Saturday, January 5, 2019

Resolusi Tahun Baru



Tahun baru, resolusi baru. Umumnya, di sela-sela perayaan tahun baru, sebagian orang akan membuat resolusi atau serangkaian rencana tahunan dan target-target yang harus dicapai di tahun itu. Tentu saja, mereka yang sibuk memikirkan resolusi adalah kelompok orang yang “sadar diri”—bahwa esensi tahun baru bukan sedangkal gegap gempita kembang api yang penuh hura-hura, melainkan perenungan panjang tentang rencana hidup di masa depan.

Ironisnya, saya malah tidak pernah membuat resolusi-resolusi tahun baru semacam itu. Boleh jadi karena saya tidak termasuk kelompok orang yang “sadar diri” tadi. Bagi saya, sekedar membuat rencana, resolusi, apapun itu namanya, tidak harus menunggu tahun baru tiba. Saya lebih suka membuat rencana dan pengharapan pada saat yang bersamaan. Boleh dibilang, setiap hari saya membuat rencana, tidak harus menunggu tahun baru dengan rincian resolusi yang muluk-muluk.

Kenapa?

Karena dalam pandangan saya, ketika kita membuat rencana dan target, kita pasti akan selalu dihadapkan pada pengharapan kuat agar rencana dan target itu tercapai. Misalnya kita membuat resolusi “tahun ini saya harus nambah berat badan 10 kilo”. Pada saat yang sama, kita pasti menumbuhkan pengharapan agar rencana kita bisa terwujud. Hal ini normal dan wajar. Masalahnya adalah ketika kita sampai di penghujung tahun dan mendapati ternyata berat kita cuma naik 5 kilo. Sejumput kekecewaan bisa kita rasakan karena resolusi yang sudah kita proklamasikan sejak awal tahun tidak terwujud.

Atau resolusi lain misalnya “tahun ini saya harus lulus kuliah dan dapat pekerjaan”. Pada saat yang sama, kita pasti akan berharap agar resolusi itu terwujud. Tapi bagaimana jika ternyata pada akhir tahun kita masih harus bersabar menjalani fase nganggur setelah lulus kuliah? Bisakah kita berlapang diri untuk tidak kecewa ketika resolusi awal tahun kita tidak tercapai?

Karena itu, saya tidak pernah muluk-muluk membuat resolusi di tahun baru. Tahun baru ya biar saja tahun baru. Rencana, target, resolusi, apapun itu namanya, silahkan dibuat dengan syarat kita punya kendali penuh terhadap setiap pengharapan yang muncul. Hal ini penting agar kita tidak terbiasa menanggung kecewa di akhir tahun karena resolusi-resolusi kita terlalu ndakik-ndakik—yang ujung-ujungnya malah tidak tercapai.

Soal rencana dan target, saya jadi ingat ungkapan “manusia berencana, Tuhan menentukan”. Entah siapa yang pertama kali mengatakannya, yang jelas, meski terdengar puitis dan padat isinya, ungkapan tersebut berpotensi menyesatkan. Ungkapan “manusia berencana, Tuhan menentukan” seakan-akan melimpahkan tanggung jawab moral kepada Tuhan atas setiap nasib yang kita terima. Jika kita sudah membuat rencana, dan rencana itu berjalan baik, maka syukurlah—tidak ada yang perlu dipersalahkan. Tapi jika kita sudah membuat rencana, tapi ternyata rencana itu tidak berjalan sebagaimana mestinya, kita pun mencak-mencak dan melimpahkan kekecewaan pada Tuhan. Lha wong kita yang membuat rencana, kita yang menjalani hidup, masak setiap kesialan dan kegagalan yang kita terima menjadi tanggung jawab Tuhan semua? Apa tidak kurang ajar sekali ini namanya?

Tidak heran jika ungkapan “manusia berencana, Tuhan menentukan” biasanya malah keluar dari mulut ketus orang-orang yang gagal dalam hidupnya. Tidak sepenuhnya salah sih, hanya perkenaannya kurang tepat. Seharusnya redaksi kata pada ungkapan itu dilengkapi, “manusia berencana dan berikhtiar, apapun hasilnya biarlah Tuhan yang memastikan.” Yang dimaksud “memastikan” di sini adalah memastikan takdir terbaik apa yang pantas diterima orang-orang yang telah sabar berikhtiar. Tambahan kata-kata dalam ungkapan ini perlu dilakukan, setidaknya untuk menghindari dua hal.

