang sama pentingnya dengan spion kanan, terutama ketika kita ingin menyelip, memotong jalur, atau belok ke kiri. Tidak harena jika Pak Polisi sering merazia para pengendara motor yang spionnya ‘buntung’. Selain karena alasan estetika, alasan keamanan dan keselamatan berkendara seharusnya menumbuhkan kesadaran dan menjadikan hal tersebut sebagai prioritas. Karena itu, tanpa dirazia pun spion motor yang kita miliki seharusnya tetap lengkap di kanan dan di kiri.

Dalam hal spion kiri, kita perlu meneladani para engendara mobil. Sejauh ini, belum pernah saya menjumpai mobil yang spionnya ‘buntung’. Kalau pun ada, boleh jadi si pemilik mobil baru saja menjadi korban sindikat pencuri spion. Bagi pengendara mobil, spion kanan maupun kiri sama vitalnya karena mempermudah sopir dalam mengamati ruang gerak di sekitar mobil.

2.Knalpot
Fungsi dasarnya sih hanya untuk membuang gas sisa pembakaran mesin motor. Namun, dengan alasan tren, knalpot dimodifikasi hingga mampu mengeluarkan bising sekuat sirine ambulans. Saya tidak melarang berkembangnya industri knalpot. Tapi mbok ya knalpot yang suka mbleyer-mbleyer malam-malam itu ditertibkan. Apalagi jika knalpot dibuat bising hanya demi gaya-gayaan atau pamer. Kalau motor kalian Ducati, KLX, atau moge bersilinder ribuan cc masih mending, Tapi kalau motor kalian ‘cuma’ Astr*a Gr*nd, dan kalian membangga-banggakan knalpot bisingnya, jujur saja, itu sangat konyol.

3.Lampu Kuning
Lampu kuning untuk kendaraan bermotor sudah didesain sedemikian rupa agar tidak menyilaukan pengendara dari lawan arah. Warna kuning dipilih karena warna ini lebih redup dan tidak membuat mata mengalami ‘kebutaan sejenak’ akibat memandang objek yang silau. Hal ini berbeda dengan lampu putih. Lampu putih pada kendaraan bisa menyebabkan kebutaan sejenak saat pengendara dari lawan arah melihatnya. Dengan kata lain, mengubah warna lampu menjadi putih, atau memakai lampu neon justru bisa merugikan pengendara lain. Tidak jarang kecelakaan terjadi karena warna lampu kendaraan yang dimodifikasi.

4.Ban Standar
Idealnya, merampingkan ukuran ban dilakukan pada sepeda ontel (sepeda kayuh). Dalam koteks sepeda ontel, semakin ramping ukuran ban, semakin nyamanlah sepeda itu. Tapi, jika kita memasang ban ramping untuk motor, apalagi motor sport, saya mulai menyangsikan keselamatan pengendara motor itu. Memakai ban ramping untuk sepeda motor memang terlihat gaya. Tapi soal kestabilan dan kekokohan motor di jalanan yang tidak rata, kita pantas ragu. Tunggu saja sampai ban motor itu mencium lubang di jalan. Saya tidak yakin jari-jari roda itu bisa selamat.—termasuk nyawa pengendara motor ber-ban ramping itu.

5. Kap Penutup Lampu Belakang
Pernah membuntuti sepeda motor yang kap penutup lampunya tidak ada? Saya pernah mengalami itu, ketika motor yang saya kendarai persis di belakang motor tanpa kap lampu. Saat itu, saya dibuat kesal karena motor di depan saya tampak seolah-olah sedang bergerak ke arah saya. Tapi selang beberapa saat, motor saya tidak kunjung berpapasan dengan motor itu. Saya pun kesal setelah mengetahui motor di depan saya tidak memasang kap penutup lampu belakangnya. Kekesalan saya bisa berlipat jika kap penutup lampu sein-nya juga tidak ada. Hal itu sangat menjengkelkan karena membuat pengendara lain tidak bisa membedakan antara lampu belakang dengan lampu sein.

