*Tulisan ini adalah lanjutan artikel sebelumnya di sini.
Master League adalah salah satu pilihan kompetisi dalam game Winning Eleven. Dalam Master League, kita bisa membangun sendiri sebuah klub sepakbola dengan pemain-pemain yang kita kumpulkan dari seluruh dunia. Secara berkala, pemain-pemain kita akan berkembang dan mengalami peningkatan skill seiring dengan pertambahan usia atau seberapa sering kita memainkan mereka. Dalam Master League, kita juga bertanggung jawab untuk mengelola keuangan klub. Kita tidak boleh sembarangan membelanjakan uang klub untuk membeli banyak pemain top sekaligus karena bisa mengakibatkan klub bangkrut (GAME OVER).
Di sinilah letak candu dan klimaks keseruan bermain Master League. Setiap kali musim transfer tiba, kita akan sibuk mencari dan merekrut pemain-pemain baru yang memiliki potensi untuk berkembang. Jika uang klub kita melimpah, kita bisa langsung merekrut pemain-pemain ber-skill top. Tapi jika uang klub terbatas, kita harus membidik pemain berharga murah yang bisa dipoles menjadi pemain berkualitas.
Saya dan Budi telah menghabiskan ratusan jam bersama dan melewati belasan musim kompetisi untuk bermain Master League. Berbagai masalah konyol telah kami lalui seperti salah menyimpan data, kehilangan data karena mati listrik sampai saling ngambek karena gol bunuh diri. Bagi kami berdua, ada kesenangan tersendiri ketika kami bisa merekrut pemain idola kami ke dalam klub yang kami mainkan. Ada pula jenis kesenangan lain yang kami rasakan ketika berhasil mengembangkan skill pemain, dari pemain yang mulanya ber-skill payah menjadi pemain top dengan skill level dewa. Meski sering dicibir karena cuma bisa bermain Winning Eleven, saya dan Budi tetap konsisten meneruskan permainan Master League.
Sering berjalannya waktu, saya tidak lagi intens bermain PS2 dengan Budi. Setelah lulus dari SMP, saya dan Budi melanjutkan studi di sekolah yang berbeda. Kami hanya sesekali main bareng jika sedang senggang, walau tidak seintens ketika masih menjadi teman sekelas. Klub kami di Master League yang telah kami jalankan selama belasan musim pun terbengkalai. Jika kebetulan kami bermain bareng, saya dan Budi lebih senang bertanding daripada bekerjasama melanjutkan Master League. Meski begitu, bagi saya pribadi, kompetisi Master League dalam game Winning Eleven telah menjadi candu yang kesenangannya sulit dienyahkan.
Candu ini pun berlanjut bahkan sampai saya kuliah. Bermodal sebuah kartu memori, saya bertualang ke berbagai tempat rental PS2 di sekitar kampus sekedar untuk menuntaskan hasrat saya bermain Master League. Seperti yang saya jelaskan tadi, ada kesenangan tersendiri ketika saya mendapati pemain-pemain di klub saya berkembang menjadi pemain top. Saya juga dikejar rasa penasaran untuk terus berburu pemain-pemain berbakat saat musim transfer dibuka. Hanya saja, saya mulai bosan dan kewalahan jika harus pergi ke tempat rental setiap kali ingin bermain Winning Eleven. Belum lagi jika mengingat biaya sampingan yang harus saya bayar untuk setap jam bermain di tempat rental. Saya sempat berpikir utnuk membeli konsol PS2 sendiri, tapi saya terlalu malas untuk menabung demi benda semacam itu. Saya pun memutuskan untuk berhenti bermain Master League di tempat rental.
Sampai suatu kali, secara tidak sengaja, saya mendapati file game Pro Evolutin Soccer 6 (PES6) dari situs Indowebster. PES6 sendiri merupakan salah satu game sepakbola seperti halnya Winning Eleven yang sama-sama dibuat oleh KONAMI. Jika Winning Eleven didesain khusus untuk konsol Playstation, maka PES didesain untuk lebih multi platform. Ada PES versi PC, smartphone, dan versi Playstation. Begitu mendapati file PES6, saya pun langsung mendownload dan menginstallnya. Ukuran file yang tidak terlalu besar (tidak sampai 100MB), memudahkan proses instalasi di laptop saya yang spesifikasinya tidak terlalu mewah.