Pertama, agar orang-orang tidak kebablasan dalam melimpahkan tanggung jawab kesalahan pada Tuhan setiap kali menemui kegagalan dan nasib buruk. Kedua, agar orang-orang tidak cuma berencana dan ongkang-ongkang kaki tanpa ada ikhtiar dna kerja keras untuk mewujudkan rencana yang telah dibuat. Bukankah Tuhan tidak akan mengubah nasib seseorang kecuali jika dalam diri orang itu ada niat dan kerja keras untuk berubah?

Jika kita sudah tahu hukumnya sesederhana itu, tidak ada alasan bagi kita untuk menyalah-nyalahkan Tuhan atas nasib buruk yang kita terima. Kita tidak berhak memaksa (atau bahkan memalak) Tuhan agar menuruti dan melancarkan semua rencana kita. Ada batas-batas tertentu yang terkadang membuat kita harus legawa menerima nasib buruk atau menghadapi kegagalan dalam rencana kita karena hanya Tuhan yang paling tahu apa yang terbaik bagi kita.

Seperti cerita seorang petani yang kehilangan kuda kesayangannya. Si petani bersedih karena merasa mendapat nasib buruk. Tak lama berselang, kuda kesayangannya pulang sambil membawa kuda lain yang tidak kalah bagusnya. Si petani bergembira karena merasa mendapat nasib baik. Lalu anak si petani bermain-main dengan kuda yang baru tadi. Karena tidak hati-hati, si anak terjatuh dari kuda dan kakinya patah. Si petani kembali meratap karena kemalangan yang menimpa anaknya. Beberapa waktu kemudian datanglah sekelompok penggawa kerajaan yang mencari lelaki muda untuk dilatih beperang. Anak si petani tidak diajak karena kakinya cacat. Si petani pun bersyukur karenanya.

Tidak semua nasib buruk yang menimpa kita, benar-benar berarti buruk bagi kita. Ada sekelumit dimensi illahi yang kita tidak akan pernah bisa mengintipnya. Tentang nasib, ada lebih banyak rencana Tuhan yang tidak bisa kita tebak. Karena jatah manusia memang sekedar berikhtiar maksimal, berdoa, dan memasrahkan segala hasil akhir pada Tuhan. Jika Tuhan selalu mengiyakan semua doa pada saat yang bersamaan, maka yang terjadi kemudian adalah kekacauan.

Seperti dalam film jadul Jim Carrey berjudul “Bruce Almighty”. Alkisah, di film itu, seorang pemuda bernama Bruce (Jim Carrey) ditakdirkan mendapat “nasib khusus” untuk menjalankan peran “tuhan” selama beberapa hari. Sebagai “tuhan”, Bruce berhak memiliki fasilitas-fasilitas ketuhanan dengan segala sifat ke-maha-annya, termasuk kekuatan untuk mendengar doa-doa dari hati manusia.

Ternyata, doa-doa yang disampaikan umat manusia sangat banyak. Saking banyaknya, Bruce sampai tidak bisa tidur karena kewalahan menjawab semua doa. Demi mempersingkat waktu, Bruce mengiyakan dan mengabulkan semua doa yang didengarnya. Untuk sesaat, sepertinya tidak ada masalah. Orang-orang telah mendapatkan “YA” untuk setiap doa yang dipanjatkan.

Tapi, keesokan harinya, kekacauan massal segera terjadi di dunia manusia. Bank-bank mendadak bangkrut karena semua pengajuan kredit nasabah dikabulkan. Orang-orang yang berjudi mendadak kaya setelah memenangi semua taruhannya. Kantor-kantor perusahaan juga menjadi ramai karena semua pegawai mendapat kenaikan gaji. Bruce menjadi stres dan merasa bertanggung jawab atas kekacauan yang terjadi di dunia manusia akibat kecerobohannya mengabulkan semua doa. Di akhir cerita, Bruce meminta “tuhan” agar kekuatan ketuhanan yang ada padanya dicabut dan kehidupan manusia kembali normal.