*   *   *

Lima hal yang saya sebutkan tadi hanya sekelumit hal-hal sepele yang sering disepelekan di jalan. Meski sepele, hal-hal tersebut bisa saja membuat orang lain jengkel, bahkan sampai mengancam keselamatan mereka.

Yah, dalam konteks tulisan ini, saya tidak akan menyuruh kalian meniru mobil ambulans untuk menulis merk kendaraan secara terbalik. Saya juga tidak melarang kalian mengutak-atik kendaraan kalian. Itu hak setiap orang. Hanya saja, perlu kita ingat bahwa jalan raya bukan milik emak kita. Pertimbangkan juga kenyamanan dan keselamatan orang lain setiap kali kalian ingin mengutak-atik kendaraan kalian.

Di sekitar kita, bertebaran benda-benda yang sudah didesain sedemikian rupa sesuai dengan fungsinya masing-masing, entah bentuk, ukuran, suara, warna maupun daya tampungnya. Hal itu tidak (selalu) berarti modifikasi adalah tindakan ilegal. Belajar dari mobil ambulans, modifikasi yang dilakukan pada tulisan “AMBULANCE” secara langsung justru mendatangkan manfaat.


Tapi ada juga jenis modifikasi lain yang sifatnya untuk ‘gaya-gayaan’, sekedar untuk kesenangan pribadi hingga mengabaikan fungsi asli suatu barang. Jenis modifikasi seperti ini terkadang bisa membawa dampak negatif bagi orang lain—seperti lima modifikasi benda yang sudah saya tulis di atas. Jika memang serius ingin “bergaya”, bergayalah dengan aman. Kalau perlu, belajarlah bergaya dari para model. Pelajari cara mereka berlenggak-lenggok di atas catwalk—bukan berlenggak-lengok di jalanan yang malah membuat celaka banyak orang.[]
July 01, 2017Benny Prastawa

Wednesday, June 14, 2017

Menertawakan Sikap Sok Tahu


Aku membiarkan orang yang suka berbicara semau mereka.
Itu membuatku lebih mudah untuk tahu 
seberapa besar omong kosong mereka.
(Jackie Chan—Rush Hour 1)

Kejadian ini bermula saat pelajaran komputer di sekolah menengah. Saat itu, tugas yang harus dikerjakan para siswa (termasuk saya) adalah mengetik beberapa baris paragraf dan menyisipkan gambar melalui auto shape. Naskah yang diketik harus sama dengan naskah yang diberikan, termasuk tata letak gambar auto shape yang disisipkan. Berhubung saya pernah memakai mesin ketik manual sebelumnya, urusan ketik-mengetik ini tidak terlalu sulit.

Yang membuat saya risih, di sebelah saya, seorang teman tampak sibuk membicarakan salah satu siswa yang tidak jago komputer. Ia menertawakan cara siswa itu ketika membuat gambar smiley (gambar orang tersenyum). Lazimnya, kita cukup mencomot gambar smiley dari menu auto shape. Tapi siswa tadi berbeda. Dia justru membuat gambar smiley dengan menyusun bagian-bagiannya satu per satu. Karena caranya yang konyol, siswa itu pun menjadi bahan tertawaan teman-temannya di kelas.

Tidak hanya saya, kalian mungkin juga pernah memiliki teman, atau mungkin pernah mengalaminya sendiri ketika kalian ditertawakan orang lain karena tidak bisa melakukan suatu pekerjaan yang seharusnya mudah dilakukan. Ya, menertawakan orang yang tidak bisa melakukan pekerjaan sepele, mungkin terasa menyenangkan. Tapi, bagi sebagian orang, hal semacam itu bisa jadi sudah cukup mempermalukan dan melukai harga dirinya. Selain itu, sebagai orang terpelajar, menertawakan orang karena ketidakmampuannya juga terasa tidak etis. Bisa jadi, di kemudian hari, kita sendirilah yang kena batunya—menjadi bahan tertawaan orang karena tidak becus mengurus pekerjaan sepele (merawat bulu hidung misalnya).

