Saturday, November 10, 2018

Game Legendaris Satu-Satunya (1)


Awalnya, saya bukan seorang maniak game. Saya tidak pernah serius mengikuti tren perkembangan game. Saya juga tidak pernah mengeluarkan uang sepeser pun hanya untuk menuruti keinginan bermain game, entah untuk bermain game online, pergi ke rental, atau membeli sendiri konsol game digital seperti Nintendo, SEGA, atau Playstation. Boleh dibilang, saya hanya kebetulan "nyasar" dan berkenalan dengan dunia game.

Sepanjang TK sampai SD kelas 5 (sekitar tahun 1997-2003), saya lebih akrab dengan permainan-permainan konvensional seperti layang-layang, petak umpet, kejar-kejaran, tik tir (adu kelereng), atau sekedar sepakbola. Sebenarnya, pada tahun-tahun itu, sudah banyak beredar konsol permainan digital, seperti Ding Dong, Nintendo, dan SEGA. Tapi semua itu terlalu mahal untuk ukuran kampung saya yang terletak di pelosok kabupaten. Untuk bisa menikmati konsol game semacam itu, anak-anak di kampung saya harus bersepeda ke kota yang berjarak belasan kilometer dari kampung saya. Karena itu, tidak ada teman-teman sebaya di kampung saya yang pernah bermain ke tempat persewaan konsol game digital seperti itu. Kalaupun ada konsol game digital yang masuk ke kampung saya, paling banter hanya sejenis permainan gameboard (baca: gimbot)—yang lebih sering membuat pemainnya nyeri kepala karena level kesulitannya hanya berupa peningkatan kecepatan grafis hitam-putihnya.

Saat SD, saya terbilang anak rumahan yang lebih senang bermain di rumah daripada mblayang (bepergian) ke luar. Saya hanya akan keluar jika ada teman-teman sebaya yang mengajak bermain di lapangan RT, semisal untuk bermain sepakbola atau petak umpet. Jika sedang tidak ada teman, saya bermain perang-perangan dengan koleksi miniatur tokoh kartun. Saya memiliki cukup banyak koleksi miniatur seperti ini. Tapi, jangan kira miniatur saya seperti action figure impor seharga jutaan rupiah. Miniatur saya hanya mainan bocah berbahan dasar plastik daur ulang. Itu pun juga hadiah dari makanan ringan seharga seribuan! Sepanjang tahun 1999 sampai 2002-an, makanan ringan yang dijual di warung-warung memang sering menyertakan hadiah langsung di dalam kemasannya. Selain uang dan kelereng, hadiah yang paling diincar anak-anak seperti saya adalah miniatur tokoh superhero. Saking penasarannya, tidak sedikit anak-anak yang memborong berbungkus-bungkus makanan ringan hanya demi mendapatkan hadiah langsungnya (jika beruntung, sih).

Kembali ke soal konsol game digital. Perkenalan saya dengan konsol game digital baru dimulai saat kelas 5 SD. Saat itu, seorang teman saya (beda sekolah), mengajak saya dolan ke rumahnya. Di rumah teman saya inilah untuk pertama kalinya saya melihat Nintendo dan SEGA. Teman saya memang terbilang cukup makmur sehingga bisa memiliki dua konsol game sekaligus. Koleksi kaset permainannya pun bejibun menumpuk di rak. Saya hanya bisa geleng-geleng kagum melihatnya. Contra, Metal Slug, dan Super Shoot Soccer adalah beberapa judul game yang pernah saya mainkan bersama teman saya itu. Tapi, sebagai gamer pemula, saya benar-benar payah. Saya lebih sering menonton teman saya bermain daripada ikut bermain.

Selang beberapa waktu, konsol game Playstation 1 (PS1) mulai menjamur di kampung saya. Konsol game ini memang berbeda dengan Nintendo atau SEGA. Pilihan permainannya jauh lebih banyak dengan pergerakan grafis yang lebih halus. Banyak teman SD saya yang kecanduan dan mulai mencuri-curi waktu untuk pergi ke rental PS1—termasuk anak-anak di sekitar rumah saya. Seringkali, pada jam biasa anak-anak berkumpul bermain, ada saja satu dua anak yang “menghilang” karena dolan ke tempat rental PS1. Banyak cerita seru tentang game-game yang mereka mainkan di tempat rental. Mendengar semua itu, saya pun tertarik mencoba pergi ke tempat rental.