Meski film Jim Carrey tersebut sangat nyeleneh sekaligus sensitif (mengangkat topik yang nyerempet-nyerempet konsep tuhan), harus diakui bahwa apa yang disampaikan si pembuat film memiliki pesan moral yang positif. Kita harus menyadari bahwa hidup ini sepeti roda yang berputar. Nasib baik dan nasib buruk akan dipergilirkan dalam setiap segmen kehidupan kita. Selain itu, tidak semua doa dan pengharapan kita dapat langsung terwujud dan mendapat jawaban “YA” dari Tuhan. Tuhan selalu memiliki pertimbangan dan keputusan tersendiri untuk setiap nasib hamba-hamba-Nya. Pada dimensi ini, sungguh hanya Tuhan yang paling memahami apa yang paling baik bagi manusia. Sedangkan jatah kita cukuplah dengan tunduk patuh dalam tetes kesabaran ikhtiar dan kekhidmatan doa dengan pengharapan semoga Tuhan berkenan memberikan nasib terbaik sebagai imbalannya.

Jadi, apa resolusi saya untuk tahun baru ini? Jawabannya tidak ada. Ya, tidak ada. Saya tidak mau muluk-muluk beresolusi tanpa aksi. Saya juga tidak mau ndakik-ndakik memanjatkan target dan pengharapan tahunan yang menggunung dan melangit. Kalau ada Undang-Undang yang mewajibkan setiap warga negara memiliki resolusi tahun baru, resolusi saya cukup satu saja: mengganti kalender di dinding rumah. Sudah.[]

#backDate

January 05, 2019Benny Prastawa

Thursday, December 20, 2018

Popok Bayi


Melihat kenyataan popok kotor yang menumpuk di ember, terkadang saya kok jadi berpikir agak “milsuf”. Tumpukan popok kotor bisa kita ibaratkan seperti tugas-tugas atau kewajiban-kewajiban hidup yang harus kita kerjakan, tapi kita menunda-nunda penyelesaiannya. Semakin sering kita menunda suatu tugas maka tugas-tugas itu akan semakin menumpuk dan membuat kita kewalahan. Dengan kata lain, semakin banyak penundaan yang kita lakukan, semakin enggan kita menyelesaikan tumpukan tugas itu.

Hal ini sama persis dengan masalah popok bayi. Pada usia-usia awal pasca kelahiran, bayi cenderung berak dan pipis lebih sering. Konsekuensinya, bayi harus lebih sering ganti popok karena bayi akan rewel jika memakai popok kotor. Dalam hal ini, bayi baru lahir biasanya akan memakai popok kain yang bisa dipakai berulang kali (pemakaian popok sekali pakai biasanya kurang disarankan karena bisa memicu reaksi alergi pada kulit bayi). Agar bisa dipakai berulang kali, mau tak mau, orangtua harus rajin mencuci popok bayinya. Dari sinilah masalah tumpukan popok kotor dimulai.

Entah karena kesibukan atau karena orangtuanya yang “malas”, tugas mencuci popok sangat mungkin tertunda-tunda. Akibatnya, popok kotor dengan bau amoniak yang menyengat menumpuk di ember cuci. Jika stok popok bersih tidak mencukupi, si bayi bisa berada dalam masalah serius—lebih-lebih bayi yang baru lahir karena tidak tahan jika popoknya kotor.

Untuk menyiasatinya, beberapa orangtua mungkin akan berpaling pada popok sekali pakai yang lebih praktis. Begitu bayi ngompol atau berak, popok sekali pakai bisa segera dibuang. Urusan popok kotor pun selesai. Dengan cara ini, para orangtua tidak perlu repot memikirkan cucian popok yang menggunung di ember.

Tapi, seperti yang dijelaskan sebelumnya, popok sekali pakai sangat mungkin memicu reaksi alergi pada kulit bayi. Reaksi alergi ini biasanya berupa ruam atau bercak-bercak kemerahan pada bagian pantat, selangkangan, atau pada lipatan-lipatan paha yang bersinggungan dengan popok. Karena itu, popok kain menjadi pilihan teraman agar bayi tidak menderita karena reaksi alergi semacam ini. Sungguh tidak “berperi-kebayian” sekali jika orangtua memilih kulit si bayi menderita hanya karena keengganan dan kemalasan mereka mencuci popok.