Nah, daripada menertawakan orang lain karena ketidaktahuannya, saya lebih ‘suka’ menertawakan orang yang sok tahu. Sepanjang umur kalian, kalian pasti pernah bertemu dengan orang yang sok tahu. Orang yang sok tahu, biasanya banyak bicara dan banyak berlagak. Ia akan sibuk mengomentari banyak hal—bahkan tentang hal-hal yang tidak diketahuinya sekalipun.

Misalnya kita sedang ramai mengobrol tentang komputer. Kemudian, salah seorang teman yang sok tahu datang. Belum ada semenit bergabung, teman kita tadi langsung bicara banyak. Gaya bicaranya meyakinkan sekali, seakan-akan hanya dia yang tahu soal komputer. Sampai suatu waktu, topik obrolan membahas tentang RAM. Teman kita tadi menimpali, “Ngapain mahal-mahal beli RAM. Kalau RAM-nya rusak, ya tinggal download aja di internet. Lebih murah, asal nyambung internetnya.” Mendengar itu, teman kita tadi malah menjadi bahan tertawaan orang-orang di sekelilingnya.

Pada kasus yang lebih serius, orang yang sok tahu bisa sampai merugikan bahkan membahayakan keselamatan orang lain. Misalnya saja ketika kita sedang tersesat mencari alamat si A. Karena tak kunjung ketemu, kita pun bertanya pada seseorang yang kebetulan berada di situ. Dengan nada meyakinkan, orang itu menjelaskan rute-rute menuju tempat si A, belok sana, belok sini, sampai kita percaya bahwa apa yang dikatakannya benar.

Nyatanya, begitu kita mengikuti petunjuk orang itu, alamat si A belum ketemu juga. Tahulah kita bahwa orang yang kita tanyai tadi cuma sekedar sok tahu, karena dia sendiri masih terhitung warga baru di situ. Menyebalkan sekali bukan? Kalau memang tidak tahu, kenapa tidak jujur saja di awal?

Contoh nyata, saat televisi di rumah saya bermasalah. Beberapa channel yang biasanya ditonton, tiba-tiba hilang (tidak ada sinyal). Ibu saya pun menghubungi seorang teknisi yang dianggap cukup tahu masalah televisi. Begitu si teknisi datang, teknisi itu segera mencari tahu sumber masalahnya. Ada dugaan, pemrograman channel televisi di rumah saya bermasalah. Si teknisi pun mulai mengambil remote dan mengutak-atik menu pemrograman channel.

Berjam-jam kemudian, teknisi itu masih sibuk dengan pekerjaannya. Ibu saya masih menunggui si teknisi. Sampai akhirnya, setelah berjam-jam mengutak-atik televisi, teknisi itu pun angkat tangan. Hasilnya, hanya sebagian channel yang hilang yang berhasil dikembalikan.

Saat kebetulan saya pulang ke rumah, ibu saya mengadu tentang masalah televisi dan teknisi yang dimintai tolong tempo hari. Saya pun mencoba mencari tahu masalah televisi itu dengan Google. Setelah menemukan artikel yang cocok, saya pun mengikuti panduan artikel tersebut dan channel-channel yang hilang akhrinya bisa kembali.

Saya tidak mau berburuk sangka pada si teknisi. Boleh jadi, hanya kebetulan saja ia tidak mampu mengatasi masalah televisi di rumah saya. Yang saya sayangkan, jika memang si teknisi tidak tahu cara menyelesaikan pekerjaannya, mengapa ia tidak jujur saja di awal? Mengapa tidak berlapang dada dan mengakui ketidakmampuannya sejak awal? Alih-alih dengan sikap “sok tahu” itu, si teknisi tadi telah mempersulit urusan orang lain.