Voila! Tanpa perlu mahal-mahal membeli konsol Playstation 2, sebuah game sepakbola bisa saya nikmati di laptop. Yang paling menggembirakan, tampilan grafis dan gameplay PES6 sangat mirip dengan Winning Eleven favorit saya. Begitu pula dengan kompetisi Master League-nya. Tanpa butuh waktu lama, saya pun segera membeli sebuah stik USB dan mulai memainkan game PES6. Saya merasa sangat beruntung bisa melanjutkan candu saya—membuat klub virtual di kompetisi Master League.
Saya menyadari, ada banyak game lain yang lebih populer dan sering disebut berkelas dibandingkan sekedar game sepakbola, sebut saja Ragnarok, Point Blank, Grand Thief Auto (GTA), Tekken, DOTA, dan Need for Speed. Tetapi, bagi saya, Winning Eleven tetap menjadi game sepakbola paling legendaris yang pernah saya mainkan. Kesederhanaannyalah yang membuat saya begitu menggandrungi Winning Eleven. Meski terlalu jadul dan kalah kelas dibanding game sepakbola kekinian seperti PES2018 atau FIFA2018, saya tetap tidak akan berpaling dan tetap menjadikan Winning Eleven sebagai game sepakbola legendaris. Dan PES6 di laptop saya telah banyak membantu menghadirkan sensasi nostalgia dan gelontoran adrenalin mencetak gol sambil bersabar membangun klub di Master League—kesenangan yang sama seperti ketika bermain Winning Eleven semasa bocah.[]
Saturday, November 10, 2018
Game Legendaris Satu-Satunya (1)
Awalnya, saya bukan seorang maniak game. Saya tidak pernah serius mengikuti tren perkembangan game. Saya juga tidak pernah mengeluarkan uang sepeser pun hanya untuk menuruti keinginan bermain game, entah untuk bermain game online, pergi ke rental, atau membeli sendiri konsol game digital seperti Nintendo, SEGA, atau Playstation. Boleh dibilang, saya hanya kebetulan "nyasar" dan berkenalan dengan dunia game.
Sepanjang TK sampai SD kelas 5 (sekitar tahun 1997-2003), saya lebih akrab dengan permainan-permainan konvensional seperti layang-layang, petak umpet, kejar-kejaran, tik tir (adu kelereng), atau sekedar sepakbola. Sebenarnya, pada tahun-tahun itu, sudah banyak beredar konsol permainan digital, seperti Ding Dong, Nintendo, dan SEGA. Tapi semua itu terlalu mahal untuk ukuran kampung saya yang terletak di pelosok kabupaten. Untuk bisa menikmati konsol game semacam itu, anak-anak di kampung saya harus bersepeda ke kota yang berjarak belasan kilometer dari kampung saya. Karena itu, tidak ada teman-teman sebaya di kampung saya yang pernah bermain ke tempat persewaan konsol game digital seperti itu. Kalaupun ada konsol game digital yang masuk ke kampung saya, paling banter hanya sejenis permainan gameboard (baca: gimbot)—yang lebih sering membuat pemainnya nyeri kepala karena level kesulitannya hanya berupa peningkatan kecepatan grafis hitam-putihnya.