Dasar anak rumahan, saya perlu waktu lama untuk bisa mencuri-curi waktu pergi ke tempat rental. Etika di rumah mengajarkan saya untuk selalu izin ke mana pun saya akan pergi. Karenanya, saya perlu alasan yang jelas dan meyakinkan untuk bepergian agak jauh dari rumah. Dengan dalih pergi bersepeda, sambil mencuri-curi waktu, saya bersama beberapa teman berhasil mblayang ke tempat rental PS1 yang berada di kampung sebelah (di kampung saya belum ada rental PS1). 

Setibanya di tempat rental, saya mulai menjajaki beberapa jenis game, mulai dari game sepakbola, pertarungan silat, sampai balap motor. Saya tidak terlalu menikmati permainan saya karena terganggu dengan keriuhan anak-anak lain yang menyemut di depan konsol gamenya masing-masing. Yang paling risih, ada pula segelintir anak yang bermain game (duel) sambil memasang uang taruhan. Edan. Setelah kunjungan pertama saya ke tempat rental, saya agak kapok dan hanya sesekali mengunjungi tempat itu lagi. Teman saya—yang tadi saya ceritakan memiliki Nintendo dan SEGA di rumahnya—juga pernah mengajak saya bertanding PS1. Dan saya, lagi-lagi tidak pernah menang darinya.

Karena tidak ada kenyamanan apapun yang saya dapat dari tempat rental PS1, saya pun berkomitmen untuk tidak lagi mengunjungi tempat-tempat seperti itu. Saya mulai berpikir jika tempat rental PS1 hanya cocok untuk anak-anak yang gagal dalam pelajaran di sekolah. Sayangnya, komitmen saya hanya bertahan sampai saya SMP.

Setelah lulus SD, saya memutuskan untuk mendaftar di salah satu SMP di pusat kota kabupaten. Karena lokasinya di pusat kota kabupaten, ada banyak pilihan rental PS1 dan media hiburan anak yang tersedia di sana. Jika di kampung hanya ada PS1, di kota kabupaten saya berkenalan dengan mesin Ding Dong dan beberapa rental game komputer. Sejak saat itu, wawasan saya tentang game berkembang pesat. Apalagi, beberapa teman SMP saya juga memiliki konsol game PS1 dan komputer PC sendiri di rumah. Sesekali, saya dolan ke rumah mereka untuk numpang bermain dengan konsol game mereka.

Seorang karib SMP saya, Budi namanya, adalah kompatriot saya dalam bermain game. Saya sering menghabiskan waktu untuk bermain PS1 bersama Budi. Berkat Budi, saya bertransformasi menjadi seorang penikmat game. Jika dulu saya berpikir “game itu dosa”, berkat Budi, saya mulai berpikir jika “game adalah selingan yang penting”. Jika dulu saya sering kalah bermain PS1, berkat Budi, keahlian permainan saya meningkat pesat.

Waktu bermain saya semakin lapang setelah saya tinggal bersama bibi saya di kota kabupaten. Saya numpang tinggal di rumah bibi karena rumahnya lebih dekat dengan SMP saya. Kebetulan rumah bibi saya tidak jauh dari rumah Budi. Saya pun semakin sering pergi ke rental PS1 bersama Budi. Sesekali, saya dan Budi juga mencoba-coba bermain rental game komputer untuk selingan.

Dari beragam game yang pernah saya coba, kegandrungan saya mengerucut pada game sepakbola Winning Eleven. Betapapun payahnya saya bermain, saya tidak pernah kapok untuk kembali memainkan game buatan KONAMI ini. Terlebih, setelah berkenalan dengan Budi, level permainan saya meningkat—meski saya lebih sering kalah jika bertanding dengan Budi.