Pada dasarnya, kebanyakan manusia memiliki dorongan kuat untuk menciptakan kesan “sempurna” dalam dirinya. Manusia selalu ingin menampilkan segala kelebihan yang dimilikinya di depan orang-orang. Ketika orang-orang ramai memuji dan menyanjung, kita pun gembira. Di sisi lain, kita cenderung berusaha menyembunyikan segala kekurangan yang ada dalam diri kita. Kita tidak ingin orang-orang tahu kelemahan kita. Kita akan sangat ilfil ketika orang-orang nyinyir dan mencibir ketidakmampuan kita. Karena itu, kita pun berusaha menutupi kelemahan kita dengan berbagai cara.

Sikap sok tahu hanyalah segelintir cara yang biasa dilakukan seseorang untuk menutupi ketidakmampuan/ketidaktahuan kita pada sesuatu. Jika sikap sok tahu tidak cukup untuk menutupinya, maka kita cenderung akan banyak bicara sambil membual tentang banyak hal. Semua itu dilakukan demi agar orang lain tidak sempat mengendus ketidaktahuan kita. Jika kebetulan ada orang yang mengetahui omong kosong kita, lama-kelamaan orang itu akan risih jika berada di dekat kita.

Catatan ini tidak bermaksud menuduh kalian sebagai orang sok tahu. Catatan ini sekedar self reminder agar kita terhindar dari sikap sok tahu. Karena, sekali lagi, sikap sok tahu itu menyebalkan sekali. Sesekali, kita mungkin berhasil menutupi ketidaktahuan kita dengan sikap sok tahu. Tapi ketika kita kena batunya, maka orang lain akan segera menertawakan kita.

Alih-alih akan terasa lebih damai jika kita memilih untuk menjadi orang yang jujur dan apa adanya. Jika kita memang tidak tahu tentang suatu hal, maka katakan saja sejujurnya bahwa kita tidak tahu. Dan karena kita tida tahu, maka bertanyalah. Sikap semacam itu lebih aman dan lebih bijak untuk menjaga respek orang lain pada diri kita. Selain itu, dengan berlaku jujur, harga diri kita bisa lebih terjaga dan kita pun terhindar dari resiko mempersulit urusan orang lain karena sikap sok tahu. Semoga, kita semua dijauhkan dari tabiat sok tahu, dan dijauhkan dari orang-orang yang sok tahu beserta cocot tingkahnya yang menyebalkan dan merugikan. []
June 14, 2017Benny Prastawa

Saturday, April 22, 2017

Dokter Gigi


Jika kamu tidak pandai tersenyum,
lebih baik jangan jadi pedagang
(pepatah Cina)

Tempo hari, sakit gigi saya kambuh—tepatnya di geraham belakang sebelah kiri. Selama ini, geraham belakang saya memang bermasalah. Giginya berlubang karena tambalannya copot. Karena saya bukan ahli gigi saya hanya berpurba sangka—jangan-jangan kuman-kuman di dalam mulut saya sudah ‘beranak-pinak’ di lubang gigi itu. Pada akhirnya, kuman-kuman itulah yang menyebabkan sakit gigi saya kambuh. Gusi di sekitar geraham saya pun ikut membengkak. Rasa ngilunya luar biasa. Benarlah jika ada yang bilang: “sakit gigi lebih menyakitkan daripada sakit hati” (untuk saat ini, saya setuju dengan ungkapan itu).

Bagian paling menjengkelkan dari sakit gigi adalah ‘sensasi nyerinya’ yang menjalar. Bagian-bagian tubuh yang tidak ada sangkut-pautnya dengan gigi bisa ikut-ikutan sakit. Dari beberapa artikel yang pernah saya baca di internet, sakit gigi bisa menyebabkan demam, infeksi, peradangan, gusi berdarah, linu di sekitar kepala dan bahu, sampai gangguan sinusitis. Pada kasus saya, sakit gigi ini sukses mendatangkan demam, nyeri kepala, dan gangguan pencernaan (gara-gara nafsu makan saya anjlok). Biasanya, saya akan meminum paracetamol untuk meredakan rasa nyeri akibat sakit gigi. Tapi kali ini, paracetamol saja tidak cukup. Selang tiga hari kemudian, sakit gigi saya belum mereda. Saya pun memutuskan untuk segera ke dokter gigi.