Saat SD, saya terbilang anak rumahan yang lebih senang bermain di rumah daripada mblayang (bepergian) ke luar. Saya hanya akan keluar jika ada teman-teman sebaya yang mengajak bermain di lapangan RT, semisal untuk bermain sepakbola atau petak umpet. Jika sedang tidak ada teman, saya bermain perang-perangan dengan koleksi miniatur tokoh kartun. Saya memiliki cukup banyak koleksi miniatur seperti ini. Tapi, jangan kira miniatur saya seperti action figure impor seharga jutaan rupiah. Miniatur saya hanya mainan bocah berbahan dasar plastik daur ulang. Itu pun juga hadiah dari makanan ringan seharga seribuan! Sepanjang tahun 1999 sampai 2002-an, makanan ringan yang dijual di warung-warung memang sering menyertakan hadiah langsung di dalam kemasannya. Selain uang dan kelereng, hadiah yang paling diincar anak-anak seperti saya adalah miniatur tokoh superhero. Saking penasarannya, tidak sedikit anak-anak yang memborong berbungkus-bungkus makanan ringan hanya demi mendapatkan hadiah langsungnya (jika beruntung, sih).
Kembali ke soal konsol game digital. Perkenalan saya dengan konsol game digital baru dimulai saat kelas 5 SD. Saat itu, seorang teman saya (beda sekolah), mengajak saya dolan ke rumahnya. Di rumah teman saya inilah untuk pertama kalinya saya melihat Nintendo dan SEGA. Teman saya memang terbilang cukup makmur sehingga bisa memiliki dua konsol game sekaligus. Koleksi kaset permainannya pun bejibun menumpuk di rak. Saya hanya bisa geleng-geleng kagum melihatnya. Contra, Metal Slug, dan Super Shoot Soccer adalah beberapa judul game yang pernah saya mainkan bersama teman saya itu. Tapi, sebagai gamer pemula, saya benar-benar payah. Saya lebih sering menonton teman saya bermain daripada ikut bermain.
Selang beberapa waktu, konsol game Playstation 1 (PS1) mulai menjamur di kampung saya. Konsol game ini memang berbeda dengan Nintendo atau SEGA. Pilihan permainannya jauh lebih banyak dengan pergerakan grafis yang lebih halus. Banyak teman SD saya yang kecanduan dan mulai mencuri-curi waktu untuk pergi ke rental PS1—termasuk anak-anak di sekitar rumah saya. Seringkali, pada jam biasa anak-anak berkumpul bermain, ada saja satu dua anak yang “menghilang” karena dolan ke tempat rental PS1. Banyak cerita seru tentang game-game yang mereka mainkan di tempat rental. Mendengar semua itu, saya pun tertarik mencoba pergi ke tempat rental.
Dasar anak rumahan, saya perlu waktu lama untuk bisa mencuri-curi waktu pergi ke tempat rental. Etika di rumah mengajarkan saya untuk selalu izin ke mana pun saya akan pergi. Karenanya, saya perlu alasan yang jelas dan meyakinkan untuk bepergian agak jauh dari rumah. Dengan dalih pergi bersepeda, sambil mencuri-curi waktu, saya bersama beberapa teman berhasil mblayang ke tempat rental PS1 yang berada di kampung sebelah (di kampung saya belum ada rental PS1).
Setibanya di tempat rental, saya mulai menjajaki beberapa jenis game, mulai dari game sepakbola, pertarungan silat, sampai balap motor. Saya tidak terlalu menikmati permainan saya karena terganggu dengan keriuhan anak-anak lain yang menyemut di depan konsol gamenya masing-masing. Yang paling risih, ada pula segelintir anak yang bermain game (duel) sambil memasang uang taruhan. Edan. Setelah kunjungan pertama saya ke tempat rental, saya agak kapok dan hanya sesekali mengunjungi tempat itu lagi. Teman saya—yang tadi saya ceritakan memiliki Nintendo dan SEGA di rumahnya—juga pernah mengajak saya bertanding PS1. Dan saya, lagi-lagi tidak pernah menang darinya.
Karena tidak ada kenyamanan apapun yang saya dapat dari tempat rental PS1, saya pun berkomitmen untuk tidak lagi mengunjungi tempat-tempat seperti itu. Saya mulai berpikir jika tempat rental PS1 hanya cocok untuk anak-anak yang gagal dalam pelajaran di sekolah. Sayangnya, komitmen saya hanya bertahan sampai saya SMP.