Kebersamaan saya dan Budi dalam bermain Playstation terus berlanjut bahkan sampai kemunculan konsol game generasi terbarunya, yakni Playstation 2 (PS2). Dari sini, saya dan Budi—yang sama-sama gandrung dengan game Winning Eleven—mulai bekerjasama membuat klub sepakbola virtual sendiri dalam kompetisi Master League.[]

Lanjut ke sini.
November 10, 2018Benny Prastawa

Saturday, September 1, 2018

Pelajaran dari Senyum Karyamin


*** 

Pagi itu, bersama teman-temannya, Karyamin tengah bekerja mengangkut batu-batu dari sungai. Batu-batu yang sudah terkumpul dimasukkan ke dalam wadah yang harus dipikul dan dibawa ke atas bukit. Karyamin—yang sedari pagi belum makan—sudah terjengkang dua kali saat menapak naik ke bukit. Begitu Karyamin roboh, batu-batu yang sudah susah payah dikumpulkan tercecer berhamburan. Teman-teman Karyamin tergelak menertawakannya. Sial betul nasib Karyamin hari itu. Tapi, Karyamin tetap tersenyum—mencoba menertawakan dirinya sendiri.

Seorang teman menyarankan Karyamin pulang saja. Karyamin tampak kurang sehat dan butuh istirahat. Temannya yang lain berseloroh menyuruh Karyamin lekas pulang karena istrinya sendirian di rumah. Dua orang penagih hutang akan mendatangi rumah Karyamin.Tidak mungkin para penagih hutang itu hanya datang sekedar minta uang. Bisa saja terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada istri Karyamin.

Mendengar ocehan teman-temannya, Karyamin mendadak cemas bercampur cemburu. Pikiran-pikiran buruk terus berkecamuk dalam benaknya. Karyamin pun memutuskan pulang ke rumah meski saat itu kepalanya semakin berat dan pening.

Di tengah perjalanan pulang, perut Karyamin berkeruyuk hebat. Sedari pagi, ia belum makan. Seorang penjaja pecel di pinggir jalan menawarkan makanan pada Karyamin. Perut Karyamin semakin melilit. Jakun Karyamin naik turun menelan ludah. Karyamin sempat tergoda untuk makan nasi pecel, tapi urung karena Karyamin ingat hutangnya pada penjual pecel sudah banyak. Karyamin hanya tersenyum pada penjual pecel dan melanjutkan langkah ke rumah.

Belum sampai di rumah, Karyamin bertemu dengan Pak Lurah. Tanpa basa-basi, Pak Lurah mencecar Karyamin untuk segera membayar iuran warga desa. Katanya, hanya Karyamin yang belum berpartisipasi. Ironisnya, iuran tersebut—kata Pak Lurah—dipakai untuk membantu korban bencana kelaparan di Afrika. Mendengar hal itu, Karyamin pun terbahak keras-keras. Langkahnya terhuyung sempoyongan. Karyamin pun terperosok jatuh ke jurang di pinggir tebing.

*** 

Membaca cerpen “Senyum Karyamin” karangan Ahmad Tohari terasa seperti membaca sebuah narasi rohani yang mengusik relung batin. Ahmad Tohari memiliki spesialisasi dalam menghadirkan potongan potret kehidupan masyarakat kelas bawah dengan sangat detail. Nilai-nilai kesederhanaan dan kehidupan tradisional pedesaan selalu terselip dalam setiap karya sastra Ahmad Tohari. Unsur “kesederhanaan” dan potret kehidupan kaum miskin inilah yang selalu menyentil  pembaca agar lebih peka terhadap penderitaan mereka dan mensyukuri setiap rezeki kehidupan yang sedang dijalani. Dan bagi saya, gaya bercerita Ahmad Tohari selalu mampu menggugah hal tersebut.

Well, kehidupan ini memang dinamis. Ada kalanya kita mengalami pasang surut, baik dalam hal rezeki, perilaku, kesehatan, pergaulan, atau derajat ketakwaan kita pada Sang Khalik. Nasib kita juga tidak selamanya mujur. Terkadang, kita harus menghadapi sisipan-sisipan kejadian atau peristiwa yang tidak mengenakkan. Sesekali, kita akan merasa hari ini sial sekali atau ditimpa kemalangan beruntun. Semua itu wajar terjadi dalam roda hidup setiap anak Adam.