Dan begitulah, urusan cuci-mencuci popok kotor ini menjadi potret tugas-tugas dan kewajiban hidup kita sehari-hari. Popok yang kotor akan segera menumpuk jika tidak segera dicicil pencuciannya. Begitu pula dengan tugas-tugas dan kewajiban dalam hidup yang harus segera kita tunaikan. Terlepas dari apapun status sosial dan profesi yang kita jalani, kita harus konsisten menyelesaikan tugas-tugas tersebut agar tidak menumpuk dan menimbulkan masalah di kemudian hari.

Ya, seperti popok kotor tadi. Cara terbaik mengatasi popok kotor adalah mencucinya sesegera mungkin. Jadi, ketika satu dua popok sudah terkena urin atau feses, cucilah segera popok itu. Jika cara ini dirasa memberatkan, maka cicillah pencucian popok setiap 6 sampai 10 jam sekali—jangan sampai membiarkan popok kotor lebih dari 24 jam (kasihan baunya).

Begitu pula dengan tugas atau pekerjaan kita sehari-hari. Tidak ada jawaban lain yang lebih baik untuk mengatasi tumpukan tugas, selain dengan menyelesaikannya sesegera mungkin sebelum tugas-tugas itu “beranak-pinak” dan menumpuk lebih banyak lagi.

Yang perlu kita ingat, setiap penundaan kita atas tugas dan kewajiban-kewajiban yang seharusnya kita kerjakan akan selalu menuntut “bayarannya”. Seorang pelajar atau mahasiswa, misalnya, jika mereka tidak kunjung mengerjakan tugas-tugasnya, maka studinya bisa berantakan, nilai tidak maksimal, sampai-sampai kelulusan pun serba tertunda. Si pelajar atau mahasiswa jelas akan merugi, termasuk orangtuanya yang telah berdarah-darah membiayai studinya. Seorang karyawan, jika mereka tidak kunjung menggarap pekerjaannya, maka klien atau atasannya boleh jadi dirugikan. Imbasnya, sanksi-sankisi administratif pun dijatuhkan, bonus-bonus dinihilkan, liburan tertunda, gaji bulanan disunat, sampai yang terparah menghadapi resiko pemecatan.

Berteori dan beretorika memang mudah. Sedangkan untuk implementasi dalam keseharian perlu adanya tekad kuat dan disiplin diri yang tidak setengah-setengah. Selagi tubuh kita sehat dan waktu luang kita banyak, ada baiknya kita mensyukuri nikmat-nikmat itu dengan menyelesaikan apa yang menjadi tanggungan kita. Yah, seperti tulisan di gerobak sampah yang sering mangkal di dekat tempat kerja saya: “Diparingi Sehat, Kudu Manfaat” (diberi kesehatan, harus memberi manfaat). Semoga kita semua bisa konsisten menyelesaikan tugas serta dijauhkan dari racun kemalasan dan sikap menunda-nunda.[]

#backDate

December 20, 2018Benny Prastawa

Friday, December 7, 2018

Danien Kalandra Birth Day


Hari itu, Kamis sore, awan mendung masih bergelayut di atas langit. Ayah baru pulang dari kantor saat Bunda mengeluh perutnya terasa nyeri. Mulanya, kami menganggap hal itu biasa. Hasil pemeriksaan terakhir menunjukkan kondisi kehamilan Bunda masih normal-normal saja. Bunda bilang, beberapa hari terakhir perutnya memang sering terasa nyeri. Biasanya, rasa nyeri itu akan hilang dalam hitungan jam. Tapi, nyeri sore itu tampak berbeda karena diiringi dengan keluarnya bercak (flek) darah. Ayah dan Bunda mendadak cemas.

Usia kehamilan Bunda memang sudah lebih dari 37 minggu. Itu berarti, Ayah harus bersiap menghadapi segala kemungkinan karena fase melahirkan bisa datang sewaktu-waktu. Menurut hitungan dokter, hari perkiraan kelahiran (HPL) Bunda masih dua minggu lagi. Meski begitu, Ayah tetap harus siaga. Barang-barang yang perlu dibawa saat persalinan sudah Ayah kemasi dalam koper jauh-jauh hari sebelumnya.