Setelah lulus SD, saya memutuskan untuk mendaftar di salah satu SMP di pusat kota kabupaten. Karena lokasinya di pusat kota kabupaten, ada banyak pilihan rental PS1 dan media hiburan anak yang tersedia di sana. Jika di kampung hanya ada PS1, di kota kabupaten saya berkenalan dengan mesin Ding Dong dan beberapa rental game komputer. Sejak saat itu, wawasan saya tentang game berkembang pesat. Apalagi, beberapa teman SMP saya juga memiliki konsol game PS1 dan komputer PC sendiri di rumah. Sesekali, saya dolan ke rumah mereka untuk numpang bermain dengan konsol game mereka.
Seorang karib SMP saya, Budi namanya, adalah kompatriot saya dalam bermain game. Saya sering menghabiskan waktu untuk bermain PS1 bersama Budi. Berkat Budi, saya bertransformasi menjadi seorang penikmat game. Jika dulu saya berpikir “game itu dosa”, berkat Budi, saya mulai berpikir jika “game adalah selingan yang penting”. Jika dulu saya sering kalah bermain PS1, berkat Budi, keahlian permainan saya meningkat pesat.
Waktu bermain saya semakin lapang setelah saya tinggal bersama bibi saya di kota kabupaten. Saya numpang tinggal di rumah bibi karena rumahnya lebih dekat dengan SMP saya. Kebetulan rumah bibi saya tidak jauh dari rumah Budi. Saya pun semakin sering pergi ke rental PS1 bersama Budi. Sesekali, saya dan Budi juga mencoba-coba bermain rental game komputer untuk selingan.
Dari beragam game yang pernah saya coba, kegandrungan saya mengerucut pada game sepakbola Winning Eleven. Betapapun payahnya saya bermain, saya tidak pernah kapok untuk kembali memainkan game buatan KONAMI ini. Terlebih, setelah berkenalan dengan Budi, level permainan saya meningkat—meski saya lebih sering kalah jika bertanding dengan Budi.
Kebersamaan saya dan Budi dalam bermain Playstation terus berlanjut bahkan sampai kemunculan konsol game generasi terbarunya, yakni Playstation 2 (PS2). Dari sini, saya dan Budi—yang sama-sama gandrung dengan game Winning Eleven—mulai bekerjasama membuat klub sepakbola virtual sendiri dalam kompetisi Master League.[]
Lanjut ke sini.
Saturday, September 1, 2018
Pelajaran dari Senyum Karyamin
***
Pagi itu, bersama teman-temannya, Karyamin tengah bekerja mengangkut batu-batu dari sungai. Batu-batu yang sudah terkumpul dimasukkan ke dalam wadah yang harus dipikul dan dibawa ke atas bukit. Karyamin—yang sedari pagi belum makan—sudah terjengkang dua kali saat menapak naik ke bukit. Begitu Karyamin roboh, batu-batu yang sudah susah payah dikumpulkan tercecer berhamburan. Teman-teman Karyamin tergelak menertawakannya. Sial betul nasib Karyamin hari itu. Tapi, Karyamin tetap tersenyum—mencoba menertawakan dirinya sendiri.
Seorang teman menyarankan Karyamin pulang saja. Karyamin tampak kurang sehat dan butuh istirahat. Temannya yang lain berseloroh menyuruh Karyamin lekas pulang karena istrinya sendirian di rumah. Dua orang penagih hutang akan mendatangi rumah Karyamin.Tidak mungkin para penagih hutang itu hanya datang sekedar minta uang. Bisa saja terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada istri Karyamin.
Mendengar ocehan teman-temannya, Karyamin mendadak cemas bercampur cemburu. Pikiran-pikiran buruk terus berkecamuk dalam benaknya. Karyamin pun memutuskan pulang ke rumah meski saat itu kepalanya semakin berat dan pening.
Di tengah perjalanan pulang, perut Karyamin berkeruyuk hebat. Sedari pagi, ia belum makan. Seorang penjaja pecel di pinggir jalan menawarkan makanan pada Karyamin. Perut Karyamin semakin melilit. Jakun Karyamin naik turun menelan ludah. Karyamin sempat tergoda untuk makan nasi pecel, tapi urung karena Karyamin ingat hutangnya pada penjual pecel sudah banyak. Karyamin hanya tersenyum pada penjual pecel dan melanjutkan langkah ke rumah.