Berbicara soal dokter gigi, saya punya seorang dokter gigi langganan—Bu In namanya. Saya sudah memakai jasa layanan Bu In sejak tahun 1995 atau sejak umur 3 tahun. Setiap kali gigi saya bermasalah, saya selalu pergi ke klinik Bu In. Sejauh ini, saya enggan beralih ke dokter gigi lain. Pikir saya, jauh lebih mudah dan aman jika saya memeriksakan gigi ke klinik Bu In karena semua rekam medis gigi saya ada di kliniknya. Karenanya, setelah dewasa pun saya tetap memakai jasa Bu In untuk merawat gigi saya.

Sejak kecil, riwayat gigi saya memang tidak beres. Kebiasaan saya mengunyah permen, membuat saya hampir kehabisan gigi. Gigi saya banyak yang tanggal dan berlubang di sana sini. Karenanya, tidak heran jika saya sudah menjadi pelanggan Bu In sejak berumur 3 tahun. Berkat klinik Bu In, gigi-gigi saya yang bermasalah pun bisa terselamatkan.

Pertama kali saya datang ke klinik Bu In bersama ibu saya. Ibu saya pernah bilang kalau dia membawa saya ke klinik Bu In agar saya tidak terlalu kesakitan saat diperiksa. Dan memang begitulah adanya. Sejak dulu, klinik Bu In terkenal dengan keramahannya melayani pasien anak-anak. Meski begitu, seperti bocah-bocah lain pada umumnya, saya tetap ketakutan melihat alat-alat perawatan gigi di ruang kerja Bu In, mulai dari lampu sorot berwarna kuning yang menyilaukan, penjepit, tang pencabut, dan tentu saja—bor gigi.

Dan tanpa terasa, dua puluh satu tahun berlalu. Saya kembali mengunjungi klinik Bu In untuk yang kesekian kalinya. Kali ini, saya butuh bantuannya untuk menambal gigi saya yang bolong. Begitu masuk ke ruang periksa, ada sebongkah perasaan nostalgia di benak saya. Pandangan saya tertumbuk pada sebuah kursi periksa di tengah ruangan—kursi empuk yang engselnya bisa bergerak otomatis naik-turun. Terbayang bagaimana saya dulu duduk di kursi itu, sambil bergidik ngeri menahan sakit saat giginya dicabut. Dan Bu In...ah, beliau masih seperti yang dulu. Wajah orientalnya masih tetap terlihat muda meski usianya mungkin hampir berkepala enam (saya katakan “mungkin”, karena saya tidak tahu usianya. Saya sungkan berbasa-basi menanyakan umur).

Saat memeriksa gigi saya, Bu In masih mempertahankan “cara-cara lama”. Pendekatan sugestifnya terhadap pasien masih sama dengan yang dulu dilakukannya sewaktu memeriksa saya. Kata-kata perintah Bu In sangat khas sehingga masih terngiang-ngiang di telinga saya.

Buka mulutnyaaa...

Gigit...”

Kumur-kumuuur...

Entah sengaja atau memang sudah kebiasaannya, Bu In sering memanjangkan suku kata terakhir saat memberi perintah pada pasieannya. Dengan cara itu, Bu In sukses mengesankan dirinya sebagai sosok yang ramah serta menjauhkan pasiennya dari rasa takut dan trauma. Tekanan dan intonasi suaranya yang lembut seakan-akan menggantikan peran morfin sebagai penghilang sakit—menenangkan. Gara-gara itu pula saya benar-benar kembali menjadi "bocah" di depan Bu In.