Tetapi, dalam menghadapi setiap manis getir kepingan nasib, kita selalu memiliki pilihan. Kita bisa memilih untuk lama berdiam meratap atau memilih untuk tetap tersenyum. Seperti Karyamin, kita perlu takzim belajar dari kearifannya, yang dalam kepedihan dan kefakiran pun bisa tetap tersenyum penuh syukur. Karena inilah salah satu bentuk kesabaran dan hikmah kehambaan manusia di hadapan Tuhannya.[]
September 01, 2018Benny Prastawa,

Wednesday, August 1, 2018

Pengharapan


Jangan pernah berharap kepada manusia, karena pengharapan yang paling pahit adalah pengharapan kepada selain-Nya.

Manusia bisa salah, bisa khilaf, bisa ingkar, bisa dusta, bisa lupa, bisa pula celaka. Kenapa masih mau berharap pada manusia?

Tidak ada yang tahu masa depan akan jadi seperti apa. Ada cemas, ragu, was-was, dan sejumput rasa takut jika sudah memikirkan masa depan.

Karena itulah, kita selalu menumbuhkan HARAPAN agar kita merasa lebih kuat, lebih optimis menatap masa depan.

Tapi, banyak orang yang termangu tertipu, karena menggantungkan harapan pada makhluk bernama manusia.

Jadi untuk apa berharap pada manusia yang ingkar sementara kita semua memiliki Dia Yang Maha Kuasa?

Jadi, untuk setiap keraguan dan rasa takutmu akan masa depan, ajukanlah permohonan itu pada Yang Maha Memiliki, yang kuasa-Nya menembus batasan-batasan manusia.

Karena sungguh, tidak ada manfaat apapun jika kita sibuk mencemaskan nasib kita sendiri. 

Hanya DOA dan UPAYA yang akan meringankan semua kecemasan dan ketakutan kita.

#backDate

Sunday, July 1, 2018

Cerita-Cerita Anak yang Berkesan


Saat saya SD, salah satu ruangan di rumah saya pernah dijadikan perpustakaan anak. Karena masih kecil, saya tidak terlalu paham bagaimana proses kerjasama pendirian perpustakaan itu. Yang saya tahu, pihak sponsor perpustakaan berasal dari SD tempat ayah saya bekerja. Boleh jadi, karena SD ayah tidak memiliki cukup ruang untuk perpustakaan, buku-buku dari sponsor perpustakaan itu dialihkan ke rumah saya.

Lusinan buku pun dimasukkan ke dalam sebuah ruangan kosong di rumah saya. Ruangan itu terletak di samping teras rumah dan jarang dipakai. Karenanya, ruangan itu cukup strategis untuk dijadikan perpustakaan anak. Anak-anak sepantaran saya banyak yang berkunjung untuk meminjam buku. Kebanyakan mereka adalah anak-anak dari kampung lain yang notabene adalah murid ayah saya juga. Sementara anak-anak dari kampung saya sendiri hanya sedikit yang berkunjung. Itu pun hanya anak-anak tetangga yang kebetulan mampir.

Bagi saya, keberadaan perpustakaan itu menjadi berkah yang luar biasa. Buku-buku yang disajikan sponsor perpustakaan merupakan buku-buku berkualitas yang belum pernah saya jumpai di perpustakaan sekolah. Di antara deretan buku itu, saya hanya mengenali majalah Bobo karena ibu saya pernah membelikannya. Selebihnya, ada banyak buku-buku ensiklopedia, sains, kumpulan fabel, dan pengetahuan populer yang menggunung di ruang perpustakaan.

Sebagian buku ada yang bersampul tebal (hard cover) lengkap dengan gambar-gambar kartun berwarna yang lucu. Buku-buku itu sangat layak dan cocok dibaca oleh anak-anak seusia saya. Saya merasa beruntung bisa membaca buku-buku itu karena dari tampilan luarnya, saya tahu buku-buku itu terlalu mahal untuk dibeli secara pribadi.

Perpustakaan anak di rumah saya itu pula yang menjadi katalisator pendongkrak minat baca saya. Meski ada banyak pilihan buku di perpustakaan anak itu, favorit saya tetap deretan cerita-cerita pendek (cerpen) dari majalah Bobo. Dari sekian banyak cerpen Bobo yang sudah saya baca, ada segelintir cerpen yang ceritanya begitu berkesan dan tetap mengendap di otak saya hingga kini.