Belum sampai di rumah, Karyamin bertemu dengan Pak Lurah. Tanpa basa-basi, Pak Lurah mencecar Karyamin untuk segera membayar iuran warga desa. Katanya, hanya Karyamin yang belum berpartisipasi. Ironisnya, iuran tersebut—kata Pak Lurah—dipakai untuk membantu korban bencana kelaparan di Afrika. Mendengar hal itu, Karyamin pun terbahak keras-keras. Langkahnya terhuyung sempoyongan. Karyamin pun terperosok jatuh ke jurang di pinggir tebing.
***
Membaca cerpen “Senyum Karyamin” karangan Ahmad Tohari terasa seperti membaca sebuah narasi rohani yang mengusik relung batin. Ahmad Tohari memiliki spesialisasi dalam menghadirkan potongan potret kehidupan masyarakat kelas bawah dengan sangat detail. Nilai-nilai kesederhanaan dan kehidupan tradisional pedesaan selalu terselip dalam setiap karya sastra Ahmad Tohari. Unsur “kesederhanaan” dan potret kehidupan kaum miskin inilah yang selalu menyentil pembaca agar lebih peka terhadap penderitaan mereka dan mensyukuri setiap rezeki kehidupan yang sedang dijalani. Dan bagi saya, gaya bercerita Ahmad Tohari selalu mampu menggugah hal tersebut.
Well, kehidupan ini memang dinamis. Ada kalanya kita mengalami pasang surut, baik dalam hal rezeki, perilaku, kesehatan, pergaulan, atau derajat ketakwaan kita pada Sang Khalik. Nasib kita juga tidak selamanya mujur. Terkadang, kita harus menghadapi sisipan-sisipan kejadian atau peristiwa yang tidak mengenakkan. Sesekali, kita akan merasa hari ini sial sekali atau ditimpa kemalangan beruntun. Semua itu wajar terjadi dalam roda hidup setiap anak Adam.
Tetapi, dalam menghadapi setiap manis getir kepingan nasib, kita selalu memiliki pilihan. Kita bisa memilih untuk lama berdiam meratap atau memilih untuk tetap tersenyum. Seperti Karyamin, kita perlu takzim belajar dari kearifannya, yang dalam kepedihan dan kefakiran pun bisa tetap tersenyum penuh syukur. Karena inilah salah satu bentuk kesabaran dan hikmah kehambaan manusia di hadapan Tuhannya.[]
Wednesday, August 1, 2018
Pengharapan
Jangan pernah berharap kepada manusia, karena pengharapan yang paling pahit adalah pengharapan kepada selain-Nya.
Manusia bisa salah, bisa khilaf, bisa ingkar, bisa dusta, bisa lupa, bisa pula celaka. Kenapa masih mau berharap pada manusia?
Tidak ada yang tahu masa depan akan jadi seperti apa. Ada cemas, ragu, was-was, dan sejumput rasa takut jika sudah memikirkan masa depan.
Karena itulah, kita selalu menumbuhkan HARAPAN agar kita merasa lebih kuat, lebih optimis menatap masa depan.
Tapi, banyak orang yang termangu tertipu, karena menggantungkan harapan pada makhluk bernama manusia.
Jadi untuk apa berharap pada manusia yang ingkar sementara kita semua memiliki Dia Yang Maha Kuasa?
Jadi, untuk setiap keraguan dan rasa takutmu akan masa depan, ajukanlah permohonan itu pada Yang Maha Memiliki, yang kuasa-Nya menembus batasan-batasan manusia.
Karena sungguh, tidak ada manfaat apapun jika kita sibuk mencemaskan nasib kita sendiri.
Hanya DOA dan UPAYA yang akan meringankan semua kecemasan dan ketakutan kita.