*   *   *

Bagi saya, keramahan pelayanan adalah hal terpenting dalam berbisnis. Pepatah Cina mengatakan "jika kamu tak pandai tersenyum, jangan menjadi pedagang." Karena semua orang pada dasarnya suka diperlakukan secara ramah. Keramahan pelayanan kalian adalah cara efektif menggaet pembeli. Tidak hanya itu, keramahan kalian bisa menumbuhkan kepercayaan pembeli yang membuatnya tidak ragu untuk kembali membeli barang di tempatmu. Tak peduli sebagus dan se-wah apapun barang jualannya, jika kalian bersikap judes nan amit-amit pada pembeli, saya tidak yakin si pembeli sudi datang ke tempatmu lagi.

Begitu juga dengan klinik Bu In. Alasan saya setia menjadi pelanggannya adalah keramahan pelayanannya. Saya pernah dibuat ilfil oleh seorang dokter yang judes dan bekerja setengah-setengah. Gara-gara itu, saya enggan kembali ke kliniknya. Jangankan periksa, menebus resepnya pun saya tidak sudi. Saya merasa diperlakukan seperti motor yang diservis. Tidak ada sentuhan humanis dan sugesti untuk menenangkan pasiennya. Karenanya, saya pernah bilang jika saya rela menebus harga yang sedikit lebih mahal demi sebuah keramahan pelayanan. Dan saya tidak akan merasa rugi karenanya.

Apa bedanya dengan klinik Bu In?

Tentu saja beda. Dokter yang satu memeriksa saya seperti motor butut di tempat bengkel servis, sementara Bu In memeriksa saya selayaknya benda hidup yang bisa bicara dan merasa. Tidak mengherankan jika klinik Bu In selalu ramai didatangi pasien. Bahkan meski di sebelah klinik Bu In sudah berdiri klinik dokter gigi baru, pelanggan setianya yang sudah “kadung krasan” (terlanjur nyaman) tetap memilih memeriksakan giginya di klinik Bu In—termasuk saya.

Meski begitu, tidak semua keramahan pelayanan berkonotasi positif. Ada juga jenis keramahan pelayanan yang menjengkelkan, misalnya di toko-toko swalayan berjejaring. Di toko-toko semacam itu, keramahan pelayanan yang kita terima terasa seperti sebuah “basa-basi sistematis”. Sebagai pelanggan, kita hampir selalu mendapatkan keramahan dan basa basi yang sama di toko-toko serupa. Alih-alih merasa nyaman, kita bisa dibuat ilfil karena pertanyaan-pertanyaan seperti: “Kartu membernya ada?” “Kembaliannya permen, ya?” “Kembaliannya mau disumbangkan?” “Terima kasih sudah berbelanja di sini...” “Dimulai dari nol, ya...”
Aaarghh....!#berisik (nutup kuping).

Sekalipun keramahan pelayanan penting, dalam praktek penggunaannya tetap harus memperhatikan konteks waktu, tempat, dan kondisi konsumen yang kita hadapi. Keramahan pramugari di pesawat, tidak akan cocok diterapkan di pom bensin. Keramahan pelayanan operator telepon seluler tidak akan cocok dipakai di toko-toko swalayan berjejaring. Pun dengan keramahan pelayanan di tidak akan cocok diterapkan di pasar. Karena di tempat-tempat itu, konsumen yang kita hadapi seringkali terburu-buru. Mereka tidak punya waktu memperhatikan keramahan dan kelembutan kata-kata kita. Dalam hal ini, jauh lebih efektif jika keramahan pelayanan itu ditunjukkan dengan bahasa tubuh (gesture), seperti senyum, jabat tangan, atau sekadar wajah yang ceria. Ini jelas lebih baik dan tidak se-lebay basa-basi ‘sok ramah’ yang kadang membuat ilfil pelanggan—ya seperti di toko-toko swalayan berjejaring itu. []


*Sampai saya menulis catatan ini, Bu In masih diberi umur panjang dan membuka praktek di kliniknya. Dan seperti ketika saya bocah dulu, klinik Bu In selalu ramai dikunjungi pasien. Semoga sehat selalu Bu In, agar gigi saya juga kembali sehat. Terima kasih klinik Tong Pang Bu In.