* * *

1. Jambu Bangkok Milik Kakek
Menceritakan seorang anak laki-laki yang bersimpati pada tetangganya, seorang kakek-kakek pemilik pohon jambu, yang berkali-kali menjadi korban pencurian jambu. Si Kakek sebenarnya tidak terlalu mempersoalkan pencurian itu, tapi ulah pelakunya yang serampangan menyebabkan banyak buah jambu mentah yang masih kecil berguguran.

Si anak laki-laki pun berinisiatif membantu Kakek membereskan pencuri jambu itu dengan kecerdasannya merangkai kaleng-kaleng susu bekas untuk menakut-nakuti si pencuri.


2. Korespondensi dengan Si Pencuri
Cerpen paling kreatif dan unik yang pernah saya baca. Meski sempat bingung dengan arti kata "korespondensi", saya tetap paham maksud ceritanya. Cerpen ini berkisah tentang seorang anak yang baru pindah rumah. Si anak beruntung karena di halaman rumah barunya ada pohon belimbing yang tengah ranum.


Sayangnya, keinginan si anak untuk menikmati belimbing itu terganggu ulah pencuri belimbing misterius. Si anak kemudian menulisi surat peringatan yang digantung di pohon belimbing itu. 

Ternyata, si pencuri tidak jera, alih-alih ia malah membalas surat ancaman itu. Maka, terjadilah aksi balas membalas surat yang seru antara si anak yang menjadi korban dan pelaku pencurian.

Ending cerpen ini menarik sekaligus menyentuh karena pelaku pencurian adalah teman dekat si anak yang baru pindah itu. Belimbing yang dicuri pun dipakai untuk mengobati tetangga yang sedang sakit keras. Benar-benar perpaduan cerita detektif dan drama yang keren.


3. Kacamata UFO
Karena setelah dewasa saya memakai kacamata (saat bocah mata saya belum minus) mau tak mau saya jadi teringat cerpen ini. Cerpen Kacamata UFO bercerita tentang seorang anak berkacamata yang menjadi korban kejahilan teman sekelasnya. Si Anak berkacamata sering diolok-olok karena bentuk kacamatanya yang lebih mirip kacamata Alien. Jadilah dia dijuluki "Kacamata UFO". Suatu kali, kacamata Si Anak diambil dan dijadikan bahan bercandaan oleh temannya yang jahil. Malangnya, kacamata itu terjatuh dan pecah berkeping-keping. Si Anak sangat sedih karena tahu orangtuanya yang pas-pasan tidak mungkin bisa membelikannya dalam waktu dekat.


Malam setelah kejadian itu, teman Si Anak yang telah memecahkan kacamata bermimpi didatangi alien. Ia diancam akan disakiti karena telah merusak kacamata Si Anak. Dalam mimpinya, ia digiring masuk ke pesawat UFO yang bentuknya mirip kacamata yang telah dipecahkannya.

Keesokan harinya, pelaku pemecahan kacamata merasa jera. Ia pun menggalang dana dari seluruh siswa di sekolahnya untuk membelikan kacamata baru untuk Si Anak. Pada akhirnya, pelaku pemecahan kacamata tidak jahil lagi, dan mereka menjadi teman baik. Si Anak juga berterima kasih karena sudah memiliki kacamata baru.

Nilai-nilai persahabatan sangat kental di cerpen ini. Meski ceritanya sederhana, pemilihan bahasa cerpen sangat menarik sehingga bisa menimbulkan kesan yang membekas di ingatan saya. Belum lagi pesan moral tentang rasa tanggung jawab dan empati kepada korban bullying di sekolah, sangat cocok dengan kehidupan anak-anak sekolah yang lekat dengan kasus semacam itu.


4. Kenapa Mesti Om Jali
Cerpen ini bercerita tentang seorang anak yang bertetangga dengan Om Jali. Di mata Si Anak, Om Jali adalah sosok tetangga yang baik, ramah, dan senang memberi hadiah. Si Anak sering ditraktir makan atau sekedar jalan-jalan dengan mobil Om Jali. Mobil Om Jali keren dan sering berganti-ganti. Awalnya, Si Anak tidak menaruh curiga karena Om Jali bekerja di perusahaan mobil, sehingga wajar jika dia sering berganti mobil. Sampai suatu kali ketika Si Anak dan temannya ditraktir jalan-jalan dengan mobil, teman Si Anak mendapati kejanggalan pada mobil Om Jali yang ditumpangi.