#backDate
Sunday, July 1, 2018
Cerita-Cerita Anak yang Berkesan
Saat saya SD, salah satu ruangan di rumah saya pernah dijadikan perpustakaan anak. Karena masih kecil, saya tidak terlalu paham bagaimana proses kerjasama pendirian perpustakaan itu. Yang saya tahu, pihak sponsor perpustakaan berasal dari SD tempat ayah saya bekerja. Boleh jadi, karena SD ayah tidak memiliki cukup ruang untuk perpustakaan, buku-buku dari sponsor perpustakaan itu dialihkan ke rumah saya.
Lusinan buku pun dimasukkan ke dalam sebuah ruangan kosong di rumah saya. Ruangan itu terletak di samping teras rumah dan jarang dipakai. Karenanya, ruangan itu cukup strategis untuk dijadikan perpustakaan anak. Anak-anak sepantaran saya banyak yang berkunjung untuk meminjam buku. Kebanyakan mereka adalah anak-anak dari kampung lain yang notabene adalah murid ayah saya juga. Sementara anak-anak dari kampung saya sendiri hanya sedikit yang berkunjung. Itu pun hanya anak-anak tetangga yang kebetulan mampir.
Bagi saya, keberadaan perpustakaan itu menjadi berkah yang luar biasa. Buku-buku yang disajikan sponsor perpustakaan merupakan buku-buku berkualitas yang belum pernah saya jumpai di perpustakaan sekolah. Di antara deretan buku itu, saya hanya mengenali majalah Bobo karena ibu saya pernah membelikannya. Selebihnya, ada banyak buku-buku ensiklopedia, sains, kumpulan fabel, dan pengetahuan populer yang menggunung di ruang perpustakaan.
Sebagian buku ada yang bersampul tebal (hard cover) lengkap dengan gambar-gambar kartun berwarna yang lucu. Buku-buku itu sangat layak dan cocok dibaca oleh anak-anak seusia saya. Saya merasa beruntung bisa membaca buku-buku itu karena dari tampilan luarnya, saya tahu buku-buku itu terlalu mahal untuk dibeli secara pribadi.
Perpustakaan anak di rumah saya itu pula yang menjadi katalisator pendongkrak minat baca saya. Meski ada banyak pilihan buku di perpustakaan anak itu, favorit saya tetap deretan cerita-cerita pendek (cerpen) dari majalah Bobo. Dari sekian banyak cerpen Bobo yang sudah saya baca, ada segelintir cerpen yang ceritanya begitu berkesan dan tetap mengendap di otak saya hingga kini.
* * *
1. Jambu Bangkok Milik Kakek
Menceritakan seorang anak laki-laki yang bersimpati pada tetangganya, seorang kakek-kakek pemilik pohon jambu, yang berkali-kali menjadi korban pencurian jambu. Si Kakek sebenarnya tidak terlalu mempersoalkan pencurian itu, tapi ulah pelakunya yang serampangan menyebabkan banyak buah jambu mentah yang masih kecil berguguran.
Menceritakan seorang anak laki-laki yang bersimpati pada tetangganya, seorang kakek-kakek pemilik pohon jambu, yang berkali-kali menjadi korban pencurian jambu. Si Kakek sebenarnya tidak terlalu mempersoalkan pencurian itu, tapi ulah pelakunya yang serampangan menyebabkan banyak buah jambu mentah yang masih kecil berguguran.
Si anak laki-laki pun berinisiatif membantu Kakek membereskan pencuri jambu itu dengan kecerdasannya merangkai kaleng-kaleng susu bekas untuk menakut-nakuti si pencuri.
2. Korespondensi dengan Si Pencuri
Cerpen paling kreatif dan unik yang pernah saya baca. Meski sempat bingung dengan arti kata "korespondensi", saya tetap paham maksud ceritanya. Cerpen ini berkisah tentang seorang anak yang baru pindah rumah. Si anak beruntung karena di halaman rumah barunya ada pohon belimbing yang tengah ranum.