Sekitar jam 10 malam, Bunda kembali mengeluh. Nyeri di perutnya tidak kunjung reda alih-alih semakin parah. Bercak darah yang keluar tadi sore membuat kecemasan Ayah dan Bunda menjadi berlipat. Ayah dan Bunda sempat ragu, apakah Bunda harus segera dibawa ke klinik atau bisa menunggu sampai Subuh andaikata nyeri itu hilang seperti biasanya. Akhirnya, untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk, kami memutuskan membawa Bunda ke klinik malam itu juga.

Menjelang tengah malam, kami sampai di klinik bersalin. Suasana klinik sangat lenggang saat itu. Gerbang klinik tampak tertutup rapat tanpa petugas jaga di sana. Ayah yang agak panik mencoba membuka gerbang yang ternyata tidak digembok. Terlihat tidak sopan sih—membuka gerbang tanpa permisi. Tapi situasinya yang serba darurat memaksa Ayah harus melakukan itu. Setelah gerbang terbuka, Ayah dan Bunda segera beranjak masuk ke klinik itu.

Seorang petugas klinik menghampiri kami dan menyilahkan kami utuk langusng masuk ke ruang bersalin. Kondisi darurat semacam itu sudah biasa, jadi menurutnya kami tidak perlu merasa canggung. Di ruang bersalin, Bunda dibaringkan dan segera diperiksa oleh dua orang bidan. Sementara Ayah beralih ke meja resepsionis untuk mengurus administrasi. Petugas-petugas jaga di klinik itu tampak sigap meski mata merah mereka tak bisa menyembunyikan rasa kantuk yang menjalar.

Dari hasil pemeriksaan sementara, Bunda belum mengalami “pembukaan”. Kehamilan Bunda masih baik-baik saja. Cairan ketuban di dalam rahim juga terindikasi normal. Meski begitu, Bunda tidak diperkenankan pulang. Demi mengantisipasi kondisi darurat, Bunda disarankan untuk berdiam di klinik itu. Ayah dan Bunda tidak keberatan. Maka, sepanjang malam kami berdua menghabiskan waktu istirahat di ruang bersalin.

Nuansa ruang bersalin yang serba asing menyulitkan kami untuk memejamkan mata. Peralatan-peralatan medis seperti pisau bedah, stetoskop, suntik, kasa, mesin pensteril, sampai alat kejut jantung bukanlah benda-benda yang biasa kami pajang di kamar tidur. Belum lagi aroma refisol (cairan pembersih lantai) yang menyeruak memenuhi ruangan, sedikit banyak membuat kami merasa kurang nyaman. Di sisi lain, Bunda masih terus menceracau mengeluhkan nyeri di perutnya yang semakin parah. Ayah hanya bisa cemas karena tidak ada yang bisa dilakukan untuk meringankan penderitaan Bunda. Maka, sepanjang malam itu, Ayah dan Bunda nyaris tidak bisa tidur. Baru pada saat waktu Subuh menjelang, Bunda bisa tertidur pulas. Ayah pun menyusul tertidur selepas sembahyang Subuh.

Saat Ayah terbangun, Bunda sudah dikerumuni seorang bidan dan beberapa asistennya. Mereka tampak sibuk memeriksa Bunda dan menanyakan kondisinya. Bunda bilang, cairan ketubannya sudah pecah. Ayah yang baru mengumpulkan kesadaran (karena letih kurang tidur) hampir tidak percaya karena perkiraan kelahiran masih dua minggu lagi. Dengan pecahnya cairan ketuban, maka bisa dipastikan fase kelahiran si jabang bayi tinggal menunggu hitungan jam. Untung saja Bunda dibawa ke klinik pada malam harinya. Andai kami memilih menunggu hingga Subuh, maka Bunda akan dibawa ke klinik setelah fase pecah ketuban. Dan itu tentu akan menjadi pilihan yang beresiko.

Setelah fase pecah ketuban, Bunda hanya bisa menunggu jalannya proses pembukaan alamiah. Total ada sepuluh tahap pembukaan yang harus dijalani. Dan untuk setiap tahap pembukaan, Bunda harus merasakan nyeri dan mulas yang luar biasa sakitnya. Berjam-jam setelah fase pecah ketuban, Bunda mulai merasakan peningkatan rasa nyeri yang semakin tak tertahankan. Berkali-kali Bunda harus mengatur napas, menghirup udara lewat hidung dan menghembuskan lewat mulut untuk mengurangi rasa sakit.