Benar saja, selang beberapa waktu kemudian, Om Jali menghilang dan tidak pernah pulang ke rumah. Si Anak melihat langsung bagaimana polisi membawa Om Jali beserta komplotannya. Si Anak pun menyesal, dan dengan naif meratap "Kenapa mesti Om Jali..."

Bagian ending inilah yang paling menarik karena semua orang baik di mata kita belum tentu akan selamanya begitu. Setiap manusia pasti memiliki sisi baik dan sisi buruk dengan periodenya masing-masing sepanjang hidupnya.


5. Wangi di Senja Hari
Berkisah tentang seorang bocah penakut yang disuruh ibunya membelikan sabun ke warung. Karena warung dekat rumahnya tutup, Si Bocah harus membeli sabun di warung lain yang berada di kampung sebelah. Si Bocah pun mengayuh sepeda dengan sejumput rasa takut melihat penampakan. Sepanjang perjalanan pulang dari warung, Si Bocah dibuntuti bau harum misterius yang disangkanya sebagai bau hantu. Bau harum itu membuatnya terbirit-birit mengayuh sepeda sampai ke rumah. Tak dinyana, bau harum itu berasal dari sabun yang baru saja dibelinya sendiri. Kocaknya...


Jika cerpen Korespondensi dengan Si Pencuri memadukan cerita detektif dan drama, cerpen Wangi di Senja Hari memadukan horor dan humor. Cerdas.

***

Demikian, beberapa cerpen anak yang saya baca belasan tahun lalu, saat saya masih bocah, namun ingatan saya pada alur cerita tetap berkesan. Di tengah guyuran candu gadget yang menjangkiti anak-anak masa kini, ingin rasanya saya melihat lebih banyak anak yang menghabiskan waktunya untuk membaca cerita-cerita anak dan akrab dengan buku. Karena bagaimanapun, gadget tidak akan bisa mengajarkan moral dan etika sopan santun. Dan tanggungjawab orangtualah yang harus mengenalkan anak pada nilai-nilai kehidupan yang baik.

Friday, June 1, 2018

Gairah Artis dan Jalan Sunyi Para Blogger


Hanya segelintir orang yang bisa rutin ngeblog sampai belasan atau puluhan tahun. Faktor kesibukan, tidak ada waktu, dan minimnya ide menulis adalah beberapa alasan yang paling sering dilontarkan. Namun, pada umumnya, alasan mendasar kenapa banyak orang berhenti ngeblog adalah karena blog sulit membuat pemiliknya terkenal. Tentu saja ada beberapa pengecualian, seperti Raditya Dika yang sukses menjadi terkenal karena blog. Tapi, jika kalian bertanya pada para blogger pemula “kenapa kalian bikin blog?” kebanyakan mereka akan menjawab “karena saya ingin terkenal.”

Pada dasarnya kita ingin agar diri kita dikenal orang lain. Hal ini merupakan kebutuhan mendasar manusia sebagai makhluk sosial. Karenanya, kita sering merasa tidak nyaman jika terlalu lama berada di tempat yang tidak ada seorang pun mengenali kita. Awalnya, kita hanya butuh dikenal oleh orang-orang terdekat di sekitar kita, seperti orangtua, saudara, kerabat dan tetangga. Seiring bertambahnya usia, hubungan sosial dan relasi pertemanan kita semakin berkembang. Kita tidak lagi merasa cukup hanya dengan mengenal, tapi kita juga ingin agar diri kita dikenal. Kebutuhan untuk dikenal ini perlahan berubah menjadi hasrat untuk mengaktualisasikan diri—kita ingin agar orang-orang tahu siapa kita dan apa kelebihan kita. Saya menyebut kecenderungan ini sebagai “gairah artis”.

Ada banyak jalan yang bisa ditempuh untuk memenuhi “gairah artis” ini. Kita bisa memamerkan atau menunjukkan kelebihan kita secara langsung, seperti lewat pertunjukan seni, misalnya. Kita juga bisa memenuhi “gairah artis” dengan mendokumentasikan aktivitas kita dan menyebarkannya di ruang publik—misalnya melalui media massa.