Cerpen paling kreatif dan unik yang pernah saya baca. Meski sempat bingung dengan arti kata "korespondensi", saya tetap paham maksud ceritanya. Cerpen ini berkisah tentang seorang anak yang baru pindah rumah. Si anak beruntung karena di halaman rumah barunya ada pohon belimbing yang tengah ranum.
Sayangnya, keinginan si anak untuk menikmati belimbing itu terganggu ulah pencuri belimbing misterius. Si anak kemudian menulisi surat peringatan yang digantung di pohon belimbing itu.
Ternyata, si pencuri tidak jera, alih-alih ia malah membalas surat ancaman itu. Maka, terjadilah aksi balas membalas surat yang seru antara si anak yang menjadi korban dan pelaku pencurian.
Ternyata, si pencuri tidak jera, alih-alih ia malah membalas surat ancaman itu. Maka, terjadilah aksi balas membalas surat yang seru antara si anak yang menjadi korban dan pelaku pencurian.
Ending cerpen ini menarik sekaligus menyentuh karena pelaku pencurian adalah teman dekat si anak yang baru pindah itu. Belimbing yang dicuri pun dipakai untuk mengobati tetangga yang sedang sakit keras. Benar-benar perpaduan cerita detektif dan drama yang keren.
3. Kacamata UFO
Karena setelah dewasa saya memakai kacamata (saat bocah mata saya belum minus) mau tak mau saya jadi teringat cerpen ini. Cerpen Kacamata UFO bercerita tentang seorang anak berkacamata yang menjadi korban kejahilan teman sekelasnya. Si Anak berkacamata sering diolok-olok karena bentuk kacamatanya yang lebih mirip kacamata Alien. Jadilah dia dijuluki "Kacamata UFO". Suatu kali, kacamata Si Anak diambil dan dijadikan bahan bercandaan oleh temannya yang jahil. Malangnya, kacamata itu terjatuh dan pecah berkeping-keping. Si Anak sangat sedih karena tahu orangtuanya yang pas-pasan tidak mungkin bisa membelikannya dalam waktu dekat.
Karena setelah dewasa saya memakai kacamata (saat bocah mata saya belum minus) mau tak mau saya jadi teringat cerpen ini. Cerpen Kacamata UFO bercerita tentang seorang anak berkacamata yang menjadi korban kejahilan teman sekelasnya. Si Anak berkacamata sering diolok-olok karena bentuk kacamatanya yang lebih mirip kacamata Alien. Jadilah dia dijuluki "Kacamata UFO". Suatu kali, kacamata Si Anak diambil dan dijadikan bahan bercandaan oleh temannya yang jahil. Malangnya, kacamata itu terjatuh dan pecah berkeping-keping. Si Anak sangat sedih karena tahu orangtuanya yang pas-pasan tidak mungkin bisa membelikannya dalam waktu dekat.
Malam setelah kejadian itu, teman Si Anak yang telah memecahkan kacamata bermimpi didatangi alien. Ia diancam akan disakiti karena telah merusak kacamata Si Anak. Dalam mimpinya, ia digiring masuk ke pesawat UFO yang bentuknya mirip kacamata yang telah dipecahkannya.
Keesokan harinya, pelaku pemecahan kacamata merasa jera. Ia pun menggalang dana dari seluruh siswa di sekolahnya untuk membelikan kacamata baru untuk Si Anak. Pada akhirnya, pelaku pemecahan kacamata tidak jahil lagi, dan mereka menjadi teman baik. Si Anak juga berterima kasih karena sudah memiliki kacamata baru.
Nilai-nilai persahabatan sangat kental di cerpen ini. Meski ceritanya sederhana, pemilihan bahasa cerpen sangat menarik sehingga bisa menimbulkan kesan yang membekas di ingatan saya. Belum lagi pesan moral tentang rasa tanggung jawab dan empati kepada korban bullying di sekolah, sangat cocok dengan kehidupan anak-anak sekolah yang lekat dengan kasus semacam itu.