Ayah yang semalaman menunggu Bunda di klinik, hanya bisa pasrah menatap Bunda yang terus mengerang kesakitan. Andai rasa sakit itu bisa “dibagi”, tentu Ayah akan bersedia menanggung beban kesakitan itu. Bagaimana tidak? Sampai pukul 1 siang, tidak ada tanda-tanda rasa sakit Bunda mereda. Dengan kata lain, sudah 14 jam Bunda bergulat menahan rasa sakit! Setiap kali perutnya terasa berkontraksi hebat, Bunda mengerang. Mulutnya menceracau mengaduh penuh iba. Ayah bolak-balik memanggil bidan, meminta mereka mengecek kondisi Bunda. Namun bidan-bidan itu hanya meminta Ayah untuk bersabar dan membiarkan “proses pembukaan” berjalan alamiah. Bunda sempat meminta agar dirujuk ke rumah sakit lain. Tapi pihak klinik menolak karena terbentur regulasi asuransi kesehatan (BPJS) dan alasan meminimalkan resiko persalinan.

Maka, berjam-jam kemudian, Ayah harus berkelindan dengan momen paling traumatik—memandang wajah Bunda yang terus mengaduh dan mengerang kesakitan. Ayah harus menghadapi itu selama tidak kurang dari 18 jam! Di sisi lain, napas Bunda mulai terdengar terengah-engah. Bunda mulai berat untuk mengatur napasnya sendiri. Bulir-bulir keringat membasahi sekujur tubuhnya yang terkulai. Ayah ingin meredakan penderitaan Bunda yang semakin kepayahan. Tapi, sekali lagi,  tidak ada tindakan medis yang bisa dilakukan saat itu. Bidan pun hanya meminta Ayah agar sabar menunggu sampai Ayah sempat jengkel dibuatnya. Tapi Ayah bisa apa? Karena memang begitulah proses kodrati seorang ibu yang akan melahirkan secara normal.

Jumat sore, selepas adzan Maghrib, seorang bidan dan dua asistennya mendatangi Bunda untuk pemeriksaan lanjutan. Bunda tampak sangat kacau saat itu. Wajahnya kuyu bermandikan peluh. Napasnya masih tersengal-sengal riuh. Kabar baiknya, Bunda sudah berhasil melewati tahap pembukaan 10. Artinya, Bunda sudah siap melakukan fase terakhir untuk mengeluarkan si jabang bayi. Dengan bantuan bidan dan para asistennya, Bunda bersiap melakukan kontraksi untuk mendorong bayi agar keluar. Nyatanya, proses “mengejan” ini tidak semudah yang terlihat di video-video persalinan di Youtube. Berulang kali, dalam satu tarikan nafas, Bunda mengejan untuk mendorong keluar bayinya. Bunda membutuhkan tenaga ekstra setelah sebelumnya menahan sakit selama 18 jam! Benar-benar perjuangan yang sangat pantas diganjar pahala setara jihad.

Tahap terakhir persalinan ini memakan waktu hampir 1 jam. Bunda terus dimotivasi oleh bidan agar lebih kuat mengejan. Perjuangan Bunda sebenarnya hampir berhasil. Kepala bayi sempat tiga kali keluar. Hanya saja, kurangnya daya dorong membuat kepala bayi yang semestinya sudah bisa keluar, malah terbenam masuk kembali ke rahim. Bidan pun terpaksa bertindak dengan memperlebar jalan lahir.

Akhirnya, setelah tiga kali timbul tenggelam, pada kali keempat, kepala bayi berhasil keluar beserta badan utuhnya. Alhamdulillaah... Tak terperi bagaimana leganya Ayah melihat saga persalinan yang mendebarkan itu berhasil. Perjuangan bunda mengejan hingga berdarah-darah terbayar dengan lahirnya sesosok bayi mungil. Setelah dipotong dan dibersihkan pusarnya, bayi yang masih merah itu diletakkan di dekapan Bunda. Rona kelegaan, haru, dan bahagia berpadu memancar dari wajah Bunda yang letih. Dalam hati, Ayah dan Bunda tidak henti-hentinya berucap syukur, memuji kuasa Tuhan yan telah melancarkan persalinan malam itu. Tepat pukul 18.55, hari Jumat, 23 November 2018, bayi pertama kami telah hadir dan sah menjadi bagian semesta. Adzan dan iqamah Ayah kumandangkan masing-masing di telinga kanan dan kiri si bayi. Dan bayi kecil itu kami beri nama “Danien Akmal Kalandra”.