Penemuan kamera dan alat perekam video memudahkan kita untuk melampiaskan “gairah artis”. Siapapun bisa mendokumentasikan setiap aktivitasnya lewat citra audio visual. Jika tiga puluh tahun lalu hanya orang-orang kaya yang bisa mendokumentasikan aktivitasnya lewat foto atau video, sekarang, dengan adanya internet dan smartphone, siapapun bisa dengan mudah mendokumentasikan bahkan membagikan foto atau videonya kepada semua orang di dunia.

Pada akhirnya, perkembangan teknologi telah mendorong “gairah artis” manusia menjadi tidak terkendali. Media sosial menjadi wadah sekaligus wabah yang menampung berjuta ragam ekspresi dan aktualisasi diri dari berbagai jenis ras manusia. Tak peduli apakah konten yang dimuat bermanfaat atau tidak, layak atau tidak, semua orang berlomba menunjukkan eksistensi diri masing-masing.  Semuanya mengusung misi yang sama: menjadi seorang yang lebih dikenal dan terkenal.

Lalu apa hubungannya ngeblog dengan “hasrat artis” yang selalu ingin terkenal? Well, seperti yang saya jelaskan di awal, blog juga bisa membuat seseorang menjadi terkenal. Seorang blogger pemula sangat mungkin tergiur untuk menjadi terkenal lewat blognya. Mereka memandang blog sebagaimana media sosial pada umumnya, seperti Facebook, Twitter, Path, dan Instagram. Padahal, blog dan media-media sosial mainstream memiliki beberapa aspek perbedaan.

Yang pertama, dari aspek fungsi jejaring pertemanan. Media-media sosial mainstream pada umumnya didesain untuk membuat penggunanya menjadi lebih dikenal dan memungkinkan mereka mendapat lebih banyak teman dalam waktu singkat. Kalian hanya perlu mengetikkan nama akun teman kalian, lalu klik “ADD”. Setelah dikonfirmasi (di-accept), kalian telah saling berteman dan bisa langsung berbagi informasi. Dan semua proses tersebut bisa dilakukan dengan mudah hanya dengan satu panel saja.

Sementara dalam dunia blog, konsep “teman” di sana berbeda dengan media sosial mainstream. “Teman” dalam dunia blog bisa diartikan sebagai pengikut (followers) yang rajin mengikuti dan memantau blog kalian. Karenanya, agar blog kalian mendapat pengikut dan dibaca banyak orang, kalian harus mengisi blog dengan konten-konten yang memang bisa dinikmati orang lain. Konten yang menarik akan membuat pengunjung blog merasa betah dan berpeluang untuk kembali mengunjungi blog kalian. Jika sudah begitu, maka besar kemungkinan pengunjung blog akan tertarik untuk mem-follow blog kalian.

Selain itu, agar jejaring pertemanan kalian di blog lebih luas, kalian juga butuh melakukan kunjungan ke blog-blog lain (blogwaking), promosi alamat blog, menjadi pengikut (followers) blogger lain, memanajemen SEO, sampai memastikan blog kalian terindeks Google. Sialnya, meski semua cara itu sudah kalian lakukan, pengikut blog kalian boleh jadi belum akan bertambah secara signifikan! Di sinilah letak keruwetan jejaring pertemanan di blog dibandingkan dengan media-media sosial mainstream lainnya. Sederhananya, jika untuk mendapat teman di blog kita harus gigih berjuang berhari-hari, maka untuk mendapat teman dari media sosial mainstream hanya perlu hitungan menit.

Alasan kemudahan dalam memperluas jaringan pertemanan inilah yang mengakibatkan jumlah pengguna blog dan pengguna media sosial seperti Facebook dan Twitter berbanding jauh. Selama belasan tahun kalian sekolah-kuliah, paling banter kalian hanya akan medapati dua tiga orang teman yang aktif ngeblog. Sisanya mungkin hanya iseng atau sekedar bikin blog untuk tugas TIK. Jadi, jika8 kalian ingin memperluas jaringan pertemanan melalui blog, menurut saya, media blog kurang cocok untuk tujuan semacam itu.