4. Kenapa Mesti Om Jali
Cerpen ini bercerita tentang seorang anak yang bertetangga dengan Om Jali. Di mata Si Anak, Om Jali adalah sosok tetangga yang baik, ramah, dan senang memberi hadiah. Si Anak sering ditraktir makan atau sekedar jalan-jalan dengan mobil Om Jali. Mobil Om Jali keren dan sering berganti-ganti. Awalnya, Si Anak tidak menaruh curiga karena Om Jali bekerja di perusahaan mobil, sehingga wajar jika dia sering berganti mobil. Sampai suatu kali ketika Si Anak dan temannya ditraktir jalan-jalan dengan mobil, teman Si Anak mendapati kejanggalan pada mobil Om Jali yang ditumpangi.
Cerpen ini bercerita tentang seorang anak yang bertetangga dengan Om Jali. Di mata Si Anak, Om Jali adalah sosok tetangga yang baik, ramah, dan senang memberi hadiah. Si Anak sering ditraktir makan atau sekedar jalan-jalan dengan mobil Om Jali. Mobil Om Jali keren dan sering berganti-ganti. Awalnya, Si Anak tidak menaruh curiga karena Om Jali bekerja di perusahaan mobil, sehingga wajar jika dia sering berganti mobil. Sampai suatu kali ketika Si Anak dan temannya ditraktir jalan-jalan dengan mobil, teman Si Anak mendapati kejanggalan pada mobil Om Jali yang ditumpangi.
Benar saja, selang beberapa waktu kemudian, Om Jali menghilang dan tidak pernah pulang ke rumah. Si Anak melihat langsung bagaimana polisi membawa Om Jali beserta komplotannya. Si Anak pun menyesal, dan dengan naif meratap "Kenapa mesti Om Jali..."
Bagian ending inilah yang paling menarik karena semua orang baik di mata kita belum tentu akan selamanya begitu. Setiap manusia pasti memiliki sisi baik dan sisi buruk dengan periodenya masing-masing sepanjang hidupnya.
5. Wangi di Senja Hari
Berkisah tentang seorang bocah penakut yang disuruh ibunya membelikan sabun ke warung. Karena warung dekat rumahnya tutup, Si Bocah harus membeli sabun di warung lain yang berada di kampung sebelah. Si Bocah pun mengayuh sepeda dengan sejumput rasa takut melihat penampakan. Sepanjang perjalanan pulang dari warung, Si Bocah dibuntuti bau harum misterius yang disangkanya sebagai bau hantu. Bau harum itu membuatnya terbirit-birit mengayuh sepeda sampai ke rumah. Tak dinyana, bau harum itu berasal dari sabun yang baru saja dibelinya sendiri. Kocaknya...
Berkisah tentang seorang bocah penakut yang disuruh ibunya membelikan sabun ke warung. Karena warung dekat rumahnya tutup, Si Bocah harus membeli sabun di warung lain yang berada di kampung sebelah. Si Bocah pun mengayuh sepeda dengan sejumput rasa takut melihat penampakan. Sepanjang perjalanan pulang dari warung, Si Bocah dibuntuti bau harum misterius yang disangkanya sebagai bau hantu. Bau harum itu membuatnya terbirit-birit mengayuh sepeda sampai ke rumah. Tak dinyana, bau harum itu berasal dari sabun yang baru saja dibelinya sendiri. Kocaknya...
Jika cerpen Korespondensi dengan Si Pencuri memadukan cerita detektif dan drama, cerpen Wangi di Senja Hari memadukan horor dan humor. Cerdas.
***
Demikian, beberapa cerpen anak yang saya baca belasan tahun lalu, saat saya masih bocah, namun ingatan saya pada alur cerita tetap berkesan. Di tengah guyuran candu gadget yang menjangkiti anak-anak masa kini, ingin rasanya saya melihat lebih banyak anak yang menghabiskan waktunya untuk membaca cerita-cerita anak dan akrab dengan buku. Karena bagaimanapun, gadget tidak akan bisa mengajarkan moral dan etika sopan santun. Dan tanggungjawab orangtualah yang harus mengenalkan anak pada nilai-nilai kehidupan yang baik.