*   * *

Untuk putra saya—jika kelak engkau membaca catatan ini—maka sungguh, janjikan ini pada Ayah, yakni agar engkau selalu dan selalu berbakti serta menaruh rasa hormat pada ibumu. Tak peduli meski di matamu ibumu terlihat kurang sempurna, bawel, suka mengomel, apapun itu—andai engkau tahu sekilas saja perjuangannya saat melahirkanmu, yakinlah engkau akan bersimpuh takzim memohon ampun dan tak sekalipun berani mendurhakainya.

Semoga catatan ini bisa menjadi pengingat bagimu agar engkau sadar bagaimana harus berbuat dan berperilaku kepada orangtuamu, lebih-lebih kepada ibumu. Ingatlah, bahwa baginda Rasulullh SAW berpesan sampai tiga kali, mengingatkan tentang kewajiban seorang anak agar berbakti kepada ibunya, baru setelah itu ayahnya. Karena kasih ibu akan selalu ada sepanjang masa. Dan baktimu adalah jawaban terbaik untuk membalas budi pada ibumu. Tak tertolak.[]

Tuesday, November 20, 2018

Malu Dibilang Anak Mama


Aduh, apalah itu istilah “anak mama”. Anak muda memang selalu pintar membuat istilah. Ada teman kalian yang orangtuanya overprotektif, kalian lantas mengoloknya dengan panggilan “anak mama”. Ada teman kalian yang segalam macam urusan sering dicampuri orangtuanya, lalu kalian mengejeknya “anak mama”. Pun ketika teman kalian “terlalu rajin” membantu orangtuanya, (kenapa pula) kalian masih berseloroh bilang (dasar) “anak mama”?

*   *   *

Istilah “anak mama” biasanya muncul saat kalian remaja (sekitar SMP-SMA). Pada fase ini, kalian sudah tidak bisa disebut anak-anak, tapi juga belum sepenuhnya dewasa. Karena posisi kalian yang serba “nanggung” ini, ada perbedaan perlakuan orangtua yang bisa kalian terima. Ada orangtua yang memperlakukan anaknya seperti ketika ia masih kanak-kanak, ada pula orangtua yang sudah memberikan kepercayaan dan membiarkan anaknya berkembang seiring usianya.

Di satu sisi, remaja pada umumnya menginginkan kebebasan untuk bersikap. Remaja tidak ingin terlalu dikekang dan diatur-atur lagi layaknya anak SD. Jika remaja terlalu dikekang dan diatur-atur, ada kalanya ia akan bersikap emosional dan meledak-ledak. Hal ini adalah manifestasi dari “jiwa pemberontak” yang ada dalam diri remaja yang pasti dialami semua orang.

“Jiwa pemberontak” dapat berkembang menjadi energi kemandirian. Dengan cara ini, seorang remaja akan terdorong untuk berani mengambil inisiatif tindakan dan berusaha menyelesaikan segala persoalannya sendiri—tidak lagi gampang mengadu atau bergantung pada orangtua. Jika diarahkan dengan benar, “jiwa pemberontak” dalam diri remaja dapat mempercepat proses pendewasaan dan menjauhkannya dari sifat penakut, minder, atau cengeng.

Akan tetapi, jika “jiwa pemberontak” dalam diri remaja tidak tertangani dengan baik, maka ia cenderung akan mengekspresikannya dalam tindakan negatif seperti memalak teman, membolos, merokok, memakai narkoba, berpenampilan “bengal” (bertindik, tatto, rambut dikerok, dll), sampai melakukan tindak kriminalitas. Hal ini bisa terjadi jika seorang remaja tidak mendapatkan perhatian, peneladanan, dan pengarahan dari orang yang lebih dewasa di sekitarnya—tidak selalu orangtuanya—bisa juga dari lingkungan masyarakat tempat tinggalnya.