Perbedaan yang kedua, dari segi konten. Seperti yang sudah saya jelaskan tadi, membuat kontendi blog sebaiknya tidak ngasal. Jika konten blog kalian cenderung “3NG” (baca: TRING=NGawur, NGalay, dan Ngasal), hal tersebut bisa membuat pembaca merasa tidak nyaman (bahkan misuh mungkin). Akibatnya, pembaca akan malas berkunjung lagi ke blog kita karena kapok.

Berbeda dengan media-media sosial mainstream yang kebanyakan jejaring pertemanannya adalah teman-teman kalian sendiri. Sebagian dari mereka mungkin pernah bertemu langsung dengan kalian. Jadi, ketika kalian mengunggah sebuah konten (senorak dan seabsurd apapun itu), selama isi konten tidak bertentangan dengan undang-undang, maka akun media sosial kalian bisa tetap dikunjungi (bahkan masih mendapat jempol “like”).

Pada dasarnya, media-media sosial mainstream seperti Facebook, Twitter, Path, dan Instagram adalah versi mini-nya blog. Hanya peruntukannya berbeda untuk setiap orang—tergantung pada kebutuhan masing-masing. Yang ngeblog untuk berjualan banyak. Yang bermedsos untuk jualan berjuaan juga bejibun. Yang blognya ramai pengunjung ada, yang akun medsosnya kebanjiran followers juga ada. Masing-masing media memiliki fungsi dan peran yang berbeda untuk para penggunanya.

Tapi, bagi saya pribadi, blog adalah media aktualisasi diri yang sunyi. Saya sadar sesadar-sadarnya bahwa jika saya ngeblog hanya untuk menjadikan diri saya terkenal, maka saya sudah menggadaikan waktu dan pikiran saya untuk sesuatu yang tidak akan meningkatkan kualitas diri saya! Jika menjadi terkenal adalah tujuannya, maka alangkah baiknya jika saya jadi selebgram atau vlogger mi instan di Youtube (misalnya lho, ya). Dengan berbagai pertimbangan, saya memutuskan untuk ngeblog saja untuk menghindari lebih banyak “korban”. Maksud saya, jika blog saya buruk, paling banter orang hanya akan mencela tulisan saya. Tapi kalau video Youtube yang ada gambar muka saya jelek, sudah diedit dan disunat sembarangan (seperti kasus Pak Ahok), wah bisa-bisa saya jadi buronan orang-orang sekampung dengan tuduhan macam-macam. Saya tidak mau yang seperti itu.

Semua blogger, pada awalnya pasti pernah mengalami fase-fase di mana “gairah artis-nya” bergejolak. Gairah artis itu pula yang mendorong mereka rajin menulis di blog. Saking “produktifnya”, sebagian blogger sampai harus mencomot tulisan blog orang lain (copy paste). Tapi, ketika mereka sampai di titik di mana kerja keras mereka sia-sia, trafik pengunjung datar-datar saja, kolom komentar masih melompong, atau judul tulisan gagal tampil di firstpage Google, sudah semestinya kearifan diri ini yang terketuk. Karena blog tidak sama dengan media-media sosial mainstream.

Dalam dimensi kesunyiannya, ada sejumput kebijaksanaan dan pembelajaran berharga yang bisa kita ambil dari blog. Ada tetes hikmah keikhlasan yang harus kita renungkan, agar kita bisa melakukan sesuatu tanpa pamrih duniawi. Semuaitu membawa kita ke pertanyaan mendasar: “apa tujuan kita ngeblog”?

Para blogger yang konsisten ngeblog sampai belasan bahkan puluhan tahun selalu membat saya takjub. Konistensi mereka dalam menulis (mungkin karena faktor pekerjaan mereka yang rata-rata penulis) membutuhkan kadar keikhlasan sampai level tertentu. Jika mereka menulis, mereka akan menulis semata karena mereka ingin menulis. Karena dalam pekerjaan apapun, jika kita meniatkan pekerjaan itu sekedar untuk mencari tepukan dan ujaran pujian, maka yang akan kita dapati adalah kelelahan.

Begitu pula saat menulis. Jika kita terlalu muluk-muluk berpamrih, maka tulisan kita tidak akan selesai. Karena bagaimanapun, proses menulis membutuhkan kejernihan batin dan nalar agar apa yang tertulis tidak menjadi wacana yang menggelisahkan—pun ujaran kebencian.[]