Karenanya, tidak sedikit orangtua sangat cemas saat anak-anaknya menginjak usia remaja. Sebagian di antara mereka berusaha memberikan kepercayaan pada si anak agar mau belajar dan berani mengambil sikap atas segala persoalan yang dihadapinya secara positif. Tapi tidak sedikit pula orangtua yang tetap melakukan proteksi (perlindungan) dan pengawasan yang mungkin—bagi si anak—dirasa terlalu berlebihan. Istilah “anak mama” pun muncul sebagai bentuk olok-olok bagi remaja yang orangtuanya terlalu ikut campur dalam setiap urusannya.

Sampai batas-batas tertentu, wajar saja remaja merasa malu jika orangtuanya terlalu ikut campur dalam urusannya. Remaja selalu ingin menghirup udara kebebasan yang mengizinkan mereka untuk belajar menentukan pilihan hidupnya sendiri. Tapi di sisi lain, remaja juga harus ingat bahwa orangtua adalah sosok yang harus dihormati. Betapapun “rewelnya” orangtua, seorang anak harus pandai menata sikap dan tidak mengurangi rasa hormat pada orangtuanya.

Teruntuk kalian yang sering diolok “anak mama”, olok-olok “anak mama” memang mengesalkan. Tapi, jangan jadikan hal itu sebagai alasanmu untuk menolak membantu orangtua. Jangan jadikan hal itu sebagai alasan untuk enggan mengantarkan ibu ke pasar (misalnya). Jangan jadikan itu sebagai pembenaran atas setiap pembangkangan dan sikap bandel kalian selama ini.

Belajarlah untuk berlapang dada menerima sikap dan perilaku orangtua kalian. Pahami, kenapa orangtua kalian berperilaku seperti ini, seperti itu, atau melarang ini, melarang itu. Bagaimanapun juga, kalian bisa tumbuh dewasa berkat orangtua kalian. Kalian bisa makan, minum, sekolah, dan tidur nyenyak, semua itu juga berkat orangtua kalian. Karenanya, selama orangtua kalian hidup, ada tanggung jawab moral bagi anak untuk selalu menghormati orangtuanya.

Jangan biarkan istilah “anak mama” menghalangi niat kalian utnuk berbakti pada orangtua. Lagipula, istilah “anak mama” itu FAKTA—bukan olok-olok jahil. Logikanya, jika kalian bukan “anak mama”, lalu kalian ini anak apa??? Anak sapi?[]

Kekuatan Terbesar Manusia


Ada banyak pasien yang divonis hidupnya tidak akan lama lagi, tapi mereka tetap rajin berobat dan berbuat. 

Ada banyak orang yang hidup dalam kungkung kefakiran, tapi mereka tetap menyeka peluh, bekerja dengan penuh kelapangan. 

Ada banyak orang yang sakitnya berlarut-larut, tapi mereka tetap tabah, tekun pergi ke dokter.

Ada banyak orang yang fisiknya tidak sempurna, lumpuh, tapi sibuk membuat karya yang bermakna bagi sesama.

Ada pula orang-orang yang tidak pusing memikirkan surga dan neraka, tapi tetap rajin beribadah dan beramal salih, ikhlas, semata mengharap ridha dari Tuhannya.

Kenapa?

Karena itulah kekuatan sejati harapan manusia.

Harapan memberikan tenaga bagi siapapun untuk tetap hidup.

Harapan membangkitkan keyakinan dalam diri manusia, bahwa esok, kesempatan baik itu akan datang.

Harapan menjadi jembatan akan terkabulnya doa-doa yang telah berpilin ke langit yang membuat manusia tetap percaya bahwa kehidupannya berarti.

Jika seseorang sudah tidak bisa membangun harapan, maka kehidupannya akan hampa. Ia akan rentan mengalami depresi. Rapuh, merasa bersalah, menganggap dirinya tidak berguna. Lelah, menyesal, kenapa dirinya harus dilahirkan.

Teramat banyak kasus bunuh diri karena hilangnya harapan. Jika seseorang masih menyimpan barang sekeping harapan, maka ia tidak mungkin nekat mengakhiri hidupnya.

Harapan adalah kekuatan terbesar manusia.

Yang dengannya, kita tetap memiliki kekuatan menjalani kehidupan dan menatap masa depan.

Kekuatan yang terus menjaga kita agar tetap sadar, bahwa episode kehidupan ini terlalu berharga untuk disia-siakan tanpa makna dan karya.[]
November 20, 2018Benny Prastawa